Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Sabtu, 29 Oktober 2016.
Arthur Sterling terbangun pukul tujuh pagi. Udara musim gugur di Queens terasa dingin, sementara cahaya matahari yang masuk melalui jendela apartemennya masih redup. Ia duduk di tepi tempat tidur selama beberapa saat, mencoba menyusun rencana untuk hari itu.
Dalam kehidupan pertamanya, akhir pekan sering kali menjadi waktu yang ia habiskan untuk memikirkan investasi, membaca laporan perusahaan, atau menghadiri pertemuan bisnis. Bahkan setelah menjadi salah satu orang terkaya di dunia, ia jarang benar-benar beristirahat.
Sekarang, kehidupannya jauh lebih sederhana.
Tidak ada sekretaris yang menyiapkan jadwal. Tidak ada sopir yang menunggu di depan apartemen. Tidak ada kantor mewah dengan pemandangan Manhattan.
Hanya sebuah meja belajar, laptop tua, dan beberapa lembar catatan yang harus ia selesaikan sendiri.
Anehnya, Arthur tidak membenci keadaan itu.
Ia justru merasa sedang mendapatkan sesuatu yang telah lama hilang: kesempatan untuk membangun kehidupannya secara sadar, satu langkah demi satu langkah.
Setelah mencuci muka, ia menyalakan laptop dan membuka catatan keuangan pribadinya. Ia memeriksa kembali uang hasil penjualan sebagian besar opsi Aurelia Therapeutics, lalu membandingkannya dengan kebutuhan hidup untuk beberapa minggu ke depan.
Keuntungan yang diperolehnya memang memberikan ruang gerak lebih luas. Namun, ia tidak ingin menganggap uang itu sebagai modal tanpa batas.
Sebagian harus tetap menjadi dana darurat. Sebagian lainnya disiapkan untuk biaya kuliah, sewa apartemen, makanan, dan transportasi. Hanya sejumlah kecil yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha bersama Daniel Brooks.
Ia kemudian membuka dokumen baru.
Rencana Tiga Puluh Hari: Usaha Pemasaran Lokal.
Arthur menuliskan beberapa sasaran yang dapat diukur.
Mendapatkan pelanggan baru tanpa mengeluarkan biaya promosi berlebihan. Menyelesaikan proyek Peter Lawson dengan hasil yang dapat dievaluasi. Menghitung waktu kerja dan biaya setiap proyek. Memastikan setiap pelanggan memahami apa yang mereka bayar.
Ia juga menambahkan satu aturan penting: tidak mengambil pekerjaan baru jika mereka belum mampu memenuhi kewajiban kepada pelanggan lama.
Bagi Arthur, aturan itu mungkin terdengar terlalu sederhana.
Namun, ia pernah melihat perusahaan bernilai miliaran dolar hancur karena manajemennya menjanjikan lebih banyak daripada yang mampu mereka kerjakan.
Pertumbuhan yang cepat tidak selalu berarti pertumbuhan yang sehat.
Setelah selesai mencatat, Arthur mengirim pesan kepada Daniel.
Pukul sepuluh di perpustakaan? Kita perlu menyusun evaluasi proyek Lawson dan daftar calon pelanggan berikutnya.
Balasan Daniel datang kurang dari satu menit.
Baik. Tapi aku menuntut bayaran tambahan untuk setiap menit yang kuhabiskan memperbaiki ukuran huruf.
Arthur tersenyum.
Ajukan proposal tertulis. Akan kupertimbangkan setelah rapat dewan direksi.
Daniel membalas dengan gambar wajah kesal.
Arthur meletakkan ponselnya, lalu bersiap meninggalkan apartemen.
Hari itu mungkin tidak akan menghasilkan keuntungan besar. Namun, ia tidak lagi mengukur keberhasilan hanya dari jumlah uang yang masuk ke rekeningnya.
Ia ingin membangun sesuatu yang dapat bertahan.
Dan semuanya harus dimulai dari pekerjaan kecil yang benar-benar diselesaikan.
Pukul sepuluh lewat beberapa menit, Arthur tiba di perpustakaan kampus.
Daniel sudah duduk di meja dekat jendela. Laptopnya terbuka, dengan beberapa halaman situs web dan tabel angka memenuhi layar.
"Kau terlambat tiga menit," kata Daniel tanpa mengangkat kepala.
Arthur menarik kursi.
"Kalau begitu, potong gajiku."
"Sayangnya, kau belum pernah membayarku."
"Itu berarti kau tidak punya gaji yang bisa dipotong."
Daniel akhirnya mengangkat kepala.
"Kau semakin pandai mencari alasan."
"Pengalaman adalah guru terbaik."
"Kalau begitu, pengalamanmu seharusnya mengajarimu untuk datang tepat waktu."
