Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.
Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.
Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.
Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Bentuk Permintaan Maaf
Laura menelan ludah. “Lalu bagaimana dengan ibumu?”
“Biarkan saja dia sibuk menghadapi Raina.”
“Dan Sion?”
“Biar aku yang mengurusnya.”
Arlan mengambil ponselnya. Sebuah nomor yang selama ini tidak pernah ia hubungi tersimpan di sana. Nomor milik seseorang dari Klan Dark Red, Simon Lutolf… orang kepercayaan ketua klan tersebut.
Ia menatapnya beberapa saat. Kemudian ibu jarinya bergerak dan tak lama kemudian satu pesan terkirim. Aku ingin bertemu. Aku membawa tawaran yang mungkin akan membuat kalian tertarik.
Arlan memasukkan kembali ponselnya ke saku. Ia tidak tahu bahwa pada saat itu, ketika ia memutuskan untuk mengulurkan tangannya kepada musuh terbesar Sion, ia telah melewati batas yang tidak mungkin lagi dikembalikan.
Permainan keluarga Maximillian telah berubah. Bukan lagi sekadar perebutan cinta. Bukan lagi sekadar dendam masa lalu. Kini, dua kekuatan besar mulai bergerak menuju satu tujuan yaitu memperebutkan wilayah kekuasaan. Dan di tengah semuanya, Sion sama sekali belum mengetahui bahwa adik tirinya sendiri telah memutuskan untuk menjadi musuhnya.
...****************...
Beralih pada mobil yang kini sudah melaju meninggalkan mansion dengan kecepatan sedang. Di kursi belakang, Sean dan Shia duduk berdampingan. Keduanya sibuk membicarakan sekolah baru yang sebentar lagi akan mereka datangi.
"Shia, menurutmu nanti kita satu kelas?" tanya Sean.
"Mungkin."
"Kalau tidak?"
"Aku akan minta Papah bicara sama Guru supaya kita bisa satu kelas."
Raina yang duduk di samping Sion tersenyum kecil. "Kalian belum tentu bisa memilih sendiri."
Shia mengembungkan pipinya. "Tapi aku mau tetap bersama-sama terus dengan Sean."
"Kenapa?"
"Karena Sean takut kalau sendirian, dia ‘kan sangat lemah."
Sean langsung memprotes. "Aku tidak lemah ‘yah!"
Kakek Edwin yang duduk di kursi disamping keduanya hanya bisa tertawa kecil. Sementara Sion hanya tersenyum sambil tetap fokus mengemudi. Suasana di dalam mobil terasa jauh lebih santai dibandingkan pagi tadi.
Sampai tiba-tiba Kakek Edwin membuka sebuah kotak kecil yang sejak tadi berada di sampingnya. "Raina."
Raina menoleh. "Ya, Kek?"
Kakek Edwin mengulurkan sesuatu kepadanya. Sebuah kartu berwarna hitam. Tidak ada logo mencolok, tidak ada keterangan panjang. Namun siapa pun yang mengenal dunia finansial pasti tahu benda itu bukan kartu biasa.
Raina menatapnya beberapa detik. "Ini..."
"Ambil."
Raina mengerutkan kening. "Untuk apa?"
"Untukmu."
Raina tidak langsung menerimanya. Kakek Edwin justru memasukkan kartu itu ke telapak tangannya. "Anggap saja sebagai permintaan maaf."
Raina terdiam membuat Kakek Edwin menghela napas. "Selama pernikahanmu dengan Sion, aku seharusnya aku bisa melindungimu. Dan delapan tahun lalu, saat kau tengah mengandung Sean dan Shia seharusnya kau menjadi wanita yang paling beruntung karena tengah mengandung pewaris keluarga Maximillian. Akan tetapi, kau malah harus berjuang sendiri menghadapi kehamilan yang jelas itu sulit. Sendirian mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkan mereka dan setelahnya bersusah payah merawat dan membesarkan keduanya sekaligus."
Tatapannya mengarah keluar jendela. "Tapi saat itu kesehatanku memburuk. Aku terlalu sering berada di rumah sakit dan tidak tahu apa yang terjadi di mansion. Tidak ada yang beritahu aku, bahkan Sion sekalipun."
Raina menggenggam kartu tersebut. "Aku tidak menyalahkan Kakek."
"Aku tahu."
Kakek Edwin tersenyum pahit. "Tapi aku tetap menyalahkan diriku sendiri."
