Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar dari Rumah
Pagi itu, Devan tiba di kantor Mahendra Group seperti biasa. Setelah meletakkan tas kerjanya, ia memeriksa jadwal pertemuan yang telah disusun Arga.
Salah satu agenda hari itu berkaitan dengan proposal investasi dari pihak Singapura yang sebelumnya dipresentasikan Clara Wijaya. Proposal tersebut masih dalam tahap peninjauan, sehingga Devan perlu membahas beberapa hal bersama jajaran direksi sebelum mengambil keputusan.
Beberapa menit kemudian, Arga mengetuk pintu ruangannya.
“Permisi, Tuan. Tim direksi sudah berkumpul di ruang rapat. Mereka siap membahas hasil peninjauan proposal investasi kemarin.”
Devan menutup berkas di hadapannya.
“Baik. Aku akan segera ke sana.”
Arga mengangguk, lalu membukakan pintu untuknya.
Devan berjalan menuju ruang rapat dengan pikiran terarah pada urusan perusahaan. Kembalinya Clara memang membawa kembali masa lalu yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, tetapi untuk saat ini, ia tidak berniat mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan.
...____🍀🍀🍀🍀___...
Di penthouse, Aira baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan ketika teringat pada keluarganya di kampung.
Sejak kerja sama dengan Galeri Nusantara disepakati, ia belum sempat berbincang lama dengan adik-adiknya. Ia ingin mengetahui bagaimana keadaan mereka, terlebih setelah para pengrajin mulai mempersiapkan produksi awal di sanggar tenun peninggalan kakeknya.
Aira mengambil ponsel, kemudian melakukan panggilan video kepada Ratih.
Tidak lama kemudian, wajah adiknya muncul di layar.
“Kak Aira!”
Aira tersenyum melihat Ratih menyambut panggilannya dengan wajah ceria.
“Halo, Ratih. Apa kabar? Kamu sedang apa?”
“Aku baik, Kak. Ini baru selesai membantu Bibi menyiapkan minuman untuk para pengrajin.”
Aira mengangkat alis.
“Para pengrajin sudah mulai bekerja?”
“Sudah, Kak. Sejak pagi sanggar ramai sekali. Ada yang menyiapkan benang, ada yang memeriksa alat tenun, ada juga yang mulai mengerjakan bagian awal pesanan.”
Mendengar itu, wajah Aira tampak lebih cerah.
“Syukurlah. Bagaimana keadaan Paman dan Bibi? Mereka tidak terlalu kerepotan, kan?”
“Sejauh ini masih bisa diatur. Paman mengurus pembagian pekerjaan, sedangkan Bibi membantu menyiapkan bahan-bahan. Aku juga membantu sebisaku kalau sudah selesai mengerjakan tugas sekolah.”
Aira mengangguk lega.
“Kalau begitu, jangan sampai kamu terlalu sibuk membantu sampai lupa belajar. Urusan sanggar biar Paman dan Bibi yang mengatur.”
“Iya, Kak. Aku tetap mengerjakan tugasku.”
Aira tersenyum kecil. Ia senang mendengar sanggar yang selama ini menjadi bagian penting dari hidupnya kembali dipenuhi aktivitas. Namun, ia juga tahu bahwa produksi awal harus dijalankan sesuai kemampuan para pengrajin agar mereka tidak kewalahan.
“Kalau ada kesulitan, bilang kepada Paman atau Bibi. Jangan memaksakan diri, ya.”
“Iya, Kak.”
Tiba-tiba terdengar suara Maya dari kejauhan.
“Kak Aira! Aku mau ikut!”
Ratih tertawa kecil, lalu mengarahkan kamera ke arah adiknya yang sedang berlari mendekat.
Maya muncul di layar dengan wajah bersemangat.
“Kakak!”
“Halo, Maya.” Aira tersenyum lebih lebar. “Apa kabar?”
“Baik! Kakak kapan pulang?”
