NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Andre segera merogoh saku jasnya dan membuka galeri ponsel. Ia menyodorkan layar benda pipih itu ke hadapan Tristan. Di sana, terpampang sebuah foto yang sangat jernih, dimana Ananda dan seorang bocah laki-laki berwajah sangat tampan sedang tersenyum begitu bahagia di depan sebuah kue ulang tahun yang lilinnya baru saja ditiup.

Tristan dengan tangan yang bergetar hebat meraih ponselnya Andre. Matanya tidak berkedip menatap lekat-lekat guratan wajah bocah di foto itu. Garis rahangnya, bentuk hidungnya, bahkan binar matanya... semuanya adalah cetakan sempurna dari dirinya sendiri. Jemari kokoh Tristan bergerak lambat, mengusap lembut permukaan layar, menyentuh wajah putra kecilnya dan juga wajah Ananda bergantian.

"Maafkan Papah karena terlambat mengetahui keberadaan mu, Nak..." bisik Tristan, suaranya tercekat di tenggorokan. Air matanya runtuh begitu saja, menetes membasahi layar ponsel di genggamannya. "Papah berjanji... Papah akan memberikan pesta ulang tahun yang paling mewah untukmu nanti."

Seumur-umur, Andre dan Indra baru kali ini melihat Tristan Bratadikara, pria yang dijuluki monster berdarah dingin sejak zaman kuliah dulu, bisa menangis dan terlihat begitu rapuh. Rasa bersalah yang teramat besar kembali menghantam dada kedua pria itu. Secara bersamaan, Andre dan Indra bangkit dari duduknya, mendekat, lalu mengusap lembut punggung Tristan untuk menguatkannya.

"Sekali lagi tolong maafkan kami, Tristan..." ucap Andre dengan nada yang teramat tulus dan mata yang berkaca-kaca. "Gara-gara ulah bodoh kami enam tahun yang lalu, kau dan si itik harus menderita terpisah seperti ini. Kami benar-benar sangat menyesal. Tolong maafkan kami."

Indra ikut mengangguk dalam, menepuk bahu Tristan. "Kami siap menerima hukuman apa pun darimu, Tristan. Kami benar-benar minta maaf."

Tristan terdiam sejenak, menghapus air mata di pipinya lalu mengembalikan ponselnya Andre. Aura dinginnya telah sirna, berganti dengan sorot mata penuh tekad yang membara. "Sudahlah, tak usah dibahas lagi masalah masa lalu itu. Yang terpenting sekarang, aku harus bisa membuat si itik dan putraku kembali ke pelukanku dan menjadi keluarga kecil yang utuh."

Tristan menarik napas dalam-dalam, menegakkan tubuhnya. "Aku rela kehilangan seluruh harta dan kekuasaanku, terkecuali Nanda dan Elvano. Mereka berdua adalah hidupku sekarang."

Tanpa membuang waktu lagi, Tristan berpamitan dan langsung melangkah pergi meninggalkan restoran. Rencananya sudah bulat, besok pagi di kantor, ia akan membongkar semuanya di hadapan Ananda. Ia akan mengatakan bahwa ia sudah tahu identitas asli si itik, termasuk fakta bahwa Elvano adalah darah dagingnya sendiri. Tristan sengaja tidak mendatangi rumah kontrakan Ananda malam ini, karena ia tahu suasana hati wanita itu pasti sedang sangat buruk dan terguncang setelah insiden ciuman paksa di ruang pribadinya tadi siang.

Sementara itu, di sebuah rumah kontrakan sederhana, suasana sunyi dan penuh kecemasan begitu terasa. Ananda sejak pulang kantor terus saja mengurung diri di dalam kamarnya. Tubuhnya terasa sangat lemas dan tidak fit, efek dari syok berat, baju yang sempat basah kuyup, serta tekanan batin yang bertubi-tubi hari ini.

Bu Mila dan Elvano duduk di tepi ranjang, menatap Ananda dengan raut wajah yang sangat khawatir.

"Nduk, wajahmu pucat sekali. Sebaiknya kamu berobat ke klinik malam ini, mumpung kliniknya masih buka di depan gang," bujuk Bu Mila lembut sambil menyentuh kening putrinya yang terasa hangat.

Ananda memaksakan seulas senyum tipis, lalu menarik selimutnya lebih tinggi. "Nanda tidak apa-apa, Bu. Cuma meriang sedikit karena kecapekan kerja tadi. Minum parasetamol juga besok pagi sudah sembuh kok."

Bu Mila hanya bisa menghela napas panjang, tahu betul watak keras kepala putrinya yang tidak mau menyusahkan orang lain. Akhirnya, malam itu Bu Mila membiarkan Elvano tidur menemani ibunya di dalam kamar, karena bocah kecil itu terus-menerus menggelayuti lengan Ananda dengan wajah cemas.

