Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari menggunakan mobil, akhirnya Kirana tiba di depan sebuah mansion megah yang berdiri di atas tanah luas dengan taman yang tertata sempurna.
Bangunan bergaya klasik modern itu tampak begitu mewah, sangat berbeda dengan suasana desa yang selama dua puluh tahun menjadi tempat tinggal Kirana.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang utama. Kirana turun sambil menarik koper sederhananya, lalu berdiri sejenak menatap mansion di hadapannya dengan wajah datar.
Tidak ada rasa gugup di matanya. Ia hanya menghela napas pelan sebelum berjalan menuju pintu utama.
Di sana, dua orang pengawal berdiri menjaga pintu masuk. Begitu melihat Kirana mendekat dengan pakaian sederhana, rambut yang tidak ditata berlebihan, serta koper yang tampak biasa saja, kedua pengawal itu langsung saling pandang.
Salah seorang dari mereka terkekeh. "Oh, jadi ini gadis bisu dari desa itu?"
Temannya ikut tersenyum mengejek. "Kukira seperti apa. Ternyata biasa saja."
Kirana berhenti sejenak. Ia menoleh kepada kedua pria tersebut, tetapi tidak mengatakan apa pun. Setelah itu, dia kembali berjalan menuju pintu utama seolah-olah tidak mendengar perkataan mereka.
Salah seorang pengawal segera melangkah ke depan dan menghalangi jalannya.
"Hei! Kau mau ke mana?" ujarnya sambil mendorong pundak Kirana.
Kirana menunjuk ke arah mansion, kemudian menunjuk dirinya sendiri.
Pengawal itu mendengus. "Kau tidak boleh masuk lewat sini."
Kirana mengernyitkan dahi.
"Ini pintu utama, khusus untuk keluarga dan tamu terhormat," lanjutnya dengan nada merendahkan. "Kalau kau mau masuk, gunakan pintu belakang. Itu jalur untuk para pelayan."
Kirana menatap pria itu tanpa ekspresi.
Pengawal kedua tertawa kecil. "Kenapa diam? Mau marah?"
Ia melipat kedua tangannya di dada.
"Kalau tahu diri, jangan berlagak seperti nona muda keluarga Lin. Jangan lupa, kau hanya gadis bisu yang dibuang ke desa."
Kirana tetap diam. Tatapannya perlahan berubah dingin.
Pengawal pertama justru semakin berani karena mengira Kirana tidak mampu melakukan apa-apa.
"Apa? Tersinggung?"
Pria maju satu langkah. "Kau pikir hanya karena keluarga Lin memanggilmu pulang, statusmu langsung berubah?"
Kirana menatapnya selama beberapa detik. Kemudian dia menghela napas. Benar-benar berisik.
Pengawal itu baru saja hendak membuka mulut lagi ketika Kirana tiba-tiba bergerak.
Dalam satu gerakan cepat, tubuhnya berputar.
Bugh!
Bugh!
Tendangan memutar Kirana menghantam kedua pengawal tersebut sekaligus.
Tubuh mereka terhempas ke arah pintu utama, membuat pintu besar itu roboh dengan suara keras.
Brakk!
Suara dentuman tersebut menggema hingga ke dalam mansion.
Di ruang makan, keluarga Lin yang sedang menikmati makan malam langsung terkejut.
"Apa yang terjadi?" seru Nyonya Meylan sambil berdiri dari kursinya.
"Ada suara apa di luar?" tanya Tuan Lin.
Arthur, putra sulung keluarga Lin, langsung berdiri. "Aku akan melihatnya."
Keluarga Lin bergegas keluar. Namun, langkah mereka langsung terhenti ketika melihat pemandangan di depan mata.
Pintu utama mansion telah hancur. Dua pengawal tergeletak di dekatnya. Dan tepat di ambang pintu berdiri seorang gadis cantik dengan pakaian sederhana. Wajahnya datar dengan tatapan tenang tenang.
Tuan Lin mengernyitkan dahi. "Apa yang terjadi di sini?"
Kedua pengawal yang masih berusaha bangkit langsung menunjuk ke arah Kirana.
