NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Vivi menunduk pelan. Karena setidaknya, akhirnya lelaki ini mulai mengerti.

"Hari ini rumah langsung kacau ketika kamu berhenti." Baskara menggeleng kecil. "Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana." Baskara biasanya selalu tampak punya tembok yang tinggi. Tetapi malam ini tembok itu sedikit retak. "Aku salah." Kalimat itu keluar pelan. Namun cukup membuat Vivi mengangkat kepala. Karena tidak semua orang mampu mengucapkannya. Terutama laki-laki seperti Baskara."Aku minta maaf soal yayasan. Aku benar-benar tidak bermaksud merendahkanmu."

"Tapi tetap merendahkan."

Baskara mengangguk. "Iya." Kemudian Baskara berkata lagi, "Aku membutuhkanmu di rumah tangga ini." Kalimat yang sama. Tetapi kali ini lebih dalam. "Bukan karena anak-anak saja. Bukan karena Ibu memintaku menikah. Bukan karena yayasan." Suara Baskara terdengar lebih jujur daripada sebelumnya. "Aku hanya belum tahu bagaimana menjadi suami lagi."

Kalimat itu membuat Vivi membeku sesaat. Karena akhirnya Akhirnya lelaki itu mengatakan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.

Baskara tidak dingin karena tidak peduli. Ia dingin karena takut. Takut membuka ruang yang pernah dihuni seseorang yang sangat ia cintai. Takut memulai lagi. Takut gagal lagi. "Aku tidak bisa menjanjikan aku akan langsung menjadi suami yang baik." Baskara berkata pelan. "Aku juga tidak bisa menjanjikan semuanya akan mudah." Ia menatap Vivi lurus-lurus."Tapi aku mau mencoba."

Vivi bersandar ke sofa. Lalu menghela napas panjang. "Bagus."

Baskara mengernyit. "Bagus?"

"Setidaknya sekarang aku tahu suamiku masih bisa bicara lebih dari tiga kalimat."

Untuk pertama kalinya malam itu, Baskara benar-benar tertawa. Pendek. Namun tulus. Dan entah kenapa, melihat itu membuat Vivi sadar satu hal. Mungkin mereka belum menjadi pasangan. Belum menjadi keluarga. Belum menjadi tempat pulang satu sama lain. Tetapi malam ini Mereka akhirnya mulai berjalan ke arah yang sama.

Percakapan malam itu berlangsung lebih lama dari yang Vivi bayangkan. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Baskara benar-benar duduk dan berbicara. Bukan sebagai pemilik yayasan. Bukan sebagai duda dengan lima anak. Bukan sebagai pria yang dipaksa keadaan untuk menikah lagi. Melainkan sebagai suami. Meski masih canggung. Meski masih kaku. Setidaknya ia mencoba.

Setelah suasana sedikit mencair, Baskara terlihat seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Ada hal yang sejak tadi ingin ia sampaikan. Namun belum menemukan cara yang tepat. "Vivi. Ada satu hal lagi."

Vivi menatapnya. "Kalau soal yayasan lagi, aku pulang ke rumah orang tuaku sekarang juga."

Baskara tertawa kecil. "Tidak." Pria itu menghela napas pelan. Lalu berkata, "Aku mau minta kamu bersabar beberapa hari lagi."

Vivi mengangkat alis. "Soal?"

"Soal kamar." Vivi terdiam. Kini ia benar-benar mendengarkan. Baskara menunduk sesaat sebelum melanjutkan. "Aku tahu kamu pasti merasa aneh tidur di kamar tamu. Akhir pekan ini kamar kita selesai."

Kamar kita. Bukan kamar kamu. Bukan kamar saya. Kamar kita.Entah kenapa dua kata itu terdengar berbeda di telinga Vivi. "Kamar kita?"

Baskara mengangguk. "Aku sebenarnya sudah merenovasi salah satu kamar di lantai atas. Tetapi masih ada beberapa barang yang harus di custom dan ada beberapa yang belum aku beli. Aku tidak ingin kamu menempati kamar lama."

Vivi langsung mengerti kamar mana yang dimaksud. Kamar utama. Kamar yang dulu ditempati Baskara bersama mendiang istrinya. Tempat yang penuh kenangan. Tempat yang mungkin masih menyimpan banyak luka.

"Aku tidak ingin itu tidak adil untukmu." Baskara masih melihat ke depan. Seolah lebih mudah berbicara jika tidak menatap langsung ke matanya. "Aku juga tidak ingin merasa seperti sedang mengganti seseorang." Kalimat itu keluar begitu jujur.

Sehingga Vivi tidak bisa membalasnya dengan candaan. "Aku mengerti."

Baskara mengangguk kecil. "Makanya aku memilih membuat kamar baru. Agar semuanya benar-benar baru. Tidak ada kenangan lama di sana. Tidak ada perbandingan. Dan tidak ada bayang-bayang siapa pun."

"Jadi..." Vivi menyilangkan tangan. "Aku harus sabar sampai akhir pekan?"

Baskara mengangguk. "Iya."

"Lalu selama itu aku tetap jadi penghuni kamar tamu?" Vivi pura-pura menghela napas berat. "Kasihan sekali aku. Pengantin baru yang nasibnya paling menyedihkan. Menikah, dapat lima anak, lalu tidur sendirian."

Baskara tertawa pelan. "Aku tahu."

Vivi memperhatikan reaksi itu. Lalu tersenyum kecil. "Baiklah. Aku akan menunggu."

