Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cara yg berbeda
Matahari kembali tenggelam, digantikan oleh temaram lampu kota yang mulai menyala satu per satu. Restoran tempat Bayu bekerja kembali beroperasi seperti biasa.
Besoknya, di waktu yang hampir sama dengan malam kemarin, wanita yang sama datang lagi. Dia berjalan anggun memasuki area restoran dengan pakaian modisnya yang selalu menarik perhatian. Seolah sudah merencanakan tujuannya, matanya langsung menyapu ruangan dan tersenyum begitu melihat sosok pria yang dia cari.
Seperti biasa, Bayu datang menemuinya dengan profesionalisme yang tinggi. Langkah kaki Bayu yang tegak dan senyum ramah yang tulus membuat atmosfer di sekitar meja itu terasa berbeda dari pelayanan meja lainnya.
"Kali ini mau pesan apa, Nona?" tanya Bayu sopan, sambil menyerahkan buku menu ke hadapan wanita itu dengan kedua tangannya.
Wanita itu menerima buku menu, tetapi alih-alih membukanya, dia justru menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil menatap langsung ke manik mata Bayu. "Ada rekomen?" tanya wanita itu dengan nada manja.
Bayu sedikit terdiam, otaknya yang cerdas langsung menganalisis preferensi tamunya berdasarkan pengalamannya di dunia elit dulu.
"Nona maunya makan yang lembut, atau agak berat?" tanya Bayu, memberikan pilihan yang presisi agar bisa merekomendasikan hidangan terbaik.
Wanita itu tampak menimbang sejenak, senyum manis terukir di bibirnya yang dilapisi pemulas mahal. "Mood-ku malam ini sedang bagus, dan aku mau yang agak berat saja."
"Baik, Nona..." Bayu mengangguk paham.
"Kalau begitu, bagaimana kalau Lobster Ausie? Dagingnya padat, gurih, dan bumbu siramnya sangat pas untuk menu makan malam yang memuaskan.
"Mata wanita itu berbinar tertarik. "Hm... sepertinya bagus.
Baik... aku pesan satu. Lalu untuk minumnya, beri aku jus jeruk.
"Bayu langsung mencatat semuanya di buku saku kecilnya dengan gesit. "Ada lagi, Nona?"
"Itu saja," jawabnya singkat.
"Baik, Nona. Mohon tunggu sebentar, pesanan Anda akan segera disiapkan," ucap Bayu sebelum membungkuk hormat dan berjalan menuju dapur untuk menyerahkan nota pesanan.
Lima belas menit kemudian, setelah koki menyelesaikan hidangan mewah tersebut, Bayu datang membawa pesanan di atas sebuah nampan besar.
Dengan sangat hati-hati, dia menata piring saji berisi lobster berukuran besar yang mengepulkan aroma harum, berdampingan dengan segelas jus jeruk dingin berembun di atas meja kayu.
"Silakan, Nona. Selamat menikmati," ucap Bayu ramah.
Wanita modis itu melihat porsi hidangan di depannya, lalu kedua matanya membelalak kecil karena terkejut.
"Wah... banyak banget! Gimana aku bisa menghabiskan ini sendirian?" gumamnya seraya menatap ukuran lobster yang melebihi perkiraannya.
Bayu sedikit tertawa kecil melihat ekspresi spontan tamunya yang tampak menggemaskan itu. Namun, menyadari posisinya yang hanya seorang pelayan biasa, dia langsung menahan diri dan kembali ke mode pelayan biasa yang formal dan tenang.
Melihat tawa singkat Bayu yang terlihat sangat tampan dan karismatik, wanita itu tertegun sejenak sebelum akhirnya berdehem kecil.
"Maaf, nama kamu siapa?" tanya wanita itu tiba-tiba.
"Nama saya Bayu, Nona," jawab Bayu dengan kepala sedikit merunduk sopan.
"Baik, Bayu... kamu duduk saja di depanku sekarang, dan bantu aku menghabiskan makanan ini," perintah wanita itu sembari menggeser piring saji agak ke tengah meja, menyisakan ruang untuk piring kosong lainnya.
Jantung Bayu berdegup sedikit terkejut dengan permintaan yang tidak biasa itu.
"Maaf, Nona... saya sedang bekerja sekarang," tolak Bayu dengan halus, mencoba menjaga profesionalitasnya agar tidak ditegur oleh pemilik restoran.
Wanita itu tersenyum misterius, seolah sudah menduga jawaban tersebut. "Iya, aku tahu kamu sedang bekerja. Sekarang aku tanya, tugasmu di restoran ini apa?"
"Melayani tamu," kata Bayu singkat dan padat.
"Nah! Membantu aku menghabiskan makanan ini juga termasuk melayani tamu, kan? Aku adalah tamumu malam ini, dan aku meminta bantuanmu," timpal wanita itu dengan argumen cerdas yang mutlak, membuat Bayu sama sekali tidak berkutik.
Bayu pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi bingung sekaligus serba salah. Rasanya tidak seperti ini aturan main menjadi seorang pelayan restoran. Tapi ya sudahlah, mumpung kondisi restoran malam ini sedang cukup sepi dan pemilik toko sedang berada di ruang belakang, tidak ada salahnya dia menuruti keinginan unik wanita kaya di hadapannya ini.
Bayu pun perlahan menarik kursi kosong di depan wanita tersebut dan mendudukinya dengan canggung, tanpa tahu bahwa obrolan makan malam tak terduga ini akan menjadi awal dari sebuah takdir baru yang akan mengubah roda kehidupannya sekali lagi.