NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGORBANKAN DIRI DEMI REKAN

Waktu seakan melambat di mata Lin Yuan. Gumpalan asam hijau pekat itu melesat membelah udara beracun di dalam kubah jaring, mengarah lurus ke titik di mana Ah Xiu baru saja melompat untuk mendorong tubuh raksasa Shi Tou.

Gadis pemanah itu sama sekali tidak memiliki pijakan yang tersisa di udara. Ia tidak mengenakan zirah berat, hanya pelindung kulit tipis yang pasti akan meleleh bersama tulang rusuknya jika cairan itu menghantam dadanya.

"Ah Xiu!" Teriak Lu Chen dengan mata membelalak, gerakannya terhenti oleh dua laba-laba yang menahannya dari sisi kiri.

Lin Yuan tidak berteriak. Ia tidak membuang sisa oksigen di paru-parunya untuk meratap.

SREEEET!

Lin Yuan menghentakkan kedua kakinya ke atas tanah es dengan tenaga murni yang begitu besar hingga lapisan es setebal tiga inci di bawahnya hancur berkeping-keping. Tubuhnya melesat ke depan, berubah menjadi bayangan buram yang memotong garis lintasan mematikan tersebut.

Ia tidak mencoba menangkis cairan itu dengan pedang, karena percikannya tetap akan mengenai Ah Xiu. Ia juga tidak memiliki perisai besi seperti Shi Tou.

Satu-satunya tameng yang ia miliki adalah tubuhnya sendiri.

BLES!

Tepat pada detik ketika gumpalan asam dan sengatan capit Ratu Laba-Laba itu hampir merobek punggung Ah Xiu, Lin Yuan memutar badannya dan merentangkan lengan kirinya ke depan, membentengi tubuh gadis itu sepenuhnya.

JLEB! SSSSHHH!

Sengatan capit beracun yang setajam tombak baja itu menembus lengan kiri Lin Yuan, mengoyak daging dan mengunci tulang lengannya. Pada saat yang bersamaan, gumpalan bisa hijau pekat menyiram bahu dan punggung Lin Yuan, membakar kain kusamnya dalam sekejap mata.

"Ugh!" Erang Lin Yuan tertahan, giginya terkatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar.

Tubuh Lin Yuan dan Ah Xiu terhempas ke belakang akibat momentum serangan raksasa itu. Mereka berdua berguling di atas tanah yang membeku. Lin Yuan dengan sigap menggunakan lengan kanannya untuk melindungi kepala Ah Xiu dari benturan batu, membiarkan punggungnya sendiri yang menghantam tanah.

"Lin Yuan!" Jerit Ah Xiu panik saat ia menyadari apa yang baru saja terjadi.

Gadis yang biasanya selalu bersikap dingin dan tak tersentuh itu kini menatap Lin Yuan dengan raut wajah penuh ketakutan. Bau daging terbakar dan darah hitam menguar tajam dari bahu dan lengan kiri Lin Yuan. Capit Ratu Laba-Laba telah mencabut diri, tetapi racun tingkat tingginya sudah disuntikkan langsung ke dalam aliran darah pemuda itu.

"Kau gila! Itu racun pelebur tulang!" Teriak Ah Xiu seraya menekan luka di bahu Lin Yuan dengan kedua tangannya yang gemetar, mencoba menghentikan penyebaran racun yang mulai membuat pembuluh darah Lin Yuan menghitam.

Di garis depan, Shi Tou baru saja bangkit. Pria bertubuh besar itu melihat pemandangan tersebut dan meraung penuh kemarahan. "TIDAK! Bocah sialan!"

Ratu Laba-Laba Bayangan mengeluarkan suara derik yang menyeramkan. Delapan mata merahnya menatap Lin Yuan dengan rasa puas. Bagi monster kelas tiga puncak ini, siapa pun yang terkena racun utamanya akan hancur menjadi genangan darah kental dalam hitungan sepuluh napas.