Arthur tertawa kecil, kemudian mengeluarkan buku catatannya.
"Baiklah. Mari kita mulai sebelum kau menemukan kesalahan lain."
Daniel menunjukkan halaman promosi Lawson Market yang telah diperbaikinya. Tampilan di ponsel sekarang lebih rapi, tombol telepon berfungsi, dan alamat toko dapat dibuka melalui aplikasi peta.
"Bagian teknis hampir selesai," jelas Daniel. "Aku hanya perlu memeriksa beberapa tautan dan memastikan halaman bisa dibuka dengan baik di perangkat yang berbeda."
Arthur memeriksa halaman itu.
"Bagus. Sekarang, bagaimana dengan data penjualan?"
Daniel membuka tabel yang mereka gunakan.
Mereka telah mengumpulkan beberapa catatan transaksi, tetapi jumlahnya masih terbatas. Peter juga baru mulai mencatat barang yang tidak tersedia ketika pelanggan menanyakannya.
Arthur memeriksa angka-angka tersebut dengan saksama.
"Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa masalahnya berasal dari berkurangnya jumlah pelanggan," katanya. "Kita perlu membandingkan beberapa hari dengan pola yang berbeda. Hari kerja dan akhir pekan mungkin tidak menunjukkan perilaku pembelian yang sama."
Daniel mengangguk.
"Aku juga berpikir kita perlu mencatat nilai transaksi, bukan hanya jumlahnya."
"Tepat. Sepuluh transaksi senilai lima dolar berbeda dengan sepuluh transaksi senilai dua puluh dolar."
"Dan kalau jumlah transaksi turun, tetapi nilai rata-ratanya naik?"
"Kita harus mencari tahu mengapa. Bisa jadi pelanggan yang datang membeli lebih banyak barang, tetapi jumlah orang yang berbelanja berkurang. Kita tidak boleh langsung menyebutnya sebagai keberhasilan atau kegagalan tanpa memahami konteksnya."
Daniel mencatat beberapa poin.
"Kalau kita bisa membuat format ini cukup sederhana, kita bisa menggunakannya untuk toko lain."
"Itulah tujuannya. Kita tidak menjual tabel. Kita membantu pemilik usaha memahami apa yang sebenarnya terjadi pada bisnis mereka."
Daniel berhenti mengetik.
"Kau menyadari bahwa kalimat itu terdengar seperti slogan perusahaan, bukan?"
"Kalau kau menyukainya, silakan masukkan ke proposal."
"Aku akan menagih biaya konsultasi untuk setiap slogan."
"Baik. Tapi aku akan memotongnya dari gaji yang belum pernah kubayarkan."
Daniel menggeleng sambil tertawa.
Setelah menyelesaikan evaluasi awal, mereka beralih ke daftar calon pelanggan. Daniel telah mengumpulkan beberapa nama usaha di sekitar Queens, termasuk kedai kopi, toko perlengkapan rumah, dan sebuah tempat pencucian pakaian.
Mereka tidak akan menghubungi semuanya dengan penawaran yang sama.
Untuk kedai kopi, mereka dapat memeriksa apakah informasi jam operasional dan menu mudah ditemukan. Untuk toko perlengkapan rumah, mereka dapat melihat apakah calon pelanggan dapat mengetahui produk yang tersedia sebelum datang. Sementara itu, usaha pencucian pakaian mungkin lebih membutuhkan informasi harga, lokasi, dan waktu penyelesaian layanan.
Arthur meminta Daniel menambahkan kolom untuk masalah yang mereka temukan sebelum menghubungi pemilik usaha.
"Kalau kita menelepon seseorang hanya untuk mengatakan bahwa kita bisa membuat situs web, kita akan terdengar seperti puluhan orang lainnya," katanya. "Tetapi kalau kita bisa menunjukkan masalah yang benar-benar mereka hadapi, percakapannya akan berbeda."
Daniel menatap daftar tersebut.
"Jadi, sebelum menjual jasa, kita harus melakukan pekerjaan rumah."
"Ya. Kita tidak perlu membuat analisis panjang untuk setiap toko. Cukup cari satu atau dua hal yang mungkin berguna bagi pemiliknya."
Daniel mengangguk pelan.
"Baiklah. Kita mulai dengan lima usaha, bukan dua puluh."
Arthur tersenyum.
Mereka akhirnya menyepakati lima calon pelanggan untuk dihubungi pada awal pekan berikutnya.
Jumlahnya kecil, tetapi realistis.
Arthur tidak ingin Daniel kelelahan mengejar puluhan prospek sementara proyek yang sudah mereka terima terbengkalai. Ia juga tidak ingin bisnis mereka berkembang hanya karena mereka berdua bersedia bekerja tanpa batas waktu.
Jika mereka ingin membangun perusahaan yang besar, mereka harus belajar menciptakan sistem kerja yang tidak bergantung pada pengorbanan pribadi tanpa henti.
