Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Begitu Adelia melangkah pergi ke ruang fitting VIP dengan gaya angkuhnya, Inayah langsung menarik lengan Nisa dengan kasar. Ia menyeret sahabatnya itu kembali ke dalam ruang kerja yang kedap suara, wajahnya memerah menahan ledakan amarah.
"Nis, jawab jujur!" desis Inayah dengan dada naik turun. "Perempuan menor kegatelan itu... dia Adelia yang itu? Selingkuhan Arga?!"
Nisa merapikan gaun-gaun di tangannya dengan tenang. "Iya, Nay. Dia Adelia, selingkuhan Mas Arga."
"Sinting!" umpat Inayah tertahan. "Bisa-bisanya dia bawa muka tembok dia ke butikku! Aku nggak peduli dia mau beli satu butik sekalipun, aku akan panggil satpam untuk usir dia sekarang juga!"
Inayah baru saja hendak berbalik, namun tangan Nisa menahan lengannya dengan erat. Nisa menggeleng pelan, seulas senyum tipis terukir di wajahnya.
"Jangan, Nay."
"Kenapa?!" Inayah menatap Nisa tak percaya. "Kamu mau diinjak-injak sama pelakor murahan itu?! Kamu nggak lihat gaya angkuhnya tadi? Dia sengaja datang ke sini untuk merendahkan kamu, Nisa!"
"Aku tahu," jawab Nisa tenang. "Tapi, sekarang kita sedang berbisnis, Nay. Ini tempat usaha kamu, dan aku karyawan kamu. Kalau memang Adelia bisa menghamburkan uangnya dan menghasilkan keuntungan besar untuk butik ini, kenapa tidak? Biarkan saja dia membeli gaun paling mahal di sini."
"Astaga, Nisa! Kamu sadar nggak sih?!" Inayah mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Uang yang dibelanjakan perempuan ular itu adalah uang suamimu! Dia berlagak sombong pakai uang laki-lakimu, Nis!"
Nisa terdiam sejenak. Sorot matanya yang tenang tiba-tiba berubah redup, menyisakan sebuah kehampaan yang begitu pekat. Ia menatap Inayah lurus-lurus.
"Uang suamiku?" Nisa mengulang kata-kata itu dengan senyum getir. "Mas Arga nggak pernah benar-benar menjadi suamiku, Nay. Dari awal pernikahan kami, kami ini hanya dua orang manusia yang dipaksa terjebak dalam satu kartu keluarga. Tidak lebih."
"Nis..." Inayah tercekat, matanya mulai berkaca-kaca mendengar kepedihan sahabatnya.
"Biarkan saja," lanjut Nisa, menghela napas panjang seolah melepaskan beban yang selama ini menghimpit dadanya. "Jika perceraian kami nanti sudah resmi keluar dari pengadilan, kami akan kembali menjadi orang asing. Jadi, mau uang Mas Arga habis terkuras di tangan Adelia, atau mau Arga bangkrut sekalipun, aku nggak akan mau peduli lagi, Nay. Itu bukan urusanku."
Nisa meraih tiga gaun malam paling mahal dari gantungan, lalu menatap Inayah dengan pandangan meyakinkan. "Aku yang akan melayaninya. Jangan khawatir, aku nggak akan biarin dia merusak mentalku lagi."
Sementara itu, di dalam ruang VIP yang mewah, Adelia sedang duduk menyilangkan kaki di atas sofa beludru merah. Reta, temannya, duduk di sebelahnya sambil tertawa cekikikan.
"Gila lo, Del! Berani banget lo nyuruh-nyuruh istri sahnya Arga jadi pelayan lo di sini," Reta tertawa terbahak-bahak sambil menepuk paha Adelia.
Adelia mengibaskan rambutnya dengan pongah, memamerkan kalung berliannya. "Istri sah apanya? Calon mantan istri, Ta. Bentar lagi juga didepak ke jalanan. Lo lihat kan gayanya tadi? Kucel banget. Arga mana sudi sama perempuan gembel kayak dia."
"Tapi lo yakin Arga bakal ceraiin dia?"
"Yakin seratus persen dong," Adelia tersenyum licik. Ia lalu meraih ponsel dari dalam tas mewahnya. "Eh, Ta. Gue ada ide bagus. Gue bakal bikin perempuan itu benar-benar tahu posisi aslinya di mana."
Adelia menekan nomor Arga. Panggilan itu tersambung dalam hitungan detik.
"Halo, Sayang," sapa Adelia dengan nada manja yang sengaja dilebih-lebihkan.
"Iya, Del. Ada apa? Aku lagi di jalan habis meeting sama klien," jawab suara bariton Arga dari seberang sana.
"Mas, ke Butik Inayah sekarang ya? Di lantai dasar mal Pacific Place," rengek Adelia. "Ada pertunjukan bagus nih di sini. Mas pasti terhibur dan nggak suntuk lagi."
"Pertunjukan apa? Aku—"
"Pokoknya Mas ke sini sekarang. Aku tunggu ya, Sayang. Muach!"
