Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 - PADI EMAS YANG MENGHITAM
Gerobak padi berderit pelan meninggalkan Paviliun Mawar jam 5 pagi. Bukan gerobak emas kerajaan. Gerobak kayu biasa milik petani Desa Lereng Gunung, rodanya berderit setiap kena batu. Di atasnya ada karung arang hitam yang aku buat di Bab 12 untuk menjernihkan sumur, ada panci jamu kunyit asam buatan Mbok, ada tikar pandan, dan kotak kayu cendana berisi mahkota emas murni yang beratnya setengah kilo.
Aku duduk di gerobak dengan kaki telanjang, bando mawar miring buatan Segara masih miring ke telinga kanan. Segara duduk di sampingku dengan baju petani putih sederhana, celana dilipat sampai lutut, kaki telanjang juga. Bukan seperti Kaisar Segara El-Bhumi yang dingin dan kejam di Balairung dengan jubah naga hitam. Hari ini dia seperti petani lumpur.
"Kahiyang, jalannya jauh, 6 jam, lumpurnya dalam. Kau yakin mau ikut? Di sana tidak ada teh manis tanpa garam, hanya air sumur yang keruh," kata Segara sambil memegang kendali kerbau.
Aku mengangguk. "Gusti, padi itu yang kasih kita mahkota emas murni. Kalau padi itu menghitam, kita harus lihat sendiri. Aku kan mahasiswi Sejarah, skripsi ku tentang padi emas Kerajaan Langit."
Perjalanan pelan. Semakin ke utara, aroma padi yang biasanya harum seperti madu, berubah jadi aroma hangus seperti arang basah. Aroma yang sama seperti aroma serbuk teratai hitam yang dulu ada di botol kosong yang dipegang tubuh asli Kahiyang saat mencoba bunuh diri di Taman Mawar Putih.
Jam 11 siang, kami sampai di Desa Perbatasan Utara. Sawah luas menghampar, tapi tidak berkilau emas. Semua hitam. Petani duduk di pematang dengan wajah pucat, tidak ada anak kecil bermain.
Kepala Desa melihat gerobak kami dan langsung berlutut di lumpur, "Gusti Kaisar, Gusti Permaisuri Sejati, ampun Gusti! Padi emas kami menghitam sejak 7 hari lalu, Gusti! Bulirnya tidak berisi beras emas, tapi cairan hitam seperti tinta, Gusti! Yang makan demam dan muntah, Gusti!"
Aku turun dari gerobak, kaki telanjang langsung masuk lumpur sawah yang dingin dan hitam. Lumpur dingin masuk sela jari. Sama dinginnya dengan lantai Paviliun Mawar saat aku duduk di tikar Mbok di Bab 25.
Aku berjongkok di petak pertama sawah perbatasan. Mengambil satu rumpun padi emas yang menghitam. Batangnya hitam, daunnya hitam dengan bintik-bintik hitam, bulirnya hitam, kalau diperas keluar cairan hitam kental berbau seperti besi berkarat dan arang basah.
Segara ikut berjongkok di sampingku, kaki telanjangnya juga masuk lumpur hitam. Kaisar yang dingin dan kejam itu tidak jijik dengan lumpur. Dia malah mengambil satu bulir hitam itu dan mengendus.
"Bau serbuk teratai hitam?" tanya Segara pelan.
Aku mengangguk. "Mirip, Gusti. Tapi ini bukan serbuk. Ini jamur. Jamur hitam. Di abad 21, di skripsi teman Pertanian UGM, ini namanya Ustilaginoidea virens, false smut, penyakit padi yang muncul kalau sawah terlalu lembab dan ada racun yang menumpuk di tanah."
"Racun apa?" Kepala Desa bertanya dengan suara gemetar.
Aku menatap cairan hitam di tanganku, "Bisa dari pupuk yang salah, bisa dari air yang tercemar, bisa dari... dari serbuk yang sengaja ditabur. Tapi aku harus cek tanahnya dulu."