Pertanyaan itu membuat Aira terdiam sejenak. Ia merindukan adik-adiknya, tetapi belum bisa memastikan kapan dapat kembali ke kampung.
“Nanti kalau ada waktu, Kakak pulang, ya. Sekarang Kakak masih ada beberapa urusan di Jakarta.”
Maya mengangguk, meski wajahnya sedikit berubah.
“Kakak jangan lama-lama.”
“Iya. Kamu yang rajin belajar dan jangan merepotkan Bibi.”
“Aku tidak merepotkan!”
Ratih yang berada di sampingnya langsung menyahut, “Tadi pagi siapa yang minta dibuatkan telur dua kali?”
“Itu karena aku masih lapar!” protes Maya.
Aira tertawa kecil melihat keduanya berdebat. Suasana seperti itu membuatnya merasa seolah-olah sedang berada di rumah bersama mereka.
“Sudah, jangan bertengkar. Maya, nanti kalau Bibi menyuruhmu membantu sesuatu, dengarkan, ya.”
“Iya, Kak.”
Tidak lama kemudian, Bima ikut muncul di layar. Anak laki-laki itu baru saja kembali dari luar setelah membantu Paman memindahkan beberapa perlengkapan sanggar.
“Kak Aira, lihat. Sekarang sanggar ramai sekali.”
Bima mengarahkan kamera ke bagian belakang rumah. Dari layar, Aira bisa melihat beberapa pengrajin sedang bekerja. Sebagian menata benang, sementara yang lain mempersiapkan alat tenun.
Aira memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan hangat.
“Bagus. Tapi jangan mengganggu mereka bekerja, ya.”
“Aku cuma membantu Paman.”
“Kalau begitu, bantu seperlunya saja. Jangan sampai pekerjaan sekolahmu terbengkalai.”
Bima mengangguk patuh.
Setelah berbincang tentang kegiatan mereka, Aira teringat sesuatu yang sejak tadi ingin ditanyakannya.
“Ratih, bagaimana keadaan Ibu?”
Senyum Ratih sedikit mereda, tetapi ia segera menjawab.
“Ibu masih stabil, Kak. Kondisinya belum banyak berubah dari sebelumnya. Perawatannya juga masih berjalan seperti biasa.”
Aira menghela napas lega.
“Syukurlah. Apa ada keluhan baru?”
“Sejauh yang kami tahu, belum ada perubahan yang perlu dikhawatirkan. Bibi juga masih rutin menghubungi pihak rumah sakit untuk menanyakan perkembangannya.”
Aira mengangguk pelan. Meskipun sudah mengetahui bahwa kondisi ibunya stabil, mendengar kabar itu langsung dari Ratih membuat hatinya sedikit lebih tenang.
“Kalau ada perkembangan apa pun, sekecil apa pun, segera beri tahu Kakak, ya.”
“Iya, Kak. Nanti kalau ada kabar dari rumah sakit, aku langsung menghubungi Kakak.”
Aira terdiam sesaat sebelum kembali bertanya.
“Kalian sudah menjenguk Ibu?”
“Sudah. Paman dan Bibi juga bergantian mengurus keperluan yang dibutuhkan. Ibu masih perlu istirahat, jadi kami tidak terlalu lama di sana.”
“Iya. Kalau menjenguk, jangan terlalu ramai sekaligus. Biarkan Ibu beristirahat dengan nyaman.”
“Iya, Kak.”
Aira menatap wajah adiknya di layar. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi ia tidak ingin membuat Ratih merasa harus melaporkan setiap hal secara terperinci.
“Terima kasih sudah membantu Paman dan Bibi mengurus sanggar. Kakak tahu kalian juga punya kesibukan masing-masing.”
Ratih tersenyum.
“Tidak apa-apa, Kak. Kami juga ingin membantu supaya Kakak tidak terlalu khawatir dari Jakarta.”
Ucapan itu membuat Aira terdiam sebentar.
Selama ini, ia berusaha memastikan kebutuhan keluarganya tetap terpenuhi meskipun harus tinggal jauh dari mereka. Mendengar Ratih mulai bisa membantu mengurus rumah dan sanggar membuatnya merasa sedikit lega.
“Kalian jaga diri baik-baik, ya. Jangan lupa belajar. Kalau ada sesuatu, jangan sungkan menghubungi Kakak.”
“Iya, Kak,” jawab Ratih.
“Kak Aira!” Maya kembali menyela. “Nanti telepon lagi, ya!”
Aira tertawa kecil.
“Iya. Nanti Kakak telepon lagi kalau ada waktu.”
Setelah berpamitan dengan adik-adiknya, Aira mengakhiri panggilan video. Ia masih memandangi layar ponselnya selama beberapa detik sebelum meletakkannya di atas meja.
Kabar dari rumah membuat perasaannya lebih tenang. Sanggar mulai sibuk, Paman dan Bibi bisa mengatur pekerjaan, dan kondisi ibunya masih stabil.
Setidaknya, untuk saat ini, semuanya berjalan dengan baik.
...___🍀🍀🍀🍀___...
Menjelang sore, Devan kembali ke penthouse setelah menyelesaikan urusan di kantor. Ia menemukan Aira sedang duduk di ruang tengah sambil memeriksa beberapa catatan yang berkaitan dengan sanggar.
Devan meletakkan tas kerjanya di atas meja sebelum melirik catatan tersebut.
“Sedang mengurus sanggar?”
Aira mengangkat wajah.
“Iya, Mas. Tadi saya menelepon Ratih untuk menanyakan kabar mereka.”
Devan melonggarkan dasinya.
“Bagaimana keadaan di sana?”
“Sanggar mulai ramai karena para pengrajin sudah mempersiapkan produksi awal untuk Galeri Nusantara. Paman dan Bibi yang mengatur pekerjaan mereka.”
Devan mengangguk.
“Bagus. Pastikan jumlah pesanan tetap sesuai dengan kemampuan mereka. Jangan sampai pekerjaan yang seharusnya membawa keuntungan justru membebani sanggar.”
“Saya juga memikirkan hal itu, Mas. Karena itu, saya menyerahkan pengaturan produksi kepada Paman dan Bibi. Mereka lebih memahami kondisi para pengrajin di sana.”
Devan memandang Aira sejenak sebelum mengalihkan pandangan.
“Itu keputusan yang tepat.”
Aira mengangguk kecil, kemudian kembali membereskan catatannya.
Beberapa saat kemudian, Devan kembali bertanya, “Bagaimana keadaan ibumu?”
Aira menghentikan gerakannya.
“Kondisinya masih stabil seperti sebelumnya. Ratih bilang belum ada perubahan yang perlu dikhawatirkan.”
“Bagus. Kalau ada perkembangan, beri tahu aku.”
Aira sedikit terkejut mendengar permintaan itu. Namun, ia tidak ingin langsung mengartikan perhatian sederhana tersebut sebagai sesuatu yang lebih besar.
“Baik, Mas. Terima kasih.”
Devan hanya mengangguk sebelum berjalan menuju kamarnya.
Aira kembali menatap catatan di hadapannya.
Devan belakangan ini memang beberapa kali menanyakan keadaan ibunya. Meski begitu, Aira memilih untuk tidak memikirkan lebih jauh sikapnya. Bagaimanapun, hubungan mereka masih sebatas kesepakatan yang telah dibuat sejak awal.
Sementara itu, Devan tidak memikirkan kembali percakapan tersebut. Baginya, menanyakan keadaan ibu Aira adalah hal yang wajar, terlebih ia mengetahui betapa pentingnya perempuan itu bagi istrinya.
Mereka masih memiliki banyak hal yang belum dipahami satu sama lain. Namun, hari itu, di antara kesibukan sanggar dan urusan perusahaan, ada sedikit ruang bagi keduanya untuk mulai mengenal kehidupan masing-masing.
Dan untuk saat ini, langkah kecil itu sudah cukup.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,