Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab kematian kedua pimpinan
Pukul dua dini hari, suasana di sekitar kediaman Gento mendadak berubah mencekam.
Di balik pepohonan yang mengelilingi bangunan, puluhan pria berpakaian hitam bergerak tanpa suara. Mereka menyebar mengikuti perintah pemimpin masing-masing, mengepung gerbang utama dan menutup jalur keluar dari sisi timur. Tidak ada yang berani menyalakan lampu kendaraan. Hanya cahaya bulan yang menerangi laras senjata di tangan mereka.
Di antara para penyerang itu, Mahito Katagiri berdiri dengan wajah dingin. Usianya memang tidak lagi muda, tetapi tatapannya masih menyimpan ketegasan seorang pria yang terbiasa memberikan perintah dan melihat orang lain mematuhinya.
Ia mengeluarkan pistol dari balik mantelnya, kemudian memeriksa pelurunya.
“Pastikan tidak ada yang lolos sebelum aku memberikan perintah,” ujarnya kepada salah seorang anak buah.
“Baik, Tuan.”
Mahito mengangkat tangannya.
Beberapa orang segera bergerak menuju gerbang, membawa bahan peledak yang telah dipersiapkan. Mereka menempelkan alat itu pada bagian yang dianggap paling rapuh, kemudian berlari menjauh sebelum salah seorang dari mereka memberikan aba-aba.
Sementara itu, beberapa ratus meter dari lokasi tersebut, Satoshi Katagiri bergerak bersama sejumlah anak buahnya sendiri.
Ia sengaja tidak mendekati Mahito secara langsung. Sejak mengetahui bahwa kakeknya kemungkinan besar terlibat dalam penculikan Lily, ia memilih mengikuti pergerakan pasukan Katagiri dari belakang.
Ia belum mengetahui seluruh kebenarannya. Namun, ia tidak bisa membiarkan kakeknya bertindak tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Lily dan keluarga Yahiko.
Malam itu, ia akan mendapatkan jawaban.
Entah jawaban itu menghancurkan kepercayaannya kepada Mahito atau justru membawanya kepada kenyataan yang lebih buruk.
Di dalam kediaman Gento, Mike tiba-tiba terbangun.
Ia tidak tahu apa penyebabnya, tetapi sejak beberapa menit sebelumnya, ada perasaan tidak nyaman yang terus mengganggunya. Ia mencoba melihat jam di samping tempat tidur. Jarum digital menunjukkan pukul 02.03.
Mike mengusap wajahnya sebelum bangkit.
Biasanya, pada jam seperti ini, laporan keamanan masih diperbarui secara otomatis. Ia tidak pernah merasa perlu memeriksa ruang kendali pada tengah malam kecuali terdapat sesuatu yang mencurigakan.
Namun, malam ini berbeda.
Ia segera mengenakan pakaian, mengambil pistol yang tersimpan di laci, lalu bergegas menuju ruang kendali.
Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti.
Seluruh layar pengawasan berwarna hitam.
Mike mendekati meja operator dan memeriksa sistem utama. Ia mencoba mengaktifkan ulang beberapa kamera, tetapi tidak ada respons. Jalur komunikasi internal pun mengalami gangguan.
Wajahnya seketika menegang.
“Tidak mungkin.”
Ia memeriksa catatan sistem. Beberapa kamera mati hampir bersamaan, seolah-olah seseorang telah mengetahui titik pusat pengawasan dan melumpuhkannya secara terencana.
Mike langsung mengambil telepon.
“Bangunkan semua penjaga. Tutup akses menuju ruang perawatan dan kamar Yahiko. Jangan menunggu perintah kedua!”
Setelah memberikan instruksi, ia berlari menuju kamar Gento.
Pintu dibukanya dengan keras.
“Gento! Bangun!”
Gento yang masih berada di tempat tidur langsung terjaga. Ia meraih pistol di meja samping ranjang dan menatap Mike dengan tajam.
“Ada apa?”
“Semua kamera mati. Sistem komunikasi utama juga terganggu. Aku belum tahu siapa yang melakukannya, tetapi seseorang telah menembus pengamanan kita.”
Gento segera berdiri.
“Berapa lama?”
“Beberapa menit, mungkin lebih. Aku tidak bisa memastikan.”
