NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAKAN MALAM

“Kamu terlihat sangat memukau malam ini, Aura.”

Suara berat Hendra memecah keheningan di dalam kabin mobil sedan mewah Rolls-Royce Phantom yang melaju mulus membelah jalanan malam ibu kota. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu menoleh perlahan, menatap calon istrinya yang duduk anggun di sampingnya. Hendra mengenakan setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap tanpa dasi, memancarkan pesona pria matang yang sangat karismatik dan berwibawa.

Aura menoleh dan membalas tatapan itu dengan senyuman tipis. Malam ini, ia mengenakan gaun malam berpotongan lurus berwarna merah marun yang membingkai lekuk tubuhnya secara elegan tanpa terkesan berlebihan. Leher jenjangnya dihiasi kalung berlian simpel, dan rambut hitamnya disanggul rapi menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di sisi pipinya.

“Terima kasih, Hendra,” sahut Aura lembut, suaranya terdengar begitu tenang.

“Saya hanya ingin memastikan penampilan saya pantas untuk acara makan malam keluarga pertama kita.”

Hendra meraih jemari lentik Aura yang bertengger di atas pangkuannya, lalu menggenggamnya dengan lembut. Rasa hangat dari telapak tangan pria itu menjalar perlahan, mengirimkan getaran halus yang membuat dada Aura berdesir. Di balik sifatnya yang tegas dan dominan, Hendra selalu tahu cara memberikan rasa aman yang tak pernah Aura dapatkan dari pria mana pun sebelumnya.

“Kamu selalu tampil sempurna,” tutur Hendra tulus seraya mengusap punggung tangan Aura dengan ibu jarinya.

“Di rumah nanti, kamu tidak perlu merasa canggung atau tertekan. Ini rumah kita mulai sekarang. Apabila Aris menunjukkan sikap yang kurang sopan atau mempertanyakan keputusan saya, biarkan saya yang membereskannya.”

Aura mengulas senyum penuh misteri yang tersembunyi dengan sangat rapi. ‘Kamu tidak perlu khawatir, Hendra. Kejutan sebenarnya justru baru saja dimulai untuk anakmu,’ batinnya kejam.

“Saya yakin Aris adalah anak yang bijak. Dia pasti bisa menerima keputusan ayahnya demi kebaikan keluarga,” balas Aura halus, berpura-pura menjadi wanita yang pengertian.

Hendra terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang memancarkan ketenangan sejati.

“Semoga saja. Aris akhir-akhir ini sibuk dengan pacar barunya yang dari keluarga pengusaha hotel itu. Dia merasa sudah dewasa dan bisa mengatur hidupnya sendiri.”

Rolls-Royce hitam itu perlahan berbelok memasuki gerbang besi tempa berukir megah yang terbuka secara otomatis. Mobil melintasi jalan setapak berkerikil halus di tengah halaman rumput hijau yang amat luas, disambut pendar lampu-lampu taman bernuansa emas yang menerangi fasad rumah megah bergaya klasik Eropa.

Kediaman utama keluarga Fahreza berdiri megah bak istana. Pilar-pilar marmer tinggi menopang atap bangunan, memancarkan kemewahan dan kekuasaan mutlak dari pemiliknya.

Sopir pribadi Hendra turun dengan cepat dan membukakan pintu belakang. Hendra keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Aura turun dari mobil. Aura menyambut uluran tangan itu dengan anggun, berdiri di samping Hendra yang jangkung dan tegap.

“Selamat datang di rumah, Nyonya Fahreza,” bisik Hendra tepat di samping telinganya, menyuntikkan kehangatan di tengah angin malam yang berembus pelan.

Dua baris pelayan rumah tangga berseragam rapi sudah berdiri menyambut kedatangan mereka di pintu utama, menundukkan kepala dengan penuh hormat saat Hendra dan Aura melangkah masuk ke dalam serambi berlantai marmer Italia yang mengkilap.

“Pak Hendra, Den Aris dan Non Siska sudah menunggu di ruang makan utama sejak sepuluh menit yang lalu,” lapor kepala pelayan paruh baya dengan nada sangat sopan.

Hendra mengangguk singkat. “Bagus. Siapkan hidangan utamanya sekarang.”

Hendra kemudian melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Aura secara protektif, membimbing wanita muda itu melangkah menuju ruang makan megah di bagian tengah kediaman tersebut.

