Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 - KEBUTUHAN PASOKAN MEDIS
Gemertak halus slot kayu terdengar saat Steve menggeser meja ganjal dari balik pintu ruang teknisi. Cahaya fajar yang kian terang namun tersapu pendaran kekuningan spora menerobos masuk melalui celah ventilasi atas, membiaskan debu-debu halus yang melayang lambat di udara. Luna memosisikan dirinya di ambang pintu, menatap lorong keluar dengan busur recurve yang terangkat siap di dada, sementara Nancy mengencangkan tali tas kanvasnya dengan jemari yang masih sedikit gemetaran.
Steve meraih pipa besi tebalnya dari atas lantai semen, lalu mengayunkannya pelan ke atas bahu kanan. Namun, saat otot paha dan dadanya berkontraksi untuk menegakkan tubuh, dahinya mendadak berkerut dalam. Kerutan tipis memotong garis wajahnya yang tegas, disusul oleh helaan napas pendek yang sengaja ditahannya di balik rahang yang mengatup rapat.
"Ada apa, Steve?" tanya Luna cepat, memalingkan pandangannya serentak dari arah lorong luar.
"Tidak ada apa-apa. Cuma otot bahu yang agak kaku." jawab Steve berusaha tertawa kecil untuk menutupi rasa tak nyamannya.
Nancy melangkah mendekat seraya membetulkan kacamata tebalnya. Mata jernihnya di balik lensa mengamati leher dan bahu kiri Steve yang terbungkus perban putih. Lapisan kasa steril yang tadinya bersih kini mulai menampakkan warna kemerahan samar di bagian tengahnya, diiringi pendaran suhu hangat yang memancar dari permukaan kulit di sekitarnya.
"Kulit di sekitar lukamu mulai memerah, Steve. Suhu tubuhmu juga agak naik." kata Nancy seraya menyentuhkan punggung jarinya yang dingin ke tepi leher Steve.
"Ini cuma efek samping dari adu fisik di gedung parkir tadi, Nona. Tubuhku sudah biasa kena goresan begini waktu kerja di proyek bangunan." kata Steve sambil tersenyum menenangkan.
"Beda cerita kalau kamu tergores di lingkungan yang dipenuhi infeksi Cordyceps, Steve." potong Nancy dengan nada serius yang membumi.
"Debu spora dan bakteri kotor di udara lembap kota ini masuk ke dalam aliran darah melalui luka terbuka. Tanpa obat antibakteri spektrum luas seperti amoksisilin dosis tinggi atau antiseptik medis, infeksi sekunder bisa memicu demam hebat dalam waktu kurang dari delapan jam." jelas Nancy memperingatkan dengan detail teknis yang komprehensif.
Luna mendengarkan penjelasan Nancy dengan raut wajah yang kian dingin dan fokus. Di matanya, Steve adalah aset tempur paling berharga dalam kelompok ini untuk pertempuran jarak dekat. Jika pria kekar itu bertambah demam atau kehilangan kekuatan fisiknya akibat infeksi jaringan, kapasitas bertahan hidup seluruh kelompok akan merosot tajam di tengah Kota Mati yang tak ramah ini.
"Kita tidak punya waktu untuk menunda. Kebutuhan obat antibakteri untuk lukamu adalah prioritas utama sebelum kita bergerak lebih jauh." tegas Luna seraya mengencangkan ikatan pelindung lengannya.
"Rian, kamu berada di barisan belakang bersama Nancy. Jangan biarkan jarak kalian merenggang lebih dari dua meter." instruksi Luna sambil menoleh ke arah Rian.
"Mengerti, Luna. Aku bakal jaga Nancy dari belakang." Rian mengangguk mantap sambil memeluk erat tali ranselnya.
Steve memutar bahu kirinya pelan, meringis sedikit saat merasakan denyutan hangat yang kian menjalar di bawah jaringan kulitnya, lalu menyunggingkan senyum khasnya. "Baiklah, Komandan. Aku ikuti jalurmu."
Mereka berempat menyelinap keluar dari pintu samping Gedung Elektronik Sentral, memasuki lorong pemukiman warga yang hening dan sepi. Nancy berjalan di tengah dengan tablet digital terangkat di dadanya, jemarinya terus menggeser antarmuka layar untuk memantau titik-titik pendaran indikator navigasi. Di sekeliling mereka, rumah-rumah berlantai dua berdiri kaku dengan pintu dan jendela yang terkunci rapat dari dalam. Sesekali, terdengar suara erangan samar dari balik dinding kayu rumah warga, menandakan ada korban terinfeksi yang terisolasi di dalam ruangan.
Udara luar terasa makin pekat oleh aroma tanah busuk. Kabut tipis berwarna kekuningan menggantung di atas atap rumah, memaksa mereka berempat mengambil napas pendek melalui hidung agar tidak terlalu banyak menghirup partikel melayang.
"Belok kiri di persimpangan gang ini, Luna. Jalur di depan bersih dari penumpukan massa menurut rekaman pemetaan terakhir." kata Nancy setengah berbisik pelan, menunjuk celah lorong sempit di antara dua tembok semen.
"Bagus. Jaga jarak langkah." balas Luna seraya mengintip celah gang sebelum melangkah maju.
Nancy melangkah rapat di belakang punggung lebar Steve. Rasa takutnya berada di area terbuka luar gedung perlahan terkikis oleh kehadiran pria kekar yang berjalan di depannya. Steve berkali-kali menyempatkan diri melirik ke belakang, memastikan wanita berkacamata itu melangkah di jalur yang aman tanpa tersandung sisa-sisa puing bangunan atau pecahan kaca.
