• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Bayang-Bayang Penghianatan.
Eca menahan napasnya rapat-rapat, membiarkan punggungnya tenggelam ke dalam sandaran kursi kulit yang dingin. Tatapan mata elang Angkasa yang mengunci manik matanya dari jarak tiga sentimeter benar-benar melumpuhkan seluruh fungsi otaknya. Suara rendah nan serak cowok itu masih terngiang, menyisakan getaran aneh yang menjalar dari telinga hingga ke ujung jari kaki Eca. Sialan, kenapa dia harus salting brutal lagi di depan cowok iblis ini? "L-lepasin, Angkasa. Rapatnya udah bubar, tugas gue sebagai sekretaris dadakan juga udah selesai," cicit Eca, berusaha membuang suara manja yang tanpa sengaja sempat keluar dari bibirnya tadi. Dia menolak terlihat lemah, meskipun kedua tangannya yang mendekap laptop di depan dada sudah gemetaran parah. Angkasa tidak langsung menjauh. Sudut bibir tipisnya terangkat, membentuk seringai menawan yang sanggup membuat barisan cewek populer di SMA Taruna Bangsa pingsan berjamaah. Dia mengamati rona merah padam yang menjalar di pipi Eca dengan tatapan puas penuh kemenangan. Bersenang-senang mengintimidasi asisten pribadinya ini ternyata jauh lebih menarik daripada memenangkan tender anggaran yayasan. "Gue suka kinerja lo hari ini, Alesya. Otak encer lo itu... ternyata berguna juga," bisik Angkasa sekali lagi, hembusan napas hangatnya menyapu permukaan kulit leher Eca yang sensitif, membuat bulu kuduk cewek itu merinding disko. Secara perlahan dan sengaja lambat, Angkasa menegakkan kembali tubuh jangkungnya. Dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana abu-abunya, berjalan santai menuju meja rapat untuk menyambar ponselnya yang tergeletak di sana. "Lo boleh balik ke kelas. Tapi inget, kacamata bodoh itu wajib langsung lo pasang sebelum melangkah keluar dari pintu ini." Tanpa menjawab sepatah kata pun, Eca buru-buru membetulkan letak kacamata bulat tebalnya, menyampirkan tas ransel di bahu, dan melesat keluar dari ruang rapat besar bagai dikejar setan. Begitu pintu kayu mahoni itu tertutup rapat di belakangnya, Eca menyandarkan punggungnya ke dinding koridor yang sepi. Dia meraup udara sebanyak-banyaknya, mencoba mendinginkan wajahnya yang terasa panas membara seperti tomat matang. "Sialan, sialan, sialan! Angkasa bener-bener racun buat kesehatan jantung gue!" umpat Eca dalam hati penuh frustrasi. Dia memukul kepalanya pelan, merutuki dirinya sendiri karena begitu mudah terbuai oleh pesona cowok manipulatif itu. Tujuan utamanya di sekolah ini adalah bersembunyi dari masa lalu dan bertahan hidup dengan tenang demi beasiswa, bukan malah terlibat skandal romansa gila dengan penguasa sekolah. Eca mulai melangkah tergesa-gesa menyusuri koridor lantai satu yang sunyi karena jam pelajaran setelah istirahat kedua sudah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu. Dia harus segera kembali ke kelas XI MIPA 3 sebelum guru mata pelajaran berikutnya mengabsen dirinya sebagai murid yang membolos. Namun, baru saja Eca berbelok di koridor sepi dekat laboratorium fisika, sebuah cekalan kuat namun tidak menyakitkan mendadak mendarat di pergelangan tangan kanannya. Tubuh Eca ditarik masuk ke dalam celah sempit di antara dua pilar beton besar yang tertutup bayangan pohon palem dari taman dalam sekolah. Eca tersentak kaget, hampir saja memekik keras jika sebuah telapak tangan hangat tidak segera membekap mulutnya dengan lembut. "Sstt... Ini gue, Sa. Jangan teriak," bisik sebuah suara bariton yang sangat familiar di telinganya. Eca mengerjalkan matanya yang melebar di balik lensa kacamata tebal. Begitu bekapan tangan itu terlepas, dia mendongak dan mendapati Reno Aliansyah sedang berdiri di depannya dengan ekspresi wajah yang sangat sulit diartikan. Tidak ada lagi senyuman ramah atau pembawaan santai yang biasa dipamerkan sang Wakil Ketua OSIS. Sepasang mata cerdas milik Reno kini menatap Eca dengan