NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RDBMB 31

Sedan tua yang dikemudikan Theodore berhenti pelan di pelataran parkir gedung pencakar langit megah berlantai tiga puluh milik Zico Group. Bangunan berlapis kaca kebiruan itu menjulang angkuh di pusat kawasan bisnis, memancarkan kesan kekuasaan yang sangat dominan.

Yevone memandangi gedung itu dari balik kaca jendela mobil dengan dada yang berdebar kencang. Jemarinya yang saling bertaut di atas paha terasa sangat dingin dan agak gemetar.

"Takut?" panggil Theodore pelan sambil mematikan mesin mobil, lalu menoleh menatap istrinya dengan sorot mata yang teduh.

"Sedikit..." bisik Yevone sambil menelan ludah dengan susah payah. "Zico itu sangat licik, Theo. Aku punya firasat buruk soal pertemuan ini. Tapi aku tidak punya pilihan lain demi Kakek dan Ibu."

Theodore meremas lembut tangan dingin Yevone, memberikan dorongan rasa aman yang tak terlihat. "Ingat kata-kataku, Yev. Kalau ada hal yang mencurigakan atau kamu merasa tidak nyaman, langsung tolak. Kamu tidak sendirian. Aku berdiri tepat di belakangmu."

Yevone mengangguk pelan, menghela napas panjang untuk menenangkan gejolak di dadanya. Ia membetulkan posisi tas kerjanya, menyapu sisa rasa ragu, lalu mendorong pintu mobil untuk melangkah keluar. Theodore mengikuti dari belakang dengan langkah tenang dan teratur, mengenakan kemeja polosnya yang bersahaja.

Di lobi utama yang berlantai marmer impor, dua orang sekretaris berbusana rapi langsung mengarahkan Yevone menuju lift pribadi VVIP. Namun, saat Theodore hendak melangkah masuk ke dalam ruang lift bersama Yevone, seorang pengawal bertubuh tinggi besar berjas hitam mendadak merentangkan tangannya, menahan dada Theodore secara kasar.

"Sopir dilarang masuk ke lantai eksekutif," sergah pengawal itu dengan nada dingin, menatap rendah kemeja lusuh yang dikenakan Theodore.

"Dia suamiku," potong Yevone tegas, menatap pengawal itu dengan mata tajam tanpa rasa takut. "Kalau dia tidak boleh ikut naik, aku membatalkan pertemuan ini sekarang juga."

Pengawal itu sempat ragu sejenak, lalu melirik earphone di telinganya. Setelah mendapat konfirmasi singkat dari atasannya, ia terpaksa menarik kembali tangannya sambil mendengus gusar. "Silakan naik. Tapi jangan buat kekacauan di atas."

Pintu lift berlapis emas tertutup rapat, meluncur kencang menuju lantai paling atas.

Ketika pintu lift terbuka kembali di lantai tiga puluh, sebuah ruang kerja pribadi yang sangat luas dan mewah menyambut mereka. Dinding kaca raksasa menembus pemandangan seluruh sudut kota dari ketinggian. Di balik meja kayu jati berukir yang amat tebal, Zico sedang duduk santai di kursi kulit mewahnya. Pemuda itu mengenakan kemeja sutra mahal dengan dua kancing atas terbuka. Tangan kanannya yang sempat cedera masih tampak terbebat perban tipis, namun raut wajahnya dipenuhi rasa percaya diri yang tinggi dan senyuman angkuh.

Melihat Yevone melangkah masuk, mata Zico seketika berbinar penuh keserakahan. Namun, saat pandangannya bergulir ke arah sosok Theodore yang berjalan santai di belakang Yevone, senyuman Zico mendadak surut, digantikan oleh kilatan kebencian yang membara.

"Yevone... akhirnya kamu datang juga," panggil Zico dengan suara berat yang dipaksa ramah, berdiri dari kursinya. "Aku sudah dengar musibah besar yang menimpa Mahendra Group pagi ini. Sangat disayangkan perusahaan sekelas Mahendra bisa hancur begitu cepat gara-gara manajemen yang tidak becus."

Zico melirik Theodore dengan sudut matanya yang sinis. "Dan aku tidak menyangka kamu masih mau membawa benalu pembawa sial ini ke kantorku yang bersih."

Yevone tidak melayani ejekan itu. Ia berdiri tegap beberapa meter di depan meja Zico, menyilangkan pandangan dengan penuh ketegasan profesional.

"Aku datang ke sini murni untuk urusan bisnis, Zico," potong Yevone cepat tanpa basa-basi. "Keluarga Mahendra membutuhkan pinjaman dana darurat sebesar lima puluh miliar rupiah untuk menutup kewajiban kredit di bank. Kami menawarkan saham anak perusahaan cosmetics milikku sebagai jaminan resmi."

Zico tertawa terkekeh-kekeh, sebuah gelak tawa renyah yang terdengar sangat meremehkan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke tepi meja kerja, bersedekap dada sambil menatap Yevone dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Saham perusahaan kosmetik murahanmu itu tidak ada artinya dibanding lima puluh miliar rupiah tunai, Yevone," cibir Zico dengan nada merendahkan. "Tapi... karena aku selalu memiliki perasaan khusus padamu, aku sudah menyiapkan draf perjanjian pinjaman khusus ini. Anggap saja ini bukti kebaikan hatiku untuk menyelamatkan kakekmu yang tua renta itu."

