Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bros usang
Setelah puas melihat foto keluarganya, akhirnya mata Nisa memandang bros pemberian Rangga sebelas tahun yang lalu. Bros yang kini sudah usang di makan waktu dengan warna yang sudah pudar serta sudah terkelupas dan manik-maniknya sudah tak berkilau. Itu hanya bros biasa yang harganya sangat murah, tapi bagi Nisa itu adalah aksesoris yang paling disayanginya. Tak pernah dia melupakan untuk memakai bros ini saat bepergian kemana pun, walau usang tapi tetap di pakainya karena itu satu-satunya barang pemberian Rangga untuknya.
Akhir-akhir ini juga Nisa dapat melihat Rangga sudah lebih perhatian padanya. Pria itu lebih sering tersenyum kearahnya walau bukan senyum yang sama seperti yang diberikan pada Tiwi, tapi wajah itu sudah lebih baik daripada wajah dingin yang sering ditampilkan Rangga padanya sebelumnya. Pria itu juga sudah mau memakai pakaian pilihannya memuji masakannya, dan tentu saja menyapa anak mereka walau masih berbentuk janin. Tapi setidaknya Nisa sudah terkurangi rasa sakitnya dengan perhatian-perhatian kecil itu. Walau kesedihan belum hilang dalam dirinya, apalagi saat dia berhasil membuka kunci ponsel suaminya dan melihat foto-foto mesra Rangga dengan Tiwi, terlebih pesan- pesan manis antara keduanya. Nyatanya air matanya takkan pernah benar- benar kering untuk menangis, saat lensa matanya menangkap tak ada satu pun fotonya dalam ponsel suaminya. Dia benar- benar tidak dianggap. Kesalahan yang diperbuatnya membuatnya hidup seakan dalam duka dan dosa.
Ingatan Nisa lagi lagi kembali terngiang akan kata-kata Rangga minggu lalu, dimana pria itu mengajaknya menonton acara pertunjukan teater Tiwi yang mendapat peran utama sebagai putri tidur akhir bulan depan. Pria itu bahkan lupa akan jadwal Nisa yang mungkin akan melahirkan akhir bulan depan.
Yang dipikirkan oleh suaminya itu hanyalah Tiwi sang kekasih hati, bahkan Rangga sering sekali mengajaknya menonton pertunjukan teater Tiwi setiap bulannya yang dimana Tiwi hanya berlakon dalam satu adegan saja . Nisa bahkan dapat melihat bagaimana antusiasnya Rangga saat Tiwi tampil di panggung. Dunia pria itu seakan berhenti, Rangga seakan hanya melihat Tiwi seorang dan melupakan kehadirannya yang jelas-jelas berada disampingnya.
Nisa pernah berharap pada suatu saat nanti suaminya akan mengajaknya menonton film yang romantis antara suami-istri bukan teater pertunjukan Tiwi. Akhirnya Nisa sadar bahwa nafsunya yang ingin memiliki Rangga membuatnya hancur sehancur-hancurnya.
Nisa tidak akan mengabaikan fakta tentang Rangga yang mengatakan kalau suaminya itu sudah berjanji pada Tiwi akan menonton pertunjukan gadis itu walau apapun yang terjadi dan bagaimana pun keadaannya. Rangga lupa akan sesuatu yang bisa saja terjadi di masa depan yang mungkin harus membuatnya terpaksa untuk mengingkari janji.
Air mata wanita hamil itu kembali bergulir apabila pandangannya jatuh pada bros pemberian suaminya itu. Dia kembali menangis terisak, sakit di hatinya sudah di level dia tidak tahan lagi, tapi Nisa tetap berusaha untuk bertahan. Ingin rasanya dia menyalahi takdir, tapi apa yang bisa diperbuatnya. Bukankah kehidupannya yang sekarang adalah harga yang harus dibayarkan atas dosa yang diperbuatnya. Inilah hukuman untuknya, begitulah pikir Nisa terus setiap harinya, karena dengan begitu juga dia akhirnya masih dapat bertahan hingga sekarang.
