Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
Pagi hari, Grace menangis tanpa henti melihat kamar yang ia tempati selama ini dibongkar paksa oleh pamannya sendiri.
Gina dan Robert menenangkan putri mereka. Sementara Don berusaha menekan Char tetapi, Gorgio langsung menampar pemuda itu.
"Bekerjalah. Jangan jadi pengangguran dan menyusahkan keluarga terus!" bentak Gorgio.
Gina menjerit melihat kelakuan kasar kakaknya. Sementara Don menatap marah pada sang paman, ia memegangi pipinya yang memerah.
"Pulanglah kalian ke rumah kalian!" suruh Lotta tak bisa membela adik iparnya.
"Kak ... Tapi kita sudah lama tinggal bersama ... Aku tidak tahu bagaimana hidup tanpa kakak," rajuk Gina memohon.
"Maaf, tapi Kakakmu ada benarnya. Rumah kalian telah lama kosong. Sudah waktunya kalian tempati dibanding dibiarkan terus kosong dan rusak!" ujar Lotta menenangkan Gina.
Tania juga hanya menatap seluruh isi kamar yang biasa ia tempati dikosongkan begitu juga kamar kakak tertuanya, Don dan kedua orang tuanya. Gorgio benar-benar mengusir adiknya yang telah lama tinggal bersama.
"Aku sudah pesankan truk pengangkut barang dan mengantarkannya ke rumah kalian ...."
Robert menatap istrinya, Gina. Wanita itu hanya diam saja, walau akhirnya mereka pasrah meninggalkan rumah yang sudah belasan tahun mereka tinggali.
"Ayo Char, Ayah bantu kau mendekorasi lagi kamarmu ... "
"Ayah ...."
"Ayah tidak mau ada penolakan. Maaf, mestinya dari awal Ayah bersama kamu," potong Gorgio penuh penyesalan.
Akhirnya, kamar Char kembali dan sudah ia tempati. Ranjangnya bukan lagi dipan keras layak batu. Melainkan busa empuk, selimut tebal dan penghangat ruangan. Kamar pink yang diubah warna biru, warna kesukaan Char.
"Char ... Ayah boleh masuk," Gorgio membuka pintu dan langsung masuk walau belum diijinkan.
"Ini ...," ia menyerahkan kartu debit unlimited.
"Ayah ...," geleng Char tak percaya.
"Ini uangmu yang Ayah simpan selama ini. Kau bisa membelikan apapun kebutuhanmu yang dulu diambil paksa Grace ...."
"Kenapa ... Yah?" tanya Char lirih. Gorgio mematung.
"Kenapa sekarang?" tanyanya lagi lalu ia menatap ayahnya.
"Bagaimana jika utang itu tidak ada ... Apa ini juga pasti aku dapatkan?" lanjutnya dengan air mata merembes di pipi.
"Atau seumur hidup aku tinggal di loteng dan melihat kalian semua merundung ku?"
"Nak ... Maaf ... Hiks ... Hiks!' Gorgio bersimpuh di hadapan putrinya.
Tujuh belas tahun diabaikan, tentu membuat Char tak percaya jika semua ini nyata.
Keheningan di kamar bernuansa biru itu terasa begitu menyayat. Isakan tangis Gorgio yang bersimpuh di marmer dingin beradu dengan deru napas Charoen yang menahan amarah dan luka belasan tahun.
"Bangun, Yah," ujar Charoen dingin. Suaranya tidak melengking, namun sarat akan ketegasan yang membuat Gorgio perlahan mendongak dengan mata memerah.
Charoen tidak menyentuh kartu unlimited di atas meja. Manik jernihnya menatap lurus sang ayah tanpa keraguan.
"Penyesalan yang baru lahir saat ada utang seratus juta dolar dan saham perusahaan di depan mata... itu bukan kasih sayang, Yah. Itu kalkulasi bisnis," bisik Charoen, mengusap air matanya sendiri dengan kasar. "Simpan uang itu. Aku tidak butuh kemewahan yang dibeli dari rasa bersalah."
Gorgio tertegun, bibirnya bergetar tanpa mampu menyanggah satu kata pun. Kecerdasan dan ketajaman otak Charoen membuat seluruh alibinya runtuh.
"Lalu kau mau apa, Char? Apa kau mau beberkan semua penderitaanmu pada Tuan Romanov?" tanyanya menyindir.
"Apa dia akan berbela sungkawa dan mengangkatmu dari keterpurukan dan hidup bahagia selamanya?" Char menatap ayahnya dengan mulut menganga.
"Setidaknya jika pun kau terusir dari istana pria itu. .. kau bisa kembali ke sini dan kamarmu tetap ada ...."
"Aku tak akan terusir dari sana, Ayah. Akan kupastikan semua impianmu jadi nyata!"
