Alya terbangun di tubuh Sabrina—seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri. Dalam novel yang pernah ia baca, Sabrina akan mati tragis setelah melahirkan.
Kini hidup sebagai Sabrina, Alya berusaha mengubah takdirnya dan menjauh dari Leon, suami dingin yang tak pernah mencintainya. Namun semakin ia mencoba pergi, semakin Leon mulai memperhatikannya.
Di balik kebencian, perlahan tumbuh rasa yang tak seharusnya ada. Tapi apakah cinta bisa lahir dari hubungan yang sejak awal dipenuhi luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Pertemuan yang Hampir Terjadi
Malam di Roma turun dengan hujan kecil yang membuat udara semakin dingin.
Di apartemen kecil mereka, Alya sedang membereskan bunga pesanan sambil sesekali melihat ke arah sofa.
Liora tertidur sambil memeluk boneka kelincinya.
Namun beberapa menit kemudian, gadis kecil itu mulai gelisah.
“Mama…”
Suara lirih itu membuat Alya langsung menghampiri.
“Sayang?”
Begitu menyentuh dahi putrinya, wajah Alya langsung pucat.
Panas sekali.
“Ya Tuhan…”
Liora menggeliat kecil sambil meringis lemah.
“Mama… sakit…”
Alya langsung panik.
“Kak Kate!”
Kate yang sedang di dapur buru-buru berlari keluar. Begitu melihat kondisi Liora, wajahnya langsung berubah khawatir.
“Dia demam tinggi.”
Alya buru-buru mengambil jaket dan selimut kecil.
“Kita ke rumah sakit sekarang.”
---
Rumah sakit malam itu cukup ramai. Suara langkah dokter dan perawat memenuhi lorong panjang bernuansa putih.
Alya menggendong Liora erat sambil berjalan cepat menuju meja pendaftaran.
“Anak saya demam tinggi sejak tadi.”
Perawat langsung memeriksa suhu tubuh Liora.
“39,8.”
Alya langsung makin panik.
“Dokter anak masih ada?”
“Ada, tapi harus observasi dulu karena panasnya cukup tinggi.”
Liora mulai menangis kecil karena tidak nyaman.
“Mama…”
“Iya sayang, Mama di sini.”
Hati Alya terasa nyeri melihat pipi putrinya yang memerah karena demam.
Sudah tiga tahun.
Dan Liora nyaris tidak pernah sakit separah ini.
“Kalau panasnya tidak turun malam ini, kemungkinan harus rawat inap,” jelas perawat.
Alya langsung mengangguk cepat.
“Tidak apa-apa.”
Apa pun asal Liora baik-baik saja.
Di sisi lain lorong rumah sakit…
Leon baru saja keluar dari ruang konsultasi dokter dengan wajah lelah.
Sudah hampir tiga tahun ia mengalami insomnia berat.
Tidurnya berantakan.
Dan akhir-akhir ini semakin buruk.
Dokter bahkan mulai menyarankan terapi karena Leon hampir tidak pernah benar-benar tidur nyenyak lagi.
“Tuan Leon, obatnya bisa diambil di farmasi lantai satu,” ujar asistennya.
Leon mengangguk pelan sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
Namun langkah pria itu tiba-tiba terhenti.
Di depan meja pendaftaran…
Seorang wanita berdiri membelakanginya sambil menggendong anak kecil.
Rambut panjang hitam itu sedikit berantakan.
Tubuhnya lebih kurus dibanding dulu.
Namun sosok itu terlalu familiar.
Deg.
Jantung Leon langsung berdetak keras.
Tangannya perlahan mengepal.
Tidak mungkin…
“Sabrina…”
Suara itu hampir keluar dari bibirnya.
Namun sebelum Leon sempat melangkah lebih dekat, seorang perawat lewat mendorong brankar hingga menghalangi pandangannya sesaat.
Dan ketika lorong kembali terlihat—
Wanita itu sudah tidak ada.
Leon langsung mengangkat kepala cepat.
Tatapannya mencari ke segala arah.
Kosong.
Hanya ada orang-orang asing berlalu lalang.
“Apa aku mulai gila…” gumamnya pelan.
Namun dadanya masih berdetak sangat keras.
Pria itu yakin.
Sangat yakin.
Barusan ia melihat Sabrina.
---
Sementara itu di ruang rawat inap anak, Alya duduk di samping ranjang kecil sambil menggenggam tangan Liora.
Gadis kecil itu sudah tertidur setelah diberi obat penurun panas.
Namun Alya tetap tidak bisa tenang.
Tatapannya tidak lepas dari wajah putrinya.
Kate masuk membawa dua gelas kopi hangat.
“Minum dulu.”
Alya menerima gelas itu pelan.
“Thanks.”
Suasana kamar mendadak sunyi.
Kate tampak gelisah sejak tadi.
Bahkan beberapa kali ia ingin bicara lalu mengurungkan niatnya.
Alya akhirnya menyadari.
“Ada apa?”
Kate menggigit bibir pelan.
“Sebenarnya… ada yang mau aku bilang.”
“Hm?”
Kate menarik napas panjang sebelum berkata pelan—
“Kemarin… aku ketemu seseorang di taman.”
Alya sedikit mengernyit.
“Siapa?”
Kate menatap Alya ragu beberapa detik.
Lalu akhirnya berkata—
“Aku ketemu Leon.”
Deg.
Tubuh Alya langsung menegang.
Suara mesin monitor di kamar terasa semakin nyaring.
“Apa?”
Kate buru-buru menjelaskan, “Dia nggak tahu apa-apa! Tapi dia sempat ngobrol sama Liora…”
Wajah Alya langsung pucat.
Tangannya refleks menggenggam selimut Liora erat.
“Dia lihat Liora?”
Kate mengangguk pelan.
“Maaf… aku nggak sempat mencegah.”
Jantung Alya berdetak kacau.
Tidak.
Belum.
Ia belum siap bertemu Leon lagi.
Dan yang paling ia takutkan—
Bagaimana kalau Leon tahu Liora adalah putrinya?