Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liu Yue Dan Song Ying
Liu Yue adalah seorang model terkenal. Wajahnya yang sangat memikat menghiasi halaman utama majalah-majalah mode paling bergengsi, mulai dari sudut kota hingga ke pusat haute couture di Paris.
Namun, di balik balutan gaun rancangan desainer ternama, Liu Yue menyimpan identitas yang jauh lebih kuat: ia adalah putri mahkota dari keluarga Liu, penguasa pilar pertama yang memegang kendali penuh atas roda ekonomi dan politik di Negara C.
Meskipun memiliki dunia di dalam genggaman nya, Liu Yue menolak mengunakan kekuasaan keluarganya. Ia adalah gadis mandiri yang memikat lewat tawa renyahnya dan kepribadian nya yang hangat, membuat siapa saja mudah jatuh hati.
Kontras dengan kehangatan Liu Yue, Song Ying berdiri sebagai figur yang bertolak belakang di panggung publik. Sebagai CEO muda yang memimpin Song Corporation—kekuatan pilar kedua di Negara C—Song Ying dikenal sebagai sosok yang sedingin es dan mustahil untuk disentuh.
Langkah kakinya di koridor bisnis selalu memancarkan aura intimidasi. Namun, topeng beku itu luruh sepenuhnya saat ia pulang ke rumah; bagi keluarganya, Song Ying adalah sosok yang sangat hangat.
Dua wanita yang sanggup mengguncang Negara C ini adalah sahabat baik Jia Li sejak masa SMA, ketiganya adalah segitiga emas yang tak terpisahkan, ketiga primadona yang memikat hati siapa saja. Meskipun memiliki impian yang berbeda, mereka tidak pernah terpisahkan.
Kembali ke masa kini...
Jia Li menghela napas panjang, menatap bergantian ke arah dua kepala yang kini bersandar manja di bahunya, seolah-olah waktu tidak pernah berjalan dan mereka masih remaja belasan tahun.
"Sampai kapan kalian ingin memelukku seperti ini?" tanya Jia Li dengan suara datar, sedikit kesal dengan tingkah keduanya.
"Sampai kami puas!" jawab Liu Yue dan Song Ying serempak, begitu kompak hingga terdengar seperti satu suara yang keluar dari satu hati.
Jia Li membuka mulut untuk memprotes, namun Liu Yue sudah lebih dulu mendongak dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Riasan wajahnya yang mahal kini terancam rusak oleh genangan air mata yang siap tumpah.
"Kau tahu, aku hampir terkena serangan jantung saat mendengar kabar kau jatuh koma," kata Liu Yue sambil terisak kecil, tangannya meremas kain baju Jia Li. "Aku ingin langsung terbang dan menemanimu di rumah sakit... tapi saat itu kontrak sialan membuatku tertahan di Paris untuk pemotretan. Aku merasa menjadi sahabat paling tidak berguna di dunia."
Song Ying mengangguk tegas, membenarkan ucapan Liu Yue. Sorot matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan kini melembut, menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Aku juga sedang terjebak di Italia untuk negosiasi proyek tanggul laut. Jika tidak, aku pasti sudah memindahkan seluruh dokter terbaik di Eropa untuk merawat mu."
"Hari ini kami terbang kembali ke negara C untuk melihat kondisimu. Tadi setelah dari bandara, kami sempat mampir ke rumah sakit dengan terburu-buru... tapi..." Song Ying menggantung kalimatnya.
Secara bersamaan, seolah digerakkan oleh komando yang sama, kedua wanita itu melepaskan pelukan mereka dari lengan Jia Li.
Suasana hangat di ruangan itu mendadak turun beberapa derajat. Mereka sedikit menjauhkan wajah mereka, lalu menatap Jia Li dengan pandangan yang sangat tajam, mengunci pergerakan wanita itu.
"Kami justru mendengar kabar bahwa kau sudah mengundurkan diri," kata Song Ying, nadanya menuntut penjelasan.
"Apakah itu benar?" lanjut Liu Yue.
Mereka memajukan wajah secara bersamaan, mengikis jarak hingga Jia Li bisa melihat pantulan dirinya di manik mata kedua wanita itu. Tatapan itu tajam, mengintimidasi, namun di dasarnya mengalir kehangatan dan rasa peduli yang luar biasa besar.
Jia Li terdiam selama beberapa detik. Ia menatap kedua pasang mata yang menuntut jawaban itu sebelum akhirnya menghembuskan napas pasrah. "Benar. Aku sudah mengundurkan diri dan keluar dari rumah sakit." katanya santai tanpa beban.
