Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Ceklek.
Pintu kayu berukir itu terbuka lebar menampilkan sebuah kamar tamu yang ukurannya setara dengan rumah kontrakan lama Jarot.
Jarot melangkah masuk dan melemparkan jaket murahnya ke atas kasur berukuran paling besar di ruangan itu.
"Lumayan juga fasilitas orang kaya ini," gumam Jarot sambil merebahkan dirinya di atas kasur yang sangat empuk.
Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu gantung kristal berukuran kecil.
Pikirannya sejenak kembali memutar memori tentang serangan preman sore tadi di taman kota.
"Mereka pasti akan mengirim pembunuh bayaran sungguhan kalau tahu preman kelas teri mereka gagal," batin Jarot menganalisis situasi dengan tenang.
Namun rasa kantuk dengan cepat mengalahkan insting membunuhnya yang memang sudah lama tidak ia pakai.
Jarot memejamkan mata dan tertidur pulas tanpa beban seolah tidak sedang berada di dalam sarang konflik.
Kringgg.
Suara jam alarm dari nakas samping tempat tidur membangunkan Jarot tepat pada pukul enam pagi.
Jarot mematikan alarm itu dengan malas lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Setelah rapi dengan kaus oblong hitam dan celana kargo santainya, Jarot berjalan keluar menuju ruang makan.
Wangi kopi hitam dan roti panggang langsung menyambut penciumannya saat ia melewati lorong rumah.
Tap. Tap. Tap.
Nisa terlihat sedang berjalan mondar-mandir di ruang makan sambil memegang ponsel di telinga kanannya.
Wajah pengusaha wanita itu terlihat sangat tegang dan memendam kepanikan yang luar biasa.
"Mas Jarot, syukurlah Mas sudah bangun sepagi ini," sapa Nisa begitu melihat Jarot masuk ke ruang makan.
"Pagi, Mbak. Ada masalah apa kok mukanya tegang begitu pagi-pagi?" tanya Jarot santai sambil menarik kursi.
Sruput.
Jarot meminum kopi hitam yang sudah tersedia di atas meja tanpa sungkan sedikit pun.
Nisa menutup panggilan teleponnya dan memijat pangkal hidungnya yang terasa sangat pusing.
"Cabang perusahaan saya di Singapura baru saja diserang secara paksa lewat pasar saham dan sabotase gudang," jelas Nisa dengan suara sedikit bergetar.
"Rival bisnis yang ngejar Mbak sore kemarin itu pelakunya?" tebak Jarot dengan sangat akurat.
Nisa mengangguk pelan dengan raut wajah putus asa.
"Mereka sengaja membuat kekacauan besar di sana agar saya terpaksa harus terbang ke Singapura hari ini juga," keluh Nisa.
"Itu taktik pengalihan musuh yang sangat klasik," komentar Jarot sambil mulai mengunyah roti panggangnya.
"Mas Jarot tahu apa maksud tujuan mereka sebenarnya?" tanya Nisa sedikit heran melihat reaksi Jarot yang terlalu tenang.
"Tentu saja, mereka mau misahkan Mbak Nisa dari anak-anak di rumah ini," jawab Jarot lugas tanpa basa-basi.
"Kalau nyonya rumahnya pergi keluar negeri, pertahanan di sini pasti dianggap lebih lemah dan mudah ditembus oleh mereka," lanjut Jarot menjelaskan analisis sederhananya.
Nisa langsung terdiam mendengar penjelasan logis dari pengawal barunya yang terlihat sangat urakan itu.
"Mas Jarot benar, tapi saya sungguh tidak punya pilihan lain selain pergi membereskan cabang di sana sekarang juga," ucap Nisa serba salah.
Jarot menelan rotinya lalu menatap Nisa dengan pandangan lurus yang menenangkan.
"Pergi saja, Mbak. Bereskan urusan bisnis Mbak dengan tenang di sana tanpa perlu kepikiran rumah," kata Jarot meyakinkan.
"Tapi bagaimana nasib ketiga putri saya di sini tanpa pengawasan saya?" tanya Nisa sangat khawatir.
"Selama Mbak terus bayar gaji saya sesuai kesepakatan awal, saya jamin mereka bertiga masih akan terus bernapas sampai Mbak pulang nanti," jawab Jarot dengan nada datar namun penuh kepastian.
Mendengar janji yang diucapkan dengan sangat meyakinkan itu, beban di hati Nisa terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.
