NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 - REALITA YANG PAHIT

Aroma kopi hitam yang pekat menyusup masuk ke dalam indra penciuman Valeria, perlahan menarik kesadarannya dari alam mimpi.

Kelopak mata wanita itu terbuka perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit beton abu-abu yang dingin, disinari oleh lampu temaram bunker. Kasur di sebelahnya kosong, tapi seprainya masih menyimpan sedikit sisa kehangatan.

Valeria mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan nyawanya. Kepalanya masih terasa agak berat, tapi demam gila yang semalam membakar tubuhnya sudah benar-benar hilang. Dia menggerakkan kaki kirinya. Ada sedikit rasa kebas dan nyeri berdenyut dari betisnya yang diperban tebal, tapi masih bisa ditahan.

Wanita itu memaksakan diri untuk duduk, menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. Kaus oblong hitam kebesaran milik Kael yang dia pakai terasa kelewat nyaman, sangat kontras dengan realita mengerikan yang baru saja menimpa hidupnya.

"Anda sudah bangun, Val?" sapa sebuah suara bariton dari seberang ruangan.

Valeria menoleh. Kael sedang berdiri di area dapur kecil. Pria raksasa itu sudah kembali memakai kaus hitam bersih yang lumayan ketat, mencetak jelas otot-otot dada dan lengannya. Dia sedang menuangkan air panas ke dalam dua cangkir kopi. Di atas meja kecil di dekatnya, ada dua porsi *oatmeal* instan dan sosis kalengan yang sudah dihangatkan.

Bukan sarapan mewah ala *penthouse* dengan *truffle* atau *caviar*, tapi entah kenapa perut Valeria langsung berbunyi merespons bau makanan itu.

"Jam berapa sekarang?" tanya Valeria dengan suara serak, mengusap wajahnya kasar.

"Jam sepuluh pagi," jawab Kael berjalan mendekati ranjang, membawa sebuah nampan berisi sarapan mereka. Pria itu meletakkan nampan tersebut di atas nakas, lalu menyodorkan secangkir kopi hitam ke arah Valeria. "Minum dulu. Ini akan membantu menghilangkan rasa pusing Anda."

Valeria menerima cangkir itu. Hawa panasnya terasa nyaman di telapak tangannya. Dia menyesapnya pelan-pelan. Pahit. Sepahit kenyataan yang kini menampar kewarasannya.

Di luar sana, matahari pasti sedang bersinar terang. Orang-orang sibuk berlalu-lalang berangkat kerja. Tapi di dalam ruang bawah tanah ini, Valeria merasa seperti dikubur hidup-hidup. Nggak ada jendela, nggak ada sinar matahari.

Matanya tanpa sadar menyapu sekeliling ruangan beton itu. Ada rak senjata, meja monitor, tumpukan kaleng makanan, dan Kael. Hanya itu yang tersisa dari kerajaannya.

"Ada berita baru dari luar?" tanya Valeria menunduk menatap pantulan wajahnya yang berantakan di permukaan kopi.

Kael menarik sebuah kursi lipat besi, lalu duduk di samping ranjang. Pria itu menatap Valeria dengan sorot mata yang penuh kehati-hatian. Dia tahu pertanyaan ini akan muncul, dan dia tahu jawaban yang akan dia berikan bakal menghancurkan sisa-sisa pertahanan mental wanita di depannya ini.

"Jawab aku, Kael. Aku bukan anak kecil yang harus dilindungi dari berita buruk," desak Valeria mengangkat wajahnya, menatap Kael tajam meski matanya masih memancarkan kelelahan.

Kael menghela napas berat, menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Surya bergerak lebih cepat dari perkiraan kita, Val," lapor Kael dengan nada datar yang dipaksakan. "Tadi pagi, dia sudah menggelar konferensi pers bawah tanah dengan para tetua klan. Dia resmi mengumumkan kematian Anda dalam insiden ledakan pelabuhan semalam. Tapi untuk berjaga-jaga kalau Anda masih hidup, dia menaikkan nilai *bounty* untuk kepala Anda."

Valeria tertawa sumbang. "Berapa hargaku sekarang?"

"Dua puluh juta dolar," jawab Kael tanpa ragu. "Hidup atau mati."

