NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Kencan yang Gagal Total dan Jebolnya Perisai Gaib

Craaaaattt!

Semburan air bertekanan tinggi dari selang taman itu tepat menghantam wajah Rahsya, membuat tubuh tegapnya terhuyung beberapa langkah ke belakang.

"Aduh, Den! Maaf, Den! Saya beneran tidak sengaja!" pekik Bi Karni panik luar biasa sambil menjatuhkan selangnya begitu saja ke atas rumput hingga airnya menyemprot liar ke mana-mana.

Rahsya berdiri mematung di tengah taman. Air tampak menetes-netes deras dari ujung hidung dan dagunya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan telapak tangan, sementara kemeja mahalnya kini basah kuyup dan mencetak ketat bentuk tubuh atletisnya. Bukannya marah meledak-ledak, ia justru hanya bisa memejamkan mata erat-erat dan mengembuskan napas panjang yang sangat pasrah.

"Iya, tidak apa-apa, Bi. Anggap saja saya sedang simulasi mandi sore," ucapnya dengan suara parau sembari melangkah lunglai kembali memasuki mansion untuk berganti pakaian.

Usai drama "pembaptisan" darurat itu selesai, Rahsya akhirnya sampai di sebuah kafe kelas atas untuk bertemu dengan wanita pertama dalam daftar kencan butanya. Sebelum turun dari mobil, ia berkali-kali merapikan kerah pakaian dan menyisir rambutnya di depan kaca spion.

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa waswas yang sangat mencekam. Ia teringat kembali pada peringatan keras Geheng: dilarang mencuci muka menggunakan air selama seminggu penuh.

"Aduh, tadi kan muka gue sempat kena semprot air selang Bi Karni. Ritual penyemburan Geheng masih aktif enggak ya?" gumamnya gelisah sembari meraba kulit pipinya yang kini terasa kesat, tidak lagi selengket tadi sore.

Ia mencoba menoleh ke kanan dan ke kiri, menatap tajam sudut-sudut area parkiran kafe yang mulai remang ditiup angin malam. Sejauh mata memandang, semuanya tampak berjalan normal. Tidak ada penampakan nenek bungkuk, tidak ada kepala manusia yang melayang, dan tidak ada tuyul ajaib yang menantangnya bermain yoyo.

"Alhamdulillah... kayaknya masih aman. Mungkin air selang tadi enggak sanggup melunturkan kekuatan 'jigong rempah' si Geheng. Obat gaibnya masih mujarab!"

Dengan sedikit sisa kepercayaan diri yang ia kumpulkan, Rahsya keluar dari dalam mobil dan melangkah tegap masuk ke dalam kafe. Ia bersiap menghadapi tantangan sosial yang jauh lebih menakutkan daripada hantu: kencan buta pilihan ibunya.

Rahsya menarik kursi kayu dengan gerakan agak kikuk, mencoba memasang senyum profesionalnya yang paling menawan di depan wanita cantik yang sudah duduk menunggunya.

"Maaf, sudah menunggu dari tadi ya?" tanya Rahsya selembut mungkin, berusaha menetralisasi rasa waswas di hatinya.

"Enggak kok, Mas Rahsya. Baru dua menit yang lalu saya sampai ke sini," jawab wanita itu sambil tersenyum manis, memperlihatkan sepasang lesung pipi yang seharusnya sanggup membuat pria normal mana pun berdebar tidak keruan.

Rahsya terdiam sejenak. Ia memicingkan sepasang matanya, mencoba menggali kembali memori dari tumpukan berkas biodata yang dikirimkan sang mama semalam. Ia mengingat-ingat nama dan struktur wajah wanita cantik di depannya ini. Bibirnya mulai bergetar saat ia mencoba mengeja nama tersebut secara lisan.

"Nama kamu Ne— NENEK GAYUNG!" ucap Rahsya spontan dengan sepasang mata melotot horor.

Suasana kafe yang tadinya romantis mendadak hening seketika. Rahsya membeku di tempatnya duduk. Bukan karena ia salah sebut nama, tetapi tepat di belakang kursi wanita yang sebenarnya bernama Netta Sephian itu, kini sedang berdiri tegak sesosok nenek-nenek berwajah busuk hancur.

Makhluk itu mengenakan kain kebaya kumal, dan tangan keriputnya tampak memegang sebuah gayung kayu tua yang meneteskan air berlumpur hitam berbau busuk.

Ternyata dugaan logisnya salah total; semprotan selang air Bi Karni telah melunturkan seluruh "perisai jigong" milik Geheng. Mata batin Rahsya resmi menyala kembali di waktu dan tempat yang sangat salah.

Netta langsung mendengus kesal, wajah cantiknya seketika berubah merah padam karena tersinggung berat. Ia menggebrak permukaan meja kafe dengan pelan.

"Mas keterlaluan ya! Masa wanita cantik begini dibilang mirip Nenek Gayung sih?!"

"Bukan... bukan begitu maksud saya, Netta! Maaf, saya cuma—"

Rahsya gelagapan setengah mati. Tangannya bergerak liar di udara kosong, mencoba mengusir sosok hantu nenek yang kini malah mulai menyodorkan moncong gayungnya ke arah cangkir kopi milik Netta.

"Sudahlah, Mas! Ternyata bener kata orang-orang kota, dokter ganteng itu biasanya kalau enggak sombong ya... agak sedeng!"

Netta menyambar tas branded-nya dengan gerakan kasar, lalu berdiri tegak hingga kaki kursinya berdecit nyaring di atas lantai.

"Saya batalkan acara kencannya. Saya mau pulang sekarang!"

Netta melenggang pergi meninggalkan area kafe dengan langkah kaki lebar dan ekspresi wajah yang sangat dongkol, meninggalkan Rahsya yang masih duduk mematung sendirian.

"Tunggu, Net! Aduh..."

Rahsya meratapi nasib buruknya. Ia menolehkan wajahnya ke arah samping, dan si hantu nenek gayung itu malah nyengir lebar memperlihatkan gusi hitamnya yang ompong, seolah-olah merasa sangat puas sudah berhasil merusak acara kencan pertama sang dokter muda.

****

Kencan pertama gagal total, dan kini Rahsya sudah berdiri tegak di depan pintu masuk sebuah restoran bintang lima dengan kondisi mental yang sudah "disekolahkan" oleh keadaan.

Kali ini, ia benar-benar harus menahan diri dengan kuat. Tidak boleh ada teriakan histeris "nenek gayung" jilid dua di tempat umum. Demi menjaga senyum Papa dan Mamanya di rumah, ia bersumpah di dalam hati akan mengabaikan penampakan hantu apa pun malam ini, bahkan jika hantu itu nekat mengajaknya berswafoto sekalipun.

Dengan satu tarikan napas dalam, ia melangkah masuk ke dalam restoran. Aroma parfum mahalnya berpadu sempurna dengan karisma dokter mudanya, sukses membuat beberapa pegawai dan pengunjung restoran menolehkan kepala dengan tatapan kagum. Rahsya sengaja datang lebih awal, duduk tegap menanti takdir kencannya.

Beberapa menit berlalu, seorang wanita cantik, modis, dan berpenampilan sangat elegan melangkah masuk dengan gaya anggun. Itulah kandidat kedua pilihan ibunya, Salsabila Maurina.

"Mas Rahsya Adipta, ya?" tanya Salsa dengan nada suara lembut yang menyejukkan gendang telinga.

"Iya, betul. Silakan duduk, Salsa," jawab Rahsya sesopan mungkin.

Mereka pun mulai berbincang akrab satu sama lain. Harus diakui, Salsa adalah lawan bicara yang sangat menyenangkan, cerdas, dan nyambung dengan dunianya. Semuanya berjalan dengan sangat sempurna tanpa hambatan, sampai akhirnya hidangan penutup berupa menu dessert tiba di atas meja mereka.

