NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Bad Boy

Cinta Rahasia Bad Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
​Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
​Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kejujuran devan

Reno melangkah masuk melintasi puing-puing pintu kayu yang hancur, memutar pistol berperedam suara di jarinya dengan senyuman gila yang menghiasi wajahnya.

​Devan seketika pasang badan, menyelimuti tubuh Aura di belakang punggung tegapnya. Matanya menyala penuh amarah menatap cowok di depannya.

"Reno! Gimana bisa lu ada di sini?! Bukannya lu udah ditangkap polisi?!"

​Reno tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di dinding bangunan tua yang lembap itu.

"Ditangkap? Oh, Devan... Lu pikir polisi lokal bisa menahan orang yang punya akses ke dana Alandra Corporation? Pengacara keluarga gue gampang banget mengurus jaminan dan meloloskan gue tadi siang!"

​Reno memajukan tubuhnya, menatap harddisk emas di tangannya.

"Bahkan orang-orang ayah lu di London yang bayar gue buat mengambil harddisk ini dari rumah lu! Gue bukan cuma ketua senat yang lu anggap remeh, Dev. Gue ini orang yang bakal menguras habis seluruh kekayaan keluarga lu!"

​Aura di belakang Devan gemetar hebat. Kecurigaan yang selama ini menghantuinya akhirnya terjawab dengan kenyataan yang begitu pahit.

Reno tidak pernah bertindak sendiri; Reno adalah dalang utama yang menjual file enkripsi Devan dan memanfaatkan foto-foto Aura untuk menghancurkan mereka.

​Namun, di tengah moncong pistol yang terarah ke mereka, Aura justru menarik pelan lengan jaket Devan. Suasana hening sejenak di antara deru hujan luar.

​Aura melangkah keluar dari balik punggung Devan, berdiri sejajar dengan cowok itu. Matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata Devan.

​Ini adalah momen konfrontasi pertama mereka secara langsung—tanpa ada rasa takut pada ancaman di depan mereka, tanpa ada lagi yang disembunyikan.

​"Devan..." panggil Aura dengan suara bergetar namun sarat akan penegasan mendalam.

"Aku nggak peduli sama Reno, aku nggak peduli sama harddisk itu. Aku mau mendengar jawaban langsung dari kamu sekarang."

​Devan menoleh cepat, menatap Aura dengan cemas. "Aura, ini bukan waktunya—"

​"Ini waktunya, Devan!" potong Aura tegas, air mata menetes membasahi pipinya.

"Tatap mata aku dan jawab jujur! Selama ini... semua hal yang kamu lakukan buat aku... foto-foto yang kamu ambil secara rahasia, kamu yang selalu pasang badan sampai bersimbah darah buat melindungi aku... apakah itu semua murni karena kamu benar-benar peduli dan cinta sama aku? Atau kamu cuma menjadikan aku alasan buat melupakan masalah keluarga kamu?!"

​Devan membeku. Pertanyaan dari Aura menusuk tepat di bagian paling jujur dalam dadanya. Di tengah kepungan bahaya dan moncong senjata Reno, dunia seolah berhenti berputar buat Devan.

​Devan menggenggam kedua telapak tangan Aura yang dingin, meremasnya erat-erat tanpa ragu sedikit pun. Matanya yang kelam memancarkan ketulusan yang amat luar biasa, tak ada lagi topeng bad boy atau kepalsuan dingin.

​"Aura, dengarkan aku baik-baik," kata Devan dengan suara berat yang amat lembut.

"Awalnya... aku memang cowok brengsek yang lari dari masalah. Tapi sejak pertama kali aku melihat kamu tertawa di bawah hujan... sejak pertama kali aku membingkai wajah kamu di lensa kamera aku... kamu bukan lagi sekadar objek foto, Aura. Kamu adalah satu-satunya alasan kenapa aku mau bertahan hidup di dunia yang hancur ini."

​Devan merapatkan tangannya di pipi Aura, mengusap air mata gadis itu menggunakan ibu jarinya.

"Foto-foto itu... setiap bidikan kameraku... semuanya adalah bentuk rasa cinta aku yang nggak pernah bisa aku ucapkan lewat kata-kata. Aku rela kehilangan seluruh harta keluarga Alandra, aku rela dipenjara Interpol, tapi aku nggak akan pernah rela kalau harus kehilangan kamu."

​Aura tertegun. Kata-kata jujur dan tulus yang keluar dari bibir Devan membuat seluruh keraguan dan kecurigaan di hatinya runtuh seketika. Rasa hangat membuncah hebat di dadanya, mengalahkan rasa takut pada ancaman Reno.

​"Devan..." bisik Aura tulus, tersenyum di balik linangan air matanya. "Makasih... makasih karena udah jujur sama aku."

​Reno yang menyaksikan momen emosional itu mendadak meludah ke samping dengan raut wajah jijik dan emosi yang membakar.

​"Drama basi!" bentak Reno histeris, menarik kokang pistolnya dengan nada gila. "Lu berdua pikir ini sinetron, hah?! Gue gak ada waktu buat melihat kalian beradegan romantis!"

​Reno mengarahkan moncong pistolnya tepat ke arah dada Devan.

"Serahkan kunci enkripsi terakhir yang ada di HP lu sekarang, Devan! Atau cewek sok suci ini yang bakal mati duluan di depan mata lu!"

​Devan berdiri pasang badan kembali di depan Aura, menatap Reno dengan kilatan mata yang mematikan. "Lu gak bakal pernah mendapatkan kunci itu, Reno!"

​"Kalau gitu mati saja lu berdua!" teriak Reno gila.

​Tepat saat jari Reno hendak menekan pelatuk pistol...

​BAM!

​Atap seng bangunan tua itu mendadak jebol diterjang oleh dua orang pria ber-pakaian serba hitam yang melompat turun dari atas!

​Bugh!

​Satu tendangan keras dari udara menghantam tangan Reno hingga pistolnya terlempar jauh ke dalam kegelapan ruangan. Reno tersungkur jatuh meraung kesakitan.

​Aura dan Devan terperanjat kaget. Dari balik asap debu atap yang runtuh, sosok pria berwajah tegas bersetelan jas hitam yang amat dikenal Devan berdiri tegak—tangan kanan ayah Devan dari London yang kemarin sempat menyerang Devan!

​Namun, kali ini pria itu tidak mengarahkan senjatanya ke Devan. Pria itu justru berbalik, memberi hormat pelan ke arah Devan, lalu berbicara melalui earpiece di telinganya dengan bahasa Inggris yang dingin:

​"Tuan Muda Devan aman. Si pengkhianat Reno sudah dilumpuhkan. Tuan Besar Alandra sudah memberikan perintah baru..."

​Pria itu menoleh menatap Devan dan Aura dengan pandangan kaku.

​"Tuan Muda Devan... Tuan Besar di London membatalkan perintah penangkapan Anda. Tapi sebagai gantinya... Nona Aura harus ikut bersama kami ke London malam ini juga untuk menjadi jaminan keamanan aset keluarga!"

​"APA?!" jerit Devan dan Aura bersamaan.

​Bersambung.....

1
Naelong
mohon maaf yaa siang ini aku belum up, insyaallah malam nanti baru up. nanti aku up dabbel ya🙏. makasi yang sudah mempir. semoga kalian sehat selalu😍. ohh yaa jangan lupa tinggalin jejek ya, comment, likenya
Naelong
terimakasi yang udah mampir😍, semoga sehat sehat slalu🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!