NovelToon NovelToon
Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

✨ Sinopsis

Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.

Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orion Diam - Diam Memperhatikan

 

Pagi itu udara terasa sejuk banget. Matahari baru aja muncul separuh di ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut ke seluruh halaman sekolah. Aku datang lebih awal dari biasanya — bukan karena rajin atau apa, cuma tadi pagi rumah lagi berisik banget, jadi aku minta sopir antar lebih cepat biar bisa kabur sebentar. Langkahku ringan sambil menyenandungkan lagu yang lagi viral, tas disampirkan di satu bahu, rambutku yang sedikit berantakan aku sisir pakai jari sambil berjalan menuju taman kecil di belakang perpustakaan — tempat favoritku kalau mau diam sebentar.

Aku nggak tahu, ternyata aku nggak sendirian di sana.

Di bangku kayu yang menghadap ke kolam ikan kecil, ada sosok yang sedang duduk tenang sambil memegang buku. Cahaya matahari pagi jatuh tepat di wajahnya, membuat garis rahangnya terlihat lebih tegas dari biasanya. Itu Orion. Dia nggak membaca, matanya menatap lurus ke arah pintu gerbang sekolah yang masih sepi, seolah sedang menunggu sesuatu… atau seseorang.

Aku berjalan mendekat sambil tertawa pelan. "Wah, kirain cuma aku yang bangun pagi buta. Ternyata ada Pak Jenius juga nih."

Orion menoleh cepat, sedikit terkejut, lalu senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang selalu bikin rasanya seperti ada ketenangan yang menyelimuti hati. "Kamu datang lebih awal dari biasanya. Ada yang mau kamu hindari di rumah, atau cuma mau cari suasana baru?"

Aku duduk di sebelahnya, menyandarkan punggungku ke punggung bangku sambil mendengus pelan. "Duh, pinter banget sih kamu baca pikiran. Iya sih, Mamaku lagi sibuk banget urus acara amal, terus Papa nanyain soal nilai ujian yang kemarin… aku jadi merasa kayak diinterogasi terus. Makanya aku kabur aja. Tenang banget di sini ya?"

Orion tertawa pelan, suaranya lembut banget. "Selama kamu nggak bikin keributan, di mana pun itu bisa jadi tenang. Tapi aku senang kamu datang. Sendirian itu memang tenang, tapi kadang juga sepi."

Aku menoleh padanya, menyipitkan mata sedikit. "Eh, ngomong-ngomong… dari tadi kamu ngeliatin ke arah gerbang ya? Nunggu siapa nih? Jangan bilang kamu punya pacar diam-diam, terus mau jemput dia pagi-pagi begini?" candaku sambil menyenggol lengannya pelan.

Orion terdiam sejenak, lalu menunduk menutup bukunya perlahan. "Aku nggak nunggu siapa-siapa. Aku cuma… suka lihat orang-orang datang satu per satu. Rasanya seperti melihat cerita baru dimulai setiap harinya."

"Halah, puitis banget sih kamu," kataku sambil tertawa, tapi entah kenapa ada sesuatu di matanya yang membuatku merasa dia menyembunyikan sesuatu. Seperti ada kata-kata yang tertahan di ujung lidahnya, tapi tak pernah terucap.

Sejak pagi itu, aku mulai menyadari hal-hal kecil yang sebelumnya nggak pernah aku perhatikan. Hal-hal tentang Orion yang ternyata selalu ada di sana, diam-diam.

Saat jam istirahat tiba, aku berjalan ke kantin bersama Rexy yang lagi cerita seru soal motor baru yang mau dibeli ayahnya. Tiba-tiba aku menabrak bahu seseorang karena aku terlalu sibuk tertawa. Itu tas buku yang jatuh ke lantai.

"Aduh, maaf maaf! Aku nggak sengaja," kataku buru-buru mau membantunya ambil buku-buku itu.

"Tidak apa-apa, Aluna. Hati-hati ya," ucap siswa itu sambil tersenyum, tapi aku bisa lihat dia menahan kesal karena bukunya jadi kotor sedikit.

