kecelakan tragis itu merenggut nyawa Kiara, setelah mengetahui fakta bahwa dia dikhianati suaminya.
Tetapi Tuhan selalu memberi plot twist yang tidak pernah bisa kita tebak. Kiara mendadak terbangun kembali ke lima tahun lalu tepat di hari pertama pernikahan kontrak mereka dimulai.
Menyadari bahwa dia kembali mengulang waktu, kali ini Kiara bertekad untuk mengumpulkan uang lalu kabur demi menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi, Kiara justru dibuat syok oleh perubahan drastis Dante, sang mafia kejam yang tiba-tiba berubah menjadi super bucin, posesif, dan memanjakan Kiara dengan uangnya yang tidak akan pernah habis itu. Kiara tidak pernah tahu bahwa suaminya yang kejam itu ternyata juga ikut bereinkarnasi dari masa depan, membawa rasa bersalah dan sejuta penyesalan yang siap melakukan apa saja agar sang istri tidak pernah pergi lagi dari pelukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laksmi Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Dimalam yang sunyi, ksama kuucapkan, aparadha masalalu membakar sukmaku. Duhai istriku, jiwaku penuh pascattapa, menyesali luka yang sengaja kuukir. Autapa ini abadi, maafkanlah svamimu.
...----------------...
Kotak beludru hitam berukuran sedang itu diletakkan di atas permukaan meja marmer di dalam kamar mewah dan luas berlampu temaram, kilaunya tampak begitu angkuh. Sebuah kalung berlian berpotongan emerald memancarkan bias cahaya yang sanggup membutakan mata siapa pun yang memujanya. Sebuah simbol kemewahan dan dominasi yang biasa diberikan oleh seorang penguasa dunia bawah tanah.
Namun, bagi wanita yang duduk di tepi ranjang berseprai sutra itu, kilau berlian tersebut tak ubahnya seperti untaian duri yang siap menyayat lehernya hingga mati. Kiara menatap benda berkilau itu dengan tatapan kosong, tidak ada riak kebahagiaan.
"Kau menyukainya, sayang?" Suara bariton Dante memecah keheningan malam.
Dante melangkah maju dari kegelapan sudut kamar. Pria itu baru saja melepas mantel wol hitamnya, menyisakan setelan kemeja gelap yang membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Aura dingin, dan mematikan pemimpin dunia bawah tanah itu masih melekat erat pada setiap jengkal langkahnya yang tegap.
Malam ini, ada sesuatu yang berbeda pada sepasang mata elang Dante. Ada binar samar, sebuah harapan kecil yang tersembunyi di balik wajah kakunya. Ia ingin melihat senyuman wanita itu. Namun, apa yang didapatkannya justru sebaliknya.
Kiara perlahan mengangkat kepalanya, membalas tatapan mata Dante. Wajahnya pucat pasi, sedingin salju, namun matanya menatap sang suami dengan penuh kecurigaan.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Kiara.
Dante seketika tertegun. Langkah kakinya yang hendak mendekati ranjang mendadak terkunci. Sepatu pantofelnya berhenti tepat dua meter di depan Kiara. Pria yang biasanya mampu menebak langkah musuh-musuhnya dalam hitungan detik itu kini mendadak kehilangan kata-kata.
"Apa?" Dante mengulang dengan suara yang sedikit tercekat.
"Aku bertanya kepadamu, Dante," Kiara mengulang kalimatnya dengan penuh penekanan, meskipun suaranya tetap lirih dan bergetar.
"Perhiasan berharga jutaan dolar ini... apa tebusannya? Apa yang kamu inginkan dariku kali ini? Apakah tubuhku? Jiwaku? Atau kepatuhan tanpa celah?"
Dante menatap wajah istrinya, ia tertegun. Bukan karena penolakan atau sindiran tajam Kiara, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih mengerikan yang tertangkap oleh indra penglihatannya. Di balik tatapan sedingin es itu, Dante melihat sekelebat emosi yang sangat ia kenali, namun sangat ia takuti;
Ketakutan.
Ya, Kiara sedang ketakutan. Wanita itu tidak sekadar membencinya atau merasa muak dengan kehadirannya. Tubuh kecil yang terbalut gaun tidur satin putih itu bergetar samar. Jari-jemarinya saling bertautan di atas pangkuan, mencengkeram kain gaunnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang menatap Dante melebar dengan pupil yang mengecil, persis seperti seekor rusa kecil yang sedang tersudut di depan predator berdarah dingin yang siap merobek lehernya dalam satu sentakan.
Dante merasakan dadanya mendadak sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan mewah itu menguap habis. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan rasa bersalah yang teramat perih.
'Dia membawakanku perhiasan mewah, apa sebenarnya yang dia rencanakan?' Pikir Kiara dengan napas yang mulai memburu. Apakah sejarah berdarah itu akan terulang lagi esok hari?
Kiara memejamkan matanya sejenak untuk menetralkan degub jantungnya
"Kau salah paham, Kiara," ucap Dante selembut mungkin, sesuatu yang hampir tidak pernah ia lakukan kepada siapa pun seumur hidupnya.
"Aku tidak menginginkan apa pun darimu. Kalung itu... aku dapatkan dari hasil lelang, dan aku berpikir berlian itu akan terlihat sangat indah di lehermu. Hanya itu. Tidak ada maksud lain."
Kiara melepaskan tawa kecil yang terdengar sangat hambar. "Hanya itu? Seorang Dante Belmont tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Tolong katakan langsung suamiku yang terhormat. kesalahan apa lagi yang sudah kuperbuat hingga kau harus menyuapku dengan barang mewah dan kartu-kartu tanpa batas, sebelum kau menghukumku?"