"Charoen Torrer! Jangan menantang seorang Romanov! Kau tidak tahu dia!"
"Jika kau memang mencintaiku. Aku tak akan pernah kau jadikan jaminan ... Ayah!"
"Kau akan mengunakan apapun untuk mengatasi utang seratus juta dolar itu ... Hiks ... bukan menjual putrimu ... huuuu ... uuuu!!" tangis Charoen pecah.
Gorgio memeluk putrinya erat, Char berusaha berontak untuk melepaskan pelukan penuh kepura-puraan itu. Tetapi, akhirnya Char membiarkannya, ia butuh kehangatan ayahnya walau itu hanya bentuk formalitas menurutnya.
"Maaf ... maafkan Ayah mengorbankanmu. Tapi demi tiga ratus pekerja di perusahaan. Ayah tak punya pilihan selain merelakanmu ...," ujar Gorgio penuh penyesalan.
"Pihak Bank takut memberi tunjangan, semua rekan mendadak hilang ketika perusahaan butuh topangan. Ayah ... Ayah kehilangan pegangan untuk mempertahankan perusahaan kakekmu, Nak," jelasnya lagi.
Char akhirnya bisa melepaskan diri dari pelukan ayahnya. Lotta memanggil suaminya karena ada pihak dari Romanov datang ke rumahnya.
"Ah ... Madam Rovelet!' sapa Gorgio pada kepala maid yang datang dengan wajah datar.
Perempuan kurus yang memakai seragam khusus datang atas perintah atasannya, Alexander. Ia membawa banyak barang untuk Char.
"Ini semua untuk Nona Torrer digunakan besok!" ujarnya datar.
"A-apa?" Gorgio menatap wanita kurus berkacamata tanpa kedip.
"Besok, Tuan muda Romanov akan memperkenalkan Nona pada Tuan Besar Romanov. Jadi Tuan Muda ingin penampilan Nona tidak mengecewakan seperti kemarin!"
Perkataan Madam Rovelet yang dingin bagai tebasan pedang seketika membungkam Gorgio dan Lotta. Kalimat "penampilan tidak mengecewakan seperti kemarin" berputar tajam di udara, secara tersirat menyindir gaun kebesaran dan insiden tisu di sela-sela kemben Charoen saat jamuan makan malam.
Gorgio hanya bisa menelan saliva, tak berani mendebat utusan langsung sang pimpinan mafia.
"B-baik, Madam. Terima kasih atas perhatian Tuan Muda."
Madam Rovelet tidak membalas basa-basi itu. Manik di balik kacamatanya bergeser, menatap Charoen yang baru keluar dari kamar dengan mata yang sedikit sembap namun dengan sikap tubuh yang kembali tegak dan tenang.
"Nona Torrer, besok fashion dan make up stylish akan datang pukul satu siang. Harap anda bersiap dan sudah wangi!" ujar Rovelet dingin dan datar.
Wanita itu lalu berdiri anggun, Lotta ingin mengantarkannya tapi langsung dihentikan.
"Tak perlu sungkan, Nyonya. Saya tahu di mana pintu keluar!" ucap Rovelet lagi-lagi dingin dan datar.
Lotta menelan salivanya begitu juga Gorgio. Seluruh perkataan perempuan suruhan Alexander itu adalah sindiran sekaligus peringatan tegas dari sang mafia.
Pintu tertutup pelan dan sosok tinggi kurus itu menghilang dari pintu. Gorgio bernapas lega, keputusannya mengusir adik serta keluarganya sangat tepat. Andai Grace masih ada di sana. Entah apa yang ia lakukan ketika melihat semua barang mewah yang bertumpuk di meja.
Lotta membuka salah satu kotak berbungkus beludru biru yang berlogo sebuah branded perhiasan ternama di kota Seradam, begitu juga berbagai gaun dan sepatu bermerek yang harganya selangit.
"Indah sekali!" pujinya menatap kilau jamrud langka di kotak itu.
"Kau pasti sangat cantik besok, Nak!" ujarnya yakin.
Char menatap semua benda di atas meja tanpa minat. Lima belas tahun tinggal di loteng dan hampir semua gaun direbut oleh Grace. Char sampai lupa bagaimana rasanya memiliki kembali semua kemewahan itu.
"Bajunya banyak sekali? Apa aku pakai semua itu besok?' tanyanya bodoh melihat empat gaun yang semua berwarna hitam.
"Char!" tegur Gorgio.
"Warnanya semua hitam. Fix ... Dia bukan membawaku ke kakeknya ... tapi ke pemakaman!" sambung Char menatap malas gaun-gaun berwarna gelap itu.
Bersambung.
Wah ... Apa yang terjadi besok ya?
next?
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung