NovelToon NovelToon
PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.

Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".

Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah

"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Ancaman di Balik Punggung dan Surat di Meja

Pintu kaca bergetar hebat saat Raka melangkah keluar dengan amarah yang tertahan. Dika berdiri tegak di tempatnya, mata tak lepas dari mobil hitam Raka yang melaju ngebut pergi sampai menghilang di tikungan jalan. Hening kembali menyelimuti lobi kantor, tapi suasana pagi yang tadi hangat sekarang terasa agak berat.

Vanesha masih berdiri di sana, menatap pintu keluar dengan tatapan kosong sejenak. Dia menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan seakan membuang beban berat di pundak. Saat berbalik, wajahnya kembali tenang — tegas dan cantik seperti biasa, meski Dika bisa melihat ada lelah tipis di matanya.

"Maaf kamu harus melihat itu semua," ucap Vanesha pelan sambil melangkah mendekat. "Keluarga... kadang lebih sulit dihadapi daripada musuh dari luar."

"Nggak apa-apa, Nona Bos. Musuh pakai baju keluarga itu memang paling licik," jawab Dika mantap sambil menatap ke arah jalan tempat Raka tadi pergi. "Tapi jangan khawatir — selama saya berdiri di sini, nggak ada yang boleh maksa Nona Bos melakukan apa pun yang nggak diinginkan. Mau itu sepupu, paman, atau siapa pun!"

Vanesha tersenyum tipis, tangannya menyentuh lengan Dika pelan sekali. "Kamu ini... selalu saja begitu. Berbicara seolah-olah semuanya mudah," ucapnya lembut. "Tapi terima kasih. Rasanya lebih tenang tahu ada kamu di sini."

"Sama-sama! Itu tugas saya, ingat? Janji itu hutang, nggak boleh diingkari!" jawab Dika sambil menepuk dada sendiri — hati-hati supaya nggak kena bagian yang masih sedikit pegal.

Vanesha mengangguk pelan, lalu berjalan menuju lift. "Saya naik ke atas dulu. Banyak pekerjaan menunggu. Kalau dia datang lagi — jangan hadapi sendirian. Telepon saya dulu," ucapnya tegas sebelum pintu lift tertutup.

"Siap, Nona Bos!" jawab Dika sambil memberi hormat.

Siang harinya, suasana kantor kembali sibuk seperti biasa. Dika berdiri di posnya, menyapa karyawan yang lewat dengan senyum lebar — walau di dalam hatinya tetap waspada. Raka tatapan matanya tadi penuh amarah dan ancaman, dan Dika tahu orang seperti itu nggak akan menyerah begitu saja.

Menjelang sore, seorang kurir datang membawa amplop cokelat besar bermeterai. Dika menerima dan langsung membawanya ke ruangan Vanesha — tidak ada nama pengirimnya, hanya tertulis tangan: Untuk Vanesha — Penting & Rahasia.

"Permisi, Nona Bos," ucap Dika sambil mengetuk pintu lalu masuk. "Ada paket kurir datang tadi. Nggak ada nama pengirimnya, tapi dikatakan harus langsung ke tangan Nona Bos," jawabnya sambil meletakkan amplop itu di tepi meja kerja Vanesha.

Vanesha menatap amplop itu sejenak, alisnya berkerut. "Tidak ada nama?" tanyanya pelan.

"Tidak ada. Hanya tulisan tangan di depan," jawab Dika.

Vanesha perlahan membuka segelnya dan mengeluarkan selembar kertas tebal dari dalam. Matanya menyapu tulisan di atas kertas itu, dan perlahan wajahnya berubah pucat. Tangan yang memegang surat itu sedikit gemetar.

"Ada apa, Nona Bos?" tanya Dika segera, melangkah maju selangkah.

Vanesha tidak langsung menjawab. Dia membaca ulang baris demi baris, lalu meletakkan kertas itu di meja dengan napas berat. "Surat dari Raka," ucapnya dingin tapi suaranya bergetar. "Dia bilang... kalau saya tetap menolak pertunangan ini, dia akan membuat masalah bagi perusahaan. Mengambil alih saham, menyebarkan berita buruk, apa pun yang bisa merusak nama baik perusahaan."

Dika mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kuku menancap di telapak tangan. "Berani sekali dia! Ini bukan keluarga — ini perampok yang pakai nama hubungan darah!" teriaknya, marah membara di dada. "Nona Bos jangan takut, kita bisa lapor polisi!"

Vanesha menggeleng pelan, matanya menatap jendela kaca besar di depannya. "Tidak semudah itu, Dika. Dia pegang sebagian saham keluarga. Dan dia tahu celah di mana perusahaan bisa jatuh. Kalau dia benar-benar melakukannya... banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan. Termasuk kamu," ucapnya lembut tapi sedih.

"Saya nggak peduli soal pekerjaan! Yang penting Nona Bos aman dan nggak dipaksa!" jawab Dika tegas. "Tapi Raka ini — dia cuma ancam, belum tentu berani lakukan! Kita pikirkan cara lain, pasti ada jalan keluarnya!"

Vanesha menoleh perlahan, menatap Dika dengan mata berkaca-kaca. "Kamu yakin? Raka ini orang yang tidak main-main. Dia sudah merencanakan ini sejak lama," ucapnya pelan.

"Yakin! Selama ada kemauan, pasti ada jalan! Nggak mungkin dia bisa ambil semuanya begitu saja! Perusahaan ini dibangun dengan kerja keras, bukan mainan yang bisa diambil paksa!" jawab Dika mantap, lalu melangkah mendekat sedikit. "Dan satu hal lagi — Nona Bos nggak sendirian. Ada saya di sini. Kita hadapi bareng-bareng."

Vanesha diam sejenak, lalu perlahan tersenyum — senyum yang penuh harapan meski situasinya berat. Dia berdiri dan berjalan mengelilingi meja, berhenti tepat di depan Dika. "Kamu... selalu saja membuat saya merasa tidak sendirian," ucapnya pelan, tangannya menyentuh pipi Dika di atas plester kecil itu. "Terima kasih, Dika. Kamu benar. Kita hadapi bersama."

"Siap kapan saja! Dan kalau perlu — saya bicara langsung sama dia! Bilang kalau berani urusan sama saya dulu sebelum sentuh Nona Bos atau perusahaan!" jawab Dika semangat.

Vanesha tertawa kecil — suara renang yang menenangkan hati. "Jangan cari masalah dulu. Kita pikirkan langkah yang tepat. Tapi senang rasanya tahu ada pendukung setia seperti kamu," ucapnya lembut.

Sore itu mereka duduk bersama di ruangan itu — bos cantik yang sedang diancam kerabatnya sendiri, dan penjaga sederhana yang berjanji melindunginya dengan sekuat tenaga. Ancaman Raka nyata dan berat, tapi di antara mereka tumbuh kekuatan yang lebih besar — kebersamaan dan kepercayaan yang tak bisa dirusak oleh siapa pun.

Dan di luar sana, badai sebenarnya baru saja mulai berkumpul.

1
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!