Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka jadikanlah mereka sebagai musuh mu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedarah
Di tempat yang lain
"Kalau direnungkan, akhir-akhir ini sedang banyak terjadi bencana",
"Bukan itu saja",
"Peristiwanya juga beraneka ragam",
"Kebakaran... ",
"Kapal tenggelam... ",
"Gunung api meletus... ",
"Apa lagi?",
"Banjir... ",
"Kecelakaan lalu lintas... ",
"Kecelakaan transportasi... ",
"Kecelakaan administrasi... ",
"Ha... Ha... Ha... Ha... ",
"Tanah longsor... ",
"Gempa bumi... ",
"Kerugian yang dialami mulai dari aset fisik sampai hilangnya nyawa",
"Kita wajib bersyukur kengerian itu tidak kejadian sampai di sini",
"Kita harus kurang-kurangi maksiat",
"Tapi kalau dipikir-pikir",
"Kerugian yang selama ini merundung umat manusia itu tidak hanya terjadi akibat bencana alam saja",
"Tapi juga tercipta karena ulah dan campur tangan manusia",
"Kedzaliman yang diperbuat oleh orang-orang kita sendiri",
"Kata Subroto... ",
"Sekarang zamannya orang makan orang",
"Subroto siapa?",
"Siapa Subroto?",
"Tidak ada yang tahu Subroto?'',
"Subroto penyanyi... ",
"Lagunya seperti ini... ",
"Sekarang zamannya orang makan orang... ",
"Kalau tidak mau makan, ya dimakan... ",
"Sya la la la la la la... o... o... ",
Obrolan yang serampangan itu terjadi di kawasan hiburan yang buka selama dua puluh empat jam nonstop. Tanpa ada libur.
Mereka sedang mengantri menunggu giliran.
"Karyo... ",
"Karyo... ",
Karyo yang sedari tadi hanya diam di lingkaran duduk-duduk santai itu dipanggil namanya.
"Karyo... ",
"Giliranmu... ",
"Aku?",
Karyo beranjak dari ruang tunggu.
Masuk ke dalam lorong panjang yang kanan dan kirinya adalah kamar-kamar bernomor.
"Aku pesan yang nomor lima",
"Iya, itu sudah kosong nomor lima",
Kamar nomor 5
"Tok... ",
"Tok... ",
"Assalamualaikum dek Bunga",
"Waalaikumsalam... ",
"Ada mas Karyo... ",
"Sudah lama mas Karyo tidak kelihatan",
"Baru tiga hari yang lalu kakanda main ke sini",
"Kangen ya sama ini",
"Mas Karyo bisa saja... ",
"Sudah ada yang lebih maut belum?",
"Cuma mas Karyo yang maut",
"Dek Bunga kapan libur?",
"Kita jalan-jalan yuk",
"Memangnya mas Karyo sungguh-sungguh cinta sama Bunga?",
"Waduh dek... ",
"Jangan ragukan cinta mas Karyo mu yang sedalam palung Mariana ini",
"Aku hanya padamu... Dek Bunga",
"Tebus aku mas",
"Tebus?",
"Maksudnya?",
"Bayar aku dari tempat ini",
"Memangnya berapa duit?",
"Sini aku bisikin... ",
"Alamak... banyak juga ya?",
"Katanya cinta sedalam palung Mariana?",
"Kalau begitu pegang kata-kata mas Karyo ini",
"Mas Karyo akan bekerja lebih keras lagi untuk menebus dek Bunga dari tempat terkutuk ini",
"Tapi sekarang kita main dulu ya dek ya... ",
"Sekarang pegang yang ini... ",
Menakjubkan.
Sebelumnya Karyo suka coba-coba dan cepat berganti-ganti selera.
Tapi semenjak menjajal Bunga. Ia jadi berlangganan.
Sudah sembilan kali Karyo selalu mengetuk pintu yang sama setiap kali datang ke rumah esek-esek ini.
Kamar nomor lima.
"Karyo... ",
"Karyo... ",
Karyo yang ketika sudah selesai selalu keluar lewat pintu belakang kembali dipanggil.
"Apa?",
"Aku sudah bayar",
"Bukan itu",
"Ada yang mencari kamu",
"Katanya dari kampung",
"Laki-laki atau perempuan?",
"Laki-laki",
"Oh... ",
"Terimakasih",
"Akan aku temui",
Sedarah
"Nang... ",
"Karyo... ",
"Masih saja kamu Yo... ",
"Ayo kita cari tempat lain",
Karyo mengajak Unang mencari tempat yang lebih nyaman untuk ngobrol setelah sekian lama tidak bertemu.
"Kamu tahu aku ada di sini darimana?",
"Aku belum lupa dimana tempat yang harus aku datangi jika kamu menghilang",
Kakak beradik itu memilih tempat makan sederhana yang ada es telernya.
"Aku harus pergi berburu",
"Mereka muncul lagi",
"Ada yang dibawa?",
"Anak dan istri bosku di hutan Simponi yang jadi sandera",
"Bapak meminta kamu untuk ikut",
Karyo menghela nafas panjang.
"Kebetulan aku juga sedang butuh banyak uang",
"Untuk apa Yo?",
"Menebus lonte dari tempat yang tadi",
"Sudah gila... ",
"Kamu mau kawin sama pelacur?",
"Nekat... Nekat... ",
"Pak Alex pasti mau memberimu banyak bonus kalau kamu berhasil menolongnya",
"Kalau begitu tunggu apa lagi Nang... ",
"Ayo kita lekas pulang ke rumah",
"Sabdo juga ikut",
"Sabdo?",
"Ha... ha... Sabdo... ",
Tawa itu memang terdengar seperti meremehkan.
Tapi juga merupakan senyum luapan kerinduan.