Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.
Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.
Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.
Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.
Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
POV: Amelia
Nenekku meninggal di dini hari yang tenang, dengan tanganku di tangannya, dan aku tak akan bilang itu indah, karena tidak, tapi itu damai, dan itu lebih dari yang bisa diraih banyak orang di akhir hayatnya.
Aku di kursi di samping ranjang, setengah terjaga, ketika sadar napasnya berubah. Jadi lebih panjang di antara satu dan lainnya. Lebih jarang, seperti orang istirahat di antara satu langkah dan langkah berikutnya. Kupanggil perawat, yang datang, melihat, mengukur, dan memberitahuku pelan, dengan kelembutan orang yang sudah sering melihat ini, bahwa jantungnya lelah, ini wajar, tak ada yang perlu ditakuti, saatnya sedang berjalan lembut.
Kupegang tangannya dengan kedua tanganku.
"Aku di sini, Nek. Silakan pergi. Aku di sini. Nenek tidak sendirian." Kutahan tangis supaya tidak mengguncang perut, supaya tak merusak damainya dengan putus asaku. "Nenek membesarkanku begitu baik. Memberiku semua kebaikan yang kupunya. Beristirahatlah. Cucumu di sini, dan cucumu akan baik-baik saja, aku janji."
Dia tak membuka mata. Tapi jarinya menekan jariku, pelan, untuk terakhir kali, perpisahan yang tak butuh kata. Lalu melepas, perlahan, tanpa kejut.
Alat di sampingnya berbunyi seperti yang selalu dilakukannya. Perawat mematikannya, dengan hormat. Dan aku tetap di sana, menggenggam tangan yang tak lagi menggenggamku, tidak menangis keras, karena aku takut mengguncang perut, jadi kutangisi pelan-pelan, di dalam, dengan cara yang paling sakit, tangis yang tertahan di dada.
"Nenek buyutmu sudah pulang," bisikku pada perutku, pada Ikan Kecil. "Dia menunggumu sebisa mungkin. Dia ingin sekali mengenalmu. Simpan dia dalam dirimu, sayang, meski kamu belum sempat melihatnya."
Fariz mengurus semua yang tak sanggup kulakukan. Surat kematian, pemindahan jenazah, rumah duka, kertas-kertas yang selalu menyertai kematian, birokrasi dingin yang menumpuk di atas duka. Dia tidak mengambil dukaku dari tanganku, tidak memutuskan untukku, tapi memikul beban urusannya supaya aku bisa merasakan saja, menangis saja, berpamitan saja. Bibi datang dari Surabaya dini hari. Bagas datang. Bi Ningsih menangis seperti kehilangan ibunya sendiri, karena dalam arti tertentu memang begitu.
Di pelayatan, di sebuah rumah duka sederhana di Jakarta, kami hanya sedikit, dan kami orang-orang yang tepat. Tanpa pamer, tanpa bunga mahal yang pasti dianggap Nenek Dina pemborosan. Kuputar tasbih yang kini milikku, tasbih nenekku, menghitung butirnya pelan-pelan, dan kurasakan, untuk pertama kali sejak semua ini dimulai, bahwa aku tidak sendirian di dunia. Fariz satu langkah dariku, diam, kehadiran yang kokoh, dan kehadirannya adalah lantai di bawah kakiku yang gemetar.
Saat itulah Arga muncul di pintu rumah duka, berjas hitam.
Bagas dan petugas keamanan bergerak untuk menghadang, diam-diam, dan menoleh padaku, menunggu perintah.
"Jangan biarkan dia masuk," kataku pelan.
Arga tidak memaksa. Tidak membuat keributan. Dia berdiri di ambang pintu, menatapku dari jauh, dan kulihat dia berbeda, lebih tua, mata cekung, lelaki yang memikul bebannya sendiri. Dia tidak berkata apa-apa. Hanya memandang jenazah nenekku, memandangku, tatapan yang meminta maaf tanpa berani memintanya keras-keras, dan setelah beberapa lama dia berbalik dan pergi, sendirian, dalam gerimis halus di luar.
Aku tidak menghampirinya. Pintu yang sama yang kubuka untuk keluar dari sangkarnya adalah pintu yang menutup di mukanya hari itu. Dan aku tidak merasa bersalah sama sekali. Ada pintu yang kita tutup dan tak kita buka lagi, dan itu benar.
Setelah pemakaman, kembali ke rumah nenekku di Bekasi, rumah mungil dua kamar tempat aku tumbuh, aku mulai merapikan barang-barangnya. Itulah yang tersisa untuk dilakukan saat seseorang meninggal. Merapikan kardus. Memutuskan apa yang disimpan dari satu hidup penuh, mendorong segalanya ke dalam kotak yang tak pernah cukup.
Di dasar kotak jahit tua, di bawah benang dan kancing dan potongan kain yang dia simpan "untuk suatu hari", kutemukan dua benda yang tak pernah kulihat dalam tiga puluh tahun.
Sebuah foto lama, menguning, seorang bayi. Bayi pirang, sangat pirang, bermata terang, mengenakan gaun renda halus yang tak cocok dengan hidup sederhana nenekku, renda orang kaya.
Dan secarik catatan, terlipat empat, dengan tulisan gemetar orang yang menulis dengan terburu-buru dan takut. Tak semuanya terbaca, kertasnya aus, pudar di lipatan. Tapi terbaca satu nama keluarga, ditulis rapi di atas, nama belakang asing, Eropa, yang tak pernah kudengar seumur hidup.
Kupandangi foto dan catatan itu, jantung berdegup kencang, kalimat nenekku bergema di kepala. Dulu ada penukaran. Kamu dari jauh. Kamu anak dari. Dari orang besar. Dari orang berdarah sama yang menangisimu tanpa tahu kamu hidup.
"Lia." Fariz sudah masuk ke kamar dan melihat wajahku, foto gemetar di tanganku. "Apa itu?"
Kuserahkan foto dan catatan itu padanya, tanganku gemetar.
"Kutemukan di kotak jahitnya. Seorang bayi pirang, Fariz. Dengan gaun orang kaya. Dan nama keluarga ini, yang tak pernah kulihat. Nenekku tak pernah punya uang untuk mendandani bayi dengan renda seperti itu."
Dia mengambil catatan itu. Dan kulihat wajahnya berubah. Kulihat dia memucat, dia yang tak pernah pucat, yang seperti terbuat dari marmer. Dia membaca nama itu sekali, dua kali, dan tangannya meremas kertas itu sedikit.
"Kamu kenal nama ini?" tanyaku.
Lama dia menjawab. Ketika bicara, suaranya aneh, terlalu terkendali.
"Lia." Perlahan dia mengangkat mata dari kertas itu. "Nama ini kukenal. Itu keluarga yang dikira semua orang sudah lenyap dari negeri ini puluhan tahun lalu. Keluarga luar negeri, Eropa, sangat kaya. Bukan kaya. Sangat kaya. Sebuah dinasti. Jenis yang menggerakkan dunia dari belakang."
"Apa urusan dinasti seperti itu dengan bayi yang disimpan di kotak jahit nenekku di Bekasi?"
Dia memandangku, lalu foto bayi pirang itu, lalu perutku, tempat anakku yang pirang menunggu, dan, seperti belum pernah sejak aku mengenalnya, Fariz tidak punya jawaban siap.
"Aku tidak tahu," katanya. "Tapi kurasa kita baru menemukan ujung dari apa yang tak sempat diceritakan nenekmu. Dan kurasa, Lia, ujung ini lebih besar dari apa pun yang pernah kita jalani sejauh ini."