Gento mengumpat pelan.
“Bangunkan seluruh pasukan. Suruh mereka mengambil posisi. Siapkan kendaraan dan jet sekarang!”
Ia tidak menunggu jawaban Mike. Setelah menyambar mantelnya, ia langsung menuju kamar Lily.
Gento mengetuk pintu sekali, tetapi tidak menunggu hingga Lily menjawab.
“Yahiko, bangun!”
Lily yang sedang tidur terkejut ketika lampu kamar menyala. Ia segera duduk dan meraih selimut yang menutupi tubuhnya.
“Ada apa?”
“Bangun dan kenakan pakaian yang mudah digunakan untuk berlari. Kita harus pergi sekarang.”
Lily memandangnya dengan kebingungan.
“Kenapa? Apa yang terjadi?”
Gento memeriksa lorong di belakangnya sebelum menjawab dengan suara dingin.
“Penyergapannya ternyata cepat juga.”
Lily langsung terdiam.
“Penyergapan?”
“Mahito dan pasukannya sudah datang.”
Wajah Lily memucat. Ia segera turun dari tempat tidur, lalu mengambil jaket yang tergantung di dekat lemari.
“Bagaimana dengan Ayah?”
“Akan kubawa bersama kita.”
Gento kemudian menarik napas dan menatapnya serius.
“Dengarkan aku. Apa pun yang kau dengar nanti, jangan berlari sendirian. Tetaplah bersama Mike atau aku.”
Lily tidak menjawab. Ia hanya mempercepat gerakannya.
Gento keluar untuk memberikan perintah kepada anak buahnya, sementara Lily segera mengikuti dari belakang.
Di lorong lain, Mike telah membangunkan Suzuki. Lelaki yang baru saja mendapatkan perawatan itu masih lemah, tetapi ia langsung memahami bahaya ketika melihat para penjaga berlari membawa senjata.
“Mahito datang?” tanyanya.
Mike mengangguk.
“Ya. Kita harus pergi sekarang.”
Suzuki menatapnya dengan sorot mata muram.
“Jadi, akhirnya dia datang juga.”
Suara ledakan tiba-tiba mengguncang seluruh bangunan.
DUARRR!
Gerbang utama hancur sebagian. Pecahan besi dan debu beterbangan ke halaman, sementara alarm darurat mulai meraung di berbagai sudut kediaman.
Mike yang sedang membantu Suzuki berjalan langsung menoleh.
“Cepat! Mereka sudah masuk!”
Teriakan terdengar dari luar. Tak lama kemudian, bunyi tembakan bersahutan, memecah kesunyian malam.
Para penjaga Gento mengambil posisi di balik pilar dan dinding. Mereka membalas serangan, sementara sebagian lainnya berusaha membuka jalur menuju garasi bawah tanah.
Gento berlari menuju halaman bersama beberapa anak buahnya. Ia harus mencapai jet pribadi sebelum pasukan Mahito menguasai seluruh akses keluar.
Namun, baru beberapa langkah ia bergerak, suara tembakan terdengar dari belakang.
Seorang pria terjatuh di dekatnya.
Gento berbalik dan mendapati pasukan Mahito telah memasuki koridor utama.
“Lindungi jalur timur!” teriaknya.
Ia menembakkan pistol ke arah para penyerang yang mendekat, lalu berlindung di balik pilar ketika tembakan balasan menghantam dinding di sampingnya.
Pertempuran berlangsung semakin sengit.
Mike berusaha membawa Suzuki menuju jalur belakang, tetapi sebelum mereka mencapai ujung koridor, beberapa anak buah Mahito muncul dari persimpangan.
Mike mengangkat pistolnya dan membalas tembakan. Salah seorang penyerang terjatuh, tetapi yang lain segera berlindung dan menyerang kembali.
Sebuah peluru menghantam kaki Mike.
“Ah!”
Tubuhnya terhuyung sebelum jatuh berlutut. Darah mulai merembes melalui celananya.
Suzuki segera memegang bahunya.
“Mike!”
“Aku masih bisa bergerak,” jawab Mike dengan wajah menahan sakit.
Namun, sebelum ia sempat berdiri, suara langkah berat terdengar dari ujung koridor.