"Kamu baik-baik saja di belakang, Nancy?" tanya Steve dengan nada lembut di sela helaan napas beratnya.
"Aku... aku baik-baik saja, Steve. Cuma agak canggung karena sudah berhari-hari tidak melihat jalanan luar." jawab Nancy sambil tersenum canggung dari balik kacamatanya.
"Tenang saja. Selama pipa besi ini masih ada di tanganku, tidak akan ada makhluk berspora yang bisa menyentuhmu." kata Steve terkekeh pelan sambil mengedipkan matanya.
Nancy merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya mendengarkan ucapan Steve. Di tengah kehancuran kota yang dipenuhi monster haus darah, rasa kepedulian yang jujur dari pria itu terasa sangat berharga dan menenangkan jiwanya.
Namun, semakin jauh mereka melangkah menyusuri gang pemukiman, irama langkah kaki Steve mulai tampak berubah. Otot paha pria kekar itu mengencang kaku, dan ritme napasnya terdengar makin memburu. Cucuran keringat dingin membasahi pelipis dan leher Steve, memudarkan garis-garis oli dan debu jalanan yang menempel di wajahnya.
Luna yang berjalan paling depan menyadari perubahan ritme tersebut tanpa harus membalikkan badan. Ia mendadak mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat berhenti di balik bayangan tembok rumah tua.
"Istirahat sepuluh detik. Kumpulkan napas." kata Luna pelan seraya berdiri menempel di tembok.
Steve menyandarkan punggungnya pada semen dinding, membiarkan pipa besinya bertumpu di lantai. Ia memejamkan mata sejekap, mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan yang gemetaran tipis.
"Berapa skala nyerinya, Steve?" tanya Luna tanpa berpaling dari pengamatannya ke ujung lorong.
"Cuma rasa panas seperti tersengat lebah, Luna. Masih sangat bisa ditahan." jawab Steve seraya menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan.
Nancy melangkah mendekat, mengamati wajah Steve yang mulai memerah akibat kenaikan suhu tubuh. Rasa cemas di mata wanita teknisi itu kian tak tertutup.
"Ini bukan sekadar rasa sakit fisik biasa, Steve. Demam ringanmu ini membuktikan sistem imun tubuhmu sedang bertarung keras melawan kontaminasi bakteri di lukamu." kata Nancy dengan vokal yang tegas namun dipenuhi rasa peduli murni.
"Kalau kita tidak mendapatkan antibiotik antiseptik dan cairan infus bersih dalam beberapa jam ke depan, jaringan otot bahumu bisa mengalami pembengkakan parah. Kamu bakal kehilangan daya ayun lengan kirimu sepenuhnya." lanjut Nancy membeberkan risiko medis yang mengintai.
Steve menatap Nancy, lalu beralih menatap Luna. Pria itu menyadari bahwa kekuatannya adalah tiang pelindung bagi kelompok ini, dan ia tidak boleh menjadi beban bagi mereka.
"Makanya kita harus sampai di apotek itu secepatnya, kan?" kata Steve seraya menyeringai pelan, mencoba membakar kembali semangat timnya.
"Benar. Kebutuhan pasokan medis ini bukan cuma buat Steve, tapi buat cadangan pertahanan kita semua ke depannya." timpal Rian dari belakang.
Luna membalikkan badan, menatap Steve dan Nancy bergantian. Rasa kebersamaan dan ikatan yang tumbuh organik di antara mereka membuat naluri kepemimpinannya makin mantap.
"Apotek Sentral tinggal dua ratus meter di depan. Kita seberangi jalan utama dari celah pagar seng itu." kata Luna seraya menunjuk ujung gang yang berbatasan langsung dengan Jalan Sudirman.
Mereka berempat merayap perlahan menembus semak belukar yang tumbuh liar di tepi gang, berhenti tepat di balik pagar seng pembatas jalan raya. Dari celah seng yang terkuak, terbentang Jalan Sudirman yang luas namun lengang. Mobil-mobil yang saling bertabrakan dan bangkai truk peti kemas yang miring menutupi sebagian besar ruas jalan, menciptakan bayangan-bayangan gelap yang ideal bagi persembunyian.
Di seberang jalan raya, sebuah bangunan bertingkat dua dengan papan nama menyala kusam berdiri kokoh. Tulisan "APOTEK SENTRAL 24 JAM" tertera jelas di bagian atapnya, meski kaca depan bangunan itu telah pecah sebagian.
"Itu tempatnya, Luna. Gudang obat utamanya berada di balik area kasir lantai dasar." bisik Nancy seraya menunjukkan peta layout di tabletnya.
Luna memindai area sekeliling jalan raya dengan mata taktisnya yang tajam. Kondisi di sekitar apotek tampak sepi, namun beberapa pintu roll pagar besi apotek terlihat tertutup rapat dari dalam.
"Kita seberangi jalan satu per satu. Steve, tetap rapat di belakangku." instruksi Luna mantap seraya menarik tali busurnya sedikit untuk memastikan kesiapan penuh.
Dengan tekad yang makin menguat demi menyelamatkan rekan mereka dan mengamankan pasokan medis vital, kelompok penyintas itu bersiap melompati barikade seng untuk memulai operasi penyelamatan berikutnya.