Aura merapikan gaun merah marunnya, menegakkan bahunya, dan membiarkan senyuman paling anggun terukir di bibirnya. Detik-detik pembalasan dendam yang ia susun selama satu bulan penuh akhirnya tiba di depan mata.

Ketika mereka berdua melangkah melewati pintu ganda kayu jati yang terbuka lebar, suasana di dalam ruang makan yang hangat dan beraroma masakan mewah seketika terasa membeku.

Di ujung meja makan panjang berbahan kayu mahoni, Aris sedang duduk bersanding dengan Siska—wanita bergaun glamor yang dibangga-banggakannya sebagai putri pemilik jaringan hotel ternama. Aris yang sedang tertawa manja mendadak menghentikan tawanya saat mendengar langkah kaki ayahnya.

“Papa sudah pulang—” kalimat Aris terhenti seketika di tenggorokannya.

Mata Aris membelalak lebar, memancar kekagetannya yang luar biasa. Cangkir air yang dipegangnya hampir saja terlepas dari genggamannya. Pria berusia dua puluh lima tahun itu melompat berdiri dari kursinya, wajahnya yang tadinya cerah seketika pucat pasi bagaikan tanpa darah.

Di sampingnya, Siska mengerutkan kening heran melihat reaksi Aris yang begitu drastis.

“Aris? Kamu kenapa?”

Namun Aris sama sekali tidak mendengarkan Siska. Pandangannya terkunci sepenuhnya pada sosok wanita yang berdiri begitu intim di samping ayahnya—wanita yang jemarinya sedang digenggam erat oleh Hendra, wanita yang mengenakan gaun merah marun yang sangat memukau, dan wanita yang satu bulan lalu ia campakkan di kafe dengan tuduhan 'cewek biasa yang tidak selevel'.

“Au... Aura?!” seru Aris tercekik, suaranya bergetar hebat antara rasa tidak percaya, syok, dan ketakutan yang menjalar cepat ke seluruh tubuhnya.

Aura menatap Aris lurus-lurus. Tidak ada kepanikan, tidak ada rasa canggung, dan tidak ada penderitaan di matanya. Yang ada hanyalah tatapan dingin, anggun, dan penuh dominasi seolah-olah ia sedang melihat seekor serangga kecil di bawah telapak kakinya.

Hendra mengerutkan keningnya tipis melihat reaksi putranya yang sangat tidak wajar dan terlihat panik. Pria matang itu tetap memeluk pinggang Aura dengan protektif, lalu menatap Aris dengan mata elangnya yang tajam dan berwibawa.

“Jaga sikapmu, Aris,” tegur Hendra dingin, suaranya berat dan mengintimidasi. “Kenapa kamu berteriak seperti melihat hantu? Apakah begini caramu menyambut tamu di rumah ini?”

Aris menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Peluh dingin mulai membintik di dahinya. Matanya berpindah-pindah antara tangan ayahnya yang melingkar mesra di pinggang Aura dan senyuman misterius yang terukir manis di bibir mantan kekasihnya itu. Otaknya serasa mau meledak mencoba mencerna situasi gila di hadapannya.

“Pa... Papa... siapa cewek ini? Kenapa Papa bawa dia ke rumah kita? Kenapa Papa jalan sama dia?!” cecar Aris terbata-bata, suaranya panik luar biasa.

Hendra menaikkan sebelah alisnya, tidak menyukai nada bicara putranya yang dinilainya lancang. Pria berusia 38 tahun itu menarik kursi utama di kepala meja makan untuk Aura dengan sangat santai dan elegan, mempersilakan calon istrinya duduk terlebih dahulu sebelum ia sendiri mengambil posisi di sampingnya.

“Duduk, Aris. Siska, silakan duduk,” perintah Hendra dengan suara rendah yang tak boleh dibantah.

Siska yang merasa kebingungan menarik lengan Aris pelan, memaksanya untuk kembali duduk meski tubuh Aris kini gemetar hebat.

Aura menyandarkan punggungnya pada kursi makan berukir emas tersebut dengan gerakan yang sangat alami. Ia menatap Aris yang berada tepat di seberang mejanya—pria yang selama tiga tahun menyembunyikannya dari dunia, pria yang selalu memamerkan nama besar ayahnya untuk mengintimidasi dirinya, dan pria yang membuangnya demi wanita lain.

Kini, pria itu harus duduk menunduk di hadapannya.

Hendra merai gelas anggurnya, menyesapnya sedikit, lalu menatap Aris dan Siska secara bergantian dengan raut wajah penuh ketegasan seorang kepala keluarga.

