NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:156k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Misi Mengubah Takdir

"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Bram cemas.

Dokter tersenyum tipis. "Secara fisik, tidak ada masalah yang serius. Kondisinya stabil. Hanya sedikit kelelahan karena hampir tenggelam. Saya telah memberikan beberapa obat dan menyarankan Nona banyak beristirahat."

Bram mengembuskan napas lega. "Syukurlah."

"Tapi..." Raut wajah dokter berubah sedikit serius.

Bram yang baru saja lega kembali menegang. "Kenapa, Dok?"

"Justru ada hal lain yang membuat saya heran," lanjut dokter.

Bram dan Herman saling berpandangan.

"Seumur saya menjadi dokter keluarga Bapak, baru kali ini Nona Levia mau diperiksa tanpa mengeluh."

"Hah?" Bram melongo.

"Biasanya baru melihat tas dokter saja beliau sudah cemberut."

Herman spontan mengangguk. "Itu memang benar, Dok."

Dokter tersenyum kecil. "Tadi Nona bahkan bertanya apakah dirinya mengidap penyakit akibat obesitas."

Bram tampak terkejut. "Via bertanya begitu?"

"Iya. Nona juga meminta saya menjelaskan pola makan yang sehat dan cara menurunkan berat badan."

Bram sampai mengerjapkan mata beberapa kali. "Itu... benar anak saya?"

"Belum selesai." Dokter terkekeh pelan. "Yang paling membuat saya terkejut, Nona juga bertanya tentang kesehatan Bapak."

Bram membeku. "Saya?"

"Iya. Nona bilang tidak ingin Bapak sakit dan ingin membantu menjaga kesehatan Bapak."

Bram tidak langsung menjawab. Dadanya mendadak terasa sesak. Bukan karena sakit. Melainkan karena haru. Sudah bertahun-tahun ia menunggu putrinya memerhatikan dirinya, bukan hanya Vandra.

Ia menoleh pada Herman dengan mata berkaca-kaca. "Her, akhirnya putriku peduli padaku."

Herman mengangguk dengan seutas senyuman. "Selamat, Pak."

Dokter menepuk pelan bahu Bram. "Pak Gultom. Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah kejadian di sungai tadi. Tapi kalau memang pengalaman itu membuat Nona Levia berubah menjadi lebih dewasa..." Dokter tersenyum hangat. "...bukankah itu kabar yang patut disyukuri?"

Bram menunduk. Sudut matanya mulai memanas. "Iya...."

Suaranya lirih. "Saya hanya takut perubahan ini tidak bertahan lama."

Dokter mengangguk pelan. "Jangan terburu-buru menyimpulkan apa pun. Untuk sementara, jangan tekan Nona dengan pertanyaan tentang kejadian tadi. Biarkan Nona beristirahat. Kalau memang ini awal perubahan yang baik, tugas kita adalah mendukungnya."

Bram menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. "Terima kasih, Dok."

Saat Herman mengantar dokter, Bram menoleh ke arah pintu kamar putrinya yang masih tertutup.

Di dalam hatinya ia berdoa, "Kalau memang ini kesempatan kedua untuk Via... semoga kali ini dia benar-benar menemukan kebahagiaannya."

Bram akhirnya mengangkat tangan dan mengetuk pintu kamar putrinya.

Tok. Tok.

Tak lama kemudian pintu terbuka.

"Yah, ada apa?" tanya Vivian yang kini hidup sebagai Levia.

Bram tersenyum tipis, lalu menyodorkan sebuah ponsel. "Ini. Tadi ponselmu dititipkan Bu Ratih ke Pak Herman."

Levia menerimanya. "Terima kasih, Yah."

Bram mengangguk. "Kalau ada apa-apa, bilang sama Ayah."

"Iya, Yah."

"Kalau begitu Ayah ke ruang kerja dulu."

"Iya."

Namun Bram tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan pintu, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tatapannya penuh keraguan. Ia masih belum terbiasa melihat putrinya yang mendadak berubah begitu drastis.

"Masih ada yang ingin Ayah bilang?" tanya Levia.

Bram tersenyum kecil. "Enggak. Kamu istirahat saja."

Meski masih berat hati, akhirnya ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya.

Levia memerhatikan punggung pria itu hingga menghilang di balik belokan lorong.

"Aneh juga...."

Ia mengangkat kedua bahunya pelan, lalu menutup pintu kamar.

Begitu ponsel diarahkan ke wajahnya, layar langsung menyala. Kunci layar terbuka otomatis melalui pengenalan wajah.

Namun, yang pertama kali menyambutnya bukan deretan aplikasi, melainkan wajah Kapten Arvandra Jayasena yang memenuhi layar.

