NovelToon NovelToon
LANGIT Dan BUMI

LANGIT Dan BUMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.

Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.

Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Rasa muak dan amarah yang begitu besar bergolak di dalam dada Langit.

Namun, alih-alih menangis atau berteriak histeris seperti wanita yang patah hati pada umumnya, Langit justru terdiam.

Langit kembali ke kantornya. Ia mengunci diri di dalam ruang kerja pribadinya selama 24 jam penuh.

Di dalam ruangan yang sunyi itu, dengan papan tulis putih yang besar, Langit mulai menyusun strategi perlawanan balik yang sangat detail.

Ia memetakan kelemahan finansial Galang, melacak aliran dana, dan merancang ulang struktur Proyek Starlight dengan sebuah inovasi baru yang belum sempat dibocorkan.

Tepat 24 jam kemudian, pintu ruang kerja itu terbuka. Langit keluar dengan pakaian yang masih rapi, rambut yang disanggul tegas, tanpa ada sedikit pun jejak air mata di wajahnya.

Ia langsung menuju ke ruang rapat dewan komisaris yang sengaja ia kumpulkan kembali secara mendadak.

Di hadapan pamannya, Hendra, dan seluruh anggota komisaris yang sudah siap mendepaknya, Langit berdiri tegak di ujung meja.

"Saya tahu kalian semua di sini mengharapkan surat pengunduran diri saya," kata Langit dengan suara yang lantang dan penuh wibawa.

"Tetapi saya tidak akan mundur, kebocoran data Starlight memang sebuah musibah, tetapi saya sudah menemukan solusinya, saya meminta waktu tepat 30 hari dari sekarang untuk membalikkan keadaan."

Hendra tertawa meremehkan. "Membalikkan keadaan bagaimana, Langit? Investor sudah pergi, saham kita hancur, dalam 30 hari, perusahaan ini bisa dinyatakan pailit!"

"Saya akan membawa investor baru," jawab Langit tenang, menatap lurus ke mata pamannya.

Para komisaris saling berbisik, terkesan dengan ketegasan dan keyakinan Langit.

Namun, Hendra tidak mau kehilangan momentum untuk menyingkirkan keponakannya yang terlalu dominan ini.

"Baik," kata Hendra dengan senyum kelicikan yang kental.

"Dewan komisaris memberikanmu waktu 30 hari. Namun, keluarga besar Dewanta memiliki syarat mutlak lain jika kamu ingin tetap mempertahankan posisimu sebagai Direktur Utama di bawah nama keluarga."

Langit mengerutkan kening. "Syarat apa?"

"Kamu harus menikah dalam waktu dua minggu dari sekarang," ujar Hendra, menjatuhkan bom baru di tengah ruangan.

"Keluarga besar menilai bahwa seorang pemimpin wanita yang tidak memiliki pendamping hidup cenderung tidak stabil secara emosional, seperti yang dibuktikan dengan skandal pembatalan pernikahanmu dengan Galang yang mulai tercium media, pernikahan ini penting untuk menjaga citra stabilitas kepemimpinan keluarga Dewanta di mata publik. Jika dalam dua minggu kamu tidak bisa membawa seorang suami yang sah di hadapan hukum dan keluarga, posisimu sebagai Direktur Utama akan digeser secara permanen kepada orang yang sudah kami pilih."

Syarat itu benar-benar tidak masuk akal dan kejam, sebuah jebakan yang dirancang Hendra karena ia tahu Langit baru saja putus dengan Galang.

Mustahil bagi Langit untuk menemukan calon suami dalam waktu dua minggu.

Langit tidak mendebat. Ia hanya menatap Hendra dengan tatapan yang sangat dingin.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Langit berbalik dan melangkah keluar dari ruang rapat.

Langkah kakinya bergaung tegas di koridor lantai atas kantornya. Di dalam hatinya, tidak ada lagi ruang untuk rasa takut.

Tatapannya lurus ke depan, dipenuhi dengan tekad yang membara.

Ia siap menghancurkan Galang dan musuh lainya secara hukum dan finansial hingga mereka tidak memiliki apa-apa lagi tersisa di dunia ini.

Mengenai syarat pernikahan dari pamannya, ia akan memikirkan caranya nanti.

Sore harinya, tekanan yang menumpuk di pundak Langit terasa begitu menyesakkan.

Pikiran tentang pengkhianatan Galang, ancaman Hendra, dan masa depan perusahaannya membuat kepalanya serasa ingin pecah.

Langit CEO bertangan bes, ia memutuskan untuk keluar dari mobil mewahnya. Ia menyuruh sopirnya pulang dan memilih untuk berjalan kaki sendirian tanpa pengawalan.

Langit berjalan tanpa arah hingga tanpa sadar langkah kakinya membawanya jauh dari pusat kota yang berkilau, memasuki sebuah kawasan urban kelas bawah di pinggiran Jakarta.

Di sini, jalanan nya sempit, dipenuhi dengan aroma jelaga, dinding-dinding penuh coretan grafiti, dan riuh rendah suara masyarakat kelas pekerja.

Bagi langit, suasana ini asing namun anehnya memberikan rasa membumi yang selama ini tidak pernah ia rasakan di menara gadingnya.

Saat melewati sebuah gang yang agak sepi di dekat sebuah pasar loak, langkah Langit terhenti, Ia mendengar suara teriakan minta tolong seorang gadis muda dan tawa cekikikan yang kasar.

Langit mengintip ke dalam gang tersebut.

Tiga orang preman berbadan besar dengan pakaian lusuh sedang menyudutkan seorang gadis remaja yang tampak ketakutan, mencoba merampas tas kecil milik gadis itu.

Langit berniat mengambil ponselnya untuk menelepon polisi, namun sebelum jemarinya sempat menyentuh layar, sebuah bayangan tinggi melangkah masuk ke dalam gang dengan santai.

"Hei. Lepaskan dia," suara pria itu berat, dalam, dan terdengar sangat tenang namun penuh ancaman.

Langit menahan napas saat melihat pria yang baru saja datang tersebut.

Pria itu bertubuh tegap dan jangkung, lengan kaus hitamnya yang digulung memperlihatkan jalinan tato rumit yang menutupi hampir seluruh kulit lengannya hingga ke leher.

Wajahnya keras dengan rahang tegas dan bekas luka kecil di dekat alisnya. Penampilannya sangat menyeramkan, tipe pria yang akan dihindari oleh semua orang jika berpapasan di jalanan sepi.

Ketiga preman itu berbalik dan tertawa meremehkan. "Jangan ikut campur, Bung! Pergi sana sebelum kulit tatomu itu kami kuras dengan pisau!"

Pria bertato itu tidak membalas dengan kata-kata.

Dengan gerakan yang sangat cepat dan efisien, ia maju menghindari pukulan preman pertama, lalu melayangkan sebuah hantaman keras tepat di rahang pria itu hingga tersungkur ke tanah.

Preman kedua mencoba menyerang dari belakang dengan sebatang kayu, namun pria bertato itu dengan tangkas menangkap kayu tersebut, mematahkannya dengan lutut, dan menendang dada sang penyerang hingga terlempar menabrak tumpukan tong sampah.

Melihat dua temannya tumbang dalam hitungan detik, preman ketiga gemetar ketakutan.

Ia langsung berbalik dan lari tunggang langgang, meninggalkan teman-temannya yang mengerang kesakitan di atas tanah.

Pria bertato itu tidak mengejar. Ia mengatur napasnya sejenak, lalu membalikkan tubuhnya menghadap gadis remaja yang masih terduduk lemas di pojok dinding sambil menangis.

Langit bersiap melihat pria itu bertindak kasar atau meminta imbalan.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru membuat jantung langit berdesir aneh.

Pria dengan penampilan menyeramkan itu perlahan-lahan berlutut di depan sang gadis.

Tatapan matanya yang semula sekeras batu tiba-tiba melunak, memancarkan kehangatan yang sangat kontras dengan seluruh tatonya.

Ia mengambil tas milik gadis itu yang terjatuh, membersihkannya dari debu dengan teliti, lalu menyerahkannya kembali dengan gerakan yang sangat lembut.

"Kamu tidak apa-apa? Ada yang luka?" tanya pria itu dengan suara yang melembut, seolah takut suaranya sendiri akan mengejutkan gadis kecil itu.

