Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Angin malam berhembus membawa udara dingin yang menusuk kulit.
Astiana memegang jarum perak pertama di antara jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Hei, apa yang kau lakukan, hentikan."
Dokter berkacamata itu berteriak histeris melihat Astiana bersiap menusukkan jarum tersebut.
"Kalau jarum itu kotor dan menyebabkan infeksi, kau bisa dipenjara."
Dokter itu berusaha maju namun entah kenapa kakinya terasa berat untuk melangkah.
Astiana sama sekali tidak mempedulikan teriakan peringatan dari dokter tersebut.
Fokus utamanya sekarang hanya pada titik-titik saraf di dada Pak Darma.
Sring.
Jarum pertama meluncur dengan sangat cepat dan menancap tepat di atas ulu hati Pak Darma.
"Gila, gadis ini benar-benar gila."
Suara hati sang supir berteriak panik melihat pemandangan mengerikan di depannya.
Namun sebelum supir itu bisa mencegah, Astiana sudah menusukkan jarum kedua dan ketiga.
Jleb jleb.
Kedua jarum perak itu kini bersarang di titik saraf dekat pangkal leher dan dada kiri pasien.
Kerumunan pejalan kaki menahan nafas melihat aksi nekat gadis berpenampilan lusuh tersebut.
Astiana memejamkan matanya untuk merasakan aliran darah dari tubuh pria tua ini.
Dia menyalurkan sedikit tenaga dalamnya melalui ujung-ujung jarum perak yang menancap itu.
"Aliran darahnya yang membeku sudah mulai mencair perlahan."
Astiana membatin dengan lega saat merasakan denyut nadi Pak Darma kembali berdetak normal.
Wajah pria tua yang semula pucat membiru kini perlahan mulai kembali kemerahan.
Nafasnya yang tadi tersengal-sengal juga mulai terdengar teratur dan tenang.
"Luar biasa, bagaimana ini bisa terjadi."
Dokter itu bergumam pelan dengan mata terbelalak lebar di balik kacamatanya.
Dia tidak percaya pengobatan kuno seperti ini bisa memberikan efek instan pada pasien kritis.
"Tuan Darma, Anda sudah bisa bernapas lagi."
Supir berjas hitam itu menangis tersedu-sedu melihat dada majikannya naik turun dengan normal.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Ciittt.
Suara decit rem mobil yang sangat keras memecah keheningan di jalanan tersebut.
Sebuah mobil sport mewah berwarna merah terang berhenti melintang menghalangi jalan raya.
Pintu mobil terbuka dengan kasar dan menampilkan sosok pria muda berpakaian serba mahal.
Pria itu memiliki wajah tampan yang tajam namun sorot matanya memancarkan arogansi tingkat tinggi.
Dia adalah Raka, cucu tunggal sekaligus pewaris utama keluarga konglomerat Darma.
"Kakek." Raka berteriak kencang sambil berlari menerobos kerumunan orang yang langsung ketakutan melihat kedatangannya.
Langkah kakinya terhenti tiba-tiba saat matanya menangkap sosok Astiana yang sedang berlutut di dekat kakeknya.
Mata tajam Raka langsung menatap nanar ke arah tiga jarum perak yang menancap di tubuh kakeknya.
"Apa-apaan ini." Raka membentak dengan suara baritonnya yang menggelegar membuat nyali semua orang di sana menciut.
"Siapa kau, beraninya kau menusuk kakekku dengan benda kotor ini." Raka melangkah maju dan berniat menarik kerah baju Astiana dengan sangat kasar.
"Tuan Muda Raka, tolong jangan marah dulu." Supir itu segera berdiri dan mencoba menahan tubuh Raka agar tidak menyerang Astiana.
"Minggir kau, supir tidak berguna." Raka mendorong supir itu hingga terjatuh ke atas aspal trotoar.
"Beraninya kau membiarkan gembel jalanan ini menyentuh tubuh kakekku." Suara hati Raka langsung menyambar masuk ke dalam telinga Astiana.
"Gadis ini pasti komplotan pembunuh bayaran yang disewa saingan bisnis keluarga kami."
"Atau dia penipu rendahan yang sengaja membuat kakekku pingsan lalu berpura-pura menolong."
Astiana hanya bisa menghela napas panjang mendengar tuduhan kejam di dalam pikiran pria muda ini.
Dia sama sekali tidak takut atau terintimidasi oleh bentakan Raka.
Astiana berdiri perlahan dan menepuk debu yang menempel di lutut celana jinsnya.
"Jaga ucapanmu, Tuan."
Astiana membalas tatapan tajam Raka dengan ekspresi wajah yang sangat datar.
"Kakekmu hampir mati lima menit yang lalu, dan jarum kotor inilah yang baru saja menyelamatkan nyawanya."
"Omong kosong." Raka tertawa sinis meremehkan ucapan Astiana yang menurutnya tidak masuk akal.
"Mana ada pengobatan kampungan seperti ini bisa menyelamatkan nyawa orang."
Raka menoleh ke arah dokter berkacamata yang masih berdiri terpaku di sana.
"Dokter, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada kakekku."
Dokter itu tersentak kaget dan menelan ludahnya dengan susah payah sebelum menjawab.
"I-itu benar, Tuan Muda Raka." "Denyut nadi Tuan Darma tadi hampir berhenti, tapi setelah gadis ini menusukkan jarumnya, kondisinya langsung stabil."
Raka terdiam sejenak mendengar kesaksian langsung dari seorang tenaga medis profesional.
Namun gengsi dan ego tingginya menolak untuk percaya begitu saja pada fakta tersebut.
"Kalian semua pasti sudah disogok oleh gadis ini untuk tutup mulut kan." Raka menuding ke arah kerumunan warga yang langsung mundur ketakutan.
"Gadis licik, sebutkan berapa uang yang kau inginkan dari keluarga kami."
Raka merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah dompet kulit tebal.
"Kau sengaja membuat drama murahan ini agar kami memberimu imbalan besar kan."
Astiana menatap dompet itu dengan perasaan jijik yang tidak bisa disembunyikan.
"Ternyata orang kaya di kota ini memiliki pikiran yang sangat sempit dan menyedihkan."
Astiana berbicara dengan nada tenang namun setiap kata-katanya menusuk tepat ke harga diri Raka.
"Aku tidak butuh uangmu sepeser pun."
"Aku hanya melakukan kewajibanku sebagai manusia untuk menolong sesama yang sedang sekarat."
Astiana menunduk dan mencabut ketiga jarum perak itu dari tubuh Pak Darma dengan satu tarikan napas.
Sret.
Gerakan tangannya sangat cepat hingga Raka tidak sempat melihat bagaimana jarum itu dicabut.
Astiana membersihkan jarumnya dan memasukkannya kembali ke dalam kotak kayu kecil miliknya.
"Ukhuk ukhuk."
Suara batuk keras tiba-tiba terdengar dari arah pria tua yang terbaring di aspal tersebut.
"Kakek." Raka langsung melempar dompetnya ke sembarang arah dan berlutut memeluk kakeknya.
"Syukurlah kakek sudah sadar, apa yang kakek rasakan sekarang." Raka bertanya dengan nada panik dan cemas yang benar-benar tulus dari dalam hatinya.
"Astaga, ternyata di balik sifat arogannya, dia sangat menyayangi kakeknya."
Astiana membatin setelah mendengar suara hati Raka yang dipenuhi rasa syukur dan kelegaan.
Ini membuktikan bahwa pria menyebalkan ini tidak sepenuhnya jahat dan masih memiliki hati nurani.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