Mahito muncul bersama beberapa orang bersenjata.
Mike mencoba mengangkat pistol, tetapi Mahito menembak lebih dahulu. Peluru itu menghantam lantai tepat di dekat tangannya, membuat pistolnya terlepas.
“Jangan bergerak!” bentak Mahito.
Mike menggertakkan gigi. Ia tahu bahwa ia tidak akan mampu bertarung dalam keadaan seperti itu.
Dari arah lain, Gento melihat mereka terjebak. Ia segera berlari mendekat, menembak salah seorang anak buah Mahito yang mencoba menghalangi jalannya.
“Mike! Bawa Yahiko pergi!” teriak Gento. “Aku akan menahannya!”
Mike menoleh kepadanya.
“Bagaimana denganmu?”
“Lakukan saja!”
Suzuki menggeleng tegas.
“Bawa Nariku. Ini masalahku dengan Mahito. Dendam lama kami harus diselesaikan malam ini.”
“Ayah!” Lily yang baru tiba di persimpangan langsung menarik lengan Suzuki.
Matanya mulai berkaca-kaca ketika melihat darah di kaki Mike dan para pria yang tergeletak di sepanjang koridor.
“Tidak. Kita pergi bersama!”
Suzuki memegang kedua bahu putrinya.
“Nak, dengarkan Ayah.”
Lily menggeleng pelan. Ia sudah terlalu lama kehilangan orang-orang yang dicintainya. Ia tidak sanggup membayangkan harus meninggalkan ayahnya sekali lagi, terlebih setelah baru saja bertemu kembali dengannya.
“Ayah, kumohon. Kita bisa pergi sekarang. Kita tidak perlu tinggal di sini!”
Suzuki menatap wajah putrinya dengan kesedihan yang sulit disembunyikan.
“Pergilah, Nariku.”
“Tidak!”
“Jangan membuat pengorbanan Ayah menjadi sia-sia.”
Suzuki kemudian mengangguk kepada Mike.
“Bawa dia pergi. Jangan biarkan dia kembali ke sini.”
Mike mengatupkan rahang. Dengan susah payah, ia berdiri sambil menahan berat tubuhnya pada dinding, kemudian meraih lengan Lily.
“Maafkan aku, Nona. Kita harus pergi.”
Lily berusaha melepaskan diri.
“Ayah!”
Namun, Suzuki sudah berbalik menghadapi Mahito.
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari ruang bawah tanah Gento, ia berdiri tanpa berusaha melarikan diri.
Malam itu, ia tidak ingin terus bersembunyi.
Mahito menghentikan langkah ketika berhadapan dengan Suzuki.
Keduanya berdiri beberapa meter dari satu sama lain. Di antara mereka, suara tembakan dan teriakan masih terdengar, tetapi seolah-olah tidak ada lagi yang berarti.
Dua lelaki itu telah membawa masa lalu mereka selama bertahun-tahun.
Malam ini, salah satu dari mereka mungkin tidak akan meninggalkan tempat tersebut dalam keadaan hidup.
“ Suzuki,” ujar Mahito dengan suara dingin. “Aku tidak akan melepaskanmu malam ini.”
Suzuki menatapnya tanpa gentar.
“Pak Mahito, jika anak dan menantumu tidak melakukan kesalahan, aku tidak akan membunuh mereka.”
Mata Mahito menyipit.
“Kau masih berani membela diri setelah membunuh anakku?”
“Mereka menjadikan putriku sebagai bahan eksperimen!” balas Suzuki. “Nariku bahkan belum dilahirkan ketika mereka mulai memperlakukan tubuhnya sebagai objek penelitian. Orang tua mana yang sanggup menerima kenyataan bahwa anaknya sendiri dijadikan bahan percobaan sebelum sempat melihat dunia?”
Mahito mengepalkan tangan.
“Aku tidak peduli dengan alasanmu. Anak dan menantuku sudah mati, sedangkan kau masih hidup.”
“Karena kau memilih untuk tidak mencari tahu kebenarannya!”
“Aku sudah mengetahui cukup banyak!”
“Tidak. Kau hanya mengetahui bagian yang ingin kau percayai.”
Wajah Mahito semakin keras.
“Aku tidak datang ke sini untuk mendengarkan pembelaanmu.”
