NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Janda

Wanita Yang Kubuat Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / Amnesia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Tamu tak di undang

Cerita selanjutnya...

Sinar matahari pagi menyelinap lembut melewati celah-celah gorden sutra di ruang keluarga mansion mewah milik Aris. Aroma kopi yang baru diseduh berpadu dengan wangi kue bolu pandan hangat yang baru saja matang dari oven.

Di dapur, Raya berdiri mengenakan apron kain bermotif bunga, menyunggingkan senyuman ceria seraya menata potongan kue di atas piring porselen. Di dekat meja makan, Cyla duduk manis di baby chair nya, asyik bermain dengan sendok plastik berwarna merah muda.

Aris yang baru saja selesai mengenakan jas mewahnya melangkah turun menyusuri anak tangga. Pria itu tampak begitu tampan dan segar. Garis-garis kelelahan dan ketakutan yang sebelumnya menggerogoti wajahnya telah memudar, digantikan oleh aura kepemimpinan yang matang dan ketenangan jiwa yang perlahan pulih.

"Pagi, Aris," sapa Raya riang, berbalik seraya membawa nampan berisi sarapan dan cangkir kopi.

"Pagi, Raya," balas Aris. Langkah kakinya mendekati Raya. Tanpa ragu, ia mengecup kening Raya dengan kehangatan tulus yang membuat pipi wanita itu merona merah muda.

"Kuenya baunya harum sekali," puji Aris seraya menarik kursi untuk duduk.

"Aku mencoba resep baru dibantu Koki Bi Murni," jawab Raya bangga. Ia lantas menuangkan kopi hangat ke cangkir Aris. "Makanlah yang banyak. Jangan sampai kamu telat makan di kantor seperti waktu itu."

"Siap, Dokter Pribadiku."

Kebersamaan pagi itu diwarnai oleh tawa renyah, canda tawa kecil, dan kehangatan yang makin mengikat perasaan di antara mereka berdua.

Raya makin merasa mantap bahwa hidupnya yang sekarang adalah takdir terbaiknya, sementara Aris makin yakin bahwa dirinya akan melalukan apa pun demi menjaga senyuman manis wanita itu.

Pukul delapan lewat lima belas menit, Aris berpamitan untuk berangkat ke kantor utama karena ada rapat direksi penting yang tak bisa ditunda.

"Hati-hati di jalan ya, Aris. Jangan lupa telepon kalau sudah sampai," pesan Raya seraya mengantarkan Aris hingga ke depan pintu utama.

Aris mengangguk, seraya menggenggam lembut jemari Raya sebelum melangkah menuju mobil sports hitamnya. "Aku akan berusaha pulang lebih awal sore nanti."

Raya melambaikan tangannya hingga mobil mewah itu menghilang di balik gerbang besi yang terbuka otomatis. Ia menarik napas panjang, menghirup udara pagi yang segar dengan hati yang penuh kedamaian, tanpa pernah menduga bahwa beberapa jam kemudian, kedamaian itu akan runtuh akibat kedatangan dua tamu yang tak pernah masuk dalam perhitungannya.

Sekitar pukul sebelas siang, suasana di mansion terasa sangat tenang. Cyla sedang tidur siang di kamarnya di lantai atas di bawah pengawasan Suster Santi. Oleh karena itu, Raya memutuskan untuk merapikan beberapa vas bunga di ruang tamu utama.

Tiba-tiba, suara bel pintu depan berbunyi nyaring dua kali.

Ning nong Ning nong!!

Raya sedikit terkejut. Biasanya, jika ada tamu atau pengiriman barang dari perusahaan Aris, penjaga gerbang depan akan memberi tahu lewat intercom terlebih dahulu.

Raya melepas sarung tangan kainnya, lalu melangkah menuju pintu utama yang tinggi dan megah. Ia memutar gagang pintu dan membukanya dengan perlahan.

"Selamat siang..." sapa Raya ramah.

Namun, sapaan itu mengantung di udara. Raya terpaku menatap dua orang yang berdiri di teras depan.

Di hadapannya, berdiri sepasang suami istri paruh baya dengan penampilan yang sangat elegan dan terpandang. Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas kasual abu-abu tua dari bahan berkualitas tinggi, dengan garis wajah tegas yang sangat mirip dengan Aris.

Sementara wanita paruh baya di sampingnya mengenakan gaun sutra simpel yang anggun, perhiasan mutiara yang tidak mencolok namun terlihat mewah, serta membawa tas kulit dari merek ternama.

Kedua orang itu mendongak, dan mata mereka membelalak kaget saat melihat sosok wanita muda yang membukakan pintu rumah putra mereka.

Raya berkedip bingung lalu berkata, "Maaf... Bapak dan Ibu mencari siapa ya?"

Wanita paruh baya itu menatap Raya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan dahi berkerut rapat. Ada tatapan heran dan penuh tanya di manik matanya.