Pria itu tampak lega. Seolah baru saja lolos dari ujian sulit. "Terima kasih."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Vivi masuk ke kamar tamu bukan karena merasa diusir, ia tahu itu hanya sementara. Ada sebuah ruang yang sedang dipersiapkan. Bukan sekadar kamar. Melainkan tempat baru bagi dua orang yang sama-sama sedang belajar memulai hidup lagi.

***

Akhir pekan itu datang lebih cepat dari yang Vivi kira. Selama beberapa hari terakhir, rumah terasa sedikit berbeda. Baskara yang biasanya tenggelam dalam pekerjaan, kini lebih sering terlihat di rumah. Bukan hanya duduk atau memberi perintah seperti dulu. Tetapi benar-benar ikut mengawasi sesuatu yang jarang ia perhatikan sebelumnya. Sebuah kamar. Kamar yang sedang dipersiapkan dengan sangat serius.

Sejak pagi, suara tukang sudah terdengar dari lantai atas. Sean sempat mengintip. Yuan bahkan sempat menghitung berapa kali orang keluar masuk membawa barang. Saka menyimpulkan itu proyek rahasia. Ella mengira itu kamar bayi (yang langsung dibantah Vivi dengan cepat). Lili hanya ikut naik turun tangga mengikuti Vivi.

Vivi hanya memperhatikan. Karena semakin hari, ia semakin sadar satu hal, Baskara tidak main-main. Kamar itu sebelumnya hanyalah ruangan kosong di lantai atas. Tidak besar. Tidak kecil. Tidak istimewa. Tapi Baskara mengubahnya menjadi sesuatu yang lain. Dinding yang dulu polos kini diganti warna hangat. Bukan putih dingin seperti kamar lama. Bukan warna gelap yang terasa berat. Tapi warna yang terasa hidup. Seolah sengaja tidak ingin membawa ingatan apa pun dari masa lalu. Lantai diganti sebagian. Lampu dipilih ulang. Jendela diperbesar agar cahaya pagi masuk lebih banyak.Bahkan posisi lemari dipikirkan ulang beberapa kali. Bukan oleh desainer saja. Tapi oleh Baskara sendiri. Vivi tahu itu. Karena beberapa kali ia melihat pria itu berdiri lama di dalam ruangan itu.

Suatu sore, Vivi naik ke lantai atas tanpa pemberitahuan. Baskara sedang berada di dalam kamar itu. Tangannya memegang katalog warna cat. Seorang tukang berdiri menunggu instruksi. Namun Baskara tampak ragu. Untuk pertama kalinya, ia terlihat tidak yakin.Vivi bersandar di pintu. "Aku ganggu?"

Baskara menoleh. "Sedikit."

Vivi masuk. Melihat sekeliling. Kamar itu hampir selesai. Tinggal beberapa sentuhan akhir. "Aku kira kamu cuma bilang ‘akhir pekan ini selesai’ sebagai janji kosong."

Baskara menggeleng. "Aku tidak suka janji kosong."

Vivi tersenyum tipis. "Itu baru aku tahu."

1
Danny Muliawati
atas izin d kuasa Allah vivi terlepas dr beban d bs hamil
Danny Muliawati
penasaran dg dr Sinta loh
Pujierde
bener" keluarga benalu klo keluarga alina mempunyai malu harusnya anak" bibi helda bekerja untuk agar tidak ada ketergantungan kepada baskara
Pujierde
sepertinya ini perbuatan helda, sungguh helda orang serakah dan bu mega tau akan keserakahan keluarga alina makanya almh bu mega mengamati vivi dan menjadikan menantu karena almh tidak ingin cucu"nya dibawah kendali bibi helda
Pujierde
anaknya bibi helda ? kenapa bisa dokumen yayasan ada di tangan bibi helda 🤔🤔
Pujierde
apa mungkin bibi helda yang bekerja di yayasan ?
Ita Xiaomi
Hanya Lili yg bahagia 🤣
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Danny Muliawati
hela ga punya perasaan knp jg baskara hrs cerita sm anak2 itu mah kuasa Allah punya anak atw pun tdk
Ita Xiaomi
Lilis udah ngebayangkan pancake😁
Pujierde
nenek ema bisa melihat dan merasakan ketulusan vivi dan nenek ema tidak serakah seperti bibi helda
Pujierde
seperti bibi helda takut jika sumber uangnya akan terhenti jika baskara sudah jatuh cinta kepada vivi ato takut jika vivi menghentikan aliran dana baskara kepada bibi helda makanya anak" terutama sean didoktrin untuk melakukan hal" yang membuat perempuan" tidak jadi dengan baskara, bibi helda bener" benalu harusnya baskara memberi modal kepada helda untuk membuka warung sembako agar tidak terus bergantung kepada baskara
Pujierde
Ma sya Allah semoga generasi-generasi anak" bisa seperti sean yang selalu membawa mushaf kemana-mana dan berakhlak mulia
nayoon
kayanya Helda yg serakah
Pujierde
semoga nenek dan kakek akan terus menyayangi kalian semua wlopun keajaiban datang kalian semua tetep cucu nenek dan kakek
Danny Muliawati
seru yah untung vivi seorang guru jd memahami karakter masing2 anak ayo SEMANGAT
Vera Wilda
Saya hadir Thor
nayoon
haha pertarungan di mulai jreng jreng🤭
nayoon
kamu dalam misi menaklukkan raja beruang es🤣semngat🤭
destiana
nggak nyesel Baca ceritanya,bagus banget😘😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!