NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1 - Tahun 2005, Aku Kembali

Dingin itu masih membekas di sekujur tubuhnya, seakan air sungai yang menenggelamkannya baru saja surut meninggalkan kulit. Intan Larasati membuka matanya perlahan; nyeri menusuk di ubun-ubun, menyebar sampai ke pelipis, seolah-olah kepalanya baru saja ditumbuk benda keras. Ia berbalik dengan susah payah, sudah siap menatap langit-langit rumah sakit — tetapi yang tampak justru sebuah kamar sempit yang dikenalnya lebih baik daripada namanya sendiri.

Rupanya ia tidak tenggelam, atau setidaknya ia tidak mati. Tetapi bila ia selamat, mengapa ia tidak berada di ranjang perawatan? Ruangan ini tidak berbau obat. Tidak ada tetesan infus, tidak ada kursi tunggu lengkap dengan pasien yang antre, tidak ada suara alat pernapasan yang mendengung. Yang ada hanyalah langit-langit yang mulai menguning, jendela bermodel lama, dan lemari kayu dengan cat kusam di sudut ruangan. Entah mengapa, suasana seperti ini justru membuat jantungnya berdebar lebih kencang.

"Aku seharusnya berada di rumah sakit, bukan di sini," bisik Intan dalam hati. "Atau… tunggu sebentar."

Belum sempat ia menalar lebih jauh, sebuah suara yang amat dikenalnya terdengar dari luar pintu. Suara itu lembut dan hangat, hafal setiap nada bicara yang selama ini menyenangkan hatinya — suara Ibu.

"Intan, bubur untukmu sudah Ibu taruh di termos. Nanti kalau sudah bangun, minumlah selagi masih hangat. Bekas-bekasnya biar Ibu bereskan sekembalinya nanti. Ibu sudah hampir telat berangkat kerja. Kalau masih merasa tidak enak badan, hubungi Ibu, ya. Ibu berangkat dulu!"

Belum sempat ia menjawab, terdengar bunyi pintu dibanting dari arah luar. Bunyi yang begitu akrab itu membuat air mata Intan menetes deras tanpa bisa ditahan. Ia meringkuk di atas kasur, memeluk kedua lututnya erat-erat, dan menggumam lirih, "Ibu…" Bila ini mimpi, biarlah ia tidak pernah terbangun lagi. Tetapi bagaimana mungkin kenyataan sebaik ini datang menghampirinya?

Di dalam ingatannya, tubuh Ibu telah lama dihancurkan penyakit. Pada tahun pertama Intan berkuliah di Ibu Kota, Ibu divonis menderita penyakit ginjal yang parah; hanya dalam kurun setahun, tubuh yang tadinya tegar itu runtuh dengan cepat. Apalagi menjelang saat Intan jatuh ke air, Ibu bahkan sudah kehabisan tenaga untuk sekadar berbicara. Bagaimana mungkin pagi ini Ibu masih mampu berteriak dari balik pintu dengan suara yang begitu lantang?

Dan Vino Ardhana. Nama itu mengiris dadanya seperti pecahan beling. Intan mengertakkan gigi; kepedihan bercampur penyesalan membanjiri sanubarinya. Seandainya waktu bisa diputar, ia tidak akan memilih cara sebodoh itu. Padahal, beribu jalan tersedia untuk menuntaskan dendam kepada pengkhianat sejati itu. Seberapa bodohnya ia sampai memilih cara yang membuat nyawanya ikut tenggelam ke dalam sungai bersamanya?

Ia belum sempat membalas budi kepada ayah dan ibu yang begitu susah payah membesarkannya. Ia juga belum sempat berterima kasih kepada kakak lelakinya, Dimas, yang selama ini begitu menyayanginya. Begitu terbayang betapa remuk hatinya orang-orang yang mencintainya ketika mendengar berita kematiannya, kesedihan Intan tidak lagi tertahankan; ia menundukkan kepala ke dalam pelukan lututnya dan menangis sejadi-jadinya.

