NovelToon NovelToon
Terbangun Jadi Istri Gebetanku

Terbangun Jadi Istri Gebetanku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Amnesia / Rumah Tangga-Anak Genius / Gadis Amnesia / Tamat
Popularitas:105
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Juliana membuka mata di kamar mewah yang tak dikenalnya dan merasa baru berumur delapan belas tahun. Di cermin, ada perempuan dua puluh empat tahun yang menatap balik. Di jarinya melingkar cincin. Di rumah itu ada anak kecil yang menatapnya penuh harap, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulut mungilnya.

Dan pria yang ada di sampingnya, ayah dari anak itu, adalah Samudra Adhitama Wiratama. Cowok es dari kampus yang dulu dia kejar-kejar. Suaminya.

Masalahnya, Samudra memandangnya seperti orang asing. Seluruh kota mengenalnya sebagai istri yang dingin, matre, dan kejam. Orang tuanya sendiri sudah enam tahun tak mau bicara dengannya. Sahabatnya menyimpan luka. Tak ada yang percaya padanya, dan sebagian besar dirinya pun tak tahu lagi siapa dia.

Enam tahun lenyap begitu saja. Siapa yang merampasnya, dan kenapa?

Sementara Ju berusaha memahami perempuan yang pernah dia jadi, Samudra mulai curiga bahwa kebenaran yang dia pegang selama ini hanyalah cerita yang ditanam orang lain. Ada foto yang terlalu rapi. Ada dokter yang terlalu tenang. Dan ada orang-orang yang diam-diam diuntungkan.

Cinta pertama yang tertunda enam tahun. Keluarga kaya raya yang saling menjerat. Seorang putri kecil yang berhenti bicara. Dan seorang istri yang bertekad merebut kembali namanya.

Kalau cinta bisa dihapus, apakah ia masih bisa ditemukan lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

POV: Ju

Hari Minggu aku pergi ke rumah orang tuaku membawa sesuatu yang lebih berharga daripada hadiah apa pun: foto-foto yang kembali kuambil.

Bukan perhiasan mahal dari pekerjaan. Foto Kira bermain, halaman belakang rumah dalam cahaya sore yang indah, satu foto Bobo duduk di jendela seperti manusia. Hal-hal kecil. Tapi itu milikku, diambil oleh tanganku, dan aku ingin Mama melihat bahwa putrinya sudah kembali ada di balik kamera.

Papa masih agak keras padaku, tapi kerasnya sudah sekadar kulit luar, terlihat jelas. Dia menggerutu bahwa fotografi tidak bisa membayar tagihan, tapi menghabiskan setengah jam menatap tiap gambar di ponselku, memperbesar dengan dua jari, menyebut mana yang "miring" dengan wibawa orang yang seumur hidup tak pernah memegang kamera. Itu caranya mengatakan bahwa dia bangga.

Mama berbeda. Mama memandangi foto-foto itu dalam diam, dan di tengahnya berhenti pada satu fotoku tentang Kira dari samping, serius, memeluk kelincinya. Dia bertahan di sana lama, dan ketika mengangkat mata, matanya basah.

"Anak ini punya matamu waktu kamu kecil," katanya. "Cara memandang dunia yang sama, dengan takut dan ingin sekaligus." Dia menggenggam tanganku. "Selamat datang kembali, Nak. Mama sudah kehilangan dua-duanya. Kamu, dan gadis kecil yang dulu kamu itu."

Kami makan siang bersama, dan untuk pertama kalinya sejak aku terbangun di kehidupan ini, rumah orang tuaku kembali menjadi rumah orang tuaku. Ada soto Betawi di panci besi Nenek, ada jam telat lima menit, ada Papa yang memarahi wasit lewat televisi seakan wasit itu bisa mendengar. Mama menanyakan Kira dengan kehati-hatian baru, ingin tahu tentang cucu yang nyaris tak dia kenal, dan aku menunjukkan lebih banyak foto, bercerita tentang kode genggaman tangan, tentang stroberi, tentang kemenangan kecil sehari-hari. Mama menyeka mata sembunyi-sembunyi sekitar tiga kali. Papa bilang suatu hari nanti aku harus membawa "si kecil" untuk berkenalan dengan kakeknya, dan berusaha membuatnya terdengar tak penting, dan gagal dengan indah. Ada kenormalan, dan kenormalan itu, setelah semuanya, adalah hal paling indah hari itu. Aku tak tahu betapa aku merindukan sekadar menjadi anak seseorang.

