Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pintu kamar itu hampir tidak bersuara ketika Pak Wijaya mendorongnya.
Monitor di sisi ranjang berbunyi teratur, satu denyut, jeda, satu denyut lagi. Dari selang infus, cairan bening menetes tanpa tergesa. Bau antiseptik bercampur samar dengan wangi bunga melati yang sudah layu di vas dekat jendela.
Di atas ranjang, tubuh kecil itu terbaring di bawah selimut putih. Wajahnya pucat seperti kertas, kelopak matanya terpejam, dan di sisi kepalanya, sebuah pita biru masih mengikat rambut yang tidak pernah dilepas sejak hari ia dibawa masuk.
"Lastri..."
Suara Pak Wijaya keluar lebih kecil dari yang ia kira. Ia melangkah mendekat. Telapak tangannya yang kasar mengusap dahi putrinya, hati-hati, takut menyakiti.
"Lastri, Ayah di sini. Ayah sudah pulang."
Tidak ada yang menjawab. Hanya monitor itu, dan satu denyut, dan jeda.
Dulu, setiap kali ia pulang larut dari kantor, Lastri selalu menunggu di tangga dengan selimut di bahu, berpura-pura baru bangun. Ia akan menguap berlebihan, lalu bertanya apakah Ayah sudah makan. Ia tahu putrinya berbohong, tetapi ia selalu menjawab belum, supaya gadis itu punya alasan menariknya ke dapur.
Sekarang tangga itu sepi. Pita biru di rambut putrinya adalah satu-satunya warna di ruangan ini yang masih hidup.
Ia memperhatikan dada anaknya naik. Sangat pelan, begitu pelan sampai ia harus menahan napas sendiri supaya dapat melihatnya.
Seorang dokter berjas putih berdiri di kaki ranjang, kedua tangannya terkatup. Rambutnya sudah banyak beruban, dan matanya merah. Dua perawat di belakangnya menunduk.
"Dokter Hendra." Pak Wijaya tidak menoleh. "Bilang padaku."
Dokter itu menarik napas. "Pak, kami sudah melakukan semuanya. Dua kali konsultasi dengan tim dari luar negeri, tiga protokol berbeda, dan seluruh obat yang tersedia. Kondisi Nona Lastri menurun dua belas jam terakhir. Organ-organnya mulai berhenti satu per satu."
"Dokter terbaik di dua benua." Pak Wijaya mengulang kalimat itu pelan, seperti orang menimbang batu. "Kalian semua. Dan kalian masih bilang tidak bisa?"
"Maaf, Pak." Suara dokter itu patah. "Penyakit ini belum pernah ada obatnya. Kami benar-benar tidak mampu."
Pak Wijaya memejamkan mata. Rahangnya menegang, dan jemarinya mengepal pada sprei sampai buku-bukunya memutih.
"Berapa lama?"
Dokter itu terdiam. Perawat di belakangnya menyeka pipi dengan punggung tangan.
"Dokter."
"Paling lama..." Dokter Hendra menelan sesuatu di tenggorokannya. "Satu hari lagi, Pak. Mungkin kurang."
Tidak ada yang bersuara setelah itu. Detik jam dinding terdengar nyaring di ruangan yang terlalu hening. Di luar jendela, seekor burung hinggap di pagar balkon, mematuk sesuatu, lalu terbang lagi tanpa peduli pada siapa pun.
Pak Wijaya tidak menjawab dokter itu. Ia juga tidak menyalahkan siapa pun, sesuatu yang justru membuat dokter itu menunduk lebih dalam.
Pak Wijaya menunduk, dan bahunya yang tadi tegak di panggung mal kini turun pelan, seperti kain yang kehilangan penyangga. Ia menggenggam tangan kecil putrinya dengan kedua telapaknya sendiri.
Di belakangnya, pintu kamar bergeser pelan.
Ia tidak menoleh. Ia mengira itu perawat.
"Kalau begitu." Suara itu datang dari ambang pintu. Tenang, datar, dan terlalu muda untuk ruangan sesedih ini. "Biar aku yang menyembuhkannya."
Pak Wijaya mengangkat kepala.
Pemuda dari mall itu berdiri di sana, kemejanya masih sama seperti tadi, dengan sarung tangan hitam di tangan kanannya. Lengan bajunya tergulung sampai siku, dan di kulit lengannya, entah kenapa, kilatan perak tipis berkedip sekali sebelum padam.
Dokter Hendra lebih dulu bergerak. Ia melangkah ke depan dengan telapak tangan terangkat.
"Anak muda, ini ruang perawatan intensif. Anda tidak boleh masuk, dan Anda tidak mengerti apa yang Anda katakan." Suaranya turun, getir. "Delapan dokter spesialis sudah menyerah di ruangan ini."
"Delapan." Elang melangkah masuk, tidak terburu-buru, melewati sang dokter seperti melewati kursi kosong. "Dan kalian semua menyerah pada angka yang sama."
Seorang perawat di belakang dokter itu berbisik, hampir tidak terdengar, "Pak, jangan sampai Bapak..."
"Biarkan dia."
Pak Wijaya sendiri terkejut mendengar suaranya. Ia tidak berdiri, tidak melepas genggaman tangan putrinya. Matanya terkunci pada pemuda itu, mencari sesuatu di wajahnya, kebohongan, kesombongan, atau apa pun yang bisa ia jadikan alasan untuk mengusirnya.
Ia hanya menemukan ketenangan yang aneh. Ketenangan orang yang sudah tahu hasilnya sebelum perlombaan dimulai.
"Kau yakin?" tanyanya akhirnya. Suaranya pecah di tengah.
Elang berhenti di sisi ranjang. Pandangannya turun ke wajah gadis itu, lama, tanpa ekspresi.
"Aku tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak bisa kupenuhi, Pak."