"Kamu... siapa?" tanya wanita paruh baya itu dengan nada bicara yang tegas namun terdengar halus. "Di mana Aris?"

"Pak Aris... sedang bekerja di kantornya sejak pagi tadi, Bu," jawab Raya canggung. "Bapak dan Ibu ini siapanya Aris? Apakah sudah ada janji dengan beliau sebelumnya?"

Pria paruh baya di samping wanita itu menghembuskan napas panjang, menggelengkan kepalanya perlahan seraya menatap ke dalam rumah.

"Anak itu... benar-benar ya," gumam pria paruh baya itu dengan suara bass yang berat. Ia lalu menatap Raya. "Kami adalah orang tua Aris. Saya Baskoro Prakasa, dan ini istri saya, Lidya."

DEG!

Raya membeku seketika. Jantungnya berdesir kencang. Orang tua Aris?

Selama ini, Aris tidak pernah menceritakan secara detail tentang orang tuanya kepada Raya. Aris hanya pernah mengatakan secara singkat bahwa orang tuanya sangat sibuk dan sering berada di luar negeri untuk mengurus bisnis keluarga.

Dan kini, dua orang penting di dalam hidup Aris berdiri langsung di hadapannya.

"O-orang tua Aris...?" gagap Raya, menyadari betapa tidak sopannya ia berdiri di depan pintu tanpa membiarkan mereka masuk. Raya segera membungkukkan badannya dengan sangat hormat. "M-maafkan saya, Bapak, Ibu... Saya tidak tahu. Silakan masuk, Bapak, Ibu..."

Pak Baskoro dan Bu Lidya pun melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang luas dan megah. Mata Bu Lidya menyapu sekeliling ruangan dengan cermat. Ia menyadari ada beberapa sentuhan dekorasi wanita, seperti vas bunga segar di meja konsol dan beberapa mainan balita yang tertata rapi di sudut ruang keluarga.

"Silakan duduk, Bapak, Ibu. Saya buatkan minum dulu," ujar Raya tergesa-gesa dengan raut wajah yang serba salah.

"Tidak usah repot-repot," pangkas Bu Lidya dingin seraya duduk di sofa kulit impor. Matanya menatap tajam ke arah Raya yang berdiri canggung. "Duduklah di situ. Kita perlu bicara."

Raya menelan ludahnya yang terasa kering. Ia menarik napas pelan, lalu duduk di sofa tunggal di hadapan kedua orang tua Aris.

"Jadi... siapa kamu sebenarnya, Nak?" tanya Pak Baskoro lebih ramah dibanding istrinya, meskipun tatapannya tetap menyelidik. "Aris tidak pernah memberitahu kami kalau dia menyuruh seorang wanita tinggal di rumah pribadinya. Bahkan sewaktu kami baru tiba dari luar negeri tiga hari lalu dan memintanya datang ke kediaman utama, dia terus beralasan sibuk dengan pekerjaan."

Bu Lidya menyandarkan punggungnya di sofa, seraya melipat kedua tangannya di atas pangkuan, lalu menimpali. "Iya. Aris tidak kunjung menemui kami di rumah lama. Makanya kami yang memutuskan datang langsung ke rumahnya hari ini untuk mengecek keadaannya. Dan yang kami temukan justru kamu. Kamu bekerja sebagai apa di rumah putraku?"

Pertanyaan Bu Lidya yang menohok itu membuat Raya bingung dan tergagap. Bagaimana ia harus menjelaskan statusnya? Pria yang ia kira kekasihnya tidak pernah bercerita kepada orang tuanya tentang keberadaannya?

"Saya... saya Raya, Bu..." jawab Raya pelan, dengan menundukkan kepalanya sedikit. "Saya... kekasih Aris."

Bersambung...

1
YuWie
aris jg menderita..klo mental raya sdh kuat..jujur saja pak aris.. drpada broken semuanya
YuWie
masih di kota yg sama mana bisa sembunyi terus menerus pak aris..pindah gih ke luar negri
YuWie
lhaa gimn.. katanya semua sdh dijauhkan..kok malah terbaca tuh berita
YuWie
Luar biasa
YuWie
dang nikahi raya nya pak aris.
YuWie
klo ingatan raya kembali, apa jadinya pak aris
Aurora: kita cari tau jawaban di next episode-episode berikutnya...😃🤗
total 1 replies
YuWie
kebetulan ya ris..cintamu kau dptkan 😁
Aurora: Xixixi... hanya terbalut banyak boong 😅😅
total 1 replies
YuWie
pandangan pertama langsung jatuh cinta, suami nya pas is death..mmg jodohmu si raya ini pak arus..tapi sayang nya..jalannya tragis.
Aurora: yup, cinta pada pandangan pertama tak jarang terjadi 🤗
total 1 replies
YuWie
mabuk kok nyopir sendiri pak aris...
YuWie
secantik apa wanita itu aris..sehingga membuatmu falling inlove in first moment
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!