Tawa Valeria terhenti. Telinganya berdenging pelan. Dua puluh juta dolar. Angka yang luar biasa gila, bahkan untuk ukuran buronan kelas kakap. Dengan angka sebesar itu, Surya memastikan bahwa nggak akan ada satu pun manusia di kota ini yang berani nyembunyiin Valeria. Bahkan anak buah paling setia pun bakal berpikir dua kali untuk menolak uang sebanyak itu.

"Lalu... bisnis klan? Kasino? Jalur pelabuhan? Gudang senjata?" cecar Valeria lagi, tangannya mulai gemetar memegang cangkir kopi.

"Semuanya sudah diambil alih," jawab Kael pelan, menatap lekat-lekat tangan Valeria yang gemetar. "Surya membekukan semua akses rekening Anda. Dia juga sudah menandatangani kontrak kerja sama penuh dengan Klan Viper pagi ini. Mereka sekarang menguasai seluruh jalur distribusi utara dan barat."

*KRAK.*

Cangkir kopi di tangan Valeria miring, menumpahkan sedikit cairan panas ke atas selimut. Tapi Valeria sama sekali nggak peduli. Matanya membelalak kosong menatap selimut putih itu. Napasnya mulai memburu, dadanya naik turun dengan tidak beraturan.

Habis. Benar-benar habis.

Selama sepuluh tahun... sepuluh tahun dia mengorbankan masa mudanya. Di saat perempuan seumurannya sibuk kuliah, jalan-jalan, dan jatuh cinta, Valeria harus belajar cara menembak kepala orang tanpa berkedip. Dia harus duduk di meja bundar bersama pria-pria tua bangka bermuka dua, memaksakan dominasinya agar klan ayahnya tidak hancur berkeping-keping.

Dia membangun kerajaan itu dari darah dan air mata. Dia rela dicap sebagai iblis betina yang tidak punya hati. Semuanya demi menjaga warisan ayahnya.

Dan sekarang? Dalam satu malam, hanya dalam hitungan beberapa jam, semuanya lenyap. Disapu bersih oleh pria yang sedari kecil dia panggil 'Paman'.

"Semuanya hilang..." gumam Valeria, suaranya sangat kecil, nyaris berbisik. Tangannya melepaskan cangkir kopi itu begitu saja hingga terguling di atas kasur. Kael buru-buru menyingkirkan cangkir itu agar tidak melukai Valeria.

"Val..." Kael mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya terulur ingin menyentuh bahu wanita itu.

"Jangan sentuh aku!" sentak Valeria tiba-tiba, menepis tangan Kael dengan kasar.

Wanita itu merapatkan lututnya ke dada, memeluk kakinya sendiri. Wajahnya disembunyikan di antara kedua lutut. Bahunya mulai bergetar hebat. Dinding es yang selama ini membentengi hati sang ratu mafia akhirnya hancur lebur tanpa sisa.

Kael terdiam. Tangannya yang ditepis menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya dia tarik kembali. Pria raksasa itu hanya bisa duduk mematung, dadanya terasa seperti dihujam ribuan pisau melihat pemandangan di depannya.

"Aku bukan siapa-siapa lagi, Kael..." isak Valeria pecah, suaranya teredam di balik lututnya. Terdengar sangat putus asa dan menyedihkan. "Aku nggak punya uang. Aku nggak punya pasukan. Aku bahkan nggak bisa keluar dari ruangan sialan ini tanpa diburu kayak anjing kurap!"

"Anda masih punya saya, Val," sela Kael tegas, nada suaranya menggelegar memenuhi ruangan bawah tanah itu.

Valeria mendongak. Wajah cantiknya basah oleh air mata, matanya memerah dan bengkak. Penampilannya benar-benar kacau. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan sang ratu. Yang ada di atas kasur itu sekarang hanyalah seorang perempuan yang sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.

"Punya kamu buat apa?!" teriak Valeria histeris, melemparkan bantal ke arah Kael. Bantal itu mengenai dada Kael dan jatuh ke lantai, tapi Kael sama sekali tidak bergeming.

"Buat apa, Kael?! Buat ngelihat aku mati membusuk di bunker ini?! Buat jadi buronan seumur hidup sama aku?!" racau Valeria tak terkendali. Tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Aku ini beban! Kamu ngerti nggak?! Kemarin aku bosmu, aku bisa bayar kamu, aku bisa ngasih kamu fasilitas. Sekarang aku cuma perempuan miskin yang harga buronannya bisa bikin kamu jadi miliarder!"

