NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

POV: Amelia

Vila Kenjeran adalah rumah terindah yang pernah kutinggali, padahal aku pernah tinggal di rumah besar di Pondok Indah. Bedanya, di sini aku punya sayap sendiri, pintu yang bisa kukunci dari dalam, dan tak seorang pun mengawasiku lewat kamera. Di rumah, kuncinya milikmu. Di sangkar, kuncinya milik orang lain.

Menyesuaikan diri dengan kalangan atas Surabaya adalah pelajaran tersendiri, dunia dengan aturan yang tak ditulis siapa pun tapi dikenal semua orang. Busana yang tepat untuk tiap acara, makan malam dengan peralatan makan yang harus kupakai tanpa terlihat sedang belajar, beban sebuah nama keluarga yang membuka dan menutup pintu sebelum kita sempat bicara. Bibi jadi guru privat bagiku soal kode-kode itu, sekaligus sahabat sejati, saudari yang tak pernah kupunya.

"Di makan malam nanti, jangan bahas politik dengan Eyang Hardjono," dia menginstruksiku, tengkurap di ranjangku selagi aku berdandan, kakinya mengayun ke atas. "Puji sajiannya, meski menurut Kakak rasanya biasa saja. Dan kalau Tante Anu tanya berapa harga tas Kakak, bilang 'hadiah' dan senyum. Jangan pernah sebut harga. Harga itu urusan orang kaya baru, dan di sini kita pura-pura sudah kaya dari dulu."

"Bi, ini melelahkan. Lebih susah dari menghafal naskah sinetron."

"Namanya juga kalangan atas, Kak. Semuanya sandiwara, terus-menerus, tanpa jeda. Kakak aktris, Kakak lebih jago dari siapa pun." Dia tertawa, lalu mendadak serius dengan cara yang bukan dirinya, tawanya padam. "Eh, satu hal. Ada topik yang di rumah ini tidak diucapkan keras-keras. Kalau Kakak dengar nama Wiguna, ganti topik. Pura-pura nggak dengar."

"Wiguna?"

"Sebuah keluarga. Dari Surabaya juga." Dia menurunkan suara, padahal kami hanya berdua. "Anggap saja kami dan mereka tidak akur. Urusan lama, urusan jelek, urusan darah. Eyang bahkan tidak mengizinkan nama itu disebut di meja makan siang. Jangan bahas itu, ya? Sama Mas Fariz juga. Terutama sama Mas Fariz."

Kusimpan itu. Keluarga baruku, mulai kupahami, punya lantai atas yang penuh cahaya, pesta, dan lantai VIP, serta ruang bawah tanah yang tak dibuka di depan tamu, ruang bawah tanah yang isinya hanya sepotong-sepotong dibocorkan Bibi.

Ivan misteri lain. Beberapa kali dia mencariku, selalu ramah, selalu di kursi roda, selalu terlalu perhatian, mempelajari tiap gerakku. Ada sesuatu pada dirinya yang tak bisa kudefinisikan, tatapan yang menakar sampai ke dalam, atau seolah dia menyimpan sesuatu tentangku yang tak kuketahui dan tak boleh dia katakan.

"Ibu cepat menyesuaikan diri," katanya sekali, di taman, memutar kursinya pelan. "Berat bagi yang datang dari luar. Saya tahu betul rasanya jadi orang luar dalam keluarga seperti ini. Kita tidak pernah benar-benar bagian dari darahnya, selalu yang dibawa masuk, yang diadopsi, yang dipasangkan."

"Kamu bukan saudara Fariz?"

"Angkat." Dia tersenyum, dan senyum itu tak sampai ke mata, tertahan di mulut. "Darah dan nama tidak selalu berjalan bersama, Bu Amelia. Ibu akan belajar itu di sini, cepat atau lambat. Di keluarga ini, hampir tak ada yang seperti kelihatannya. Saya juga. Mungkin Ibu juga."

Kalimat itu bertahan di kepalaku berhari-hari. "Mungkin Ibu juga." Apa yang dia maksud?

Yang tersulit adalah mengatur kerahasiaan kehamilan itu di tengah rumah penuh orang pengamat. Aku mencari dokter kandungan terpercaya di Surabaya, rekan dr. Bella, yang melayani di jam sepi dan tak bertanya. Kujadwalkan kontrol dini hari, masuk lewat pintu servis. Hasil pemeriksaan dan USG keluar dalam amplop tanpa nama, disimpan di laci yang hanya kubuka sendiri.

Aku memakai pakaian longgar, berlapis-lapis, selendang. Makan di kamar saat lelah menekan. Ikan Kecil tumbuh, dan menyembunyikan bayi yang membesar di rumah orang-orang yang jeli adalah pekerjaan setiap hari, setiap jam, dan aku, yang pernah jadi aktris, memainkan peran seumur hidupku tanpa penonton yang bertepuk tangan.

Dan itu sakit. Sakit menyembunyikan justru ketika aku mulai percaya pada Fariz, pada Bibi, pada Bu Laksmi. Aku, yang bersumpah tak akan lagi hidup bersama rahasia, tinggal di dalam satu, dan beratnya bertambah tiap hari, tiap ons Ikan Kecil.

Suatu malam, aku di jendela kamar, memandang Jalan Kenjeran di bawah, ombak menghantam di seberang jalan, ketika aku menyadari sesuatu.

Sebuah mobil terparkir di seberang jalan. Gelap. Berhenti terlalu lama untuk wajar. Di dalamnya seorang pria, menengadah, ke jendelaku. Dia menatapku. Bukan khayalan, bukan paranoia perempuan hamil. Dia menatapku lurus, dan tidak memalingkan muka ketika sadar aku melihatnya. Dia tetap di sana, menatapku, tanpa terburu-buru menyembunyikan bahwa dia ada di sana untukku.

Darahku membeku. Arga? Media? Atau Wiguna yang disuruh Bibi tak kusebut, ruang bawah tanah keluarga itu terbuka?

"Fariz," panggilku, ketika dia masuk kamar untuk mengucapkan selamat malam. "Ada mobil di bawah, seorang pria menatapku, cepat lihat."

Dia langsung ke jendela, tangannya sudah menuju saku tempat kutahu dia menyimpan lebih dari sekadar tasbih.

Tapi jalan itu kosong. Mobilnya sudah lenyap. Hanya lampu jalan dan ombak jauh di sana, seakan tak terjadi apa-apa.

"Tidak ada apa-apa, Lia," katanya, tapi kulihat dia menganggapnya serius, mencatatnya di suatu tempat di kepalanya, tidak mengira itu khayalanku. "Tapi aku akan tambah satu orang di depan. Sekadar berjaga. Tidurlah dengan tenang."

Kutatap jalan kosong itu setelah dia keluar, tangan di perut yang tersembunyi.

Vila itu tak lagi sekadar tempat berlindung. Aku sudah memasuki dunia dengan wilayah, gencatan, nama-nama yang tak diucapkan keras, mobil gelap yang berhenti di jalan tengah malam. Dan seseorang, dari suatu tempat, mulai mengawasiku lagi. Tapi kali ini, kurasa, bukan untuk mengurungku. Sesuatu yang lain, yang belum bisa kunamai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!