Vivian sampai berkedip beberapa kali.

"Serius?" Ia mendekatkan ponsel ke wajahnya. "Orang itu lagi."

Tatapan Vandra yang dingin seolah sedang menatap balik ke arahnya.

Vivian menggeleng pelan. "Segitunya, ya...."

Baru setelah itu pandangannya beralih ke deretan aplikasi di layar. Matanya langsung berhenti pada ikon mobile banking.

"Mari kita lihat... seberapa kaya sebenarnya Levia."

Ia menekan ikon aplikasi tersebut. Layar meminta kata sandi.

"Hm...." Levia berpikir sejenak. "Kalau melihat tingkat obsesinya... Jangan-jangan..."

Ia memasukkan tanggal lahir Vandra.

Klik.

Aplikasi langsung terbuka.

Levia membelalak. "Astaga...."

Jumlah saldo yang terpampang membuatnya terdiam beberapa saat.

Rp18.742.000.000.

"Hampir sembilan belas miliar?" Ia menelan ludah. "Levia... ternyata kamu bukan cuma bucin. Tapi juga tajir."

Ia buru-buru melihat mutasi rekening. Tak ada transaksi mencurigakan.

Sebagian besar hanya transfer dari perusahaan milik Bram Gultom, keuntungan investasi, dan bunga deposito.

"Syukurlah."

Setelah merasa sedikit tenang, Levia membuka galeri. Detik berikutnya, sudut bibirnya langsung berkedut.

Foto Vandra. Foto Vandra lagi. Masih foto Vandra. Sebagian besar diambil diam-diam dari kejauhan.

Ada saat Vandra sedang latihan. Sedang membaca buku. Sedang minum. Bahkan sedang mengikat tali sepatu pun ada.

"Ya ampun...."

Ia menemukan sebuah album khusus. Isinya ratusan foto candid Vandra.

Levia bergidik. "Astaga... segininya?"

Ia memejamkan mata sambil memijat pelipis. "Levia... kamu sudah di level mengkhawatirkan. Stadium akhir. Pantesan sampai bunuh diri cuma karena mau diceraiin."

Tanpa berpikir panjang, ia mengganti wallpaper bergambar Vandra dengan foto langit biru yang tersimpan di galeri. Ponsel kemudian diletakkannya di atas meja.

Levia menatap bayangannya sendiri di cermin. Tatapannya kini jauh lebih mantap.

"Mulai hari ini... Levia yang baru gak bakal ngejer Kapten Arvandra Jayasena." Ia mengepalkan kedua tangan. "Misi pertamaku... menyelamatkan hidup Levia."

Lalu ia tersenyum tipis. "Dan misi berikutnya... Menjadi desainer terbaik di dunia ini."

Tok. Tok. Tok.

"Non, saya masuk, ya."

Pintu kamar perlahan terbuka.

Vivian menoleh.

Seorang gadis berusia sekitar dua puluh lima tahun melangkah masuk sambil membawa nampan. Di atasnya tersusun sepotong black forest, beberapa donat dengan berbagai macam toping, dan segelas cokelat hangat dengan krim tebal. Gadis itu tersenyum ramah.

"Nona jangan sedih terus.Katanya makanan manis bisa bikin mood lebih baik. Ini makanan kesukaan Nona."

Vivian spontan menelan ludah. "Astaga... Kalori semua."

Begitu melihat wajah gadis itu, sepotong ingatan kembali menyerbu kepalanya.

Ninis.

Anak pembantu yang sudah bekerja puluhan tahun di rumah keluarga Gultom.

Sejak kecil, Levia selalu menganggap Ninis sebagai saudara sendiri. Apa pun yang dimilikinya, hampir selalu ia bagi dengan gadis itu.

Namun...

Satu kenangan lain tiba-tiba muncul.

>"Kalau Kak Vandra tetap nolak, ya bikin saja dia bertanggung jawab. Yang penting nanti kalian menikah dulu. Perasaan bisa datang belakangan."

Vivian membeku. "Bukankah.. Ide menjebak Vandra itu berasal dari Ninis?"

Ia perlahan mengangkat kepala. Tatapannya berhenti pada senyum manis gadis itu.

"Aku gak tahu kenapa... senyum gadis ini gak terlihat setulus yang aku bayangin."

 

...✨"Perubahan sejati dimulai ketika kita berhenti mengejar seseorang dan mulai memperbaiki diri sendiri."...

..."Jangan terlalu sibuk mengejar orang yang tak peduli, hingga lupa menghargai mereka yang selalu peduli."✨...

.