"Saya percayakan nyawa Lyly, Tata, dan Melly kepada Mas Jarot sepenuhnya mulai hari ini," kata Nisa sungguh-sungguh sambil menundukkan kepala.
Tin. Tin.
Suara klakson mobil jemputan dari luar halaman rumah terdengar memanggil Nisa.
"Saya harus segera berangkat menuju ke bandara sekarang, Mas," pamit Nisa sambil menyeret koper kecilnya dengan terburu-buru.
"Hati-hati di jalan, Mbak," balas Jarot yang masih duduk santai menikmati rotinya.
Kriet. Blam.
Pintu utama rumah mewah itu tertutup rapat meninggalkan Jarot sendirian di ruang makan yang sangat luas.
Jarot menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan menghela napas panjang.
"Sekarang saatnya menghadapi tiga anak singa betina yang susah diatur," gumam Jarot pada dirinya sendiri.
Baru saja ia mengucapkan kalimat itu, suara langkah kaki tiga orang terdengar menuruni tangga utama dengan agresif.
Tap. Tap. Tap.
Lyly, Tata, dan Melly berjalan beriringan masuk ke ruang makan dengan formasi berjejer layaknya geng penguasa.
Ketiganya sudah memakai pakaian rapi dan sepertinya siap untuk memulai hari dengan berbagai aktivitas rahasia mereka masing-masing.
Lyly tampil dengan setelan blazer kerjanya yang elegan, Tata dengan jaket olahraga, sementara Melly sibuk memeluk laptop canggihnya.
Mereka bertiga berhenti serentak tepat di seberang meja makan dan menatap Jarot dengan pandangan memusuhi tingkat tinggi.
"Mama sudah berangkat menuju bandara?" tanya Lyly dengan nada dingin pembuka percakapan.
"Sudah, baru saja lima menit yang lalu mobilnya jalan," jawab Jarot tidak peduli dan kembali meminum kopinya.
Senyum sinis langsung mengembang lebar di bibir Lyly mendengar jawaban melegakan tersebut.
Brak.
Tata menggebrak meja makan dengan kedua telapak tangannya sambil menatap tajam ke wajah Jarot.
"Baguslah kalau Mama sudah pergi jauh, jadi kita bisa mulai bikin aturan main kita sendiri di rumah ini," ancam Tata secara terang-terangan.
Jarot hanya mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi pura-pura kaget dan terintimidasi.
"Aturan main apa lagi ini, Nona-nona? Kontrak kerjanya kan semalam sudah gua buang ke tempat sampah," ucap Jarot mengingatkan kejadian semalam.
Lyly menarik sebuah kursi kosong di depan Jarot lalu duduk dengan gaya menyilangkan kaki layaknya bos besar.
"Dengar ya, gembel. Kamu mungkin berhasil menipu Mama pakai omongan manis dan gaya sok jagoan mu," kata Lyly memulai intimidasi verbalnya.
"Tapi di mata kami bertiga, kamu itu cuma parasit miskin yang mau numpang hidup enak di rumah mewah kami," sambung Lyly dengan kata-kata pedas.
Jarot mengangguk-angguk pelan seolah sangat setuju dengan ucapan kasar dari wanita cantik di depannya itu.
"Memang betul sih, kasurnya luar biasa empuk dan rasa kopinya juga enak banget," tanggap Jarot tanpa tahu malu sedikit pun.
Wajah Lyly langsung berubah merah padam menahan amarah karena sindirannya sama sekali tidak membuat pria itu tersinggung.
Melly yang sedari tadi berdiri di sebelah Lyly mulai mengetik sesuatu di keyboard laptopnya dengan kecepatan tidak normal.
Tak. Tak. Tak.
"Bang Jarot, atau siapalah nama palsu mu sekarang. Gua udah cek semua latar belakang mu di jaringan internet global," ucap Melly dengan nada sombong.
"Oh ya? Hebat banget, emangnya ketemu apa aja kamu di situ?" tantang Jarot pura-pura penasaran dengan kemampuan gadis muda itu.
"Nggak ada satu pun catatan tentang eksistensi mu di dunia ini. KTP, ijazah, atau riwayat kerja mu semuanya kosong melompong nggak berjejak," ungkap Melly dengan mata menyipit curiga.
"Kamu itu pasti penjahat buronan polisi yang lagi cari tempat sembunyi kan?" tuduh Melly sambil menunjuk lurus ke hidung Jarot.
Jarot tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya mendengar analisis sok tahu dari peretas muda tersebut.