Belum sempat aku jawab, tangan Orion sudah mengambil sisa buku yang jatuh dan mengembalikannya dengan sopan. "Maaf ya, temanku ini memang agak ceroboh. Biar kami yang ganti bukunya kalau rusak."

Setelah siswa itu pergi, aku menepuk jidatku sendiri. "Ya ampun, malu banget deh aku. Pasti dia mikir aku gadis nggak punya sopan santun."

Rexy terkekeh. "Ya wajar lah, siapa yang suruh kamu jalan sambil ketawa-ketawa kayak orang gila. Untung ada Orion yang selalu siap jadi penyelamat duniawi kamu."

Aku menatap Orion yang sedang membersihkan debu di sampul bukunya sendiri dengan tenang. "Kamu selalu aja ada di saat aku bikin malu ya? Kayak kamera CCTV berjalan deh kamu," kataku sambil tersenyum geli.

Orion hanya mengangkat bahu pelan. "Aku cuma kebetulan lewat. Lagian, lebih baik aku yang bantu daripada kamu makin bingung sendiri, kan?"

Tapi aku mulai curiga. Kalau cuma kebetulan, kenapa kebetulannya terlalu sering terjadi?

Siang itu saat pelajaran olahraga, aku kelelahan banget. Cuaca panas banget, dan aku lupa bawa botol minum. Aku duduk di bawah pohon sambil mengipasi diri pakai tangan, tenggorokan terasa kering banget. Aku berniat mau lari ke kantin, tapi saat aku berdiri, ada botol minum dingin yang muncul tepat di depan wajahku.

"Ini pakai dulu. Aku bawa dua botol tadi pagi," kata Orion lembut, tangannya terulur memberikan botol itu padaku.

Mataku terbelalak. "Serius? Kok kamu tahu aku lupa bawa minum? Aku aja baru sadar pas jam olahraga dimulai tadi!"

Orion tersenyum samar. "Kamu selalu lupa bawa minum kalau bangun pagi buru-buru. Aku… kebetulan ingat aja."

Rexy yang baru aja datang sambil menyeka keringat di dahi langsung menyenggol lenganku sambil berbisik pelan, "Orion itu bukan kebetulan, Lun. Dia itu perhatian banget sama kamu, cuma dia malu ngomongnya. Coba deh perhatiin matanya pas dia ngomong sama kamu."

Aku menatap Rexy, lalu menoleh ke arah Orion yang sudah duduk sambil membuka bukunya lagi seolah nggak terjadi apa-apa. Jantungku tiba-tiba berdetak agak cepat. Ada rasa hangat yang menjalar di dadaku, tapi juga ada kebingungan yang pelan-pelan muncul.

Sore harinya, saat semua siswa sudah pulang, aku kembali ke taman kecil tadi — tempat pertama aku lihat Orion pagi tadi. Aku sengaja kembali karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan langsung. Dan benar saja, dia masih ada di sana, duduk di bangku yang sama, seolah menunggu aku datang.

Aku duduk di sebelahnya, kali ini aku nggak bercanda. Suasana jadi hening sejenak, hanya terdengar suara angin yang berdesir di antara dedaunan.

"Orion…" panggilku pelan. "Jujur deh sama aku. Kamu itu sebenarnya… selalu memperhatikan aku kan? Bukan kebetulan, bukan kebiasaan. Tapi kamu memang sengaja?"

Orion menutup bukunya perlahan. Napasnya terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Dia menatap ke arah kolam ikan di depan kami, lalu perlahan menoleh menatap mataku. Tatapannya begitu dalam, seolah dia sedang membiarkan aku membaca segala hal yang tak bisa dia ucapkan dengan kata-kata.

"Aluna… kita sudah kenal sejak kita masih balita. Kita tumbuh bersama, tahu segala hal tentang satu sama lain. Kamu itu bagian dari hidupku, lebih dari siapa pun. Jadi wajar kan kalau aku memperhatikan hal-hal kecil tentang kamu? Seperti kamu lebih suka duduk di tempat yang teduh, kamu suka makanan yang agak manis tapi nggak terlalu manis, kamu akan memainkan ujung rambutmu kalau sedang gugup, dan kamu selalu berusaha terlihat kuat padahal kadang kamu juga butuh ditemani."