Tidak diketahui berapa lama ia menangis, sampai tiba-tiba sebuah suara berat dan dalam bergema dari ruang tamu. Bunyinya seperti genta tua yang berdentang perlahan, memberi aba-aba waktu. Intan mengangkat wajahnya dengan bingung; kedua matanya bengkak karena menangis, tetapi pandangannya kini penuh keheranan.

Ia mengenal bunyi itu. Selama lebih dari sepuluh tahun ia mendengarnya, dan mustahil ia salah ingat sekarang. Itu adalah bunyi jam bandul di rumahnya — jam kayu tua yang konon merupakan mas kawin Ibu ketika menikah dengan Bapak. Sejak kecil, ia tumbuh dikelilingi suara ajaib itu; dulu ia sering ketakutan sampai menangis karenanya, sebelum akhirnya terbiasa seiring bertambahnya usia.

Padahal, jam bandul itu sudah "mati" ketika ia bersekolah di sekolah menengah atas. Saat itu jam tersebut dibawa ke tukang untuk diperbaiki, dan Ibu tidak pernah memasangnya kembali; ia justru menyimpannya di suatu tempat. Lalu mengapa sekarang bunyinya terdengar lagi? Apakah jam bandul itu pun ikut berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan?

Rasa ingin tahu mengalahkan tangisnya. Intan turun dari kasur dan berlari keluar kamar. Kamarnya persis menghadap pintu depan rumah; di balik pintu itu tergantung sebuah cermin yang sudah tua. Begitu pandangannya jatuh ke cermin, Intan terdiam membeku seketika. Cermin itu menampilkan seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun dengan baju tidur bermotif bunga yang sudah memudar warnanya.

Semenit kemudian, jeritan bernada tinggi menggema dari dalam rumah.

Belum hilang gema jeritannya, pintu rumah dihantam beberapa kali, disusul pekikan seorang perempuan yang tajam dari seberang. "Intan Larasati, pagi-pagi buta mengapa kau berteriak seperti orang kesurupan?" Gadis sebesar kau, masa tidak tahu malu! Sungguh tidak tahu aturan! Awas saja, nanti kalau ibumu pulang, akan kuceritakan semuanya. Biarkan dia mengurusmu dengan benar, dasar anak tak tahu sopan santun! Omelan itu mengalir tanpa henti selama kurang lebih sepuluh menit sebelum akhirnya padam karena kehabisan tenaga.

Intan sama sekali tidak marah. Malah, ia menangis kembali — tetapi kali ini tangis bahagia. Ia terlalu mengenal pemilik suara itu. Itu adalah Bu Irma, perempuan berusia sekitar empat puluh tahun yang rumahnya persis berseberangan dengan rumah mereka. Keluarga Intan tinggal di kompleks permukiman yang sudah tua, dikelilingi ibu-ibu lain di kiri dan kanannya.

Kompleks itu nyaris tidak memiliki dinding kedap suara dan lingkungannya buruk. Hampir semua penghuninya menetap turun-temurun sehingga satu sama lain saling hafal urusan rumah tangga. Setiap siang, pintu-pintu rumah dibiarkan terbuka lebar agar para tetangga bisa bertandang dan mengobrol; para ibu serta orang-orang lanjut usia gemar berkumpul dan membicarakan ini-itu sepanjang hari. Bu Irma adalah pemimpin di antara mereka.

Sekecil apa pun rusuh yang terjadi di rumah mereka, perempuan itu pasti menjulurkan kepalanya untuk menyelidiki. Kadang ia bahkan berani membuka pintu dan masuk begitu saja untuk menonton kegaduhan. Cerita yang tadinya hanya segelintir, oleh Bu Irma dituturkan seolah-olah ia menyaksikannya sendiri, sampai ke detail terkecil sekalipun.

Lambat-laun Ibu berhenti membuka pintunya. Meski ada di rumah, ia selalu menutup pintu rapat-rapat agar tidak memberi celah bagi omongan Bu Irma. Mungkin justru karena sikap Ibu itulah Bu Irma merasa kesal. Sejak keluarga mereka terbiasa menutup pintu setiap saat, Bu Irma selalu memandang rendah keluarga mereka; bila terjadi sedikit saja masalah, ia segera menyerang dari luar dengan kritikan. Sekecil apa pun yang mengusik rumahnya, perempuan itu akan datang sendiri untuk menegur dan memperkarakannya.

