Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyap Malam dan Awal Langkah Daring
Jamuan makan malam yang dipenuhi ketegangan berbalut kehangatan rahasia itu akhirnya usai saat jarum jam dinding berdetak menunjukkan pukul sepuluh malam. Hidangan penutup telah dibersihkan oleh para pelayan, meninggalkan keheningan yang tersisa di ruang makan megah klan Wijaya.
Rian tidak berniat menghabiskan waktu lebih lama di tempat yang dipenuhi oleh manusia-manusia bertopeng. Tanpa memedulikan tatapan dingin, dengki, maupun rasa penasaran yang ditunjukkan oleh Shinta, Arsyila, dan para kerabat lainnya, Rian memutar kursi rodanya mendekati posisi Eyang.
"Eyang, kami mohon pamit untuk pulang terlebih dahulu. Kirana harus beristirahat karena besok ada kegiatan di kampusnya," ucap Rian dengan nada lembut yang sarat akan rasa hormat kepada sang matriark.
Eyang mengulas senyum hangat, mengusap jemari Kirana sekali lagi dengan penuh kasih sayang. "Iya, Rian. Bawa istrimu pulang dan jaga dia baik-baik. Kirana, sering-seringlah berkunjung ke sini menemani Eyang, ya."
"Baik, Eyang. Terima kasih banyak atas sambutan dan kehangatan Eyang malam ini," jawab Kirana dengan bungkukan santun yang memikat.
Tanpa sepatah kata pun dilontarkan kepada Arsyila atau anggota keluarga lainnya yang mematung di sekeliling meja, Rian mengisyaratkan Kirana untuk melangkah di sisiku. Dengan dagu terangkat tegap dan langkah anggun, Kirana berjalan mendampingi Rian membelah aula utama, mengabaikan tatapan mata yang terus menguliti mereka hingga pintu depan.
Begitu pintu mobil sedan mewah tertutup rapat dan kendaraan melaju membelah kegelapan malam meninggalkan kediaman utama, keheningan yang menenangkan menyelimuti kabin.
Kirana menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk, menghembuskan napas panjang yang sedari tadi terasa menghimpit dadanya.
"Kamu bertindak sangat baik malam ini," suara bariton Rian mengalun rendah di tengah kegelapan kabin, memecah kesunyian.
Kirana menoleh, mendapati Rian sedang menatapnya dengan binar kehangatan di balik sorot mata hitamnya yang biasa dingin.
"Terima kasih, Mas Rian... karena sudah membela dan melindungiku di hadapan keluarga besar," bisik Kirana tulus dengan senyum tipis di bibirnya.
Rian mengulurkan tangannya, menggenggam lembut jemari Kirana yang hangat. "Sudah menjadi kewajibanku. Ingat, di rumah ini dan di dunia luar, tidak ada satu orang pun yang boleh merendahkanmu lagi."
Langkah roda kendaraan mewah itu akhirnya terhenti di pelataran mansion. Suasana kediaman pribadi Rian malam itu begitu tenang, memberikan kedamaian yang berbanding terbalik dari atmosfer penuh intrik di kediaman utama keluarga Wijaya.
Begitu melangkahkan kaki melewati pintu utama, Rian dan Kirana tak membuang waktu. Mereka langsung menuju lift khusus rumah tangga dan naik ke lantai dua. Tanpa sepatah kata pun di lorong, keduanya bergegas masuk ke dalam kamar utama dan mengunci pintu rapat-rapat.
Suara klik kuncian pintu seolah menjadi tanda bahwa sandiwara malam ini telah usai.
Seketika itu pula, Rian bangkit berdiri dari kursi rodanya. Pria bertubuh jangkung dan kekar itu menghembuskan napas panjang seraya meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kram dan kaku akibat berjam-jam memaksakan diri duduk berakting lumpuh di hadapan klan Wijaya. Ia memutar bahunya yang tegap, melangkah santai melintasi ruangan tanpa hambatan sedikit pun.
"Duduk berjam-jam di kursi roda itu selalu membuat seluruh punggungku terasa pegal," gumam Rian dengan suara baritonnya yang santai, melirik ke arah Kirana.
Kirana yang baru saja meletakkan tas jinjingnya di atas meja rias mengulas senyum tipis. Hatinya merasa lega melihat suaminya bisa kembali menjadi dirinya sendiri di ruang privat mereka.
"Mas Rian luar biasa bisa bertahan sesabar itu di depan mereka semua," puji Kirana tulus seraya berjalan mendekati lemari untuk mengambil pakaian ganti yang lebih santai. "Terima kasih banyak untuk malam ini, Mas."
Rian menatap istrinya dengan sorot mata yang melunak. "Kamu juga bersikap sangat tenang dan anggun tadi. Eyang sangat menyukaimu, dan itu adalah hal yang paling penting."
Pria itu kemudian melepaskan jas mewahnya, melemparkannya santai ke atas sofa, lalu melangkah menuju area kamar mandi untuk membersihkan diri. "Gantilah pakaianmu dan segera beristirahat. Besok pagi jadwal PKKMB daringmu sudah dimulai, bukan?"
"Iya, Mas. Jam delapan pagi nanti kumpul di ruang pertemuan online," jawab Kirana ramah.
Setelah berganti pakaian dengan kaos katun lembut dan celana kain yang nyaman, Kirana merapikan meja belajarnya. Ia menyalakan laptop perak pemberian Rian untuk memastikan koneksi internet berkecepatan tinggi serta aplikasi ruang pertemuan digital sudah siap digunakan. Semua sistem telah teratur sempurna tanpa kendala.
Malam kian melarut. Usai Rian bersiap-siap, mereka kembali berbagi ruang di atas ranjang king size yang luas. Tidak ada lagi rasa canggung yang berlebihan; kehangatan dan rasa saling percaya yang terbangun dari rahasia bersama telah membalut malam mereka dalam ketenangan.
"Selamat malam, Mas Rian," bisik Kirana pelan saat memadamkan lampu utama kamar.
"Selamat malam, Kirana. Tidurlah yang nyenyak," balas Rian lembut di tengah kegelapan yang menenangkan.