To be continued

1
anonim
Makan malam sudah tersaji beberapa hidangan di meja yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Makanan sehat hasil masakan Levia sudah tertata rapi, warnanya terlihat cerah, aroma masakan menggugah selera siapapun yang menciumnya.

Bram tertegun melihat hidangan di depannya dengan menu beda banget. Sampai mengira ada kedatangan tamu penting dan bertanya pada Bu Sari.

Mendengar Ninis mengatakan yang masak Levia, Bram seperti tak percaya.

Bahkan Bram masih belum percaya ketika Bu Sari mengatakan - Levia yang memasak semuanya.

Bram masih serasa mimpi melihat makanan yang terhidang apa beli dari restoran atau pesan katering.
anonim
Tuh kan Levia sudah tidak percaya sama Ninis yang sok perhatian tapi jelas menjerumuskan.

Levia mau masak sendiri makanan sehat. Bu Sari juru masak keluarga dan Ninis hari ini jadi asistennya.

Bu Sari mengambil semua bahan yang diminta Levia.

Levia mencuci sayuran sendiri. Memotong bahan-bahan masakan dengan ukuran yang sama.

Bu Sari dan Ninis pada heran melihat yang dikerjakan Levia.

Levia dengan dibantu dua asistennya, akhirnya masakan selesai.

Levia sendiri yang menata hasil masakannya. Potongan ayam, sayuran, kentang tumbuk disusun dengan sangat rapi.
Puji Hastuti
apa yang akan di lakukan oleh Pramono?
Siska Sutartini
dih enak aja, mentang anak jendral bisa bebas gitu. udahlah mengancam, mencelakai, ada bukti yg memberatkan juga. dahlah jendral harusnya kau mendidik anakmu dg benar. bukan ngandalin jabatan doang, tapi moral ga ada
Kadek Sri
lanjut
anonim
Vandra jadi kepikiran dengan perubahan yang terjadi pada Levia. Harusnya senang sesuai keinginannya, Levia sudah tidak bikin Vandra merasa tertekan.

Ninis masih mencoba mempengaruhi Levia. Levia yang sekarang sepertinya sudah tidak mau menuruti kemauan Ninis yang terlihat perhatian tapi menjerumuskan.
Anitha
Jabatan yang tinggi tidak berarti apa²,,kalo sudah seperti ini apa mau di kata bukti sudah jelas dari VIDIO yang menunjukan wajah Risa dan Ninis sedang menyusun rencana untuk mencelakai Levia...

Penjarakan saja biar jera,,Ayahnya ikut terseret
lin sya
penasaran klo pramono smkin bodoh dan smkin menghalalkan segala cara bisa bikin risa bebas gk ya, tp smga bukti yg diberikan vandra gk bsa dibeli sm uang, lgian siapa tau jabatan anak dan bpk bsa copot biar mikir klo gk pnya apa2 msih bsa sombong gk
Septi Wijaya
sebaiknya jangan cari jalan keluar dg cara kotor pak... nanti bukan cuma Risa yg ditahan... Anda pun bisa jd tersangka
Kadek Sri
lanjut
Siska Sutartini
tuh kan, masa si ninis dibiarin gitu dikasih pesangon lg. baiklah saatnya memperkarakan mereka. itu vancdra sempat merekam gak ya?
Siska Sutartini
risa oh risa itu namanya obsesi udah bukan cinta lagi. lagian lu buta apa gimana sih, org mau baikan sama bininya sendiri. lah elu siapa? orang luar. mentang2 bapaknya jendral dikira bisa seenak jidat gitu? sekalipun dipaksakan ga bakal berbuah manis
mery harwati
Minum kopi dulu aahh sambil menikmati akhir dari sang Jendral di dunia novel 😍
mery harwati
Apakah kasus hukum di novel ini akan sama dengan kasus² hukum di Negeri Naruto? 🤭
Negeri Naruto tercinta sudah terlalu sesak, mual, pening, muntah dan berakhir mentah oleh kasus² hukum yang menguap bagai uap air yang mendidih & akhirnya air itu dingin dengan sendirinya atw dingin karena dibekukan
🤣
Mundri Astuti
lah kamu ayahnya dari awal ngejerumusin anakmu sendiri, y begitu jadinya
Septi Wijaya
semoga jera
Puji Hastuti
seorang jendral seharusnya paham prosedur pemeriksaan.
lin sya
ada ayah kyk gtu, sebesar apapun kesalahannya bkn dibikin jera melalui hukuman biar sadar. blm aj ngerasain jabatan dokter dan jendral dicopot, pramono oh pramono
Anitha
mampus kamu Risa, keluargamu ikut terseret nanti,,dan Ayahmu seorang Jendral bakal jatuh seketika karena perbuatanmu yang kotor itu
Kadek Sri
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!