Ia mengangkat pistolnya.
“Malam ini, salah satu dari kita akan mati.”
Suzuki tidak mundur.
“Kalau begitu, lakukan apa yang ingin kau lakukan.”
Di sisi lain koridor, Satoshi akhirnya tiba bersama beberapa anak buahnya.
Ia baru saja melewati halaman yang dipenuhi asap ketika melihat pertempuran di depan. Ia mengangkat pistol, bersiap membantu pasukan Katagiri, tetapi langkahnya mendadak terhenti saat mendengar nama keluarganya disebut.
“Anak dan menantumu sudah mati,” kata Suzuki. “Namun, jangan berpura-pura tidak mengetahui apa yang dilakukan mereka kepada Nariku!”
Satoshi membeku.
Ia mengenali nama itu.
Lily.
Ia melangkah mendekat, berusaha mendengar percakapan yang semakin panas.
Mahito menatap Suzuki dengan kebencian yang selama ini disembunyikannya.
“Shoto dan Luna tidak pantas mati seperti itu!”
Suzuki tertawa hambar.
“Lalu, bagaimana dengan Nariku?, Apakah putrimu sendiri pantas dijadikan bahan eksperimen?”
Satoshi merasa dadanya seperti dihantam sesuatu.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanyanya, tetapi suaranya tenggelam oleh suara tembakan dari halaman.
Ia mencoba mendekat.
Suzuki kembali berbicara, kali ini dengan suara yang cukup keras untuk didengar Satoshi.
“Anakmu dan menantumu telah melakukan eksperimen terhadap Yahiko Nariku ketika dia masih berada di dalam kandungan ibunya. Mereka menggunakan serum yang mereka sebut DNA Abadi dan menjadikan putriku sebagai objek penelitian.”
Satoshi berhenti bernapas sejenak.
Lily.
Yahiko Nariku.
Eksperimen.
Kata-kata itu menyatu di dalam kepalanya, membentuk kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan.
Ia mengetahui bahwa orang tuanya bekerja di pusat penelitian Katagiri. Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa mereka masih hidup dan melanjutkan penelitian di Swedia. Mahito selalu mengatakan bahwa kecelakaan di pusat penelitian telah menghancurkan sebagian besar catatan lama.
Namun, kini Suzuki mengatakan sesuatu yang berbeda.
“Bohong!” bentak Satoshi. “Orang tuaku masih hidup! Mereka berada di Swedia!”
Mahito menoleh tajam kepadanya.
“Satoshi, jangan ikut campur!”
“Apa yang sebenarnya terjadi, Kakek?”
Mahito tidak menjawab.
Suzuki menatap Satoshi dengan sorot mata lelah.
“Orang-orang yang selama ini kau kenal sebagai Shoto dan Luna hanyalah orang suruhan yang diperintahkan menyamar. Mereka bukan orang tua kandungmu.”
Satoshi menggeleng keras.
“Tidak mungkin.”
“Pusat penelitian itu terbakar setelah aku mengetahui apa yang mereka lakukan kepada Nariku. Aku memerintahkan anak buahku mengepung tempat itu, memutus pengawasan, dan membunuh semua orang yang berada di dalamnya. Shoto dan Luna termasuk di antara mereka.”
Satoshi merasa dunia di sekelilingnya berputar.
Ia tidak mampu memahami bagaimana dua orang yang selama ini ia rindukan ternyata telah meninggal bertahun-tahun lalu, sementara kakeknya sengaja membiarkannya percaya bahwa mereka masih hidup.
Ia menoleh kepada Mahito.
“Katakan bahwa semua ini bohong.”
Mahito mengangkat pistolnya, tetapi tidak memberikan jawaban.
“Kakek!”
“Diam, Satoshi!”
Bentakan itu membuat Satoshi terdiam.
Mahito kembali mengarahkan senjatanya kepada Suzuki.
“Aku sudah cukup mendengarkanmu.”
Semuanya terjadi begitu cepat.
Sebelum Satoshi sempat bergerak, Mahito menarik pelatuk.
Dor!
Suzuki tersentak ketika peluru menghantam tubuhnya.
Suzuki terhuyung, tetapi masih berusaha berdiri.
Mahito menembak lagi.
Dor! Dor!