"Kiara, dengarkan aku dulu—"
"Jangan mendekat!" potong Kiara.
Secara refleks, Kiara memundurkan tubuhnya di atas ranjang hingga punggungnya membentur sandaran tempat tidur.
Pemimpin mafia itu membeku seketika. Tangannya yang sempat terulur di udara kini menggantung di udara sebelum akhirnya perlahan jatuh ke samping tubuhnya. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana dada Kiara naik turun dengan cepat. Istrinya sedang mengalami serangan panik. Dan penyebab utamanya adalah dirinya sendiri.
"Baik, aku tidak akan mendekat. Lihat? Aku diam di sini," kata Dante dengan kedua tangan terangkat setengah, mencoba menenangkan wanita itu. "Tolong, atur napasmu, Kiara. Aku tidak akan menyakitimu. Aku bersumpah tidak akan pernah menyakitimu lagi."
'Kau bersumpah tidak akan menyakitiku lagi? Tidak mungkin! Lalu siapa yang membiarkanku kelaparan dan diperlakukan bak hewan oleh penghuni mansion ini kemarin? Kau adalah iblis berwujud manusia Dante'
Kiara membatin dengan rasa perih di dadanya.
"Keluar," bisik Kiara lirih
"Kiara, tolong beri aku kesempatan untuk berbicara—"
"Aku bilang keluar, Dante! Kau yang keluar dari kamar ini atau aku yang keluar!!" teriak Kiara, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos membasahi pipinya yang pucat.
Dante menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemuruh emosi di dalam dadanya. Ia tidak boleh egois. Jika kehadirannya di kamar ini hanya akan membuat Kiara semakin histeris, maka ia harus mengalah. Demi keselamatan Kiara, demi ketenangan wanita itu.
"Baik," ucap Dante dengan suara rendah yang terdengar amat lelah. "Aku akan pergi."
Dante perlahan berjalan mundur. Dengan gerakan perlahan, ia melangkah menuju pintu. Sebelum memutar knop pintu, Dante menghentikan langkahnya sejenak tanpa membalikkan badan.
"Makan malammu belum disentuh sama sekali sejak sore. Aku akan meminta kepala pelayan menghangatkannya kembali dan mengantarnya ke depan kamar. Tolong dihabiskan, Kiara. Kau butuh energi agar tidak jatuh sakit," kata Dante, suaranya terdengar begitu tulus hingga membuat Kiara sempat tertegun sesaat di tempatnya duduk.
"Tidurlah yang nyenyak. Tidak akan ada yang menyakitimu di rumah ini. Termasuk aku."
Dengan kalimat terakhir itu, Dante membuka pintu dan melangkah keluar, menutupnya kembali dengan sangat perlahan hingga nyaris tak terdengar.
Begitu pintu tertutup rapat dan menyisakan kesunyian, seluruh pertahanan Kiara runtuh. Ia menarik kedua lututnya erat-erat ke dada, menyembunyikan wajahnya di sana, dan mulai menangis sesenggukan dalam kegelapan malam yang dingin.
"kenapa dia berubah? Dante yang kukenal di kehidupan lalu tidak akan pernah mengalah seperti itu. Jika aku berani berteriak menyuruhnya keluar, dia akan mencengkeram rahangku dengan kasar, menatapku dengan mata iblisnya yang menyala, dan memaksaku untuk patuh berlutut di hadapannya. Dia akan merendahkanku hingga aku tak punya harga diri lagi sebagai seorang istri. Tapi tadi... kenapa matanya terlihat begitu terluka? Mengapa suaranya terdengar seperti pria yang sedang memohon ampunan dari dosa besar?"
Gumam Kiara lirih.
Kiara menggelengkan kepalanya kuat-kuat di atas lututnya, mencoba menghalau pikiran-pikiran membingungkan yang mulai racuni logikanya.
"Tidak. Jangan pernah tertipu lagi, Kiara! Ingat bagaimana cara dia menyiksamu begitu kejam di masalalu. Dia adalah seorang mafia, pemimpin tertinggi yang penuh dengan siasat busuk. Dia adalah ular yang pandai memanipulasi keadaan agar mangsanya lengah. Ini pasti taktik barunya untuk membuatku menurunkan kewaspadaan sebelum dia menghancurkanku sepenuhnya. Aku harus tetap pada rencanaku semula. Aku harus mengumpulkan banyak aset, lalu pergi dari tempat terkutuk ini secepat mungkin. Aku tidak akan membiarkan diriku mati mengenaskan untuk kedua kalinya."
Sementara itu, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Dante berdiri mematung di lorong mansion yang sepi dan remang-remang. Punggung tegapnya bersandar pada dinding marmer yang sedingin es.
Mata elangnya menatap lurus ke arah lorong yang kosong dengan kekosongan yang membara penuh penyesalan. Rasa bersalah dari masa lalu sungguh menjadi beban berat, menindih pundaknya tanpa ampun.
"Aku telah menghancurkannya begitu parah di kehidupan lalu," Ucap Dante dengan penuh penyesalan.
"Bahkan ketika waktu telah diputar kembali oleh takdir, ketakutan yang kutanam di dalam jiwanya tidak hilang begitu saja. Mengubah takdir ini ternyata jauh lebih sulit dan menyakitkan daripada memenangkan perang berdarah antar-sindikat mafia terbesar sekalipun. Tapi aku tidak akan pernah menyerah, Kiara. Jika di kehidupan lalu aku adalah neraka yang membakarmu hidup-hidup, maka di kehidupan ini, aku bersumpah akan menjadi perisai dan pelindungmu, bahkan jika aku harus menerima tatapan dingin serta kebencianmu yang membeku setiap hari.