Aku mengambil arang hitam dari karung di gerobak. Arang hitam yang dulu aku buat dengan cara membakar kayu bambu di dalam tanah tanpa oksigen, cara yang aku ingat dari museum Sejarah tentang cara petani kuno menjernihkan air. Di abad 21, arang ini namanya biochar, untuk menyerap racun di tanah.
Aku tabur arang hitam itu ke petak pertama sawah yang menghitam itu, satu genggam, dua genggam. Arang hitam bercampur lumpur hitam, jadi semakin hitam.
"Gusti Permaisuri, kenapa ditabur arang hitam, Gusti? Sawahnya sudah hitam, Gusti, kok ditambah hitam lagi, Gusti?" tanya petani dengan bingung.
Segara yang dari tadi diam, ikut mengambil segenggam arang hitam dan menabur ke petak sawah itu bersama ku, dengan tangan besarnya yang kasar. "Karena calon permaisuri sial ku bilang begitu. Dulu dia selamatkan sumur Desa Lereng Gunung dengan arang hitam ini juga. Sekarang dia selamatkan sawah dengan arang yang sama."
Petani itu terdiam. Mereka ingat Bab 12, saat aku, calon permaisuri sial yang dibenci, menyelamatkan sumur mereka yang beracun dengan arang hitam.
Seharian itu, dari jam 11 siang sampai jam 4 sore, kami hanya mengerjakan satu petak sawah saja. Satu petak kecil ukuran 2x2 meter. Aku dan Segara dengan kaki telanjang di lumpur hitam, menabur arang hitam, mengaduk lumpur dengan tangan, membuang bulir-bulir hitam yang sudah busuk ke karung terpisah.
Tidak ada Sistem yang berbunyi keras hari ini. Hanya [DING!] kecil di jam 2 siang.
[MISI KECIL: BERSIHKAN 1 PETAK SAWAH PERBATASAN UTARA - HADIAH: INFORMASI TENTANG TANAH]
Aku tidak buru-buru. Karena target kita 100.000 kata dulu, bukan langsung tamat.
Jam 4 sore, petak pertama selesai. Tangan ku hitam, kaki ku hitam, baju ku hitam karena lumpur. Segara juga sama, baju putih petaninya sudah jadi hitam karena lumpur, rambutnya berantakan karena keringat, tapi telinganya tidak memerah karena kejam, melainkan karena matahari perbatasan yang panas.
"Kahiyang, besok petak kedua?" tanya Segara sambil mencuci tangan di air sumur yang keruh.
Aku mengangguk sambil mencuci kaki di lumpur, "Besok petak kedua, Gusti. Hari ini satu petak dulu. Pelan-pelan. Seperti dulu Gusti mengajariku baca aksara Kerajaan Langit, satu huruf satu hari."
Kepala Desa datang membawa teh sumur yang keruh, bukan teh manis tanpa garam, tapi teh pahit dari daun perbatasan.
"Gusti, terima kasih, Gusti. Satu petak sudah bersih, Gusti."
Aku menyeruput teh pahit itu. Pahit seperti jamu kunyit asam pertama yang aku buat di Bab 5 yang dibuang Segara karena asin.
Di gerobak, kotak mahkota emas murni masih ada, tidak aku pakai hari ini. Karena di sawah hitam ini, mahkota emas tidak berguna. Yang berguna adalah arang hitam dan tangan yang mau kotor di lumpur.
Malam itu kami tidak pulang ke Paviliun Mawar. Kami tidur di gubuk petani perbatasan, dengan tikar pandan yang tipis, dengan atap bocor, dengan suara jangkrik sawah hitam.
Segara tidur di tikar sebelah ku, masih dengan baju hitam karena lumpur, masih dengan kaki telanjang yang masih ada sisa lumpur hitam.
"Gusti Kaisar, tidak jijik tidur di gubuk bocor?" tanyaku pelan.
Segara menggeleng, "Di Balairung aku Kaisar dingin dan kejam dengan singgasana naga. Di sini aku hanya petani lumpur yang menemani calon permaisuri sial membersihkan satu petak sawah hitam. Dan aku lebih suka di sini."
Di luar gubuk, hamparan padi emas yang menghitam masih luas. Satu petak sudah bersih dari 100 petak yang menghitam. Masih 99 petak lagi.