"Dia!"
"Semua ini gara-gara dia, Tuan!"
Nyonya Meylan menatap Kirana dengan wajah tidak percaya. "Kau yang melakukan ini?"
Kirana tidak menjawab.
Arthur melangkah maju dengan wajah penuh kemarahan.
"Siapa kau?" bentaknya. "Beraninya membuat keributan di rumah keluarga Lin!"
Kirana menatap pria itu. Ia kemudian mengambil sebuah kertas kecil yang selalu disimpan di dalam wadah tipis seperti kalung.
Kirana mengeluarkan pena, lalu menulis sesuatu dengan tenang. Setelah selesai, dia mengangkat kertas itu agar semua orang bisa membacanya.
"Saya Kirana."
Semua orang terdiam.
Tatapan Tuan Lin berubah. "Kirana?"
Kirana mengangguk. Kemudian dia membalik kertas tersebut.
"Saya tidak melakukan itu."
Arthur mengerutkan kening. "Maksudmu?"
Kirana kembali menulis. "Mana mungkin saya sekuat itu sampai bisa memukul mereka dan membuat pintu sebesar ini roboh?"
Beberapa orang terdiam. Arthur menoleh kepada kedua pengawal. Kedua pria itu langsung pucat, padahal awalnya begitu sangat sombong.
Kirana kembali menulis sesuatu. "Saya hanya ingin masuk. Mereka yang menghalangi saya."
Tatapan Tuan Lin langsung beralih kepada kedua pengawal. "Kalian menghalanginya?"
Kedua pengawal saling pandang. "Kami ... kami hanya menjalankan aturan, Tuan."
"Aturan apa?" tanya Tuan Lin dengan suara lebih berat.
Salah seorang pengawal menelan ludah. "Pintu utama hanya untuk keluarga dan tamu terhormat."
Tuan Lin terdiam. Mereka tidak tahu, jika yang memerintahkan pengawal itu adalah Shania, untuk memberikan pelajaran pada Kirana agar tahu diri.
Tuan Lin menatap putrinya cukup lama. Selama dua puluh tahun, Kirana tidak pernah tinggal bersama mereka.
Sekarang gadis itu berdiri di depan mansion keluarga Lin dengan sikap yang sama sekali tidak terlihat seperti seorang anak yang baru saja kembali kepada keluarganya.
Bahkan ketika dihina, dia hanya membalas dengan tatapan dingin.
Sebelum siapa pun sempat berbicara, sebuah suara lembut terdengar dari belakang.
"Kak Kirana?"
Seorang gadis mengenakan gaun merah muda berjalan mendekat. Wajahnya tampak terkejut, kemudian berubah menjadi senyum bahagia.
"Kakak ternyata benar-benar pulang!"
Gadis itu adalah Shania.
Tanpa menunggu jawaban, Shania langsung menghampiri Kirana dan menggandeng tangannya.
"Aku sudah sangat merindukan Kakak."
Kirana menunduk melihat tangan Shania yang menggandengnya dengan erat bahkan mencengkram kuat tangan Kirana, Kirana kemudian mengangkat wajah dan menatap Shania dengan ekspresi datar.
Shania tersenyum polos. "Kenapa Kakak diam?"
Kirana tetap diam.
"Oh ...." Shania tiba-tiba menutup mulutnya, seolah baru teringat sesuatu.
"Maaf, Kak. Aku lupa." gadisi itu terkekeh kecil. "Kakak kan bisu."
Penekanan pada kata bisu terdengar begitu jelas. Beberapa anggota keluarga Lin hanya terdiam.
Kirana menatap wajah Shania. Gadis itu masih tersenyum.
Senyum yang terlihat begitu manis di depan keluarga, tetapi bagi Kirana justru terasa penuh kepura-puraan.
Kirana menyentak tangan Shania dari lengannya.
Di dalam hati, Kirana mendengus. Cih. Dasar gadis munafik.
Melihat tangannya disentak oleh Kirana, Shania langsung memasang wajah terkejut. Matanya berkaca-kaca, lalu dia menatap Kirana seolah-olah baru saja menerima perlakuan yang sangat menyakitkan.