Itulah salah satu pelajaran yang paling mahal dari kehidupan pertamanya.
Menjelang siang, Arthur menerima pesan dari Clara Vance.
Apakah kau sedang di kampus? Aku ingin menanyakan sesuatu tentang tabel keuangan untuk restoran Samuel.
Arthur membalas bahwa ia masih berada di perpustakaan.
Beberapa menit kemudian, Clara muncul dengan membawa buku catatan dan sebuah map tipis. Ia mengenakan mantel berwarna krem, sementara rambut gelapnya dibiarkan tergerai hingga menyentuh bahu.
"Maaf mengganggu," katanya setelah duduk.
"Kau tidak mengganggu. Apa yang ingin kau diskusikan?"
Clara membuka mapnya dan mengeluarkan beberapa lembar tabel.
"Aku mencoba menyederhanakan catatan yang digunakan Samuel. Awalnya, aku membuat kolom untuk penjualan, biaya bahan makanan, tenaga kerja, dan pengeluaran operasional. Tapi setelah melihat cara dia mencatat transaksi, aku berpikir mungkin kita perlu membedakan pengeluaran yang terjadi setiap hari dari pengeluaran yang hanya muncul sesekali."
Arthur memeriksa tabel tersebut.
Clara telah membuat dua bagian utama. Bagian pertama mencatat transaksi harian dan biaya yang berkaitan langsung dengan operasional restoran. Bagian kedua digunakan untuk pengeluaran berkala, seperti perbaikan peralatan atau pembelian perlengkapan yang tidak dilakukan setiap hari.
"Ini lebih jelas," kata Arthur.
"Aku hanya takut tabelnya menjadi terlalu rumit. Samuel tidak punya banyak waktu untuk mengisi formulir."
"Itu kekhawatiran yang tepat. Catatan keuangan hanya berguna kalau orang benar-benar menggunakannya."
Clara menunjuk salah satu kolom.
"Aku juga menambahkan tempat untuk mencatat makanan yang terbuang. Tetapi aku belum yakin bagaimana cara menghitungnya dengan benar."
"Kita bisa mulai dengan jumlah dan perkiraan biaya bahan yang terbuang. Tidak harus sempurna sejak hari pertama. Yang penting, Samuel menggunakan cara pencatatan yang konsisten."
Clara mengangguk.
"Aku ingin tahu apakah ada pola tertentu. Misalnya, apakah makanan tertentu terlalu sering disiapkan, atau apakah jumlah pelanggan berubah pada hari-hari tertentu."
"Kalau datanya cukup, kita bisa membandingkannya. Tetapi kita harus berhati-hati agar tidak menyimpulkan terlalu banyak dari satu atau dua hari."
Clara tersenyum tipis.
"Kau benar-benar suka mengingatkan orang agar tidak menarik kesimpulan terlalu cepat."
"Aku pernah melihat betapa mahalnya keputusan yang dibuat berdasarkan asumsi."
Arthur hampir melanjutkan perkataannya, tetapi ia menghentikan diri.
Ia tidak bisa menceritakan kehidupan pertamanya. Ia tidak bisa menjelaskan bahwa ia telah menyaksikan perusahaan-perusahaan besar kehilangan miliaran dolar karena para pemimpinnya mengabaikan tanda-tanda kecil yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka.
Bagi Clara, ia hanyalah seorang mahasiswa yang tertarik pada bisnis.
Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
"Aku senang kau membantu Samuel," lanjut Arthur. "Tapi aku ingin memastikan satu hal. Kalau nanti pekerjaannya menjadi rutin dan memerlukan banyak waktu, kita harus membicarakan kompensasi yang sesuai."
Clara mengangkat alis.
"Kau sudah membicarakan itu sebelumnya."
"Karena aku serius."
"Aku belum melakukannya demi uang. Aku ingin belajar memahami bagaimana bisnis kecil bekerja."
"Aku mengerti. Aku hanya tidak ingin niat baikmu dianggap sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan tanpa batas."
Clara terdiam sebentar.
Kemudian ia menutup mapnya dengan hati-hati.
"Terima kasih. Aku menghargai itu."
Arthur mengangguk.
Ia tidak menawarkan posisi yang belum ada, tidak menjanjikan keuntungan yang belum mereka hasilkan, dan tidak berusaha membuat Clara merasa berutang kepadanya.
Ia hanya memastikan bahwa kontribusi Clara dihargai sebagaimana mestinya.
Bagi Arthur, hal itu sederhana.
Namun, dalam kehidupan pertamanya, ia pernah melihat terlalu banyak orang menggunakan kata keluarga, persahabatan, atau kesempatan belajar sebagai alasan untuk meminta orang lain bekerja tanpa imbalan yang layak.