Jawaban jujur itu ternyata memicu reaksi yang sama sekali tidak diduga oleh Jia Li.
"KYAAAAAAA!"
Teriakan histeris dan melengking dari Liu Yue dan Song Ying pecah berbarengan, bergema hebat tepat di depan wajahnya.
Gelombang suara yang begitu tinggi itu membuat Jia Li spontan memejamkan mata erat-erat dan langsung menutupi kedua telinganya dengan telapak tangannya.
Belum sempat ia memulihkan pendengarannya, Liu Yue sudah bergerak cepat menangkup wajah Jia Li dengan kedua tangan, memaksanya menatap lurus ke dalam matanya yang penuh tuntutan.
Dengan nada mendesak, Liu Yue bertanya, "Kau masih waras, kan?"
Belum sempat Jia Li membuka mulut untuk membalas, tangan Song Ying sudah lebih dulu menyambar wajahnya dengan gerakan tidak kalah heboh, memutar arah pandang gadis itu agar berganti menatapnya.
"Apa kau sudah sadar sekarang? Apa yang sebenarnya merasuki pikiranmu, huh?!" tuntut Song Ying bertubi-tubi.
Karena sudah tidak tahan lagi dikerumuni secara agresif, Jia Li akhirnya menyentakkan tubuhnya dan berdiri dari sofa.
Ia melangkah mundur satu langkah, menatap kedua wanita itu dengan pandangan ngeri sekaligus tak percaya. 'Mereka jauh lebih berisik dan heboh daripada yang pernah ibu ceritakan dulu,' gumam Jia Li pasrah dalam hati.
Melihat Jia Li menjauh, tangan Song Ying kembali terulur maju, menarik pergelangan tangan Jia Li dengan kuat agar gadis itu mau duduk kembali di tengah-tengah mereka berdua.
Dengan tatapan menyelidik, Song Ying menginterogasi, "Jelaskan padaku sekarang juga, apa yang sebenarnya terjadi selama kami sedang tidak ada di sini?"
Liu Yue langsung mengangguk penuh semangat menyetujui ucapan Song Ying. "Benar! Apa keluarga sialan itu menyakitimu lagi? Atau... jangan-jangan sebenarnya kau dipecat secara sepihak?!" tebak Liu Yue dengan sepasang mata yang membesar sempurna akibat syok.
Belum sempat Jia Li mengeluarkan sepatah kata pun untuk meluruskan situasi, suara Liu Yue sudah melengking tinggi lagi, memotong kesempatan Jia Li untuk bersuara.
"Sudah kuduga! Aku bilang juga apa dari awal! Direktur rumah sakit tempatmu bekerja itu pasti sudah diam-diam bekerja sama dengan keluarga Jia untuk terus memanfaatkanmu habis-habisan. Tapi kau selalu saja keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan nasihat kami selama ini!" serunya penuh emosi yang meledak-ledak.
Song Ying kembali mengangguk perlahan, namun kali ini raut wajahnya sedikit melunak karena lega. "Tapi, aku juga sangat senang kau akhirnya sudah keluar dari tempat itu. Setidaknya, sekarang kau bisa bernapas lega dan hidup dengan bebas," katanya dengan tulus.
Jia Li tertegun, bergantian menatap kedua wanita di hadapannya itu dengan perasaan campur aduk. Meskipun mereka berdua sangat berisik, impulsif, dan membuat kepalanya pusing, namun apa yang dikatakan ibunya dulu memang benar adanya. Mereka adalah sosok yang sangat baik dan tulus.
Di balik kehebohan mereka, Jia Li bisa melihat dengan jelas gurat kekhawatiran dan kasih sayang yang besar di mata mereka.
"Lalu... rencana apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Song Ying penasaran, yang langsung diangguki dengan cepat oleh Liu Yue.
"Aku..." Jia Li mendadak terdiam, menggantung kalimatnya di udara. Ia menimbang-nimbang dengan ragu di dalam hati, apakah ia akan memberitahukannya atau tidak.
Sampai akhirnya, ia menjawab dengan suara pelan namun tegas, "Aku akan kembali ke rumah keluarga Jia."
Mendengar itu, kedua gadis di sebelahnya awalnya hanya menganggukkan kepala secara refleks, mencoba mencerna untaian kalimat tersebut.
Namun, hanya dalam hitungan detik berikutnya, kesadaran itu menghantam mereka. Mata Liu Yue dan Song Ying membelalak lebar, membesar hingga hampir melompat keluar dari rongganya, sebelum akhirnya berteriak kompak dengan suara yang menggelegar menghancurkan seisi ruangan:
"APA?!"