Gemerlap pulau dewata ternyata menyimpan sisi kelam yang jarang tersorot di balik kemeriahan panggung pop culture dan berbagai event kreatif. Komunitas hobi yang tampak penuh warna ini sering kali diwarnai oleh berbagai kekacauan mendadak, mulai dari drama penyelenggara acara yang bermasalah, oknum penguntit yang meresahkan, hingga gesekan pelik antar-kelompok.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, sekelompok orang biasa yang tidak memiliki pengaruh besar harus menjalani hari-hari penuh tantangan. Mereka bukan siapa-siapa di mata publik, melainkan sekadar individu yang berusaha menikmati hobi di tengah himpitan masalah pribadi masing-masing yang silih berganti.
Setiap babak kehidupan mereka berjalan tanpa terikat pada satu tempat atau konflik tunggal, membawa mereka menghadapi berbagai kekacauan on the spot yang tak terduga. Perjalanan ini dipenuhi oleh campuran aksi, drama emosional, dan komedi segar yang menguji cara mereka bertahan di kerasnya dunia komunitas kreatif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INDKaeda00, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Event time
"Disclaimer: Seluruh karakter, organisasi, dan peristiwa dalam cerita ini adalah fiktif. Jika ada kemiripan dengan situasi nyata, kisah asmara, atau kasus di dunia cosplay, itu adalah unsur ketidaksengajaan."
Di sisi lain, setelah memarkirkan kendaraannya dan memasuki area gedung event, Evelia berjalan menyusuri koridor utama menuju ke arah ruang rias. Di tengah perjalanannya, langkahnya terhenti sejenak ketika ia berpapasan dengan seseorang yang sangat dikenalnya di tengah kerumunan cosplayer.
Sosok itu adalah Ariel, suami Helena, yang tengah mengenakan kostum zirah (full armor) berukuran besar dan tampak sangat megah dengan detail ornamen yang rumit.
Evelia langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangan menyambut kedatangannya. "Wah, halo, Ariel! Keren banget armor kamu hari ini, keliatan totalitas dan kokoh banget kelihatannya. Nggak pegel tuh nanggung beban seberat itu seharian?" sapa Evelia sambil terkekeh kagum.
Ariel menoleh ke arah sumber suara, lalu mengangkat tangan kanannya yang terbalut sarung tangan armor sambil tersenyum ramah di balik helm pelindungnya. "Halo juga, Evelia! Wah, terima kasih pujiannya. Lumayan sih rasanya bikin pundak pegal kalau dipakai terlalu lama, tapi demi totalitas karakter ya dinikmati saja," jawab Ariel dengan suara yang sedikit bergemerincing akibat gesekan bagian baju besinya.
"Oh ya, kamu mau langsung nyari Helena ya?" lanjut Ariel sambil menunjuk ke arah ruangan di balik punggungnya dengan ibu jari. "Kalau kamu nyari dia, orangnya ada di dalam ruangan make-up utama. Masuk ke dalam saja, kebetulan dia lagi istirahat sebentar sambil nunggu giliran berikutnya."
Evelia mengangguk mengiyakan. "Siap, kalau gitu aku langsung masuk ke dalam ya. Makasih infonya, Ariel, semangat ya buat sesi fotonya hari ini!"
"Sama-sama, Evelia. Hati-hati di jalan ke dalam!" balas Ariel, lalu keduanya kembali melanjutkan urusan masing-masing di tengah keramaian event.
Evelia mendorong pintu ruangan rias dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang terasa jauh lebih tenang dibandingkan keriuhan di luar. Di sudut ruangan, ia melihat Helena tengah fokus merias wajah seorang pelanggan dengan teliti menggunakan kuas kecil di tangannya.
Melihat Helena yang masih sibuk, Evelia memilih untuk tidak mengganggu pekerjaannya. Ia berjalan ke arah kursi kosong di sebelah meja rias, lalu mendudukkan dirinya sambil menghela napas panjang untuk meredakan gerah.
"Fiuh... panas banget di luar sana, AC gedung ini rasanya kurang nendang saking padatnya orang," keluh Evelia pelan sambil mengibaskan tangan ke dekat wajahnya, mencoba mengusir hawa gerah.
Sembari menunggu gilirannya, mata Evelia melirik ke arah pria yang sedang duduk di kursi rias tepat di sebelah Helena, yang wajahnya sedang dipoles. Ia memperhatikan detail rambut palsu dan riasan tipis di wajah pria tersebut, lalu memutuskan untuk membuka percakapan agar tidak canggung.
"Um, permisi... Boleh tahu kamu lagi cosplay jadi karakter siapa ya? Keren banget kelihatannya," tanya Evelia ramah.
Pria itu sedikit terkejut karena diajak bicara secara tiba-tiba. Ia mengerjap beberapa kali, lalu menjawab dengan nada yang terdengar agak canggung dan grogi, "Ah... iya, Kak. Aku lagi cosplay jadi Noctis dari Final Fantasy XV..."
Mendengar jawaban tersebut, mata Evelia langsung berbinar cerah. Ia mengangguk-angguk kagum, menatap pria itu dengan antusias. "Wah, seriusan Noctis?! Keren banget! Jarang-jarang loh aku lihat ada yang cosplay jadi Noctis dengan niat di event-event daerah Bali begini, kebanyakan kan kalau nggak karakter Genshin ya anime musim ini."
Pria itu hanya bisa terkekeh canggung, menggaruk bagian belakang lehernya yang tidak gatal karena malu dipuji secara langsung. "Haha, iya, Kak... Sebenarnya agak nekat juga sih karena properti pedangnya agak repot dibawa ke mana-mana, tapi ya dinikmati saja."