Adelia mematikan panggilan secara sepihak, lalu tertawa puas bersama Reta. Tepat saat itu, pintu ruang VIP terbuka. Nisa melangkah masuk dengan membawa tiga gaun mewah bertahtakan payet kristal.
Melihat kedatangan Nisa, Adelia langsung berdiri. Matanya menatap sinis gaun-gaun di tangan Nisa.
"Lama banget sih! Kamu ngambil gaun atau jahit gaunnya dulu?" omel Adelia dengan suara melengking. Ia menyentuh salah satu gaun sutra itu dengan ujung kuku panjangnya, lalu mendengus kasar. "Kok bahannya kasar begini? Norak banget warnanya. Ini beneran gaun mahal? Kamu nggak salah ambil, kan? Atau kamu sengaja mau bikin aku kelihatan jelek?!"
Reta ikut menimpali sambil menutup hidungnya dengan tangan. "Aduh, Del. Namanya juga selera orang susah. Mana ngerti dia barang branded. Cocoknya buat lap meja tuh gaun."
Nisa hanya tersenyum sopan, sama sekali tidak terpancing. "Ini bahan sutra premium dari Prancis, Mbak Adelia. Silakan dicoba dulu. Kalau tidak cocok, saya akan bawakan koleksi yang lain."
Adelia berdecak sebal. Ia menarik gaun merah itu dengan kasar dari tangan Nisa. "Pakaikan ke badanku! Awas ya kalau sampai robek, gaji setahunmu nggak akan cukup buat gantinya!"
Selama setengah jam berikutnya, ruang VIP itu berubah menjadi neraka kecil bagi Nisa. Adelia sengaja mempersulit semuanya. Ia mencoba kelima gaun yang dibawakan, dan semuanya ia tolak dengan cacian. Kekecilan, kebesaran, warnanya membuat kulitnya kusam, payetnya gatal, hingga jahitannya yang ia sebut mirip jahitan karung beras. Reta tak henti-hentinya menertawakan Nisa setiap kali Adelia melontarkan hinaan.
Nisa tetap diam. Ia mengangguk, melipat kembali gaun-gaun yang dibuang ke lantai, dan melayani dengan kesabaran luar biasa layaknya menghadapi pelanggan bermasalah pada umumnya.
Hingga akhirnya, Adelia membanting tubuhnya ke atas sofa. Ia mengibaskan tangannya di depan wajah, berpura-pura kelelahan.
"Aduh, capek banget nyobain baju jelek semua," keluh Adelia, memajukan kakinya yang memakai sepatu hak tinggi runcing setinggi dua belas sentimeter. "Kakiku sampai pegal. Heh, pelayan!"
Nisa yang sedang merapikan gaun di gantungan, menoleh perlahan.
"Copotin heels aku dong," titah Adelia sambil menunjuk sepatunya dengan angkuh. "Kakiku sakit banget nih gara-gara berdiri kelamaan. Cepat, buka sepatuku."
Reta menutup mulutnya, menahan tawa yang nyaris meledak melihat penghinaan tingkat tinggi itu.
Nisa mematung selama beberapa detik. Ia menatap Adelia, lalu menatap sepatu hak tinggi itu. Jika ia menolak, keributan akan terjadi dan butik Inayah yang akan kena imbasnya. Nisa membuang napas pelan. Toh, harga dirinya di hadapan orang-orang yang berhubungan dengan Arga sudah tidak ada artinya lagi. Ia sudah mati rasa.
Dengan gerakan tenang, Nisa mendekat. Ia berlutut, lalu berjongkok tepat di depan kaki Adelia. Tangannya yang lentik perlahan terulur, meraih pergelangan kaki Adelia untuk membuka pengait sepatunya.
Adelia tersenyum menang, merasa berada di puncak kekuasaan saat melihat istri sah pacarnya itu berjongkok di bawah kakinya layaknya seorang hamba sahaya.
Cklek.
Pintu ruang VIP tiba-tiba terbuka lebar tanpa ketukan.
"Sayang, ada pertunjukan ap—"
Suara bariton Arga yang ceria mendadak terhenti. Udara di dalam ruangan itu seolah tersedot habis dalam hitungan detik.
Arga membeku di ambang pintu. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke arah sofa. Di sana, kekasihnya sedang duduk bersandar dengan angkuh. Dan tepat di bawah kaki Adelia... istrinya, Nisa, sedang berjongkok merendahkan diri, memegang sepatu hak tinggi wanita itu dengan tangan kosong.
"Eh, Mas Arga udah datang!" sapa Adelia dengan nada riang, melambaikan tangannya seolah tak ada yang salah dari pemandangan tersebut. "Sini, Mas! Duduk di sebelahku!"
Di lantai, Nisa ikut mematung. Tangannya membeku di pergelangan kaki Adelia. Ia mendongak dengan gerakan patah-patah, menatap sosok jangkung yang berdiri kaku di ambang pintu. Nisa tak menyangka, Arga akan datang ke sana dan menyaksikan titik terendah dari sisa harga dirinya hari ini.
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga