Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 8
Matahari mulai beranjak turun, menyisakan semburat jingga yang menembus kaca besar aula yayasan. Latihan hari itu berakhir dengan sukses. Aulia membantu Cantika yang tampak kelelahan namun bahagia, menyeka keringat di pelipis putrinya dengan sapu tangan kecil.
"Cantika hebat sekali hari ini," bisik Aulia bangga.
"Aaacih.. Maaaa," jawab Cantika memeluk erat ibunya.
"Sekarang Cantika mandi kemudian istirahat ya. Besok pagi sekali kita harus sudah bersiap untuk pentas Cantika!" ujar Aulia lembut yang di angguki Cantika.
Gadis kecil itu berlari lebih dahulu ke dalam kamarnya. Sedangkan Aulia menghela napas panjang. Galang belum pulang, malam Minggu seperti biasa suaminya akan pulang lebih larut dari biasanya. Entahlah dia tak tahu dari mana, mungkin dari rumah orang tuanya atau nongkrong bersama dengan teman-temannya.
Di sisi lain, Galang sedang terjebak dalam kemewahan palsu yang ia ciptakan sendiri. Di sebuah restoran hotel bintang lima, dia duduk di depan Belinda yang sedang sibuk memilih menu makanan termahal. Setiap kali pelayan datang, Galang merasa jantungnya berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa cemas yang mencekik melihat angka-angka di buku menu.
"Sayang, minggu depan kita liburan ke luar kota ya? Aku sudah lihat penginapan yang bagus di media sosial," ujar Belinda tanpa memedulikan tatapan Galang yang mulai kosong.
"Bel, bisakah kita bicara soal... prioritas?" suara Galang tercekat.
Bayangan wajah Cantika yang berbinar saat latihan tadi siang mendadak muncul di pelupuk matanya. Belinda meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras. Wajahnya berubah masam.
"Prioritas? Kalau kamu tidak bisa memanjakanku, untuk apa aku bersamamu, Galang? Aku butuh pria yang bisa membanggakanku, bukan pria yang terus-terusan mengeluh soal uang."
Kalimat itu menampar Galang lebih telak daripada kemarahan ibunya tadi siang. Harga dirinya tersulut.
"Bukan begitu, maksudku..."
"Sudahlah," potong Belinda sambil meneguk minumannya.
"Besok kamu harus menemaniku ke butik untuk mengambil gaun pesananku. Itu sudah janji. Jangan sampai kamu membatalkannya hanya karena alasan anakmu yang 'bermasalah' itu lagi."
Kata-kata 'anak yang bermasalah' meluncur begitu saja dari bibir Belinda, seolah itu adalah hal yang sepele. Galang terdiam. Di dalam benaknya, dia membayangkan Cantika yang sedang berjuang keras mengartikulasikan kata-kata di depan cermin, dan di sini, di restoran ini, Belinda justru menganggap perjuangan itu sebagai aib. Bukan hanya Belinda melainkan dirinya dan juga keluarganya.
Malam semakin larut. Saat Galang mengantar Belinda pulang, suasana di dalam mobil terasa begitu dingin. Galang menatap jalanan yang basah oleh sisa hujan. Pikirannya terbelah. Di satu sisi, ada beban utang dan gaya hidup yang menggerogoti finansialnya, dan di sisi lain, ada sebuah panggung kecil di sebuah yayasan yang akan menjadi saksi perjuangan hidup putrinya esok hari.
Sementara itu, di rumah yang sunyi, Aulia masih terjaga. Dia sedang menyiapkan kostum tari untuk Cantika. Dia menjahit payet-payet kecil pada gaun sederhana itu dengan teliti, berharap esok hari akan menjadi hari yang indah bagi Cantika.
Suara deru mesin mobil yang mematikan diri di halaman rumah memecah keheningan malam yang sudah merayap ke angka dua belas. Galang memarkir kendaraannya dengan gerakan lambat, seolah setiap langkah kakinya menuju pintu utama adalah beban yang semakin berat. Ia mematikan lampu teras, berharap kegelapan bisa sedikit menyamarkan guratan lelah dan rasa bersalah yang terpahat di wajahnya.
Saat pintu terbuka, suasana rumah terasa hangat meski lampu ruang tamu hanya dinyalakan remang. Aulia masih di sana, duduk di lantai beralaskan karpet dengan jarum dan benang masih di tangannya. Di sampingnya, gaun tari Cantika yang baru saja selesai dihiasi payet berkilau tertimpa cahaya lampu.
Aulia hanya melirik dan tak berniat bertanya kepada suaminya. Galang terdiam beberapa saat setelah menutup pintu. Di depannya ada seorang istri cantik, baik dan selalu mengurus kebutuhannya dengan baik walau dia sedang dalam keadaan marah. Namun, dia bahkan baru saja pulang menghabiskan waktu dan uang gajinya bersama dengan wanita lain. Ada rasa bersalah dalam diri Galang. Tapi egonya tetap membuatnya tak mau di salahkan.
Galang mendekat, langkahnya terasa berat di atas ubin ruang tamu. Dia mengeluarkan sebuah amplop coklat dari tas kerjanya, lalu meletakkannya di samping gaun tari Cantika yang sedang dikerjakan Aulia.
"Itu uang bulanan," gumam Galang singkat.
Suaranya terdengar serak, mencoba terdengar tegas meski kerongkongannya terasa dicekik rasa bersalah.
Aulia menghentikan aktivitasnya. Dia melirik amplop itu, amplop yang terasa jauh lebih tipis dari bulan lalu, bahkan semakin tipis. Dia tidak segera membukanya. Baginya, angka di dalam amplop itu bukanlah sekadar uang, melainkan cerminan betapa jauh suaminya telah tersesat selama satu tahun terakhir ini.
Aulia tahu benar, biaya terapi wicara Cantika bulan depan saja akan memakan hampir seluruh isi amplop itu. Belum lagi untuk kebutuhan sehari-hari. Aulia menarik napas panjang, menahan getaran di tangannya agar tidak terlihat oleh Galang.
"Terima kasih, Mas," ucapnya lirih, tidak kurang dan tidak lebih.
Bahkan tidak menatap Galang sama sekali. Dia tidak bertanya ke mana sisa gajinya yang lain apalagi Galang selalu pulang larut, tidak pula menyindir tentang gaya hidup mewah yang baru saja Galang jalani. Dia sudah terlalu lelah untuk memicu pertengkaran, dan baginya, malam ini adalah milik Cantika.
Apalagi tadi siang dia juga mendapatkan pesan dari ibu mertuanya. Wanita itu menuduhnya macam-macam karena Galang tak mau membayar semua biaya rumah sakit keponakannya. Dan hanya membayarkan DP rumah sakit saja. Dan Aulia juga tak mau membahas hal itu dengan Galang. Apalagi dia sedang dalam mode silent treatment.
Galang terdiam, menunggu sebuah pertanyaan, sebuah tuntutan, atau setidaknya satu kalimat sindiran yang biasanya akan memancing pembelaan dirinya. Namun, Aulia justru kembali menunduk, melanjutkan menjahit payet terakhir di lengan gaun itu. Keheningan itu justru terasa lebih menghujam daripada teriakan kemarahan.
"Cantika sudah tidur?" tanya Galang akhirnya, berusaha mencairkan suasana dengan topik yang menurutnya netral.
"Sudah!" jawab Aulia singkat.
Galang mendekat, dan Aulia bisa dengan jelas mencium aroma parfum lain yang menempel di pakaian suaminya. Tangannya yang sedang memegang jarum bahkan tanpa sadar menu-suk jemarinya.