Ia tidak ingin membangun perusahaan seperti itu.
"Apa kau punya rencana untuk hari ini?" tanya Clara.
"Aku akan menyelesaikan beberapa catatan bisnis, lalu mungkin kembali ke apartemen."
Clara mengangguk.
"Aku juga harus mengerjakan tugas kuliah."
Mereka berbicara sebentar mengenai tugas tersebut. Setelah itu, Clara berpamitan untuk pergi ke kelas tambahan.
Arthur memperhatikannya berjalan menjauh.
Ia masih tidak tahu siapa pria yang menemuinya dua malam sebelumnya, atau keputusan keluarga apa yang sedang menekan Clara. Ia juga tidak mengetahui seberapa besar pengaruh keluarganya terhadap kehidupan perempuan itu.
Arthur ingin mengetahui jawabannya.
Namun, ia mengingat janjinya sendiri: ia akan membantu jika Clara membutuhkan bantuan, bukan memaksakan diri masuk ke dalam masalah yang belum ingin dibagikannya.
Kali ini, ia tidak akan membiarkan rasa takut kehilangan seseorang membuatnya merasa berhak mengatur kehidupan orang tersebut.
Sore hari, ketika Arthur kembali ke apartemennya, sebuah surel baru menunggu di kotak masuk.
Pengirimnya adalah Richard Coleman.
Pesan tersebut berisi konfirmasi bahwa pertemuan mereka tetap dijadwalkan pada Senin pukul 16.30. Richard juga meminta Arthur membawa perhitungan sederhana mengenai nilai Aurelia Therapeutics setelah pengumuman hasil uji klinis.
Arthur membaca permintaan itu dengan saksama.
Ia tahu hasil uji klinis yang positif tidak serta-merta menjadikan sebuah perusahaan bernilai tinggi. Perusahaan masih harus melewati proses regulasi, menghadapi kebutuhan pendanaan, membangun kapasitas produksi, dan meyakinkan pasar bahwa produknya memiliki peluang komersial yang masuk akal.
Ia mulai menyusun kerangka analisis.
Pertama, ia akan membedakan nilai perusahaan sebelum dan sesudah pengumuman.
Kedua, ia akan meninjau kemungkinan kebutuhan modal tambahan.
Ketiga, ia akan membuat beberapa skenario berdasarkan keberhasilan regulasi, waktu peluncuran, dan kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan.
Terakhir, ia akan membandingkan kemungkinan nilai perusahaan dengan harga saham yang berlaku, sambil mengakui bahwa asumsi yang digunakan masih memiliki banyak ketidakpastian.
Arthur tidak ingin datang ke kantor Richard hanya untuk mengatakan bahwa ia telah memperkirakan hasil uji klinis dengan benar.
Ia ingin menunjukkan bahwa ia mampu berpikir setelah informasi baru muncul, bukan sekadar mengandalkan pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain.
Saat sedang bekerja, Daniel mengirimkan pesan.
Peter membalas. Dia akan mulai mencatat barang yang tidak tersedia dan jumlah pelanggan pada jam-jam tertentu. Katanya, kalau kita bisa membantu menemukan masalahnya, dia bersedia mempertimbangkan proyek lanjutan untuk toko pertamanya.
Arthur membalas dengan cepat.
Bagus. Jangan menjanjikan apa pun dulu. Kita selesaikan proyek yang sekarang, evaluasi hasilnya, lalu baru bicara tentang langkah berikutnya.
Daniel membalas dengan simbol jempol.
Arthur meletakkan ponselnya dan kembali menatap dokumen di layar.
Di masa depan, ia pernah memimpin perusahaan dengan ribuan pegawai, mengelola investasi lintas negara, dan membuat keputusan yang menggerakkan pasar keuangan.
Namun, semua itu tidak dimulai dari gedung pencakar langit atau transaksi bernilai miliaran dolar.
Semuanya dimulai dari kemampuan memahami masalah, membuat keputusan yang masuk akal, dan mempertahankan kepercayaan orang-orang yang bersedia bekerja bersamanya.
Arthur menatap angka-angka di layar.
Ia tahu bahwa jalan di depannya masih panjang. Ia belum memiliki perusahaan yang benar-benar mapan. Ia belum menemukan cara untuk menghadapi tekanan yang mengelilingi Clara. Ia bahkan belum tahu apakah Richard akan menganggap analisis terbarunya cukup meyakinkan.
Tetapi ia tidak perlu menyelesaikan semuanya sekaligus.
Untuk saat ini, ia hanya perlu memastikan bahwa setiap keputusan membawanya selangkah lebih dekat pada kehidupan yang ingin ia bangun.
Dan bahwa kali ini, ketika kesempatan datang, ia tidak akan membiarkan keraguan atau ketakutan mengambil keputusan untuknya.