"Briar" seorang wanita muda berusia 20an yang menata kembali kehidupannya setelah mengalami serangkaian kejadian buruk semasa kecilnya, melawan dunia sendirian setelah kehilangan hal-hal berharga dalam hidupnya.
Sifatnya yang polos dan parasnya yang cantik serta kesederhanaannya, mempertemukanya dengan Adrian si tetangga barunya yang tampan sekaligus pemilik sebuah perusahaan.
Adrian yang mendekati Briar tanpa ragu, dan
dalam waktu singkat hubungan itu berubah menjadi sebuah kehidupan pernikahan. Memberikan kebahagiaan yang tak pernah Briar dapatkan sebelumnya.
Akan tetapi..
Apakah yang membuat pria sesempurna Adrian menikahi Briar dengan sangat terburu-buru..?
Akankah kebahagiaan itu berlangsung selamanya..?
Rahasia apa yang sebenarnya Adrian simpan..?
Akankah cinta mereka menang melawan permainan takdir..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ar's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan?
Aku menyelesaikan semua urusan di rumahku dengan buru-buru. Aku merasa tidak cukup tenang mengingat kondisi Adrian yang sedang demam dan sendirian dirumahnya.
Aku mengemas makanan yang ku masak di hari ini, dan bergegas membawanya menuju kerumah Adrian.
-
Tok..tok.. tok..
"Adrian..??".
Pintu tidak terkunci ketika aku menyentuh gagang pintunya. Aku membukanya berlahan lalu memanggil-manggil Adrian. Namun Adrian tidak menjawabku sama sekali.
"Adrian?". Aku masuk ke dalam rumahnya dan memanggilnya di depan pintu kamarnya.
Adrian tidak mengatakan apa-apa, lalu aku memberanikan diri untuk masuk ke kamarnya, khawatir jika terjadi sesuatu padanya.
Saat aku membuka pintu kamar..
Tanpa sengaja aku menabrak tubuh Adrian yang sedang tergeletak di lantai kamarnya. Adrian terlihat sangat lemah dan tubuhnya terasa hangat. Aku berusaha mengangkat tubuhnya naik keatas tempat tidur lalu membaringkannya. Lalu aku buru-buru mengambil air untuk mengompres tubuhnya dan memberikannya obat. Aku mencoba untuk menurunkan panasnya semampuku. Saat aku selesai mengompresnya, aku beranjak untuk mengembalikan air yang tadi aku bawa untuk mengompresnya, namun secara tiba-tiba Adrian menggenggam erat tanganku. Seolah-olah ia tak ingin aku pergi meninggalkanya.
Aku pun duduk di tepi kasur dan menunggu Adrian tertidur lelap. Lalu ketika tangannya terlepas, aku mulai beranjak dan menyiapkan makanan di dapur untuk Adrian makan saat bangun.
-
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, aku menonton film di handphone ku dan tanpa sengaja aku tertidur di sofa, di ruang tamu.
Aku bermimpi..
Seseorang menyentuh wajahku, dan mengelus rambutku. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya.. hanya saja terasa begitu damai.
-
Aku pun terbangun..
"Hmm..?".
"Tunggu.. aku berada di kamar?".
"Dan sekarang sudah menunjukan pukul 7 pagi".
Aku merasa kaget karena aku sudah berada di dalam sebuah kamar. Lalu aku dengan cepat memeriksa pakaianku di bawah selimut, dan merasa lega karena semua pakaianku ternyata masih utuh.
"Ya ampun.. memangnya apa yang aku fikirkan..". Lalu aku pun pergi keluar dari kamar dan memeriksa keluar. Aku mendengar suara dari arah dapur, sepertinya seseorang sedang berada disana. Lalu aku mendapati Adrian, yang sedang membuat sesuatu.
"Adrian..?". Ucapku
"Baguslah kalau kamu sudah bangun..". Jawab Adrian
"Mm.. Adrian.. Kenapa aku..? Mmm.. sudah tidur di dalam..?". Aku bertanya dengan ragu-ragu.
"Jadi semalam.. aku terbangun untuk mengambil air si dapur.. Lalu aku mencarimu di ruangan depan, ternyata aku melihat kamu yang sedang tertidur di sofa.. Jadi aku hanya mengambil selimut dan memakaikanmu selimut, dan membiarkan kamu tetap tidur.. Aku fikir kamu mungkin akan segera bangun.. Tapi ternyata aku lihat malam semakin larut, dan kamu tertidur cukup nyenyak. Jadi aku tidak tega membiarkan kamu tertidur di sofa, jadi aku fikir aku harus membawamu masuk ke kamar untuk tidur..". Ujar Adrian menjelaskannya padaku.