Tubuh Suzuki akhirnya jatuh ke lantai.
Satoshi membeku di tempat.
Ia menatap lelaki yang telah membunuh orang tua kandungnya, memandang Suzuki yang terbaring bersimbah darah. Dalam hitungan detik, dua keluarga yang selama ini terikat oleh rahasia dan kebencian telah kehilangan seseorang.
Namun, sebelum Mahito sempat menembakkan peluru berikutnya, Gento muncul dari sisi koridor.
Ia melihat Suzuki terjatuh.
Melihat Mahito berdiri dengan pistol terangkat.
Sesuatu dalam diri Gento seolah-olah terputus.
Ia menerjang Mahito dan merebut pistol dari tangannya. Mahito mencoba melawan, tetapi usia dan posisi tubuhnya membuat gerakannya terlambat.
Gento mengarahkan senjata itu ke dada Mahito.
“Ini untuk semua orang yang kalian hancurkan!”
Dor! Dor!
Dua tembakan menggema di koridor.
Mahito terhuyung, lalu jatuh di dekat tubuh Suzuki.
Untuk beberapa detik, tidak seorang pun bergerak.
Dua lelaki yang telah menyimpan dendam selama bertahun-tahun kini terbaring di lantai yang sama.
Suzuki Yahiko tidak lagi bergerak.
Mahito Katagiri pun tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
“Kakek!”
Satoshi berlari mendekati Mahito. Ia berlutut di samping tubuh lelaki tua itu, mengguncang bahunya dengan tangan gemetar.
“Kakek, bangun!”
Tidak ada jawaban.
Satoshi memeriksa denyut nadi Mahito, tetapi jemarinya justru semakin gemetar ketika ia tidak menemukan tanda kehidupan.
“Kakek...”
Untuk pertama kalinya, Satoshi tidak tahu harus menyalahkan siapa.
Orang yang telah membesarkannya ternyata menyembunyikan kematian kedua orang tuanya. Orang yang telah menjadi musuh keluarganya ternyata membunuh mereka setelah mengetahui eksperimen yang dilakukan terhadap Lily.
Namun, Suzuki juga telah memerintahkan pembunuhan di pusat penelitian.
Tidak ada satu pun dari mereka yang sepenuhnya bersih.
Dan di tengah semua itu, Lily kembali menjadi orang yang harus menanggung akibat dari keputusan mereka.
Satoshi mengangkat kepala.
Ia melihat Gento berlari menuju halaman, sementara Mike berusaha menyusul dengan kaki terluka. Dari kejauhan, suara mesin jet mulai terdengar.
"Kau!”
Satoshi berdiri dan mengejar lelaki itu.
“Berhenti!”
Gento tidak menoleh.
Ia terus berlari melewati halaman, melewati para penjaga yang masih bertempur, hingga mencapai landasan kecil di belakang bangunan.
Jet pribadi telah menunggu dengan mesin menyala.
Mike berada di dekat tangga pesawat, menahan sakit pada kakinya. Begitu melihat Gento datang, ia segera memberi isyarat kepada pilot agar bersiap lepas landas.
Lily sudah berdiri di dekat pintu pesawat.
Wajahnya pucat, matanya dipenuhi air mata.
Lily memandang wajahnya, lalu memahami sesuatu yang tidak ingin dipercayainya.
“Tidak...” bisiknya.
Ia segera berlari melewati Gento, hendak kembali ke bangunan.
Gento menangkap lengannya.
“Lepaskan aku!”
“Yahiko, kita harus pergi!”
“Ayahku masih di sana!”
Gento mengatupkan rahang.
“Dia sudah tidak bisa kita selamatkan.”
Lily menatapnya dengan mata membesar, seolah-olah kalimat itu telah merobek sesuatu di dalam dirinya.
“Jangan berbohong!”
Ia memukul dada Gento, berusaha melepaskan diri.
“Kau berjanji akan membawa kami pergi bersama! Kau bilang akan membawa Ayah!”
Gento tidak membalas. Ia hanya menahan Lily agar tidak berlari kembali ke tengah pertempuran.
Air mata mengalir deras di wajah perempuan itu.
“Ayah!”
Lily kembali meronta, tetapi Mike yang telah mencapai sisi mereka ikut memegang lengannya.
