Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Ibu panti menatap sekeliling dengan cemas sebelum akhirnya kembali berbisik.
"Mereka dari Perusahaan Properti Perkasa, Mas. Pemiliknya adalah Tuan Baskoro. Beliau terkenal lihai dan punya banyak pengawal tangguh. Kemarin anak buahnya datang mengancam akan meratakan panti ini jika minggu depan saya tidak menandatangani surat pelepasan hak tanah," bisik buk panti hati-hati.
"Baskoro ya? Minggu depan dia akan datang?" tanya Mahardika sambil memegang dagunya sambil berpikir.
Nama Baskoro sama sekali tidak asing di telinganya.
Rupanya konglomerat jahat itu tidak ragu menggunakan cara haram dan mengorbankan nyawa anak-anak tak berdosa hanya demi memperluas kekuasaannya.
"Ibu tidak perlu takut lagi. Mulai hari ini, tidak ada satu pun orang dari Perusahaan Perkasa yang bisa menyentuh panti ini. Biar saya yang membereskan mereka," kata Mahardika sungguh-sungguh.
"Tapi buk panti, Saya akan membawa Amel pulang kembali ke rumah kami yang lama, Bu. Terima kasih banyak karena sudah menjaga Amel selama ini. Saya benar-benar berhutang budi kepada Anda," kata Mahardika penuh rasa haru.
Tangannya mengusap lembut kepala Amel dengan lembut.
Ibu panti mengusap air mata bahagia, lalu mengangguk pelan. "Tidak apa-apa, Mas. Ini sudah menjadi tugas kami di sini untuk merawat dan melindungi anak-anak. Melihat Mas Mahardika dan Amel bisa berkumpul kembali... rasa lelah kami semua seketika tergantikan dengan kebahagiaan."
Ia melangkah mendekat, mengelus pipi mungil Amel yang imut.
"Dan untuk Amel... selamat ya, Sayang. Kamu akhirnya kembali dengan orang tuamu. Mulai sekarang, Amel harus bahagia dan penurut sama Papa, ya," bisik ibu panti lembut, meski suaranya sedikit bergetar menahan sedih karena harus berpisah.
"Dan jangan pernah lupakan teman-temanmu di sini, ya. Pintu panti ini akan selalu terbuka lebar dan selalu menerima kedatangan Amel kapan saja," kata Buk panti mengusap air matanya kembali.
Mahardika tersenyum tulus. "Uang seratus juta dari Dokter Ferdi tadi sudah sepenuhnya milik panti. Gunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhan anak-anak. Jika Perusahaan Properti Perkasa atau anak buah Tuan Baskoro kembali datang mengganggu, Ibu segera hubungi saya."
"Tapi Mas... Tuan Baskoro itu bukan orang sembarangan. Dialah penguasa bisnis di wilayah ini. Saya khawatir kalau Mas membahayakan diri sendiri dan Amel," ujar ibu panti dengan raut wajah cemas.
"Ibu tidak perlu cemas. Saya tidak akan membiarkan siapa pun menganggu ketenangan anak-anak ini lagi. Orang seperti Baskoro harus diberi pelajaran bahwa uang dan kekuasaan tidak bisa membeli segalanya, terutama nyawa manusia," jawab Mahardika menenangkan.
Seorang relawan panti mendekat sambil membawa sebuah tas kain kecil yang kumal milik Amel.
"Pak Mahardika, ini barang-barang peninggalan Amel selama di sini. Tidak banyak, hanya beberapa baju dan mainan kayu kesukaannya," kata relawan panti menyerahkan tas kain itu kepada Mahardika.
Mahardika menerima tas itu dengan kedua tangannya. "Terima kasih banyak, Mbak."
Ia kemudian memandang sekeliling halaman panti asuhan memastikan tidak ada lagi racun yang tertinggal.
"Kami pamit dulu, Bu. Jaga diri Ibu dan anak-anak baik-baik," pamit Mahardika.
"Baik hati-hati di jalan Mas," kata Buk panti lagi.
Mahardika mengangguk seraya berbalik melangkah mantap keluar dari gerbang panti asuhan, menggendong harta terbesarnya menuju masa depan yang baru.
Rumah lamanya mungkin sudah berdebu dan sepi selama bertahun-tahun, tetapi mulai hari ini, kehidupan barunya bersama Amel akan dimulai kembali.