Elvano merebahkan tubuh kecilnya di samping Ananda, lalu mendongak menatap wajah sang ibu. "Mah, besok kata Nenek aku sudah bisa mendaftarkan sekolah di TK Harapan yang dekat Taman Suropati itu, loh."

Ananda menoleh, mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang hingga rasa sesak di dadanya sedikit berkurang. "Iya, Sayang. Besok Mamah akan daftarkan kamu di sana, ya. Sekarang El bobo dulu, sudah malam."

Elvano mengerutkan keningnya bingung. "Loh, bukannya besok Mamah harus kerja?"

"Khusus besok, Mamah mau izin tidak masuk kerja dulu. Kan Mamah mau mengantar dan mendampingi El daftar sekolah," jawab Ananda lembut, sengaja ingin menghindari pertemuan dengan Tristan besok pagi.

Mendengar hal itu, Elvano mengangguk cepat dengan mata berbinar bahagia. Bocah itu langsung memeluk erat tubuh ibunya, mencari kehangatan hingga akhirnya tertidur lelap. Di dalam kegelapan kamar, Ananda menatap langit-langit dengan mata berkaca-kaca, sama sekali tidak menyadari bahwa besok, rencana izin tidak masuk kerjanya tidak akan berjalan semudah yang ia bayangkan.

*

*

Keesokan harinya, suasana di lantai sepuluh Bratadikara Group kembali tegang. Tristan baru saja melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan setelan jas yang rapi dan raut wajah penuh tekad. Namun, langkahnya terhenti saat Kevin masuk dengan wajah cemas dan membawa sebuah kabar buruk.

"Maaf, Tuan. Baru saja Nanda mengirim pesan bahwa hari ini dia izin tidak masuk kerja karena ada keperluan mendesak," lapor Kevin berhati-hati.

Seketika, rahang Tristan mengeras. Gurat kekhawatiran yang sangat besar langsung tercetak jelas di wajah tampannya. Rencananya yang sudah disusun rapi semalaman untuk membongkar kebenaran dan memeluk Elvano dan Ananda kini harus tertunda. Tanpa berpikir panjang, Tristan langsung menyambar kunci mobilnya di atas meja.

"Tuan, Anda mau ke mana? Hari ini ada rapat penting dengan dewan direksi satu jam lagi!" seru Kevin panik, mencoba menghadang langkah bosnya.

"Batalkan saja semuanya, Kevin! Urusanku ini jauh lebih penting dari rapat mana pun dan ini menyangkut masa depanku!" tegas Tristan mutlak, lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan ruang kerjanya.

Kevin hanya bisa mematung dan memijit pelipisnya yang mendadak pusing. Ia menganggap hari ini benar-benar kacau. Banyak pekerjaan tertunda akibat Ananda yang mendadak absen, ditambah lagi sang CEO yang seenaknya membatalkan rapat yang sangat penting.

"Aduh, bagaimana nanti aku menjelaskan masalah ini kepada Tuan Besar Bratadikara? Bisa kacau dan habis aku diamuk!" gumam Kevin pasrah sambil menatap pintu lift yang sudah tertutup.

Sementara itu, suasana di lingkungan Taman Suropati tampak begitu kontras. Elvano tersenyum sangat bahagia sambil menggandeng erat tangan ibunya. Proses administrasi pendaftaran sekolahnya baru saja selesai, dan dua minggu lagi bocah kecil itu akan resmi memulai hari pertamanya di TK Harapan.

Di rumah kontrakan tadi pagi, Bu Mila sebenarnya sempat terkejut saat tahu putrinya mendadak memutuskan tidak masuk bekerja hari ini. Namun, melihat wajah Ananda yang masih agak pucat, Bu Mila membiarkannya agar sang putri bisa menyegarkan pikirannya.

Kini, Ananda mengajak putranya berjalan-jalan santai di area taman yang asri sambil menikmati berbagai kuliner kaki lima di tempat tersebut. Elvano terlihat begitu girang. Baginya, bisa jalan-jalan bersama ibunya seperti ini adalah hal yang paling mewah, meskipun hanya di sebuah taman sederhana.

Di saat yang bersamaan, Bu Mila baru saja hendak mengunci pintu rumah kontrakan untuk pergi berbelanja ke warung sayur di ujung gang. Namun, gerakannya terhenti saat sebuah mobil mewah hitam mengkilap berhenti tepat di depan pagarnya. Detik berikutnya, ia dikejutkan dengan kemunculan seorang pria jangkung bertubuh atletis dan berwajah tampan yang keluar dari mobil tersebut.

"Bu, Nandanya ada?" tanya Tristan langsung tanpa basa-basi, berusaha bersikap sesopan mungkin di hadapan ibu dari wanita yang dicintainya.