Baru saat hendak pulang suasana berubah.

Mama menarikku ke kamar dengan gerak aneh dan mengeluarkan sebuah amplop menguning dari laci, disimpan dengan hati-hati.

"Mama menemukan ini beberapa waktu lalu, di antara barang-barang lamamu, waktu kami mengemasi apa yang kamu tinggalkan di sini." Suaranya ragu. "Mama tak pernah tahu harus diapakan. Tak pernah benar-benar mengerti. Tapi sekarang kamu sedang... kembali, Mama rasa ini memang hakmu."

Kubuka amplop itu. Di dalamnya ada kertas terlipat, dengan tulisan tanganku. Bukan tulisan bulat usia delapan belas. Yang satunya. Yang gemetar, rapat, tergesa, sama seperti di diari. Sebuah surat yang dimulai dan tak pernah selesai, ditujukan pada Mama, bunyinya:

"Ma, ada yang salah denganku. Bukan sekadar capek, bukan sekadar Kira. Aku nggak bisa berpikir jernih. Obat-obat yang"

Dan berhenti di sana. Terpotong di tengah kalimat, seolah ada yang menginterupsi, atau seolah aku tak punya keberanian untuk melanjutkan. Obat-obat yang. Yang apa. Obat apa. Siapa.

Kepalaku langsung berdenyut, nyeri tajam yang sudah kukenal, yang selalu datang bersama serpihan-serpihan yang disembunyikan ingatanku. Kupegang lemari laci agar tak kehilangan keseimbangan.

"Nak? Kamu pucat." Mama memegang lenganku, ketakutan.

"Nggak apa-apa," bohongku, menyimpan surat itu dengan jari gemetar. "Cuma sakit kepala lagi. Ma, boleh aku bawa ini?"

Tentu saja boleh. Tapi dia terus memandangiku dengan kecemasan lama yang sama, kecemasan orang yang tahu ada yang salah dalam cerita ini sejak lama dan tak pernah sanggup menamainya.

Dalam perjalanan pulang, aku mampir cepat ke apartemen Lala, lebih untuk menarik napas daripada alasan lain. Dia menerimaku dengan baik, kami sudah membangun kembali persahabatan itu bata demi bata, tapi aku langsung merasa ada yang tidak beres dengannya juga. Lala tertawa terlalu mudah, tawa yang kita pakai untuk menambal lubang. Ketika aku bertanya soal Hendrik, soal pernikahannya, dia mengelak dengan "pernikahan orang dewasa memang begitu, Ju, kamu akan ngerti", yang sama sekali tak cocok dengan gadis jatuh cinta yang selalu dia jadi.

Dan ada satu momen, ketika dia menyebut sambil lalu nama seorang aktris, Yasmin Kartika, yang berputar-putar di sekitar suami Lala di berbagai acara, wajah Lala menutup dengan cara yang dia coba samarkan dan gagal. Dia cepat mengganti topik, bicara soal pekerjaan, soal ilustrasinya yang diinginkan sebuah rumah produksi untuk dijadikan serial, tapi kerusakannya sudah terjadi. Aku mengenal sahabatku. Nama itu menyakitinya.

"Lala," kataku, menggenggam tangannya. "Kamu mendengarkanku berjam-jam waktu aku muncul tiba-tiba bilang aku kehilangan ingatan. Seumur hidup kamu bahuku. Biar sekarang aku jadi bahumu. Ada apa antara kamu dan Hendrik?"

Dia membuka mulut, dan sesaat kukira dia akan runtuh dan menceritakan semuanya. Tapi dia menelan, memaksakan senyum, dan berkata semuanya baik-baik saja, bahwa itu cuma pikirannya, bahwa aku sudah punya masalah terlalu banyak untuk diselesaikan. Aku tak mendesak. Persahabatan juga berarti tahu menunggu sampai orang itu siap. Tapi kusimpan nama Yasmin Kartika di sudut kepalaku, di samping surat tentang obat-obat itu, dalam daftar kecilku yang terus bertambah berisi hal-hal yang rusak yang akan kuperbaiki.

Malam itu aku pulang dengan surat yang membakar di dalam tas dan dua kepastian yang mengganjal. Pertama, ada sesuatu yang terkubur di masa laluku yang melibatkan obat-obatan, ketakutan, dan satu kalimat yang tak sanggup kuselesaikan. Kedua, sahabatku menderita dalam diam, dan baru saja aku bisa bernapas lagi, sudah ada daftar hal-hal rusak yang menunggu untuk kuperbaiki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!