Namun, Ratu Laba-Laba itu tidak tahu monster apa yang sebenarnya bersembunyi di dalam tubuh mangsanya.

Di dalam tubuh Lin Yuan, racun hijau pekat itu merayap liar bagai ribuan semut api, menerobos pembuluh darah dan langsung menyerang meridian utamanya. Rasa sakit yang ditimbulkan sungguh tak terlukiskan; seolah-olah ada besi pijar yang dimasukkan paksa ke dalam sumsum tulangnya.

Tubuh Lin Yuan menegang hebat. Napasnya terhenti. Urat-urat hitam menjalar cepat dari lengan kiri menuju lehernya.

"Lin Yuan! Bernapaslah! Jangan tutup matamu!" Mohon Ah Xiu dengan mata berkaca-kaca, melupakan seluruh harga dirinya sebagai veteran perbatasan. Ia merogoh kantong pinggangnya dengan panik, mencari penawar racun apa pun yang mungkin tersisa.

Tapi Lin Yuan tidak menutup mata karena sekarat. Ia menutup mata karena lautan jiwanya sedang meledak.

Di dalam alam bawah sadarnya, racun tingkat tinggi dari Ratu Laba-Laba merangsek masuk ke dalam lautan jiwa, bermaksud menghancurkan inti kehidupan Lin Yuan. Namun, begitu racun mematikan itu menyentuh permukaan lautan jiwa, sesosok raksasa purba bangkit dari kedalaman.

ROAAAAAAR!

Roh Kera Putih bermata emas itu membuka mulut rahangnya lebar-lebar dan mengaum dengan kemarahan absolut. Bagi Kera Putih, racun ini bukanlah ancaman; ini adalah sebuah tantangan. Ini adalah provokasi dari makhluk rendahan yang berani mencemari wilayah kekuasaannya.

Alih-alih hancur, meridian Lin Yuan yang selama tiga tahun tertutup rapat justru bereaksi aneh. Kera Putih itu menyedot seluruh racun mematikan tersebut, menelannya bulat-bulat, lalu menggunakan hawa panas dari racun itu sebagai bahan bakar untuk membuka paksa titik-titik meridian Lin Yuan yang tersumbat.

WUSHHH!

Di dunia nyata, Ah Xiu terlempar mundur satu langkah saat sebuah gelombang udara panas mendadak meledak dari tubuh Lin Yuan.

"Apa yang terjadi?!" Teriak Lu Chen dari kejauhan, matanya membelalak tak percaya.

Urat-urat hitam di leher Lin Yuan tidak menghancurkan tubuhnya, melainkan perlahan berubah warna menjadi merah membara, lalu memudar menjadi pendaran perak yang menyilaukan. Darah hitam yang menetes dari luka di lengannya mulai menguap menjadi kabut putih tebal.

Lin Yuan perlahan membuka matanya. Tidak ada lagi bola mata hitam pekat. Yang ada hanyalah kilatan cahaya emas perak yang memancarkan aura dominasi mutlak, membuat udara di dalam kubah jaring itu terasa berat dan mencekik.

"Sakit sekali..." Gumam Lin Yuan dengan suara serak yang anehnya bergaung, seolah ada dua pita suara yang berbicara bersamaan—suaranya, dan suara sang Kera Purba.

Lin Yuan menancapkan tangan kanannya ke tanah es, lalu berdiri perlahan. Luka menganga di lengan kirinya berhenti berdarah seketika, tertutup oleh lapisan energi *qi* putih yang sangat padat. Sisa-sisa pakaian di bagian atas tubuhnya hancur menjadi debu, memperlihatkan otot-ototnya yang kini memancarkan cahaya perak tipis dari balik kulitnya.

Racun Ratu Laba-Laba tidak membunuhnya; racun itu justru menjadi katalis yang menembus batas kultivasi fisiknya.

Ratu Laba-Laba Bayangan mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, monster tingkat tinggi itu merasakan naluri purba yang disebut ketakutan. Insting binatangnya menjerit, memperingatkan bahwa pemuda di depannya ini baru saja berubah menjadi pemangsa puncak.