Kael mengepalkan kedua tangannya yang ada di atas paha. Urat-urat di lengan dan lehernya menonjol menahan gejolak emosi.

"Kalau Anda berpikir saya melindungi Anda karena uang atau fasilitas klan, berarti sepuluh tahun saya berdiri di belakang Anda sama sekali tidak ada artinya untuk Anda," desis Kael dengan suara yang sangat rendah, berat, dan dipenuhi kekecewaan yang mendalam.

Valeria terbungkam. Napasnya tersengal-sengal menahan tangis. Dia menatap mata elang Kael yang kini terlihat terluka. Ya, Kael terluka. Bukan karena tembakan atau bacokan, tapi karena kata-katanya barusan.

Rasa bersalah langsung menghantam dada Valeria. Dia tahu Kael nggak peduli soal uang. Dia tahu Kael rela mati ribuan kali untuknya. Tapi justru itulah yang bikin Valeria merasa semakin hancur. Kael mengorbankan segalanya untuk seorang ratu yang sekarang bahkan nggak punya mahkota.

"Aku cuma... aku cuma merasa nggak berguna, Kael," rintih Valeria, suaranya melemah. Wanita itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air mata kembali mengalir deras dari sela-sela jarinya. "Ayahku pasti kecewa banget di atas sana. Warisan satu-satunya direbut orang. Aku gagal. Aku hancur. Semuanya selesai."

Isak tangis Valeria semakin keras, menggema memilukan di dinding-dinding beton yang dingin. Ini adalah pertama kalinya seumur hidup Valeria merasa benar-benar tidak berdaya. Sensasi kehilangan kekuasaan itu menggerogoti harga dirinya sampai tak bersisa. Dia biasa mengendalikan segalanya, dan kini dia bahkan tidak bisa mengendalikan nasibnya sendiri besok pagi.

Melihat wanita yang paling dia puja hancur lebur seperti ini, Kael tidak bisa diam lagi. Persetan dengan batas kesopanan, persetan dengan aturan atasan dan bawahan.

Kael menendang kursinya ke belakang, lalu bangkit berdiri. Pria jangkung itu melangkah naik ke atas ranjang. Dengan gerakan yang sangat mendominasi namun penuh kelembutan, Kael berlutut di depan Valeria.

Tangan besar pria itu meraih kedua pergelangan tangan Valeria, melepaskan tangan wanita itu dari wajahnya.

"Lihat saya, Valeria," perintah Kael mutlak. Bukan memanggil 'Nyonya' atau 'Val', tapi nama lengkapnya.

Valeria membuka matanya yang basah, menatap wajah Kael yang kini berada sangat dekat dengannya.

"Kerajaan itu bisa direbut. Uang itu bisa dicuri. Tapi mereka tidak bisa mencuri siapa Anda sebenarnya," ucap Kael menatap lurus menembus jiwa Valeria. "Anda adalah wanita yang menarik saya dari neraka. Anda adalah alasan monster ini mau dirantai. Kekuatan Anda tidak terletak pada kursi kebesaran di lantai 50 itu. Kekuatan Anda ada di sini."

Kael melepaskan satu tangan Valeria, lalu menempelkan telapak tangannya yang lebar dan kasar ke dada kiri Valeria, tepat di atas jantung yang sedang berdetak kencang.

"Selama ini masih berdetak, Anda masih ratu saya. Dan saya bersumpah atas nama nyawa saya sendiri..." Kael menundukkan wajahnya, menyatukan keningnya dengan kening Valeria. Napas panas mereka saling bertabrakan. "...kita akan mengambil kembali semuanya. Kita akan membuat paman Anda memohon ampun sebelum saya memotong lidahnya."

Valeria memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh membasahi pipi. Tapi kali ini, isak tangis histerisnya perlahan mereka. Kata-kata Kael, sentuhannya, dan sumpah berdarah yang dia ucapkan... seolah menjadi perekat yang menyatukan kembali kepingan mental Valeria yang hancur.

Realita di luar sana memang pahit dan mematikan. Tapi di dalam bunker ini, di hadapan pria yang memujanya layaknya dewi kematian, Valeria menyadari bahwa kekalahannya hanyalah sementara.

1
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!