NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Dua Hari Lebih Cepat

Subuh keesokan harinya, Jian Chen berdiri di belakang gudang kayu dengan sebatang dahan lurus sepanjang lengan di tangannya. Embun masih menempel di rumput, dan langit baru berwarna abu-abu. Shen Yu sudah menunggu di sana, memegang dahan yang sama, sambil menguap lebar.

"Kau datang," kata Shen Yu. "Aku sempat berpikir kau akan tidur terus."

"Aku sudah berjanji."

"Janji di sumur biasanya tidak berlaku kalau paginya dingin." Shen Yu memutar dahannya sekali. "Baik. Tunjukkan sikap yang kau tahu."

Jian Chen membuka sikap pertama Pedang Tanpa Bayangan, kaki selebar bahu, berat di tumit belakang, ujung dahan sejajar tenggorokan. Ia menahannya selama tiga tarikan napas. Pada tarikan keempat, lengannya mulai bergetar.

"Berhenti," kata Shen Yu. Ia berjalan mengitari Jian Chen dan mengetuk siku kanannya dengan ujung dahan. "Siku terlalu tinggi. Bahumu juga naik. Kau menahan napas."

"Aku tidak menahan napas."

"Kau menahannya sejak tarikan kedua." Shen Yu tertawa pendek. "Tapi bentuknya..." Ia berhenti, lalu menatap Jian Chen dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Bentukmu bagus. Terlalu bagus untuk murid luar. Siapa yang mengajarimu?"

"Tidak ada. Aku melihat orang berlatih di lapangan dalam."

"Itu bukan sikap lapangan dalam. Itu sikap yang jauh lebih tua." Shen Yu menurunkan dahannya. "Tapi aku tidak akan bertanya. Orang punya rahasia."

"Kau juga?" tanya Jian Chen.

"Tentu saja." Shen Yu tersenyum lebar. "Tapi rahasiaku membosankan. Ulangi, kali ini turunkan siku."

Mereka berlatih sampai matahari muncul di atas atap gudang. Jian Chen tidak sanggup memegang sikap lebih dari lima tarikan napas, tetapi ia menghitung satu per satu dan mencatatnya di kepala. Besok enam. Lusa tujuh. Tubuh ini bisa dibentuk, hanya saja butuh waktu yang tidak ia punya.

Di sela latihan, Shen Yu bercerita bahwa ia sudah menemui pemeriksa dari aula kontribusi. "Dia memeriksa lorong empat dua hari lalu," kata Shen Yu sambil mengelap dahinya. "Katanya ada retak kecil di salah satu tiang tengah, tetapi tidak berbahaya. Penggantian dijadwalkan bulan depan."

"Bulan depan," ulang Jian Chen.

"Aku sudah bilang soal perasaan burukmu. Dia hanya bilang, 'Murid luar selalu punya perasaan buruk soal tambang.'" Shen Yu mengangkat bahu. "Maaf. Hanya itu yang bisa kudapat."

"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mencoba."

"Itu gunanya sahabat." Shen Yu mengedipkan mata. "Calon sahabat."

Lima hari kemudian, Dao menaruh sebuah karung kecil dari kulit di atas meja kerjanya. Di dalamnya ada tujuh baji besi pipih, masing-masing sepanjang sejengkal, berat dan dingin, dengan ujung bergerigi seperti yang digambar Jian Chen.

"Enam sesuai pesanan," kata Dao sambil menyeka tangan. "Satu cadangan. Aku bikin lebih bukan karena baik hati. Aku benci kalau bahan sisa menganggur."

"Terima kasih, Dao."

"Berterima kasihnya nanti, setelah kau pulang hidup-hidup." Dao menyandarkan siku ke landasan. "Dengar, aku sudah menanyai beberapa orang. Dua penambang tua bilang lorong empat memang jelek. Katanya bunyi batunya aneh kalau hujan turun semalaman. Semalam hujan."

"Aku tahu."

"Kau bawa baji ini dalam karung biasa. Jangan menenteng seperti harta karun. Kalau pengawas bertanya, bilang itu pasak tambahan."

"Pasak tambahan," ulang Jian Chen. "Aku akan ingat."

"Dan satu hal lagi." Dao menurunkan suaranya. "Aku tidak mau bilang kau berlebihan, tetapi kalau lorong itu runtuh dan kau yang paling dulu lari, jangan malu. Hidup lebih penting dari gengsi."

"Aku tidak akan lari lebih dulu," kata Jian Chen. "Aku akan lari terakhir."

Dao menatapnya dengan alis terangkat. "Itu lebih tidak masuk akal."

"Mungkin."