Dulu Intan pernah tidak sabar dan membalasnya beberapa kali. Bu Irma lantas menyebarkan berita ke seluruh kompleks bahwa gadis itu bermulut tajam dan lancang. Ibu mendengar semuanya, dan untuk pertama kalinya ia berani berhadapan langsung dengan Bu Irma. Perempuan yang selama ini dikenal lembut itu membanting pintu pagar besi rumah Bu Irma dengan hebatnya. Sejak saat itu, penduduk kompleks baru sadar bahwa Ibu bukanlah orang yang bisa dipermainkan; mereka tidak lagi berani membicarakan keluarga mereka dengan seenaknya. Bu Irma pun perlahan-lahan mereda.

Teringat hal itu, Intan kembali merasa pilu. Seandainya keluarganya tidak miskin, orang-orang tidak akan berani mengusik hidup mereka dengan keterlaluan begitu. Justru karena kemiskinan itulah rasa rendah diri tertanam dalam-dalam di tulangnya; sampai-sampai ketika pertama kali ia mengetahui Vino Ardhana berselingkuh, alih-alih menyerbu dan menggugat terang-terangan seperti beberapa kawan sekamarnya dulu, ia memilih menyusun rencana curang secara sembunyi-sembunyi. Di satu sisi ia iri melihat kawan-kawannya begitu bebas meluapkan suka, duka, marah, dan kecewa di wajah mereka; di sisi lain ia memandang rendah dirinya sendiri yang cengeng, muram, dan tidak berani.

Setelah terguncang sejenak, kepalanya yang panas perlahan-lahan dingin. Intan menatap sekeliling rumah. Bangunan ini terdiri atas tiga kamar tidur dan dua ruang; ruang tamu yang ukurannya kurang dari sepuluh meter persegi itu diisi satu set meja dan kursi kayu tua yang seluruh permukaannya tergores, dengan cat yang terkelupas di sana-sini. Di sudut ruangan berdiri televisi tabung berukuran besar, model yang populer pada tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan, tetapi kualitasnya masih bagus dan tetap sanggup menayangkan beberapa saluran sampai sekarang.

Di samping televisi itu, jam bandul kesayangan Ibu tampak berdiri anggun. Sejumlah kardus besar menumpuk di sudut, berisi aneka barang yang sebagian masih berguna; di luar balkon, kardus-kardus bekas yang belum sempat dijual ditumpuk begitu saja. Ruang tamu menyatu dengan ruang makan. Boleh dikatakan ruang makan itu hanya berwujud sebuah meja kayu berkaki pendek dan empat kursi, tanpa banyak isi lainnya. Dapurnya bahkan lebih sempit; dua orang yang masuk ke dalamnya nyaris tidak bisa saling berpapasan, apalagi berbalik badan. Kamar mandi berada di sebelah pintu depan dan ukurannya juga tidak lebih lega.

Kamar-kamar tidurnya sama sesaknya; selain tempat tidur dan lemari, nyaris tidak ada sisa ruang kosong di dalamnya. Dimas dan Intan dulu harus menjejalkan sebuah meja belajar di sela-sela kamar, sedangkan barang-barang lain ditaruh di atas lemari atau diselipkan di kolong tempat tidur — ke mana saja yang masih menyisakan sedikit ruang.

Harga diri Intan waktu itu tinggi sekali, dan ia tidak pernah mengajak kawan sekelasnya datang ke rumah. Ia selalu merasa latar belakang keluarga sebesar ini akan membuat mereka memandang rendah dan menjadikannya sasaran ejekan. Setelah lulus dari sekolah menengah pertama, ia bersekolah di sebuah sekolah swasta bernama SMA Mutiara dan semakin jarang pulang; ia selalu merasa tempat itu begitu muram sampai membuat sesak dada. Tetapi kini, justru segala hal di rumah inilah yang paling ia rindukan. Bahkan mebel tua yang dulu paling ia benci, pagi ini tampak begitu hangat dan akrab di matanya.