Rahsya baru saja hendak menyendok kue manisnya saat sepasang matanya tidak sengaja menangkap adanya sebuah gerakan aneh di langit-langit plafon restoran yang mewah itu.

Sesosok makhluk mengerikan berkulit pucat pasi tampak sedang merangkak kayang terbalik di langit-langit dengan rambut hitam panjangnya yang menjuntai ke bawah. Makhluk itu memiliki mata merah darah, barisan gigi hitam meruncing, dan lidah panjang menjulur yang panjangnya mengalahkan panjang tali jemuran kompleks perumahan, tepat berada di atas meja makan mereka berdua.

Yang membuat nyali kedokteran Rahsya mendadak menciut bukan hanya wajah seram makhluk itu, melainkan cairan air liur hantu itu yang tampak menetes-netes kental seperti cairan lem, jatuh tepat ke atas makanan para pengunjung restoran di bawahnya, termasuk ke atas piring kue milik Rahsya.

Makhluk halus itu hanya melintas lewat, namun jejak noda "lendir" gaibnya tertinggal merata di mana-mana. Rahsya berusaha mati-matian menahan rasa mual yang mendadak menyerang, organ lambung perutnya bergejolak hebat. Rasa mual itu kian memuncak saat melihat Salsa dengan santainya menyuapkan potongan kue stroberi yang sebenarnya sudah "terbumbui" oleh tetesan air liur setan itu ke dalam mulutnya dengan sangat lahap.

"Mas, kenapa enggak dilanjutkan makannya? Kuenya enggak enak, ya?" tanya Salsa sambil sibuk mengunyah, sama sekali tidak menyadari adanya pemandangan horor menjijikkan tepat di atas kepalanya.

"Enak, kok... saya cuma... sudah merasa kenyang saja, Sa," jawab Rahsya dengan kondisi wajah yang mulai memucat kebiruan akibat menahan gejolak isi lambungnya.

Salsa mengangguk paham, lalu menatap wajah Rahsya dalam-dalam. "Jadi gimana, Mas? Menurut Mas sendiri, saya bagaimana? Sudah cocok belum buat jadi pacar Mas?" ucapnya dengan nada suara serius yang menuntut sebuah jawaban pasti.

Rahsya terdiam seribu bahasa, kerongkongannya terasa tercekat kaku. Tepat di saat kritis itu, si hantu merangkak balik melewati plafon di atas meja mereka sekali lagi.

Tes... tes...

Cairan air liur hijau kental itu menetes tepat masuk ke dalam gelas jus yang sedang diseruput nikmat oleh Salsa. Rahsya sudah tidak sanggup menahannya lagi. Pertahanan mental dokternya jebol total.

Logika rasionalnya kalah telak oleh rasa jijik yang luar biasa besar. Dengan gerakan tangan secepat kilat, Rahsya menyambar tumpukan tisu di atas meja. Ia langsung memuntahkan seluruh isi perutnya di depan wajah wanita cantik itu.

"Huekk! Aduh... saya enggak tahan lagi!" ucap Rahsya dengan sepasang mata berkaca-kaca karena menahan mual yang menyiksa.

"Mas! Mas enggak apa-apa? Ini minum air dulu!"

Salsa panik setengah mati, segera menyodorkan gelas jus milik pribadinya yang baru saja terkena tetesan liur kental setan plafon.

Melihat lubang gelas berisi liur hijau itu bergerak mendekat ke arah bibirnya, Rahsya rasanya sudah ingin pingsan seketika di tempat.

"Maaf, saya lagi enggak selera! Terima kasih!" ucapnya sambil menggeser tubuh mundur teratur dari kursi.

"Sepertinya saya kurang sreg sama kamu, Salsa. Sekali lagi saya minta maaf!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!