"Ya ampun, kirain ibu siapa. Anda... atasannya Nanda di kantor, ya?" tanya Bu Mila menjulurkan leher, sedikit pangling namun ingat sekilas dari cerita putrinya.

"Iya, Bu. Saya atasannya Nanda. Apakah Nanda ada di dalam?"

"Aduh, maaf sekali, Tuan. Nanda sedang pergi keluar bersama El. Tadi pamitnya mau mendaftarkan El sekolah di TK dekat Taman Suropati. Gak jauh kok dari sini, jalan kaki tiga ratus meter juga sudah sampai," jelas Bu Mila ramah.

Tristan mengulas senyum lega. "Baik, Bu. Terima kasih banyak informasinya. Saya permisi dulu." Pria itu langsung berbalik dan bergegas melajukan mobilnya menuju lokasi yang disebutkan.

Setibanya di Taman Suropati, Tristan segera memarkirkan mobilnya asal dan melangkah lebar memasuki area taman. Netranya bergerak lincah mencari keberadaan Ananda dan sang putra. Suasana taman di jam pagi menjelang siang ini sudah tidak begitu ramai, hanya menyisakan beberapa pengunjung dan pedagang kaki lima yang mangkal di sudut-sudut jalan.

Tristan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Hingga akhirnya, pandangannya terkunci pada area bermain anak. Di atas sebuah ayunan besi, ia melihat Ananda dan Elvano sedang duduk bersama, tertawa begitu lepas dan bahagia sambil menyantap sepotong roti bakar cokelat.

Melihat pemandangan indah itu, dada Tristan berdesir hebat. Kerinduannya tumpah ruah. Tidak mau membuang waktu lebih lama lagi, Tristan langsung melangkah cepat menghampiri mereka.

"Akhirnya aku menemukanmu, Itik... kau si itik buruk rupa ku!" ucap Tristan dengan suaranya yang berat, bergetar oleh emosi yang membuncah.

Deg!

Tawa Ananda seketika terhenti. Tubuhnya mematung di atas ayunan. Ia hafal betul, teramat hafal dengan suara berwibawa yang selama ini selalu menghantui mimpi buruk maupun mimpi indahnya. Dengan gerakan lambat, Ananda menoleh dan sepasang matanya membelalak tak percaya mendapati Tristan kini sudah berdiri tepat di dekatnya.

"T... Tristan... Kau...!"

Belum sempat Ananda menyelesaikan kalimatnya atau beranjak dari ayunan, Tristan sudah lebih dulu maju selangkah. Dengan gerakan cepat namun lembut, ia meraih pergelangan tangan Ananda, menarik tubuh wanita itu hingga bangkit dan langsung mendekapnya masuk ke dalam pelukan hangat dada bidangnya. Tristan memeluknya dengan teramat erat, seolah takut jika ia melonggarkan pelukan itu sedikit saja, wanita di dekapannya akan kembali lenyap.

"Itik... jangan pernah pergi lagi. Aku sangat merindukanmu!" bisik Tristan tepat di samping telinga Ananda, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu.

Ananda benar-benar terpaku dalam pelukan itu. Otaknya mendadak buntu dan seluruh tubuhnya kaku. Ia sama sekali tidak menyangka jika Tristan ternyata sudah mengetahui identitas aslinya yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

Sementara itu, Elvano yang memegang sisa roti bakarnya langsung turun dari ayunan. Bocah kecil itu menatap tak percaya pada pemandangan di depannya. Matanya yang bulat mengerjap bingung melihat sang ibu tiba-tiba didekap erat oleh pria asing yang pernah ia temui sekali di rumah kontrakan.

"Om Tampan, kenapa peluk-peluk Mamah?" tanya Elvano polos dengan nada suara yang kebingungan, menengadah menatap Tristan dan Ananda bergantian.

Bersambung...

1
Nar Sih
pasti sdh gk sbr ingin ketemu terus dgn putra mu juga pujaan hti mu ya tristan☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak🤭
total 1 replies
Nar Sih
kini satu maaf sdh kau dpt tristan dri ibu mila tinggal langkah selanjut nya💪
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
nyonya Mutia dengarin tuh kata tuan Surya, nyari pasangan tuh yang tulus jangan dilihat dari hartanya tuh kaya Bela walaupun kaya tapi hatinya jahat dan busuk,ayo Tristan selidiki lebih lanjut Bela dan hasilnya kasih tahu nyonya Mutia biar tahu betapa jahatnya Bella
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 👍🏼😉
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya kmu tau kan tristan saat nya kmu lebih berusaha agar nanda memaaf kan mu
Nar Sih
ayoo dree sgra kaaih tau kebnran nya pada tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!