NovelToon NovelToon
Dari Benci Jadi Rindu

Dari Benci Jadi Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: Aulia Cemmzz

Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 1

Hari Senin selalu terasa berat bagi Laras. Langit pagi itu masih agak mendung, udara di sekitar rumahnya terasa sejuk tapi di dalam hatinya, ada perasaan gelisah yang tak bisa ia jelaskan.

Laras mengikat tali sepatunya sedikit terlalu kencang, lalu menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Dia tersenyum tipis pada bayangannya sendiri. Semoga hari ini berjalan tenang, semoga tidak ada masalah yang datang menyapa.

Namun sepertinya takdir punya rencana lain.

Sesampainya di gerbang sekolah, suasana pagi itu terasa lebih riuh dari biasanya. Sekolah mereka adalah salah satu sekolah menengah paling bergengsi di kota ini, dan di antara keramaian siswa yang berlalu-lalang, ada satu sosok yang selalu terlihat berbeda.

Sosok itu berdiri di depan gerbang dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaketnya, menatap ke sekeliling dengan tatapan yang terlihat bosan sekaligus angkuh. Itu Arka.

Laras mencoba berjalan melewatinya tanpa menoleh. Dia berusaha sekecil apa pun tidak menarik perhatian. Tapi sepertinya langkah kakinya agak terlalu terburu-buru. Bahunya tanpa sengaja menyenggol lengan Arka.

"Aw!" Laras terhuyung mundur sedikit.

Arka menoleh perlahan. Matanya yang tajam menatap Laras dari atas sampai bawah. "Hati-hati dong, jalan sambil lihat ke depan, bukan melamun ke langit," ucapnya dengan nada datar namun terdengar menyindir.

Wajah Laras memerah karena kesal. "Maaf, bukan sengaja. Tapi lu juga berdiri di tengah jalan tahu, menghalangi orang lewat."

Arka mengangkat satu alisnya. "Lu ini ya, baru disapa sedikit sudah langsung membela diri. Selalu merasa paling benar ya?"

"Bukan begitu. Lu yang mulai dulu dengan nada lu itu. Kenapa sih setiap kita ketemu pasti ada aja yang mau diperdebatkan? Lu itu emang suka banget cari masalah ya?" balas Laras, suaranya sedikit bergetar namun dia berusaha tetap tenang.

"Cari masalah? Justru lu yang selalu muncul di tempat yang salah, di waktu yang salah. Seakan-akan dunia ini sengaja mengirim lu buat nyusahin hari-hariku," jawab Arka dingin, lalu berjalan melewati Laras tanpa menunggu balasan lagi.

Laras menatap punggungnya yang menjauh dengan napas tertahan. Dasar cowok sombong! Apa gunanya dia pintar dan populer kalau sifatnya begitu menyebalkan? Setiap kali berbicara dengannya, Laras selalu merasa emosinya naik tinggi padahal dia tidak mau begitu.

Sepanjang jalan menuju kelas, Laras tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi pagi. Kenapa sih Arka begitu? Padahal banyak orang bilang dia baik dan pintar. Mungkin itu saja topengnya. Di balik itu semua, dia hanyalah orang yang tidak pernah peduli pada perasaan orang lain.

Bel masuk berbunyi tepat saat Laras duduk di bangkunya. Pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia. Guru mereka, Bu Ratna, masuk ke kelas sambil membawa tumpukan buku tebal dan sebuah kertas besar di tangannya.

"Anak-anak, hari ini Ibu akan membagi kelompok tugas makalah sekaligus presentasi yang akan kalian kerjakan selama sebulan ke depan. Silakan perhatikan nama-namanya," ucap Bu Ratna sambil menempelkan kertas itu di papan tulis.

Laras mencari namanya dengan jantung berdebar. Dia berharap ditempatkan bersama Dinda, sahabatnya. Atau siapa pun yang dia kenal. Matanya berhenti pada satu baris.

...Kelompok 3: Laras dan Arka...

Laras hampir melompat dari bangkunya. "Bu... kenapa harus sama dia?" gumamnya pelan, namun cukup terdengar oleh teman di sebelahnya.

Dari barisan belakang, terdengar suara Arka yang juga tidak senang. "Serius Bu? Harus sama dia? Bisa minta ganti saja?"

Bu Ratna menatap mereka berdua dengan senyum yang tak bisa ditolak. "Kenapa? Kalian berdua anak-anak pintar. Ibu yakin kalau bekerja sama, hasilnya pasti bagus. Justru karena kalian punya sifat yang berbeda, kalian bisa saling melengkapi. Ingat, ini bukan tentang siapa yang lebih benar, tapi tentang bagaimana kalian bisa bekerja sama. Titik."

Laras dan Arka saling bertatapan sejenak dari kejauhan. Tatapan itu penuh ketidaksetujuan. Seakan-akan mereka baru saja menerima hukuman terberat dalam hidup mereka.

Setelah bel istirahat berbunyi, Arka mendekati meja Laras. Dia meletakkan bukunya di meja dengan suara yang cukup keras.

"Dengar ya, gue nggak mau ada masalah di antara kita soal tugas ini. Gue kerjakan bagian yang susah, lu kerjakan yang mudah. Begitu saja, selesai," ucap Arka dengan nada memerintah.

Laras menutup bukunya perlahan lalu menatapnya lurus. "Siapa yang bilang gue mau nurut sama lu? Ini tugas kita berdua, bukan perintah bos ke bawahan. Kalau mau kerjakan bareng, kerjakan dengan adil. Kalau nggak mau, bilang saja ke Bu Ratna, biar kita minta ganti kelompok."

Arka tersenyum sinis. "Lu pikir gue nggak mau? Gue sudah minta, Bu Ratna menolak. Jadi kita terpaksa jalan terus sampai selesai. Tapi jangan harap gue akan akrab sama lu. Kita cuma teman kelompok, itu saja."

"Bagus, gue juga nggak butuh teman sombong kayak lu. Jadi kita kerjakan saja, selesai, lalu berpisah seperti nggak kenal. Setuju?" Laras mengulurkan tangannya seakan sedang menandatangani perjanjian perang.

Arka menatap tangannya sebentar, lalu menyambutnya dengan cengkeraman yang kuat namun singkat. "Setuju."

Mereka melepaskan jabatan tangan itu hampir di saat yang sama, seakan-akan tangan masing-masing terasa panas. Laras melihat Arka berjalan pergi dengan langkah tegapnya, meninggalkannya dengan perasaan yang campur aduk.

Semoga sebulan ini berlalu cepat. Semoga tidak ada pertengkaran besar di antara mereka. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Laras merasa ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dia belum bisa namakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!