"Hmm.. kalau begitu maaf ya.. karena aku tertidur dirumahmu.. lalu.. sekarang bagaimana keadaanmu..? Apa kamu merasa jauh lebih baik..?".
"Kamu nggak perlu meminta maaf, karena berkat kamu, aku jadi berangsur-angsur pulih..". Jawab Adrian sambil memberikan aku secangkir kopi susu hangat.
"Aku fikir aku harus segera pulang.. Oh iya, Aku sudah menaruh beberapa makanan di lemari pendinginmu, dan kamu hanya perlu menghangatkannya ketika kamu merasa lapar. Aku juga akan mengirimimu kontak orang yang menjaga motormu kemarin, agar kamu bisa membawanya kebengkel. Tapi aku sarankan agar kamu lebih banyak beristirahat hari ini..". Sambil meminum kopi buatan Adrian, akupun bergegas pulang kerumah.
-
Semalam..
Aku menginap dirumah Adrian..
Memikirkan hal ini, jantungku berdegup sangat cepat. Lalu seperti biasa aku harus mulai lanjut bekerja. karena keuanganku sudah mulai menipis.
Aku harap Adrian baik-baik saja saat sendirian di rumah..
-
Sudah 3 hari berlalu..
Aku melihat ada seseorang yang berdiri di depan dan menuju kearahku yang sedang bekerja..
"Hai..". Sapa Adrian.
Ternyata Adrian yang datang kerumahku dan berdiri di luar. Aku mempersilahkan Adrian masuk dan duduk di tempat duduk sederhanaku.
"Kamu sudah sembuh..?". Tanyaku.
"Aku baik-baik saja..". Jawab Adrian
"Syukurlah kalau begitu.. dan ada apa..?". Tanyaku karena Adrian yang datang berkunjung.
"Aku mau mengembalikan beberapa barangmu yang tertinggal, dan.. ini ada sedikit uang yang harus aku kembalikan karena biaya rumah sakit dan lainnya..". Adrian menyodorkan sebuah amplop berisi uang.
"Kamu tidak perlu mengembalikanya.. aku tidak apa-apa asalkan kamu baik-baik saja.. lagi pula aku tulus berniat membantu..". Jawabku sambil mendorong tangannya.
"Tidak.. maaf, tapi aku sungguh memaksa.. tolong terima.. aku akan merasa kurang nyaman kalau kamu tidak mengambil uang ini..". Sambil kembali mendorong tangannya yang memegang amplop kepadaku.
"Kalau begitu baiklah.. terimakasih..". Akupun menerimanya.
"Briar..??.. Apa kamu punya acara malam minggu ini?". Tanya Adrian secara tiba-tiba.
"Mm.. sepertinya tidak. Kenapa?". Jawabku dengan jantung yang berdegup cepat.
"Aku mau mengajakmu keluar, itupun kalau kamu mau.. aku tidak akan memaksa..". Jawabnya dengan canggung.
"Bolehkah aku fikirkan dulu, karena sepertinya aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan..". Jawabku
"Baiklah.. tolong hubungi aku pada hari sabtu kalau kamu berfikir untuk pergi denganku. dan..aku akan menjemputmu disini..". Jawab Adrian
"Baiklah..". Aku tersenyum malu
"Kalau begitu aku pergi dulu.. seperti biasa, harus bekerja dan bekerja..". Adrian mengatakanya sambil menghela nafas panjang.
-
Sebenarnya aku mau pergi dengan Adrian, hanya saja aku tidak tau harus bagaimana. Karena aku belum pernah berkencan dan tidak tau bagaimana caranya bergaul dengan seorang pria. Apakah aku harus mencobanya kali ini.. tapi kira-kira dia mau mengajakku kemana dan kami akan melakukan apa..?
Sudahlah.. sebaiknya aku menyiapkan diri dan menghubunginya besok. Sepertinya aku harus pergi untuk yang satu ini. Tapi aku tidak boleh berharap apapun, karena tidak mungkin seorang seperti Adrian mau berkencan dengan seseorang sepertiku. Pasti dia hanya butuh seorang teman.. Yang jelas, aku harus mulai memikirkan pakaian apa yang akan aku gunakan dan berdandan sewajarnya saja..
Aku tidak sabar..