"Kau mau dagingku?" Desis Lin Yuan seraya menatap Ratu Laba-Laba dengan senyum menyeringai yang dipenuhi niat membunuh murni. "Ambil sendiri!"

BOOM!

Lin Yuan melesat ke depan. Kecepatannya kali ini jauh melebihi batas manusia normal. Tanah es di bawah pijakannya meledak, menciptakan kawah kecil. Dalam sekejap mata, Lin Yuan sudah berada tepat di bawah perut Ratu Laba-Laba.

Monster raksasa itu menjerit panik, mencoba menusukkan kedua sabit depannya untuk membelah tubuh Lin Yuan.

"Lambat!" Bentak Lin Yuan menggema.

Lin Yuan merendahkan bahunya, menghindari tebasan sabit baja itu dengan keakuratan milimeter, lalu menghentakkan kepalan tangan kanannya langsung ke karapas dada Ratu Laba-Laba.

Aura Kera Putih meledak, menyelimuti tinju Lin Yuan hingga menyerupai cakar kera raksasa yang bercahaya perak.

KRAK! BOOM!

Tinju itu menghantam cangkang pelindung Ratu Laba-Laba dengan kekuatan yang seakan mampu meruntuhkan gunung. Cangkang keras yang tidak bisa ditembus oleh panah perak Ah Xiu itu retak, lalu melesak ke dalam.

Gelombang kejut dari pukulan itu menembus punggung sang monster, menghancurkan organ dalamnya hingga Ratu Laba-Laba memuntahkan cairan hijau bercampur darah kental dari rahangnya. Tubuh raksasa seberat sebuah kereta kuda itu terangkat dari tanah, terlempar mundur belasan meter sebelum menghantam dan menghancurkan dua batang pohon mati di belakangnya.

Keheningan seketika menyelimuti Hutan Bayangan Kematian.

Sisa puluhan Laba-Laba Malam yang tadi mengepung Unit 9 mendadak menghentikan serangan mereka. Saat mereka melihat ratu mereka terkapar tak berdaya dengan dada yang hancur berantakan, naluri bertahan hidup mengalahkan rasa lapar. Dalam hitungan detik, suara gesekan kaki berhamburan menjauh, melarikan diri ke dalam kegelapan terdalam hutan dan meninggalkan kubah jaring yang mulai mencair.

Lin Yuan berdiri di tengah kawah kecil bekas pijakannya. Tangan kanannya masih mengepal di udara, menguapkan sisa-sisa energi perak yang panas.

Ia bernapas berat. Cahaya emas di matanya perlahan meredup kembali menjadi hitam legam. Rasa sakit yang mematikan kini digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa, namun aliran *qi* di dalam meridiannya mengalir deras bagai sungai besar yang baru saja menjebol bendungannya.

Di belakangnya, Ah Xiu, Lu Chen, dan Shi Tou berdiri mematung. Senjata mereka terkulai lemas di samping tubuh. Mulut mereka sedikit terbuka, sama sekali tidak mampu mencerna pemandangan absurd yang baru saja mereka saksikan.

Seorang tahanan buangan tanpa tingkatan meridian yang jelas... baru saja meremukkan monster kelas tiga tingkat puncak dengan satu pukulan tangan kosong.

Lin Yuan perlahan memutar tubuhnya, menatap rekan-rekannya yang masih diliputi syok. Ia mengusap sisa darah dari sudut bibirnya, lalu menatap Ah Xiu yang masih terduduk di tanah beku.

"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Lin Yuan pelan, nada suaranya kembali membumi dan tenang, seolah ia baru saja membersihkan ranting kering yang menghalangi jalan.

1
Nurita Saf
biasanya naga
Fery Oktavian: karena ini tidak sama dengan novel biasanya 🤣
total 1 replies
Cukstaw
🔥🤙🏻
Fery Oktavian
🔥
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!