Setelah menatap seluruh isi rumah satu per satu, pandangan Intan akhirnya tertambat pada kalender yang tergantung di dinding. Kalender itu tepat tersobek pada halaman tanggal 1 April 2005 — tepat hari April Mop. Intan sempat tertegun sejenak melihat tanggal itu, lalu menggumam pelan, "Mau menipuku rupanya?"

Meski begitu, ia sangat yakin. Ia memang benar-benar telah kembali ke tahun pelaksanaan ujian masuk sekolah menengah atas. Ujian itu masih berjarak tiga bulan lagi dan akan digelar pada tanggal 1 Juli.

Sambil menahan getar hangat di dadanya, Intan berjalan ke ruang makan dan membuka tutup termos. Aroma bubur yang hangat mengepul memenuhi udara pagi. Ia menyendoknya pelan-pelan ke dalam mangkuk, lalu meneguknya sedikit demi sedikit, merasakan kehangatan mengalir dari tenggorokan sampai ke perut. Segala sesuatu di pagi yang baru ini terasa sungguh nyata: dinding yang lembap, meja yang berderit ketika tersandarkan, kicau burung dari luar jendela, dan suara jam bandul yang sesekali kembali berdentang dari ruang tamu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Intan Larasati tersenyum di dalam hatinya. Kali ini, ia akan menebus semua penyesalannya — dimulai dari semangkuk bubur hangat di tangannya.

1
Putry Chan
sebenarnya tadi itu apa ya
Kartika Candra Buwana: nanti akan tau deh
total 1 replies
Putry Chan
rumah ini beneran udh tua ya gak da yang tempatin juga banyak debu nya
Putry Chan
Kakek nya sudah tidak ada tapi kenangan itu masih ada sampai saat ini
Xlyzy
Ayah nya sampai bertanya sangking berubah nya sang anak
Xlyzy
itu dia miskin bukan jadi alasan kita ga bisa sukses
Mingyu gf😘
Ortunya peduli banget sama pendidikan anaknya😍
Mingyu gf😘
Bagus, di kesempatan kedua ini, kamu memang harus banyak berubah
Mingyu gf😘
Waduhh kamu manja juga ya, kalau aku udah melayang sapu kalau kayak gitu🤣
Arni Arlinawati Pratiwi💃
bertekad maksud nya ya.. ayok intan, kamu bisa memperbaiki lagi hal yang menurut mu kurang di kehidupan sebelumnya.. /Determined//Determined//Determined/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
menghormati leluhur nya juga.. di bacain alfatihah kalo muslim mah, di do'a in! /Determined//Determined//Determined/
Kartika Candra Buwana: betul. ini sengaja ku ganti ke ajaran lain
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
🙄.. emak inget dulu mamak nya emak, nenek kalian ngejewer emak karena emak bilang nanti nanti terus akhir nya di jewer di arahin ke tempat cuci piring!!! emak nangis kejer, kan sakit.. 😑
Arni Arlinawati Pratiwi💃: 🙄... ga ada ya.. tokoh utama cerita nya tukang marahin author,🗿.. gak berfaedah banget, 🙄
total 2 replies
Prayy
kalau terus sembahyang gak ada gunanya kan kalau tidak di iringi dengan tindakan,,
Kartika Candra Buwana: betul sekali
total 1 replies
Prayy
ini kaya doa di anime itu kan ?
Kartika Candra Buwana: iya ada yg seperti itu
total 1 replies
Prayy
hahahah mampus di marahin di suruh apa yang di kerjakan apa
Kartika Candra Buwana
ya, rajin lah sembahyang
Kartika Candra Buwana
untung saja ramalannya baik
Kartika Candra Buwana
lebih baik pake masker
ginevra
Yap ....sekarang kamu harus lebih rajin lagi... seneng banget kan kalau bisa ikut sama ibu sembahyang
Myz Pena
wkwkkwkw dimana2 ibu gitu ya guys.. cerewet tapi bikin rindu ❤️❤️
Myz Pena
rumah tua atau rumah nenek,, adalah warisan kehangatan yang diturunkan ke anak cucunya yang nggak akan pernah pudar... selalu dirindukan setiap momentnya apalagi berkumpul di hari2 besar dan hari raya 🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!