Dia berhenti sejenak, menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara yang jauh lebih lembut dan pelan, seolah takut didengar angin.

"Aku nggak berniat menyembunyikan apa pun dari kamu. Aku cuma… takut kalau aku terlalu banyak bicara, kamu akan merasa terganggu. Atau… kita akan jadi canggung. Aku lebih suka melihat kamu tertawa bebas daripada melihat kamu menahan senyum karena merasa terbebani olehku. Jadi aku memilih untuk diam saja. Menjadi orang yang selalu ada di dekat kamu, tanpa harus kamu minta."

Hatiku terasa berdesir hebat. Kata-katanya begitu tulus, begitu dalam, sampai aku kesulitan menemukan balasan yang tepat.

"Tapi Orion… rasanya seperti kamu menyimpan sebuah rahasia besar. Kadang aku merasa… ada sesuatu yang ingin kamu katakan, tapi kamu selalu menahannya. Apakah aku salah?" tanyaku pelan, menatap matanya lekat-lekat.

Orion terdiam lama sekali. Matanya berkedip pelan, dan untuk sesaat aku melihat ada kerindan yang sulit dijelaskan di sana. Dia tersenyum tipis — senyum yang terasa hangat namun juga sedikit menyedihkan.

"Mungkin semua orang punya rahasia kecilnya sendiri, Aluna. Rahasia yang terlalu berharga untuk diucapkan, karena takut kalau terucap, ia akan berubah bentuk dan hilang keindahannya. Yang perlu kamu tahu… apa pun rahasia yang aku simpan, itu nggak akan pernah mengubah cara aku memperlakukan kamu. Kamu tetaplah Aluna — gadis yang paling berharga di hidupku. Dan aku akan tetap ada di sini, di tempat yang sama, kapan pun kamu butuh."

Malam itu aku pulang dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, aku merasa begitu beruntung memiliki sahabat sebaik dan seperhatian Orion. Tapi di sisi lain, ada pertanyaan besar yang terus berputar di kepalaku — apa sebenarnya rahasia yang dia jaga begitu rapat? Dan kenapa rasanya rahasia itu berkaitan erat denganku?

Saat aku sedang merenung di teras rumah, ponselku bergetar. Satu pesan masuk dari nomor yang aku kenal — Rexy.

"Lun… aku tahu ini bukan urusanku, dan aku nggak mau ikut campur urusan kalian berdua. Tapi tolong… hati-hati ya. Perasaan itu kadang bisa menyakiti, bukan cuma kamu, tapi juga dia yang menyimpannya sendirian. Kalau kamu belum siap mendengar kebenarannya, jangan paksa dia untuk bicara. Karena kadang diam itu adalah cara dia menjaga hatinya supaya tetap utuh untukmu."

Aku menatap layar ponselku lama sekali. Angin malam berhembus pelan, membawa kerinduan yang tak kumengerti. Ternyata… Rexy juga tahu. Semua orang sepertinya tahu, kecuali aku yang masih berdiri di ambang pintu, ragu untuk melangkah masuk ke dalam kebenaran yang perlahan terungkap.

 

Pertanyaan buat kamu:

Beberapa hari kemudian, ada acara sekolah di mana semua siswa berkumpul di aula besar. Tiba-tiba lampu padam total, dan ruangan jadi gelap gulita. Di tengah kepanikan dan suara gaduh teman-teman yang mulai berdesakan, aku merasa ada tangan yang menggenggam tanganku erat — hangat dan familiar. Saat lampu akhirnya menyala beberapa detik kemudian, aku melihat Orion berdiri di sampingku, genggamannya belum terlepas, dan matanya menatapku dengan tatapan yang berbeda dari biasanya — tatapan yang penuh dengan perasaan yang selama ini dia sembunyikan.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Orion akhirnya akan memberanikan diri mengungkapkan apa yang selama ini dia simpan rapat-rapat? Atau dia akan menarik tangannya dengan canggung dan kembali bersembunyi di balik senyum tenangnya? Ceritakan kelanjutannya ya! 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!