Zico merogoh sebuah map kulit berwarna hitam pekat dari atas mejanya, lalu melempar dokumen tebal itu ke hadapan Yevone. Dokumen itu mendarat di atas meja kayu jati dengan bunyi tebal yang berat.

"Bacalah. Kalau kamu setuju dan menandatanganinya sekarang, lima puluh miliar rupiah akan langsung ditransfer ke rekening Mahendra Group dalam waktu lima menit," janji Zico sambil menyunggingkan senyum culas.

Yevone menarik dokumen tebal bertuliskan *Surat Perjanjian Pinjaman Modal Darurat* itu. Jemarinya yang lentik membuka lembar demi lembar kertas bermaterai tersebut.

Pada lembar pertama, segalanya terlihat biasa seperti kontrak utang usaha pada umumnya. Namun, ketika Yevone membalikkan halaman ke lembar ketiga dan keempat, matanya seketika membelalak lebar. Warna merah di pipinya mendadak menguap total, berganti dengan pucat pasi yang mencekam.

Napas Yevone tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga tangannya gemetar hebat memegang pinggiran kertas tersebut.

Poin-poin di dalam kontrak itu bukanlah perjanjian utang bisnis biasa, melainkan sebuah jebakan perangkap mematikan yang dirancang untuk memeras seluruh darah dan kehormatan keluarga Mahendra!

Bunga pinjaman yang ditetapkan bukan bunga bank normal lima atau delapan persen per tahun, melainkan bunga gila sebesar dua puluh persen per minggu yang dihitung secara majemuk. Batas waktu pelunasan total lima puluh miliar rupiah beserta bunganya diringkas secara tidak masuk akal hanya dalam kurun waktu empat belas hari kerja!

Dan yang paling mengerikan adalah pasal jaminan tambahan di halaman terakhir.

Di dalam pasal tersebut tertulis secara eksplisit bahwa jika keluarga Mahendra gagal melunasi utang beserta bunga gila tersebut dalam batas waktu empat belas hari, maka seluruh aset pribadi Yevone, seluruh saham Mahendra Group, serta seluruh aset tanah dan rumah milik Kakek Surya akan disita sepenuhnya oleh Zico Group tanpa melalui proses pengadilan.

Bahkan ada klausa tambahan terselubung yang menyebutkan bahwa untuk menjamin kepatuhan eksekusi aset, Yevone bersedia menyerahkan seluruh hak kebebasan pribadinya dan melepaskan seluruh jabatan bisnisnya di bawah pengawasan mutlak Zico secara pribadi.

Ini bukan surat utang! Ini adalah dokumen perbudakan berdarah yang akan memiskinkan dan menghancurkan hidupnya selamanya!

"Ini... ini gila!" jerit Yevone dengan suara bergetar keras menahan amarah yang membakar dadanya. Ia melempar kertas-kertas itu kembali ke atas meja Zico dengan tangan gemetar. "Ini bukan surat pinjaman utang! Ini jebakan pemerasan! Bunga dua puluh persen seminggu dan penyitaan seluruh aset dalam dua minggu?! Kamu mau merampok keluargaku secara terang-terangan, Zico?!"

Melihat reaksi emosional Yevone, senyuman pura-pura ramah di wajah Zico seketika menguap total. Pemuda arogan itu tegak berdiri, melangkah perlahan mendekati Yevone dengan sorot mata yang penuh kejam dan dominasi.

"Merampok?" Zico tertawa dingin, matanya berkilat buas bagaikan serigala yang sedang mengunci mangsanya yang terpojok. "Jangan menggunakan kata yang kasar, Yevone. Kamu datang ke kantorku mengemis uang lima puluh miliar rupiah! Di luar sana, tidak ada satu pun bank atau investor yang mau meminjamkan uang senilai itu kepada perusahaan yang sedang di ambang bangkrut seperti Mahendra Group!"

Zico memajukan wajahnya hanya beberapa jengkal dari wajah Yevone, menatap gadis itu dengan tatapan penuh ancaman yang merendahkan. "Kamu harus sadar posisi, Yevone. Tanpa tanda tanganmu di atas kertas itu hari ini, besok pagi kakekmu yang tua itu bakal diusir ke jalanan oleh bank! Ibumu yang serakah itu bakal membusuk di dalam sel penjara gara-gara utang investasi bodongnya! Dan perusahaan kosmetik kebanggaanmu bakal disita habis!"

Yevone melangkah mundur satu titik, dadanya naik turun dengan liar. Air mata kekecewaan dan rasa tertekan yang amat sangat mulai merebak di pelupuk matanya.

"Kamu bajingan, Zico..." panggil Yevone parau dengan bibir bergetar.

"Aku cuma pebisnis yang cerdas, Sayang," balas Zico menyeringai culas sambil menyodorkan sebatang pena emas mewah ke tangan Yevone yang gemetar. "Pilihannya ada di tanganmu sekarang. Tanda tangani surat kontrak ini, selamatkan keluargamu dari kemiskinan, atau biarkan mereka semua hancur berantakan hari ini juga!"

Yevone memandangi pena emas di tangannya, lalu melirik lembar kontrak berdarah di atas meja. Rasa takut, keputusasaan, dan dorongan moral untuk menyelamatkan keluarganya saling berbenturan dahsyat di dalam dadanya.

Di balik punggung Yevone, Theodore berdiri diam tak bergeming. Tatapan mata hitamnya yang semula teduh kini perlahan-lahan meredup dingin, mengunci sosok Zico dengan aura kejam yang siap melahap apa saja.

1
Glastor Roy
update
Fery Oktavian: update tiap hari 5 bab
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!