Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinyal dari kelas sebelah
Pagi hari di SMA Nusa Bangsa selalu dimulai dengan ritme keriuhan yang serupa. Deru knalpot kendaraan yang saling bersahutan memenuhi area parkir luas, gaung tawa para siswa yang memantul di sepanjang koridor berlantai keramik putih, serta derap langkah kaki yang terburu-buru mengejar waktu sebelum bel masuk berbunyi tepat pukul tujuh pagi. Namun bagi Kirana, ada sesuatu yang terasa bergeser di dalam dirinya pagi ini.
Langkah kakinya menyusuri koridor panjang menuju kelas MIPA-2 terasa sedikit lebih ringan. Beban berat dan hawa dingin dari meja makan yang kaku milik Ayah Baskara dan Ibu Saraswati baru saja ditinggalkannya setengah jam yang lalu, tetapi kali ini, rasa sesak itu menguap lebih cepat. Ada sisa-sisa kehangatan dari kedai martabak semalam yang masih tertinggal di benaknya.
Begitu Kirana meletakkan tas ranselnya dan duduk di kursinya, Raina yang sudah datang lebih awal langsung menggeser kursinya dengan bunyi berdecit nyaring. Raina menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Kirana dengan sepasang mata yang menyipit penuh selidik, seolah-olah dia adalah seorang detektif yang siap menginterogasi tersangka utama.
"Kir, jujur sama gue. Semalam setelah pulang dari kedai martabak, lo bisa tidur gak?" tanya Raina tanpa basa-basi, suaranya yang cempreng langsung mengundang perhatian Alya dan Windy yang baru saja melangkah masuk ke dalam kelas.
"Tidur kok. Nyenyak banget malah," jawab Kirana lambat, mencoba berpura-pura sibuk merapikan buku cetak Biologi bersampul tebal di atas mejanya. Dia sengaja menundukkan kepala sedalam mungkin agar semburat merah muda yang mendadak muncul di kedua pipinya tidak terbaca oleh radar tajam sahabatnya.
"Halah, gak usah bohong sama kita deh, Kir. Tuh, gurat mata lo gak bisa bohong. Agak sayu karena kurang tidur, tapi bibir lo senyum-senyum sendiri sejak naruh tas tadi," goda Windy yang datang sambil menjinjing sekantong kresek berisi roti bakar cokelat. "Gue aja yang semalam cuma kebagian sate padangnya Raihan sampai kebawa mimpi, masa lo yang disuapin martabak manis sama cowok paling populer di MIPA-1 gak kepikiran sama sekali?"
"Windy, ih! Jangan keras-keras suaranya," bisik Kirana panik, tangannya bergerak cepat membekap mulut Windy sambil mengedarkan pandangan cemas ke sekeliling kelas yang mulai ramai.
Alya hanya tersenyum teduh, meletakkan tasnya dengan anggun lalu menepuk bahu Kirana dengan sangat lembut. "Sudah, Win, Rai, jangan digodain terus Kirana-nya, kasihan tuh mukanya udah kayak kepiting rebus. Tapi Kir, kalau boleh jujur, semalam itu pertama kalinya gue lihat lo bisa sepasrah itu menerima keusilan cowok. Biasanya kan lo langsung pasang tembok benteng pertahanan yang tinggi kalau ada anak cowok kelas sebelah yang mencoba cari perhatian."
Kirana terdiam sejenak, jemarinya terpaku di atas halaman buku Biologi. Apa yang dikatakan Alya sepenuhnya benar. Selama ini, dia selalu memasang jarak yang aman dengan siapa pun, terutama lawan jenis. Dia harus selalu menjaga reputasi sebagai anak baik, sopan, dan penurut—standar mutlak yang selalu ditanamkan dengan ketat oleh orang tuanya di rumah. Namun entah kenapa, saat berhadapan dengan Keenan Abimara semalam, semua tembok pertahanan yang dia bangun bertahun-tahun seolah runtuh begitu saja hanya karena tawa jahil dan sepotong martabak manis.
Ketenangan di kelas MIPA-2 siang itu tidak bertahan lama setelah bel istirahat pertama berbunyi nyaring. Saat sebagian besar siswa mulai berhamburan keluar menuju kantin, sebuah keriuhan kecil mendadak tercipta tepat di depan pintu kelas mereka. Beberapa siswi yang berdiri di dekat mading kelas mulai berbisik-bisik heboh sambil melirik ke arah luar koridor.
"Permisi, numpang tanya dong. Juara umum kelas ini yang namanya Kirana Putri ada di dalam gak?"
Suara bariton yang lantang, renyah, dan penuh rasa percaya diri itu seketika membuat Kirana mendongak dari bangkunya. Di ambang pintu kelas, Keenan Abimara sedang berdiri dengan gaya kasualnya yang khas. Satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abu SMA, sementara tangan lainnya memegang sebuah kotak susu rasa cokelat yang masih dingin dan sebungkus roti isi berukuran besar. Jaket denim andalannya disampirkan begitu saja di bahu kirinya. Di belakang Keenan, Damar tampak mengintip dari balik kusen pintu sambil menahan tawa lebar, bertindak sebagai pemandu sorak setia untuk aksi nekat sahabatnya.
Raina yang melihat pemandangan itu langsung menyenggol lengan Kirana dengan heboh hingga pulpen di tangan Kirana terjatuh. "Kir! Pawang pagar pembatas sekolah dari kelas MIPA-1 nyariin lo tuh! Buruan samperin sebelum pintu kelas kita roboh pesonanya!"