Hari ketujuh belas pagi, Jian Chen berdiri di barisan pondok tujuh dengan karung baji tersembunyi di bawah jubah luarnya. Qiu Bo di sampingnya terus menggosok mata. Tadi malam ia mengorok sampai tengah malam, lalu bangun dua kali untuk buang air.

"Kau tidak tidur?" bisik Qiu Bo.

"Sedikit."

"Aku juga tidak. Tidak tahu kenapa. Perutku seperti mau lompat." Qiu Bo mengusap wajahnya. "Tiga hari lagi kita ke tambang. Aku benci tambang."

"Tiga hari lagi," kata Jian Chen. Ia sudah menghitungnya berkali-kali.

Pengawas berewok naik ke atas batu dengan gulungan bambu di tangan. Suaranya serak, tetapi hari ini ada sesuatu yang berbeda dalam nadanya, seperti orang yang menyampaikan kabar yang tidak ia sukai.

"Perhatian semua murid luar! Ada perubahan jadwal dari aula kontribusi!" Ia mengangkat gulungannya. "Setoran batu napas bulan ini dinaikkan karena pesanan Paviliun Tungku Hitam. Kelompok ketiga, kalian dimajukan. Besok pagi, hari kedelapan belas, masuk tambang lorong empat. Bukan hari kedua puluh."

Jian Chen berhenti bernapas.

"Apa?" Qiu Bo menoleh. "Besok? Tapi katanya..."

"Diam!" bentak pengawas itu. "Aku tahu kalian tidak suka. Aku juga tidak suka. Tapi perintahnya dari atas dan tidak bisa ditawar. Kelompok ketiga, siapkan alat malam ini. Ambil pasak dan sekop dari gudang sebelum petang."

Barisan mulai riuh dengan gerutuan. Jian Chen berdiri kaku. Dua hari lebih cepat. Selama dua puluh tahun, ia hafal tanggal itu seperti nama ibunya, hari kedua puluh bulan ketiga. Kini tanggal itu bergeser, dan ia tidak tahu penyebabnya, apakah karena baji besinya, pertanyaannya pada pengawas, permintaan Shen Yu pada pemeriksa, atau sesuatu yang sama sekali bukan tindakannya.

"Jian Chen?" Qiu Bo menyentuh lengannya. "Kau pucat. Kau sakit?"

"Tidak," jawab Jian Chen. Suaranya serak. "Aku tidak sakit."

"Kalau begitu kenapa kau seperti melihat hantu?"

"Karena aku pernah melihat hantu." Jian Chen menggeleng pelan sebelum Qiu Bo sempat bertanya. "Lupakan. Besok kita hati-hati. Kau tetap di sampingku, mengerti?"

"Kenapa?"

"Karena aku yang membawa pasak tambahan," kata Jian Chen, dan Qiu Bo hanya mengangkat bahu, tidak mengerti, tetapi mengangguk.

Pengawas turun dari batu. Di ujung lapangan, di antara deretan murid yang bubar, Jian Chen melihat Shen Yu berdiri sendirian, menatap papan jadwal. Wajahnya tidak tersenyum. Ia berdiri diam beberapa saat, lalu berbalik dan pergi tanpa melihat ke arah Jian Chen.

Sore itu Jian Chen berjalan ke pondok pengobatan dengan langkah lebih cepat daripada biasanya. Lin Xue sedang menggulung kain putih di meja panjang. Di rak belakangnya sudah tersusun empat gulungan perban besar dan beberapa botol kecil tertutup lilin.

"Kau terlambat dari biasanya," kata Lin Xue tanpa menoleh.

"Jadwalnya dimajukan," ujar Jian Chen. "Kelompok ketiga masuk tambang besok, bukan hari kedua puluh."

Gerakan tangan Lin Xue berhenti. Ia menoleh, dan untuk pertama kali sejak mereka bertemu, wajahnya kehilangan sedikit ketegasannya. "Besok?"

"Besok pagi."

"Ramuan pengikat darah belum selesai direbus. Butuh semalam penuh." Lin Xue menaruh kain di tangannya dan mengambil panci tanah liat dari pojok. "Aku akan menyelesaikannya malam ini. Kau pulang dan istirahat."

"Aku bisa membantu."

"Kau akan membantu dengan tidur cukup." Lin Xue menyalakan tungku kecil dan tidak menatapnya. "Jian Chen. Jangan jadi orang yang menyelamatkan semua orang lalu pulang sebagai pasien."

"Aku akan berusaha."

"Berusaha tidak cukup." Lin Xue menuang air ke dalam panci. "Pulang."

Jian Chen keluar dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Di luar, langit sore memerah di atas atap-atap pondok. Dua hari lebih cepat. Ia punya enam baji, satu karung kecil, tiga sekutu yang bersedia membantu tanpa tahu seluruh kebenaran, dan satu malam untuk menyiapkan semuanya.

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!