“Nona, kita harus pergi sekarang. Jika kita tetap di sini, mereka akan menangkap kita!”
“Aku tidak peduli!”
“Aku tahu,” jawab Mike dengan suara tertahan. “Tetapi Ayahmu tidak ingin kau mati di tempat ini.”
Lily menggeleng berulang kali.
Ia baru saja mendapatkan kembali ayahnya setelah bertahun-tahun kehilangan keluarga. Ia bahkan belum sempat membawanya keluar dari tempat itu, belum sempat membawanya ke rumah kecil yang telah disiapkannya, dan belum sempat menjalani kehidupan sederhana yang selama ini ia impikan.
Kini, semuanya direnggut lagi darinya.
Namun, keadaan tidak lagi memberinya kesempatan untuk memilih. Mike dan dua orang penjaga membantunya naik ke pesawat, sementara Gento masuk beberapa detik kemudian.
Pintu jet mulai ditutup.
Lily berusaha bangkit dari kursinya.
“Turunkan aku! Aku ingin kembali!”
Gento berdiri di dekat pintu kabin.
“Yahiko, kita tidak bisa kembali.”
“Kau tidak berhak memutuskan itu!”
“Aku tahu!” bentak Gento, lalu segera terdiam ketika melihat wajah Lily yang penuh air mata. “Aku tahu aku tidak berhak. Tetapi jika kau turun sekarang, kau akan terbunuh.”
Lily menatapnya dengan kebencian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Pintu pesawat akhirnya tertutup rapat.
Beberapa detik kemudian, jet mulai bergerak menuju ujung landasan.
Satoshi tiba di halaman ketika pesawat mulai melaju.
“Lily!”
Ia berlari sekuat tenaga, mengangkat pistol yang masih berada di tangannya.
“Lily!”
Pesawat itu tidak berhenti.
Dengan tangan gemetar, Satoshi mengarahkan pistol ke badan jet yang mulai terangkat.
Dor! Dor!
Pelurunya tidak mengenai sasaran yang dapat menghentikan pesawat. Jet terus naik, meninggalkan landasan dan menjauh ke langit malam.
Satoshi berdiri terpaku.
Ia terus menatap pesawat itu hingga bentuknya menghilang di balik awan gelap.
Sekali lagi, Lily pergi tanpa bisa ia hentikan.
Namun, kali ini, bukan hanya karena ia telah kehilangan kepercayaan perempuan itu.
Lily sedang dibawa oleh seorang lelaki yang telah menculiknya, sementara ia sendiri baru saja mengetahui bahwa keluarganya dibangun di atas kebohongan dan darah.
Satoshi menurunkan pistolnya perlahan.
Di belakangnya, kediaman Gento masih dipenuhi suara tembakan dan teriakan. Mahito telah meninggal. Suzuki pun telah tiada. Tidak ada lagi kesempatan untuk menuntut jawaban langsung dari kedua lelaki itu.
Tetapi satu hal kini jelas baginya.
Rahasia keluarga Katagiri belum berakhir.
Dan Lily masih berada dalam bahaya.
Satoshi mengepalkan tangan, menahan rasa sakit yang menghimpit dadanya.
“Aku akan menemukanmu, Lily,” bisiknya.
Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah perempuan itu masih ingin ditemukan olehnya.
Di dalam jet yang semakin jauh meninggalkan Jepang, Lily duduk membeku di kursinya. Air matanya belum berhenti mengalir. Tangannya menggenggam ujung pakaian, sementara pandangannya terpaku pada jendela kecil yang memperlihatkan langit gelap.
Ayahnya telah pergi.
Kakek Satoshi telah mati.
Dan Gento masih membawanya menuju tempat yang tidak pernah ia pilih.
Lily memejamkan mata, mencoba menahan kesedihan yang seolah-olah tidak memiliki ujung.
Ia tidak tahu apa yang menantinya di Belanda. Ia tidak tahu apakah Gento akan kembali mengurungnya, apakah Satoshi akan mengejarnya, atau apakah masih ada orang lain yang memburu darahnya.
Di luar jendela, Jepang perlahan menghilang dari pandangan.
Dan bersama negeri itu, Lily meninggalkan satu-satunya keluarga yang baru saja berhasil ia temukan kembali—tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