kilatan kecewa, terluka, sekaligus kemarahan dingin yang tertahan. "Kak Reno..." cicit Eca gugup. Jantungnya kembali berdegup brutal, namun kali ini karena rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya. Reno memundurkan langkahnya satu tapak, menyadarkan punggungnya pada pilar beton sambil melipat kedua tangan di depan dada. Dia menatap Eca lekat-lekat, membuat Eca merasa seperti seorang terdakwa yang sedang disidang. "Gue nggak nyangka, Alesya," ucap Reno dengan kekehan hambar yang terdengar sangat menyakitkan. "Gue pikir lo butuh bantuan gue buat lepas dari cengkeraman Angkasa. Gue pikir tawaran kerja sama gue di koridor tadi siang bisa menyelamatkan lo dari ancaman kartu pelajar itu. Tapi ternyata... lo malah milih buat jadi tameng setianya Angkasa di depan para donatur." "Kak, bukan gitu maksud gue—" "Terus apa?!" potong Reno cepat dengan volume suara yang meninggi namun tetap tertahan. Dia melangkah maju, mengikis jarak hingga Eca kembali terdesak. "Penjelasan lo di ruang rapat tadi bener-bener cerdas, Sa. Saking cerdasnya, lo berhasil mematahkan argumen gue secara telak dan bikin draf anggaran Angkasa disahkan tanpa potongan sepeser pun. Lo tahu nggak? Lo baru aja ngebocorin kelemahan vendor fraksi gue dan berpihak sama cowok yang udah meras lo!" Eca menggigit bibir bawahnya erat-erat sampai terasa perih. Dia merasa sangat bersalah pada Reno. Cowok di depannya ini berniat baik ingin membantunya secara tulus, sementara dia terpaksa menusuk Reno dari belakang demi menyelamatkan dirinya sendiri. "Gue terpaksa, Kak Reno," bisik Eca lirih, matanya mulai berkaca-kaca karena tertekan di antara dua kubu penguasa. "Angkasa tahu soal beasiswa gue. Sebelum rapat dimulai, dia mengancam bakal mencabut beasiswa gue besok pagi kalau gue sampai gagal atau ngebocorin strateginya ke Kakak. Gue nggak punya pilihan lain! Beasiswa itu satu-satunya tiket gue buat bisa sekolah di sini dengan tenang!" Mendengar pengakuan jujur yang keluar dari mulut Eca bersamaan dengan tubuh cewek itu yang gemetaran, kilatan amarah di mata Reno mendadak surut perlahan. Dia tertegun sejenak, menatap lekat-lekat pada raut ketakutan yang terpancar nyata dari wajah asisten pribadi rivalnya tersebut. Reno menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar penuh frustrasi. "Bajingan licik," desis Reno, mengumpat taktik kotor Angkasa yang selalu seratus langkah lebih maju dalam memanfaatkan kelemahan orang lain. Reno menatap Eca kembali, kali ini dengan pandangan yang melembut dan dipenuhi rasa simpati yang mendalam. Dia mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menepuk pelan bahu kecil Eca. "Maaf, Sa. Gue nggak tahu kalau si brengsek itu sampai bawa-bawa masalah beasiswa lo." Eca mendongak, menghapus setitik air mata yang hampir jatuh di sudut matanya, lalu tersenyum kecut. "Gue yang harusnya minta maaf, Kak. Gue udah ngerusak rencana Kakak." Reno menggeleng pelan, sebuah seringai tipis yang sarat akan teka-teki baru terukir di wajah tampannya. "Nggak apa-apa. Anggaran mungkin boleh lolos hari ini. Tapi permainan belum selesai, Sa. Angkasa pikir dia udah menang mutlak, padahal dia baru aja ngebuka celah terbesar dalam hidupnya." "Maksud Kak Reno?" tanya Eca bingung, tidak mengerti arah pembicaraan Reno. Reno menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke telinga Eca hingga cewek itu bisa mendengar bisikan detak jantung Reno yang konstan. "Celah terbesarnya adalah lo, Alesya. Angkasa terlalu fokus mengikat lo sebagai asisten pribadinya tanpa sadar kalau dia udah narik orang luar buat masuk terlalu dalam ke kehidupannya. Dan gue... nggak akan melepaskan kesempatan itu." Sebelum Eca sempat mencerna kalimat penuh teka-teki tersebut, Reno sudah menegakkan tubuhnya kembali, memberikan kedipan mata yang misterius, lalu melangkah pergi meninggalkan Eca yang membeku sendirian di antara bayang-bayang pilar beton.