Gadis itu menggeleng, menerima tasnya kembali. "T-terima kasih, Kak"

Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang mengubah seluruh aura intimidasi di wajahnya menjadi sesuatu yang sangat menenangkan.

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah yang tampak lusuh, lalu memberikannya kepada gadis itu.

"Ini untuk ongkos pulang naik angkutan umum. Langsung pulang ke rumah, ya. Jangan lewat gang sepi lagi."

Gadis itu mengangguk, menerima uang tersebut, dan segera berlari keluar dari gang setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi.

Pria bertato itu berdiri tegak kembali, menepuk-nepuk debu di celana jinnya yang robek di bagian lutut.

Saat ia berbalik untuk keluar dari gang, matanya tidak sengaja beradu pandang dengan Langit yang masih berdiri terpaku di sana.

Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti.

Langit menatap lurus ke dalam sepasang mata pria itu, mata yang tidak mencerminkan kekerasan dunia malam, melainkan sebuah ketulusan dan kekuatan sisa dari seseorang yang menolak untuk dihancurkan oleh kerasnya hidup.

Langit melihat sebuah sisi kemanusiaan yang luar biasa indah di balik penampilan luar pria itu yang begitu sangar dan menyeramkan.

"Bumi!" sebuah teriakan dari arah jalan utama memecah keheningan di antara mereka.

Seorang pria paruh baya memanggil nama pria bertato itu dari sebuah bengkel motor kecil tak jauh dari sana.

"Ini ada motor pelanggan yang harus kamu bongkar sekarang!"

Pria bertato itu, yang ternyata bernama Bumi, mengalihkan pandangannya dari langit, memberikan anggukan kecil seolah mengabaikan kehadiran wanita asing berpenampilan elegan itu, lalu melangkah pergi menuju bengkel dengan santai.

Ehem, yuk komen yang banyak ya gaes. Mohon dukungan buat author tambah semangat nulisnya.

1
Siti Aisah
pokoknya bahagia selalu buat langit sm bumi, mulai dengan sarapan bersama🤭 mantap lah panjang double up-nya
Siti Aisah
dan saat pagi menyapa ada lengkingan suara merdu langit🤣🤣
Siti Aisah
langit kalau kau suka dan terbayang " jagan suka gengsi ah 🤗
Siti Aisah
aduuuh, kurang lama ya langit ... akupun kurang kak author lanjut😁
Kaa
kenapa sih langit kalau suka ya bilang aja hala ini sok jaim
Siti Aisah
ayo hadapi semua masalah berdua, hancurkan paman mu dan gerombolan penghianat🤭
Siti Aisah
semoga mereka berdua kebablasan cinlok🤣🤣😜
Sinho: Amin, makasih komennya kak
total 1 replies
Siti Aisah
curiga deh sm bumi??? sindiran nya kenak banget 😁
Siti Aisah
lanjut aku baca maraton ni kak author soalny makin keseni makin penasaran bumi""😜
Siti Aisah
ternyata langit masih punya kakek kukira cuman punya paman satu"nya yg jahat🤭
Siti Aisah
semoga itu langit ''karena hawatir takut bumi di apa"in🤭
Siti Aisah
thor kata kumah bumi ceo menyamar deh soalnya biarpun dia bercanda kata"nya ada benernya hehe
Siti Aisah
ngelucu trus bang bumi biar langit ceria selalu😁
Siti Aisah
dasar bumi bisa aja bikin orang senyum " lanjutkan...
Siti Aisah
bumi mah bisa"nya bikin anak perawan merona dan dedekan😜
Siti Aisah
thor katakumah ya kayanya ci bumi ini pria yg punya pengaruh deh bukan tukang bengkel biasa... pasti cuman lgi menyamar🤣🤣
Siti Aisah
benerkah yang di cerita kan bumi tetang hidupnya se menyedihkan itu, atau hanya cerita karangan untuk menghibur langit supaya bisa terus tertawa dan tersenyum, hanya author yg tahu penasaran ih🤭
Siti Aisah
aku jdi ikut gila tersenyum sendiri😜lanjut thor
Siti Aisah
udah makan garam asin nya hidup ni mah bumi, jdi udah mental baja dan besi, seru thor jdi tertawa sendiri sekalian sedih🤗🥲
Siti Aisah
pokoknya langit tebayang" ga bisa bobo🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!