"Kenapa, Kak?" suara Shania bergetar. "Apa Kakak tidak suka aku?"
Kirana hanya menatapnya tanpa ekspresi.
Shania menggigit bibir bawahnya, kemudian menundukkan kepala. "Maaf kalau kedatanganku membuat Kakak tidak nyaman. Aku hanya ... aku cuma anak angkat di keluarga ini."
Nada suaranya terdengar semakin sedih.
"Kakak tidak perlu memperlakukanku seperti itu," lanjutnya pelan. "Aku hanya ingin menyambut Kakak pulang."
Nyonya Meylan yang melihat kejadian itu langsung menatap Kirana dengan wajah tidak senang. "Kirana, kau menyakiti adikmu."
"Benar, baru saja pulang sudah berbuat onar. Dasar gadis liar," ujar Sean dengan wajah sinis.
Kirana menoleh perlahan, ia kemudian memutar bola matanya, seolah malas menanggapi tuduhan tersebut.
Kirana langsung mengangkat tangannya. Semua orang langsung terdiam.
Di pergelangan tangan Kirana terlihat bekas cengkeraman yang cukup jelas, bahkan terdapat sedikit darah akibat kuku Shania yang menekan kulitnya.
Senyum di wajah Shania seketika menghilang. Wajahnya berubah pucat, ia sama sekali tidak menyangka Kirana akan langsung menunjukkan tangannya di depan semua orang.
Shania mengira Kirana akan diam, menahan sakit.
Ia bahkan berpikir gadis bisu yang baru kembali dari desa itu akan takut membuat masalah di rumah keluarga Lin. Namun, ternyata Kirana tidak takut sedikit pun.
Tatapan Kirana berpindah kepada Shania.
Shania buru-buru mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak sengaja!"
Ia kemudian melangkah mendekat dengan wajah panik. "Tadi aku terlalu bersemangat karena Kakak akhirnya pulang. Aku benar-benar tidak bermaksud menyakiti Kakak."
Kirana hanya mengangkat alis, ia kemudian mengambil kertas kecil yang tergantung di lehernya dan menulis sesuatu.
Setelah selesai, Kirana mengangkat kertas itu. "Tidak sengaja?"
Shania langsung terdiam.
Kirana menulis lagi. "Kalau tidak sengaja, kenapa kukumu sampai melukai kulitku?"
Tidak ada seorang pun yang langsung menjawab.
Nyonya Meylan menatap tangan Kirana, kemudian menatap Shania.
Shania segera memasang wajah memelas. "Mama, aku benar-benar tidak sengaja."
"Mungkin memang begitu," jawab Nyonya Meylan pelan.
Kirana kembali mendengus, ia tidak tertarik memperpanjang masalah. Baginya, satu hal sudah cukup jelas.
Shania bukan gadis polos seperti yang ingin ditampilkannya.
Sebelum suasana semakin memanas, Leo akhirnya angkat bicara. "Sudah."
Pria itu melirik Kirana sekilas. "Kirana, pergi ke kamar dulu."
Kirana menatap Leo. Tidak ada sedikit pun kehangatan di mata pria itu. Bahkan setelah melihat tangannya terluka, dia tidak bertanya apakah putrinya baik-baik saja.
Leo hanya ingin masalah tersebut segera berakhir. "Pelayan akan mengantarmu," lanjutnya.
Kirana terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk, sebelum pergi, Kirana berhenti sebentar, ia menoleh kepada Shania.
Tatapannya begitu tenang hingga membuat Shania tanpa sadar menegang. Kirana kemudian menunjuk tangannya yang terluka. Setelah itu, ia menunjuk mata Shania.
Seolah mengatakan bahwa dia akan mengingat kejadian ini.
Shania menelan ludah.
Kirana akhirnya berjalan pergi mengikuti seorang pelayan menuju kamar yang telah disiapkan untuknya.
Begitu punggung Kirana menghilang dari pandangan, Shania mengembuskan napas lega.
Shania mengepalkan tangannya. Sialan kau Kirana! Aku akan membuatmu menderita!
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