“Aris, alasan Papa mengumpulkan kalian di makan malam keluarga ini adalah untuk menyampaikan sebuah keputusan penting mengenai masa depan keluarga dan Fahreza Group,” ucap Hendra tenang namun berbobot.

Aris memegang tepi meja kayu dengan buku-buku jari yang memutih. Firasat buruk yang sangat mengerikan menghantam dadanya.

“Maksud... maksud Papa apa?”

Hendra tersenyum tipis, lalu menoleh memandangi Aura dengan tatapan penuh kehangatan dan rasa bangga yang jujur. Pria matang itu kembali menggenggam tangan Aura di atas meja, mempertontonkannya di hadapan Aris dan Siska.

“Kenalkan, ini Aura Paramitha,” ujar Hendra mantap, suaranya bergema tegas di seluruh sudut ruang makan yang megah itu. “Dua minggu lagi, Aura akan resmi menjadi istri sah Papa dan menjadi Nyonya baru di kediaman Fahreza ini.”

BUM!

Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar tepat di atas kepala Aris. Pandangannya mendadak kabur. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak.

Istri Papa?! Nyonya rumah?! Ibu tiri?!

Siska di samping Aris ikut terperanjat, matanya membelalak menatap Aura yang tampak begitu muda namun memancarkan wibawa yang luar biasa anggun. “Muka... calon istri Om Hendra?” gumam Siska kaget.

Aris memukulkan kedua tangannya ke atas

meja, berdiri dengan napas memburu. “Nggak! Nggak bisa, Pa! Papa nggak boleh nikah sama cewek ini! Papa nggak tahu siapa dia sebenarnya! Dia itu—”

“Aris!” potong Hendra dengan bentakan rendah yang seketika membekukan seluruh ruangan. Suara Hendra begitu menggelegar dan sarat akan dominasi mutlak yang membuat Aris langsung bungkam seribu bahasa. Mata cokelat gelap milik sang taipan menatap putranya dengan kilatan marah.

“Jaga batasanmu! Sejak kapan kamu berani membentak dan mengatur keputusan Papamu sendiri?!”

“Tapi Pa... dia ini cuma cewek biasa! Dia nggak selevel sama keluarga kita! Dia cuma mau memanfaatkan harta Papa!” jerit Aris frustrasi, suaranya hampir pecah saat mengulangi kata-kata yang dulu ia lontarkan untuk menghina Aura.

Aura tidak marah. Ia justru mengulas senyuman tipis yang sangat anggun dan menenangkan, lalu mengusap lengan Hendra secara lembut untuk meredakan amarah sang taipan.

“Sudahlah, Hendra... Jangan marah,” panggil Aura dengan suara selembut sutra, menggunakan panggilan nama tanpa embel-embel 'Pak' tepat di depan muka Aris.

“Saya bisa mengerti kalau Aris merasa kaget. Bagaimanapun juga, tidak mudah bagi seorang anak muda untuk menerima kehadiran seorang ibu tiri baru di rumah ini.”

Aris hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar kata 'ibu tiri' terucap begitu lancar dari bibir Aura. Ujung matanya memerah menahan amarah dan kehancuran ego yang luar biasa.

Hendra menghembuskan napas panjang, tatapan matanya melunak saat memandangi Aura, namun kembali berubah menjadi dingin dan tajam saat menatap Aris.

“Dengar baik-baik, Aris,” tegas Hendra tanpa ragu sedikit pun.

“Aura adalah wanita pilihan Papa. Dia cerdas, mandiri, dan memiliki kehormatan yang jauh lebih tinggi daripada penilaian dangkalmu tentang 'level' dan harta. Mulai hari ini, kamu harus menghormatinya sebagai calon ibumu di rumah ini.”

Aris mengepalkan tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Rasa malu, penyesalan, dan kehancuran yang tak tertahankan berkecamuk di dalam dadanya. Cewek yang dulu ia anggap tidak selevel, cewek yang ia buang begitu saja, kini berdiri jauh di atas kedudukannya—sebagai penguasa tertinggi yang memegang kendali atas ayahnya dan seluruh harta keluarga Fahreza.

Aura menatap Aris yang terpaku tak berdaya, lalu menyunggingkan senyuman kemenangan yang sangat manis namun penuh penekanan. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan seorang penguasa rumah tangga yang baru.

“Salam kenal secara resmi, Aris,” panggil Aura dengan suara halus yang mengalun menawan. “Mulai sekarang, kamu bisa memanggil saya... Mama.”

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!