NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Banjir Darah di Aula Kebesaran

Jeritan panik para wanita dan petinggi kota membahana seketika, beradu kencang dengan suara piring emas yang remuk terinjak tumit Ma Huang. Bau amis darah segar dari kepala Song Chen yang tergeletak di atas meja utama menyengat hidung, mengalahkan wewangian kayu cendana dan asap lilin duyung di seluruh ruangan.

Dua Tetua Sekte Pedang Suci yang duduk di sisi kiri panggung langsung berdiri kaku. Wajah mereka yang berkerut menegang, sepasang mata mereka melotot tidak percaya melihat kepala murid emas sekte itu kini bercelah dan berdarah di depan kendi arak.

"Tangkap bangsat itu! Jangan biarkan dia keluar hidup-hidup!" teriak Tetua Berjubah Merah seraya menarik pedang lebar bertatah batu permata dari pinggangnya.

Empat pengawal berlapis zirah besi tempa melompat bersamaan menaiki panggung. Tombak-tombak panjang berujung baja berkilat mengincar dada dan leher Ma Huang dari empat penjuru angin. Gerakan mereka cepat, terkunci rapat dalam formasi jepit khas pengawal kediaman kota.

Ma Huang tidak bergeming satu jengkal pun dari tempatnya berpijak. Sepasang matanya yang gelap hanya melirik dingin ke arah ujung-ujung baja yang menyambar. Ia menggeser kaki kirinya ke belakang, memutar Pedang Tulang Hitam dalam satu sabetan melingkar yang sangat rendah.

Hawa racun kehitaman berdesis dari celah bilah pedang, memotong empat batang tombak kayu berlapis baja itu hingga putus secara bersamaan. Sebelum potongan kayu menyentuh lantai pualam, Ma Huang melangkah maju menembus pertahanan lawan.

Ujung Pedang Tulang Hitam meluncur lurus, menembus celah zirah di leher pengawal pertama. Darah hitam beracun menyembur kencang, menyiram wajah pengawal kedua di sebelahnya. Ma Huang memutar badannya sembilan puluh derajat, membenamkan siku kirinya yang terbungkus lapisan Qi korosif ke rahang pengawal kedua hingga retak berkerutup.

Dua pengawal sisanya mencoba menarik pisau belati dari pinggang, namun Ma Huang mendahului mereka secara brutal. Tebasan melintang pedang hitamnya merobek usus dan perut pengawal ketiga, sementara tendangan tumitnya mematahkan lutut pengawal keempat hingga mencuat keluar dari kulit.

Jeritan kesakitan bergema parau. Empat tubuh berdarah itu ambruk menimpa meja-meja hidangan, merobek taplak sutra merah dan menggulingkan puluhan bumbung arak membara. Api menyambar gorden sutra di dinding aula, memicu kepulan asap hitam yang kian pekat.

Tetua Berjubah Merah menerjang masuk menembus kepulan asap hitam. Pedang lebarnya diayunkan melingkar penuh, membawa tebasan angin keras yang memotong pilar kayu di samping Ma Huang.

Ma Huang merendahkan badannya dua jengkal. Ia membiarkan sabetan pedang lebar itu lewat sepersekian inci di atas kepalanya, lalu membalas dengan tusukan mematikan dari bawah. Ujung Pedang Tulang Hitam menembus ulu hati Tetua Berjubah Merah, menyalurkan racun pekat yang seketika membekukan pembuluh darahnya.

Tetua itu memuntahkan darah hitam kental sebelum akhirnya roboh kaku menimpa lantai. Kematian tragis salah satu tetua senior sekte itu membuat ruangan gempar luar biasa. Para pejabat dan bangsawan berlarian saling injak menuju pintu keluar yang sempit.

"Iblis keparat!" raung Zhao Feng. Suara Guru Agung itu menggelegar menghantam dinding-dinding kayu, mengandung tekanan Qi murni yang membuat gelas-gelas kaca di meja perjamuan pecah berkeping-keping.

Zhao Feng menendang meja kayu jati berbobot ratusan kati di depannya. Meja tebal itu melayang kencang di udara, mengincar tubuh Ma Huang seperti gumpalan batu gunung yang runtuh.

Ma Huang menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia menyalurkan getaran Inti Bencana Racun Hitam lurus ke telapak tangannya, menghantam bagian tengah meja jati itu dengan satu dorongan keras. Meja kayu tebal itu terbelah menjadi puluhan pecahan tajam yang menyembur ke segala arah.

Di balik buaian remahan kayu, Zhao Feng sudah meluncur turun dengan pedang meteoritnya. Cahaya keemasan membungkus bilah pedang tua itu, memancarkan hawa murni yang sanggup meretakkan batu dalam sekali tebas.

Dentuman dahsyat pecah saat Pedang Tulang Hitam beradu lurus dengan mata pedang Zhao Feng. Bunga api membumbung tinggi, membakar lantai batu pualam hingga meliuk retak. Daya dorong Inti Emas tahap lanjut milik Zhao Feng menekan tubuh Ma Huang hingga tumit sepatunya terperosok dua jengkal ke dalam lantai batu.

Rasa sakit membakar menyengat setiap persendian Ma Huang saat mempertahankan posisi. Dantian barunya bergetar hebat, memompa darah beracun ke seluruh pembuluh darahnya hingga kulit dadanya tampak kehitaman seperti besi tempa. Namun, senyum dingin tetap terukir di bibirnya.

"Kau meminum racun mentah untuk menyambung meridianmu yang hancur?" desis Zhao Feng dengan napas memburu, mata tuanya menatap jelaga hitam yang menjalar kencang di sepanjang urat leher Ma Huang. "Langkah gila! Tubuhmu akan membusuk dari dalam sebelum fajar tiba!"

"Cukup waktu untuk mencabut nyawamu dan mengambil kembali milik keluargaku," balas Ma Huang tanpa rasa takut sedikit pun.

Ma Huang menyemburkan kabut racun Ular Hijau pekat lurus dari rongga dadanya. Hawa dingin bercampur asam korosif itu menghantam wajah dan pedang Zhao Feng secara mendadak. Baju besi dan bilah pedang meteorit Guru Agung itu berdecit nyaring, permukaannya berubah kusam dan menghitam tersengat racun.

Zhao Feng terkejut, melompat mundur tiga langkah untuk mengibaskan cairan beracun yang mulai menggerogoti pergelangan tangan kirinya. Kesempatan emas itu langsung dimanfaatkan oleh Ma Huang. Ia membalikkan badannya, melesat miring menuju meja kecil di samping panggung utama.

Di atas meja berukir itu, kotak kayu berukir naga yang berisi kepingan kunci makam pusaka masih tergeletak utuh.

Namun, sebelum jemari Ma Huang berhasil menyentuh ukiran kayu kotak tersebut, sebentuk kilatan cahaya perak menyambar dari samping. Kipas besi bertatahkan mata pisau tipis meluncur dengan kecepatan membunuh, mengincar pergelangan tangan Ma Huang.

Jian Yue melangkah dari balik bayangan gorden merah yang terbakar. Gaun pengantin sutranya meliuk indah, namun wajah cantiknya kaku bagaikan batu nisan. Kipas besi di tangan kanannya berputar cepat, menghasilkan deretan mata pisau tipis yang berkilauan di bawah remang api.

Ma Huang menarik tangannya setengah jengkal, menggeser Pedang Tulang Hitam untuk menangkis sabetan kipas besi tersebut. Dentingan nyaring logam beradu bergema di antara mereka berdua, memercikkan bunga api yang menerangi tatapan mata mereka dalam jarak sangat dekat.

Hawa dingin dari kipas besi Jian Yue mencoba menekan racun di pedang Ma Huang, namun gelombang Qi hitam Ma Huang yang ganas langsung memotong engsel kipas besi tersebut hingga retak.

"Kau seharusnya tetap membusuk di dasar jurang Lembah Angin Hitam, Ma Huang," bisik Jian Yue dengan nada halus yang penuh dengan rasa benci. "Keluarga Ma sudah punah. Kau tidak berhak menyentuh pusaka ini!"

"Hakku diukir dari darah ayahku yang kau racuni," jawab Ma Huang dingin.

Ma Huang tidak memberikan ruang bagi Jian Yue untuk memutar kipas besinya kembali. Ia menyundul dahi Jian Yue menggunakan pelipisnya kencang. Benturan keras itu membuat Jian Yue terhuyung mundur, darah segar meleleh dari hidungnya yang mungil dan membasahi gaun sutra cantiknya.

Sebelum wanita itu berhasil menyeimbangkan pijakannya, Ma Huang merogoh meja berukir dengan tangan kirinya, mencengkeram kotak kayu berukir naga itu dan mendekapnya erat di samping dada.

"Formasi Pemanah Tiga Belas! Kunci semua sudut!" teriakan Zhao Feng bergema parau dari arah pintu samping aula.

Pintu besi bawah tanah terbuka lebar. Tiga belas prajurit berkuda kayu dengan busur silang raksasa melangkah masuk secara serentak. Anak panah bertip baja tebal yang diolesi minyak terbakar telah terkunci lurus ke arah tubuh Ma Huang dari berbagai sudut ruangan.

Ma Huang melirik cepat ke arah jendela tinggi di sisi barat aula yang menghadap lurus ke kanal sungai bawah kota. Tanpa ragu sedikit pun, ia memutar badannya dan melompat menerobos pagar pembatas panggung kayu.

Serentak dengan lompatannya, belasan anak panah baja meluncur deras membelah udara aula. Suara desingan logam beradu dengan raungan angin malam, menyambar pilar-pilar kayu aula hingga tatal batu dan pecahan kayu membumbung tinggi.

Satu anak panah baja berujung kait berhasil menembus bahu kanan Ma Huang dari belakang. Hantaman keras itu mematahkan tulang belikatnya dan mendorong tubuhnya terlempar menghantam bingkai jendela kayu tipis hingga hancur berkeping-keping.

Darah segar menyembur keluar membasahi jubah birunya saat Ma Huang melayang jatuh di udara terbuka, menuju pekatnya air kanal bawah Balai Kota. Kotak kayu berukir naga tetap tergenggam mati di jemari kirinya.

Zhao Feng dan Jian Yue melesat ke tepi jendela yang jebol, menatap lurus ke bawah. Permukaan air kanal bergolak hebat di bawah kegelapan, memperlihatkan buaian darah hitam yang dengan cepat terseret oleh derasnya arus sungai di malam hari.

"Sebarkan seluruh pengawal kota! Tutup semua pintu muara!" raung Zhao Feng dengan wajah merah padam menahan murka. "Iblis itu terluka parah! Dia tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari tiga mil!"

Jian Yue menyapu darah di bibirnya dengan ujung lengan gaun pengantin sutranya. Matanya yang dingin menatap pekatnya muara sungai di kegelapan malam, menyadari bahwa perburuan yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!