Rasa penasaran Evelia belum juga surut. Ia kembali mencondongkan tubuhnya ke depan, melanjutkan obrolan santai dengan pria berpenampilan Noctis yang sedang duduk di kursi rias itu.
"Wah, kostum dan aksesorisnya kelihatan rapi banget. Ngomong-ngomong, kostum sama pedangnya itu bikin sendiri atau beli jadi?" tanya Evelia penuh minat.
Pria itu tersenyum tipis, merapikan duduknya agar tidak mengganggu gerakan tangan Helena. "Kalau kostumnya aku beli jadi di marketplace, Kak. Tapi kalau pedang ikoniknya ini, sengaja commish ke pembuat properti lokal biar detail bentuk dan ukurannya bisa pas," jawabnya menjelaskan.
"Oh, begitu ya. Kalau boleh tahu, habis berapa buat biaya commish pedang sama beli kostumnya?" kejar Evelia dengan nada penasaran.
"Hmm, kalau ditotal-total sama kostum dan properti pedangnya sih kemarin habis sekitar dua jutaan, Kak," jawab pria itu sambil sedikit meringis pelan.
Evelia mengangguk-angguk paham mendengar nominal tersebut. "Wah, lumayan juga ya harganya, tapi sebanding sih sama hasilnya yang kelihatan keren."
Setelah puas mengobrol ringan dengan pria tersebut, Evelia mengalihkan perhatiannya ke arah Helena yang masih sibuk memoles wajah kliennya. Ia mengubah topik pembicaraan ke hal yang lebih serius seraya menghela napas prihatin.
"Oh ya, Helena... Belakangan ini aku perhatikan kok kayaknya makin banyak ya drama nggak penting yang beredar di komunitas event cosplay lokal? Bikin risih dan capek sendiri lihatnya," ujar Evelia sambil menggelengkan kepala.
Helena tetap melanjutkan pekerjaannya dengan tenang, tangannya yang memegang kuas bergerak sangat profesional tanpa terpengaruh sedikit pun oleh obrolan tersebut. Ia menjawab dengan nada santai sambil terus fokus merias.
"Namanya juga komunitas yang isinya banyak kepala, Evelia. Pasti selalu ada saja drama atau orang-orang cari panggung. Makanya, yang paling penting itu kita fokus saja ke hobi kita sendiri dan nggak usah ikut-ikutan campur urusan orang lain," jawab Helena tenang.
Evelia menggelengkan kepalanya pelan, tidak sepenuhnya sependapat dengan jawaban santai Helena. "Iya sih benar, tapi masalahnya nggak semua orang bisa seberuntung itu. Pasti ada saja oknum-oknum usil atau fotografer nakal yang suka sengaja mengganggu atau bikin cosplayer tidak nyaman, terutama yang masih muda atau jalan sendirian," sanggah Evelia. Ia melirik sekilas ke arah cermin, lalu tersenyum tipis. "Kalau kamu kan enak, Helena, sudah punya suami kayak Ariel jadi pasti selalu ada yang jaga dan aman-aman saja ke mana pun."
Mendengar ucapan Evelia, Helena langsung terkekeh pelan di sela-sela kesibukannya merapikan riasan sang klien. Sambil menempelkan sedikit highlighter di tulang pipi pria berpenampilan Noctis tersebut, Helena memberikan tanggapannya dengan bijak.
"Ya, itu makanya poin paling penting di setiap event itu kita harus selalu bersama teman, jangan ke mana-mana sendirian," kata Helena menegaskan sambil tetap fokus bekerja secara profesional. "Kecuali kalau memang kamu punya kemampuan bela diri tingkat tinggi, baru deh agak aman jalan sendirian. Kalau nggak, ya minimal harus punya circle yang solid biar nggak gampang jadi target orang-orang jahil."
Helena dan Evelia sontak menghentikan obrolan mereka dan kompak menoleh ke arah pria berpenampilan Noctis yang sedang duduk di kursi rias tersebut. Helena, yang sudah cukup lama mengenal pria itu—begitu juga dengan suaminya, Ariel—tersenyum ramah sambil merapikan sisa bedak di wajah sang klien.
"Oh iya, ngomong-ngomong soal jalan sendirian, kamu sendiri gimana, Aragoto? Tadi kata Evelia bahaya kalau sendirian, tapi tumben banget hari ini kelihatan nggak bareng siapa-siapa," tanya Helena kepada pria bernama Aragoto itu.
Aragoto, yang memang dikenal memiliki sifat pemalu dan pendiam, mengerjap pelan. Ia menunduk sejenak sebelum menjawab dengan suara pelan dan agak ragu, "Ah... iya, Kak Helena... Belakangan ini aku memang lebih sering ke event sendirian saja sih, pas lagi ingin menikmati suasana tanpa harus pusing menyesuaikan jadwal sama teman yang lain..."
Mendengar pengakuan Aragoto yang tampak canggung dan pemalu itu, Evelia langsung tersenyum lebar. Ia merasa iba sekaligus ingin memperluas pertemanannya di komunitas.
"Wah, ke event sendirian? Kalau gitu biar nggak sunyi-sunyi banget dan lebih aman, gimana kalau kita mutualan dan berteman saja?" usul Evelia antusias sambil menyodorkan ponselnya yang sudah membuka layar media sosial. "Mau nggak nanti jalan bareng kami keliling event? Biar ada temannya dan nggak gampang diisengin orang."
Aragoto tampak sedikit terkejut atas tawaran yang cukup tiba-tiba itu, pipinya merona tipis karena rasa malunya. Namun, ia mengangguk pelan dengan sopan seraya menerima uluran ponsel Evelia untuk bertukar kontak.
"Boleh, Kak... Terima kasih banyak tawarannya," jawab Aragoto dengan canggung.