• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Hangat di Tengah Dinginnya Malam
Awan kelabu perlahan mulai menelan sisa-sisa semburat jingga di ufuk barat, menggantikannya dengan kanvas malam yang pekat bertabur bintang-bintang kecil. Setelah momen yang begitu intens di bawah pohon beringin panti asuhan, atmosfer di antara Angkasa dan Eca mendadak berubah total. Tidak ada lagi ketegangan pekat atau sindiran tajam yang keluar dari mulut sang Ketua OSIS. Angkasa dengan sangat lembut memasangkan kembali kacamata bulat tebal itu ke hidung Eca, seolah-olah memberikan pembatas bahwa kecantikan asli cewek itu kini telah resmi kembali disembunyikan dan hanya menjadi konsumsi pribadinya. Eca sendiri hanya bisa berdiri mematung dengan wajah yang masih terasa panas membara, menunduk dalam-dalam menyembunyikan debar jantungnya yang masih berdegup brutal di luar batas wajar.
Angkasa mengambil kembali ponsel milik Eca dari saku celananya, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Eca yang masih tertunduk. Eca menerima benda persegi panjang hitam itu dengan jemari yang masih sedikit gemetaran, buru-buru memasukkannya ke dalam saku rok abu-abunya tanpa berani menatap langsung sepasang mata elang di depannya. Angkasa kemudian menyambar helm full-face hitam miliknya, memakainya dengan satu gerakan taktis, lalu melangkahi jok motor sport-nya yang tinggi dan menyalakan mesin. Suara raungan knalpot yang berat kembali memecah keheningan pinggiran kota, bergema ritmis di bawah rindangnya pepohonan panti asuhan. Angkasa menepuk jok belakangnya pelan, memberikan kode mutlak yang tidak menerima bantahan apa pun.
Udara malam di pinggiran kota ternyata turun jauh lebih drastis daripada yang Eca perkirakan. Angin malam yang berembus kencang menembus serat-serat kain kemeja seragam putih tebalnya, membuat tubuh mungil Eca refleks menggigil kaku di atas jok belakang yang menungging tinggi. Motor melaju membelah jalanan aspal yang dikelilingi hamparan sawah gelap yang luas. Eca mencoba mempertahankan jarak duduknya dengan menahan kedua telapak tangannya pada pembatas besi belakang motor, namun sentakan angin yang semakin kuat dan tikungan tajam yang sengaja diambil Angkasa dengan kecepatan tinggi membuat keseimbangannya berulang kali goyah.
Melihat asisten pribadinya yang bersikeras menjaga jarak dari kaca spion, Angkasa mendengus samar di balik helmnya. Tanpa mengurangi kecepatan, Angkasa mendadak melepaskan tangan kirinya dari stang motor, meraih sepasang lengan Eca yang kaku di belakang, lalu dengan satu tarikan tegas membawa kedua tangan kecil itu untuk melingkar sempurna di pinggang tegapnya. Eca tersentak kaget di dalam helmnya, hampir saja memekik keras saat tubuhnya kembali terdorong ke depan, membuat perut dan dadanya menempel tanpa celah pada punggung kokoh Angkasa.
"Gue udah bilang jangan keras kepala, Alesya. Peluk yang kencang kalau lo nggak mau jatuh terlempar di jalanan sepi ini," suara bariton Angkasa terdengar berat dan teredam dari balik helm, namun nada protektif yang pekat di dalamnya membuat Eca tidak memiliki kekuatan lagi untuk membantah.
Eca akhirnya menyerah pada egonya sendiri. Rasa dingin yang menusuk kulitnya perlahan sirna, digantikan oleh kehangatan luar biasa yang menjalar dari tubuh jangkung Angkasa. Eca memejamkan matanya rapat-rapat di balik kaca helm yang gelap, menenggelamkan wajahnya pada pundak tegap Angkasa yang dilapisi jaket kulit hitam besar yang kini sudah cowok itu kenakan kembali. Aroma wangi maskulin yang dominan bercampur dengan aroma kesegaran angin malam seolah mengunci seluruh inderanya, memberikan rasa aman yang sangat asing namun begitu menenangkan di tengah ketakutan akan masa lalunya. Di balik dekapannya yang semakin mengerat, Eca bisa mendengar dengan sangat jelas suara detak jantung Angkasa yang berdegup dengan ritme yang sama cepatnya dengan gejolak gila di dalam dadanya sendiri, membuktikan bahwa pesona intim ini tidak hanya merusak sistem sarafnya, melainkan juga mulai meruntuhkan benteng pertahanan sang penguasa sekolah.