Raina terdiam, ia tidak menyangka orang tua yang seharusnya tidak pernah melakukan kesalahan satupun padanya malah menjadi orang pertama yang meminta maaf kepadanya. Padahal jujur saja, Raina tidak menyalahkannya sama sekali. Ia malah merasa bersyukur kali ini Kakek Edwin ada untuk melindunginya dan juga kedua anaknya. Dan yang terpenting mana mungkin Raina akan menolak uang tanpa batas itu. Hanya orang bodoh yang menolak durian runtuh seperti itu.
"Aku adalah kepala keluarga," lanjutnya.
"Seharusnya aku memastikan semua orang di rumah ini memperlakukanmu dengan layak."
Ia menatap Raina. "Sayangnya, aku gagal."
Raina memandang kartu di tangannya sekali lagi. Lalu tanpa basa-basi, ia memasukkannya ke dalam tas. "Terima kasih, Kek. Aku akan menggunakan kartu ini dengan sebaik mungkin."
Sion yang mendengar percakapan itu melirik melalui kaca spion. Ia tidak menyangka Raina akan menerimanya begitu saja. Namun sebenarnya... ia memahami alasannya. Raina bukan menerima kartu itu karena serakah. Ia menerimanya karena untuk pertama kalinya seseorang mengakui bahwa dirinya memang pantas mendapatkan sesuatu setelah bertahun-tahun diperlakukan seolah tidak berharga.
Kakek Edwin tampak sedikit lega. Namun dari sampingnya terdengar suara kecil. "Mamah dapat kartu dari Kakek Buyut?" Rupanya, suara itu berasal dari Sean yang kini mencondongkan tubuh ke depan.
Raina mengangguk. "Iya."
"Black card?" Shia ikut mendekat. "Yang mahal dan berisi banyak uang itu?"
Raina tertawa kecil. "Ya, sepertinya begitu."
Sean dan Shia saling pandang. Kemudian keduanya serempak menatap Kakek Edwin seolah tatapan itu mengatakan bahwa mereka juga menginginkannya. Namun, Kakek Edwin malah memberi isyarat agar keduanya meminta saja pada Papah mereka. Sontak, tatapan Sean dan Shia langsung beralih pada Sion yang masih fokus menyetir.
"Papah."
Sion langsung curiga. "Apa?"
"Sean juga mau."
"Shia juga!"
Sion mengangkat alis. "Black card?" Keduanya mengangguk bersamaan.
"Kalian masih tujuh tahun."
"Tapi Mamah punya."
"Dan Kakek kasih. Jangan bilang kalau Papah tidak punya ‘yah? Papah benar-benar miskin kalau begitu."
Sion terdiam, karena lagi-lagi anaknya menganggapnya sebagai orang miskin. Sementara itu, Kakek Edwin dan Raina berusaha keras menahan tawa mereka. Drama ayah dan kedua anak kembarnya ini memang selalu saja bisa mengocok perut mereka.
Sion menghela napas. "Jadi sekarang kalian iri?"
Sean mengangguk tanpa malu, Shia bahkan lebih terang-terangan. "Aku mau yang sama seperti Mamah."
Sion terkekeh. "Kalian bahkan belum punya kebutuhan untuk memakai kartu seperti itu."
Sean berpikir sebentar. "Lalu kenapa Mamah punya?"
Pertanyaan polos itu membuat Sion terdiam membuat Kakek Edwin tak kuasa lagi untuk tidak tertawa. "Benar juga, Sion! Mamahnya punya Black card kenapa anaknya tidak?"
Sion melirik kakeknya. "Kakek jangan ikut-ikutan."
Namun Sean belum menyerah. "Papah miskin karena pelit."
Sion menatap putranya melalui kaca spion. “Papah pelit?"
Sean mengangguk mantap. "Kalau Kakek Buyut bisa kasih Mamah, Papah yang hebat juga harusnya bisa."
Shia ikut mengangguk. "Harus adil."
Raina menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Kakek Edwin justru semakin geli. Baik Raina maupun Kakek Edwin tengah menunggu bagaimana Sion kali ini menghadapi kedua anaknya itu.
Sion menggeleng pasrah. "Baiklah, Papah juga akan memberikannya untuk kalian.”
Tangannya tetap memegang kemudi. Ia merogoh saku jasnya dengan satu tangan ketika mobil berhenti di lampu merah. Kemudian, ia mengeluarkan dua kartu hitam dari dalam dompetnya.
Sion mengangkat keduanya ke belakang. "Ini."
Sean dan Shia langsung berseru. "Yeeey! Papah memang yang paling hebat di dunia."
Raina membelalakkan mata. "Sion!"
"Apa?"
"Kau benar-benar memberi mereka black card?"
Bersambung….