Kirana menarik napas panjang, mencoba menekan pasokan oksigen ke dadanya agar debaran jantungnya yang mendadak menggila bisa sedikit melambat. Dia bangkit dari kursinya, merapikan roknya sekilas, lalu berjalan menghampiri pintu kelas. Begitu dia berdiri tepat di depan Keenan, cowok itu langsung memamerkan cengiran bandel tanpa dosanya yang sangat familier.
"Ada apa, Keenan? Lo gak salah alamat kelas kan? Kelas MIPA-1 kan ada di ujung koridor sebelah sana," ucap Kirana, mencoba menata nada suaranya seformal dan sedingin mungkin untuk menutupi rasa gugup yang mendera.
"Gak salah alamat kok. Otak genius gue ini punya sistem GPS khusus kalau mau nyari orang pintar," kilat Keenan santai tanpa beban. Dia melangkah satu langkah lebih maju, lalu menyodorkan susu cokelat dan roti isi di tangannya tepat di depan dada Kirana. "Nih, ambil. Anggap aja ini upah tambahan resmi buat pengacara hukum kasus pasal penggelapan dompet semalam. Kata Kak Arkan di rumah, kalau kita habis minta tolong atau bertamu ke tempat orang, adabnya harus bawa buah tangan. Berhubung di kantin gak ada pohon buah, adanya toko roti, ya udah ini aja yang gue bawa."
Damar di belakang Keenan langsung bersorak kecil sambil menepuk tangannya pelan. "Mantap, Nan! Modus lo terstruktur, sistematis, dan masif! Gak sia-sia gue temenin bolos dari piket kelas!"
Kirana menatap bergantian antara kotak susu di tangan Keenan dan sepasang mata tajam milik cowok itu yang sedang menatapnya lekat. "Kan semalam Windy udah traktir martabak sebagai tebusan, lagian sate padang dari Raihan juga udah bikin kita semua impas. Ini buat apa lagi, Keenan?"
"Ini beda urusan, Kirana," bisik Keenan. Dia memajukan tubuhnya sedikit, memperkecil jarak di antara mereka hingga Kirana bisa mencium wangi samar mint dari napas cowok itu. Aksi spontan ini langsung membuat beberapa siswi di koridor yang sedang lewat spontan menahan pekikan gemas mereka. "Yang semalam itu urusan perutnya Windy dan Raihan. Yang ini murni urusan gue sama lo. Anggap aja ini investasi awal dari gue, biar lo gak bosan denger keriuhan gue di sekolah ini ke depannya."
Kirana menatap kotak susu cokelat itu, lalu beralih menatap wajah Keenan yang menunggu jawabannya dengan percaya diri. Pertahanan Kirana jebol juga. Dia tidak bisa menahan senyuman tipisnya yang akhirnya merekah. Dia menerima susu dan roti itu dengan pasrah. "Oke, makasih ya. Tapi habis ini lo harus langsung balik ke kelas lo sendiri. Jangan bikin keributan di depan kelas gue, ntar kalau Pak Bambang lewat bisa panjang urusannya."
"Siap, Tuan Putri! Perintah dari pengacara hukum dilaksanakan dengan segera!" sahut Keenan penuh semangat. Dia memberikan hormat dua jari yang sangat kasual di pelipisnya, lalu berbalik pergi dengan langkah santai bersama Damar yang masih heboh meledeknya di sepanjang koridor menuju kelas MIPA-1.
Namun, di balik keriuhan manis yang baru saja tercipta, tidak semua pasang mata memandangnya dengan suka cita. Di sudut koridor yang agak gelap, tidak jauh dari tangga pembatas menuju kelas MIPA-2, Bella dan Rona berdiri sambil melipat kedua tangan mereka di dada. Tatapan mata mereka tampak sangat tajam dan dingin, menusuk lurus ke arah Kirana yang saat ini sedang berjalan kembali ke bangkunya sambil mendekap susu pemberian Keenan.
"Bisa-bisanya Keenan yang tajir, populer, dan anak pemilik yayasan kayak gitu nyamperin anak rumahan yang sok polos kayak Kirana," cibir Rona dengan nada sinis yang kental. Tangan kirinya sibuk merapikan rambut panjangnya yang sengaja dicat cokelat gelap dan digerai rapi.
Bella menyipitkan matanya yang memakai riasan tipis. Gurat kecemburuan dan rasa tidak suka tercetak sangat jelas di wajah cantiknya. Sebagai siswi yang merasa paling populer dan memegang kendali atas lingkaran pergaulan sosial di angkatan mereka, Bella selalu menganggap bahwa Keenan Abimara adalah sosok kelas atas yang hanya pantas bersanding dengan orang-orang dari kelompoknya—bukan dengan gadis pendiam dari kelas sebelah yang hanya tahu cara belajar.
"Itu cuma taktik caper anak pintar aja, Ron. Lo kayak gak tahu Keenan aja," sahut Bella dengan nada suara yang ditekan dingin. "Paling Keenan cuma lagi iseng karena kalah taruhan game atau ditantang sama anak-anak gengnya di lapangan. Kita lihat aja seberapa lama si polos Kirana itu bisa bertahan besar kepala, kalau rahasia aslinya atau rumor tentang dia mulai kita sebar di mading sekolah."
Kirana yang sudah kembali duduk dengan nyaman di bangkunya sama sekali tidak menyadari hembusan angin dingin dari kejauhan itu. Dia sibuk mendengarkan rentetan pertanyaan heboh dari Raina yang menuntut penjelasan mendetail, sementara jemari tangan Kirana diam-diam menggenggam erat kotak susu cokelat dingin pemberian Keenan di bawah kolong meja. Sinyal-sinyal keriuhan dari kelas MIPA-1 kini telah resmi menembus radar hidupnya, membawa percikan warna baru yang siap menantang kesunyian yang selama ini membelenggunya di rumah.