NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 10

Sebulan Kemudian

Sebulan telah berlalu sejak Emma resmi menjadi bagian dari keluarga vampir kerajaan. Hubungannya dengan Damian perlahan semakin dekat, meskipun pria itu masih sering memasang wajah datar dan berbicara dengan nada dingin.

Namun, setidaknya sekarang Emma sudah terbiasa dengan keberadaan suaminya yang terkadang menyebalkan itu.

Sayangnya, selama sebulan penuh, Emma tidak pernah sekalipun diizinkan keluar dari mansion. Ada banyak godaan yang berusaha memancingnya keluar, mulai dari bisikan-bisikan mencurigakan hingga hasutan para vampir jahat yang mengincar dirinya. Beruntung, Sonia, pelayan pribadi yang ditugaskan untuk menjaganya, selalu sigap menghalau siapa pun yang mencoba mendekati Emma.

Sonia bahkan hampir tidak pernah membiarkan Emma sendirian. Pelayan itu menjaga Emma selama dua puluh empat jam, seolah gadis itu merupakan harta paling berharga di seluruh mansion.

Pagi itu, Damian berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Dengan setelan jas hitam yang melekat rapi di tubuhnya, pria itu sibuk membenarkan letak dasinya.

"Sebentar lagi aku berangkat ke kantor. Kau bersiaplah, malam ini kita akan menghadiri ritual darah," ujar Damian sambil merapikan simpul dasinya untuk terakhir kali.

Emma yang sedang duduk di dekat jendela langsung menoleh pelan.

"Ritual darahnya malam ini?" tanyanya memastikan.

"Memangnya aku pernah bilang ritualnya akan diadakan besok?" sahut Damian datar tanpa mengalihkan pandangan dari cermin.

Emma mendengkus pelan.

"Ya ampun, ditanya baik-baik malah dijawab begitu."

Damian tidak menanggapi ocehan istrinya. Ia mengambil jam tangan dari atas meja, lalu memasangnya di pergelangan tangan.

Ketika hendak melangkah pergi, pandangannya menangkap bayangan Sonia yang berdiri diam di luar kamar. Pelayan itu tampak enggan masuk sebelum dipersilakan.

Emma yang menyadari keberadaan Sonia hanya menggeleng kecil. Gadis itu kemudian kembali menatap Damian yang masih berdiri di depan cermin.

"Damian, sini sebentar!"

Pria itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh dengan sebelah alis terangkat.

"Ada apa lagi?"

"Lemari lah, biar aku rapikan," panggil Emma sambil bangkit dari duduknya.

Damian menatapnya sejenak sebelum berjalan mendekat.

"Jangan cuma berdiri, Damian. Jangan jadikan itu kebiasaan," tegur Emma ketika suaminya sudah berada di hadapannya.

"Apa maksudmu?"

"Ya, maksudku, jangan selalu menunggu orang lain melakukan sesuatu untukmu. Kau punya tangan, kan?" jawab Emma santai sambil menunjuk dasi yang masih sedikit miring.

Damian mengembuskan napas pendek. Entah sejak kapan istrinya mulai berani mengatur dirinya seperti itu.

Namun, alih-alih membantah, ia justru menundukkan kepala sedikit agar Emma lebih mudah merapikan dasinya.

Perbedaan tinggi badan mereka membuat Emma harus sedikit mendongak, sedangkan Damian cukup menundukkan wajahnya untuk memudahkan istrinya menjangkau bagian kerah.

Emma mulai membenarkan simpul dasi Damian dengan teliti. Sesekali, ia menarik ujung dasi itu agar posisinya terlihat lebih rapi.

Sementara itu, Damian justru terdiam.

Tatapannya perlahan beralih pada wajah Emma yang kini berada begitu dekat dengannya.

Cantik.

Entah mengapa, itulah satu-satunya kata yang terlintas di benaknya.

Rambut Emma menguar aroma stroberi yang lembut, membuat Damian dapat mencium wanginya dengan jelas. Bulu mata gadis itu tampak lentik ketika ia menunduk, sibuk memastikan dasi suaminya terpasang sempurna.

Hidungnya mancung, pipinya memiliki rona merah alami, dan kulit wajahnya terlihat begitu lembut.

Tatapan Damian kemudian turun, berhenti sejenak pada bibir merah cerah Emma.

Pria itu terdiam lebih lama dari yang seharusnya.

Cantik sekali.

Bagaimana bisa perempuan ini membuatku terus memperhatikannya seperti orang bodoh?

Damian mengerutkan keningnya sendiri, seolah kesal karena pikirannya mulai bertingkah aneh.

Padahal, selama bertahun-tahun, ia tidak pernah tertarik memperhatikan seseorang sedetail ini.

Namun, sekarang justru istrinya sendiri yang membuatnya kehilangan fokus hanya karena sedang merapikan dasi.

"Sudah!" seru Emma setelah selesai membenarkan simpul dasi tersebut.

Gadis itu mengangkat wajahnya, hendak memeriksa hasil pekerjaannya.

Namun, gerakannya mendadak terhenti ketika mendapati Damian sedang menatapnya lekat-lekat.

Mata mereka bertemu.

Emma terdiam, begitu pula Damian.

Di balik topeng setengah yang menutupi sebagian wajahnya, sepasang mata hitam pekat milik Damian masih tertuju padanya. Tatapan itu terasa begitu intens hingga Emma tanpa sadar menelan ludah.

"Kenapa?" tanya Emma pelan, mulai merasa salah tingkah. "Ada yang salah dengan dasimu?"

Damian tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan wajah Emma sekali lagi, membuat gadis itu semakin kebingungan.

"Damian?" panggil Emma sambil melambaikan tangan kecil di depan wajah suaminya.

Damian akhirnya tersadar.

"Tidak ada," jawabnya singkat.

"Lalu, kenapa kau menatapku begitu?"

"Aku tidak menatapmu."

Emma langsung mengernyit tidak percaya.

"HAH? Terus tadi matamu mengarah ke mana? Ke tembok?"

Damian memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan kegugupan yang bahkan tidak ingin ia akui sendiri.

"Cerewet."

Emma mendengkus kesal, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Dasar vampir menyebalkan!"

Damian meraih jasnya yang tergantung di dekat lemari. Sebelum melangkah pergi, ia sempat menoleh sekali lagi kepada Emma.

"Jangan terlambat bersiap. Aku tidak akan menunggumu terlalu lama."

"Iya, Tuan Pangeran! Sana pergi kerja!" balas Emma sambil mengibaskan tangannya, mengusir Damian seperti mengusir seekor lalat.

Damian menggeleng pelan, kemudian berjalan menuju pintu kamar.

Namun, tepat sebelum keluar, sudut bibirnya sempat terangkat tipis di balik topeng yang dikenakannya.

Senyum kecil yang tidak sempat dilihat Emma.

Dan mungkin, Damian sendiri belum menyadari bahwa selama sebulan terakhir, mansion yang biasanya terasa begitu sunyi kini mulai terasa berbeda sejak kehadiran gadis manusia itu.

Saat Damian hendak melangkah keluar dari kamar, sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya.

"Damian, tunggu sebentar!" panggil Raina yang sejak tadi berdiri tak jauh dari pintu.

Damian menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah sang mami.

"Ada apa, Mi?" tanyanya sambil membenarkan letak jasnya.

"Bagaimana keadaan Emma?" tanya Raina dengan sorot mata penuh perhatian. "Apa dia baik-baik saja?"

"Baik, Mi. Sebentar malam kami akan melaksanakan ritual darah," jawab Damian tenang.

Raina terdiam sesaat, kemudian menatap putranya dengan sedikit keraguan.

"Apakah Emma sudah setuju?" tanyanya memastikan.

Damian menghela napas pendek sebelum menjawab, "Sepertinya belum, tetapi dia harus mau."

Kening Raina langsung berkerut mendengar jawaban putranya.

"Kalau begitu, berarti dia memang belum bersedia, Damian," tegur Raina lembut. "Kau tidak bisa terus memaksanya melakukan sesuatu yang bahkan belum dia pahami sepenuhnya."

Damian mengalihkan pandangannya, tampak kurang tertarik membahas hal tersebut lebih jauh.

"Mi, ritual itu penting untuk melindunginya. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya berulang kali," jawabnya dengan nada datar.

"Justru karena itu kau harus membuatnya mengerti, Sayang," balas Raina. "Emma memang sudah menjadi istrimu, tetapi dia tetap manusia yang baru mengetahui dunia kita. Berikan dia kesempatan untuk memahami semuanya."

Damian terdiam sejenak. Meski tidak membantah, ekspresinya menunjukkan bahwa ia masih memikirkan cara agar ritual tersebut tetap terlaksana malam nanti.

"Kalau begitu, Mami coba saja membujuknya," ujar Damian akhirnya.

Raina menggeleng kecil melihat sikap putranya yang seolah menyerahkan seluruh urusan itu kepadanya.

"Kau ini, Damian..."

"Ah, Mami, aku berangkat dulu, ya. Aku hampir lupa kalau pagi ini ada rapat penting di kantor," potong Damian sambil melirik jam tangannya.

Sebelum Raina sempat mengatakan apa-apa lagi, Damian langsung merengkuh tubuh ibunya dan memeluknya singkat.

"Aku pergi dulu, Mi. Jangan terlalu merindukanku," godanya ringan.

Raina mendelik kecil, lalu menepuk pelan lengan putranya.

"Dasar anak kurang ajar! Cepat pergi sana sebelum Mami berubah pikiran dan menyuruhmu tinggal di rumah!" omelnya.

Damian terkekeh pelan sebelum melepaskan pelukannya.

"Baik, Ratu Kerajaan Vampir," balasnya sambil membungkuk kecil dengan gaya berlebihan.

Setelah itu, Damian melangkah keluar dari mansion, meninggalkan Raina yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putranya.

Begitu suara langkah Damian menjauh, Raina mengalihkan pandangannya kepada Sonia yang masih berdiri di dekat pintu kamar Emma.

"Sonia!" panggil Raina.

Sonia yang sejak tadi menunggu dengan sikap sopan segera menegakkan tubuhnya.

"Iya, Nyonya?" jawabnya sigap.

"Kau pergilah sebentar. Ada sesuatu yang perlu kubicarakan dengan menantuku," perintah Raina lembut.

"Baik, Nyonya," jawab Sonia sambil menundukkan kepalanya.

Tanpa bertanya lebih jauh, Sonia segera beranjak pergi, meninggalkan Raina seorang diri di depan kamar Emma.

Raina menatap pintu kamar itu selama beberapa detik sebelum mengembuskan napas panjang.

Ia hanya berharap Emma tidak akan membencinya setelah mengetahui alasan di balik pernikahan tersebut.

Dengan hati-hati, Raina mengetuk pintu kamar menantunya.

Tok... tok... tok...

"Emma, Sayang? Ini Mami. Boleh Mami masuk?" tanyanya lembut dari balik pintu.

...----------------...

hayyy semuanya jangan lupa untuk like dan komen yah biar semangat aku nulis nya

Biar lebih enak kan kalian bisa kasi ide ide buat cerita ini juga loh

Bayeee sayang sayang ku semoga suka love you macccc 🤍🌼

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!