🍀🍀🍀
Malam sudah larut, saat Nisa melihat kearah jam dinding yang tergantung datar di ruang tamu. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, tapi suaminya belum juga pulang dan tidak juga memberinya kabar kemana kemungkinan suaminya itu pergi hingga selarut ini.
Bukan ingin berpikiran buruk, tapi Nisa seakan sudah dapat menebak kemana suaminya itu dan dengan siapa Rangga pergi hingga lupa waktu selarut ini. Helaan nafas lelah kembali terdengar dan wajah sendunya semakin terlihat sendu, mata sembabnya bahkan tidak bisa untuk berbohong kalau dia baik-baik saja. Luka hatinya telah akut tapi Nisa tetap mencoba bertahan sampai titik terakhirnya, apalagi kini ada nyawa baru dalam rahimnya yang perlu di ingatnya saat dia ingin bertindak nekat.
Sekali pun Nisa tahu kalau suaminya akan pulang terlambat, tapi dia tetap bertahan menunggu untuk menyambut Rangga pulang. Beruntung, tidak lama setelah itu terdengar pintu di ketuk yang disertai salam. Rangga akhirnya pulang.
Nisa buru-buru melangkah kearah pintu sembari menjawab salam. Wajahnya yang sendu dengan cepat berubah ceria. Dia berusaha untuk menampilkan senyuman terbaiknya menyambut suaminya pulang.
"Mas Rangga sudah pulang! Kenapa larut sekali pulangnya?" tanya Nisa lembut sambil mengambil tas kerja di tangan Rangga. Pria yang terlihat lelah itu hanya membiarkan saja Nisa melakukan apapun yang di inginkannya.
"Sebenarnya kami di kantor sudah pulang sejak awal, tapi aku pergi sebentar ke tempat temanku untuk mengobrol dan maaf, aku lupa memberitahumu kalau aku akan telat pulang." Rangga menjawab sekaligus menjelaskan
"Pergi dengan teman?" tanya Nisa bingung. Soalnya Rangga sangat jarang bilang pergi dengan teman. Pria itu biasanya akan langsung menjawab kalau dia habis ketemuan sama Tiwi atau paling sering kalau pria itu hanya akan diam tanpa menjelaskan apapun soal keterlambatannya pulang.
Rangga yang semula sudah melangkah buru-buru membalikkan badannya melihat kearah Nisa saat pertanyaan itu keluar dari bibir istrinya
"Iya, jangan berpikir macam-macam. Teman yang ku maksud itu seorang pria, namanya Revan. Jadi jangan khawatir!" jelas Rangga sembari kembali melangkah kearah kamarnya meninggalkan Nisa yang tersenyum melihat suaminya.
Rangga tidak tahu ada apa dengan dirinya. Tidak biasanya dia mau menjelaskan hal seperti itu pada Nisa, tapi entah kenapa sekarang dia takut istrinya itu akan salah paham kalau dia pulang terlambat karena bertemu Tiwi. Karena penjelasannya itu juga pria itu jadi malu dan canggung hingga buru-buru melangkah kembali ke kamarnya. Dia tidak ingin terlihat memalukan di depan Nisa walau sebenarnya itu tidaklah masalah.
Tidak lama setelah dia membersihkan diri dan bersiap untuk tidur, ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Rangga melihat nama si pemanggil dan wajahnya hanya tersenyum tipis. Itu juga sebuah keanehan yang mulai terjadi pada dirinya. Tidak biasanya dia tidak sesenang biasanya saat mendapat telpon dari Tiwi. Biasanya dia akan begitu senang saat kekasihnya itu menelpon tapi sekarang rasanya itu jadi biasa saja.
Pria itu mengangkat panggilannya dan mulai berbincang basa-basi seperti biasanya tapi sekarang rasanya hambar dan tidak lagi semenggebu dulu.
Di luar, Nisa masih saja memasang senyumnya. Walau suaminya tidak perhatian tapi dengan Rangga mau menjelaskan alasan keterlambatannya saja Nisa sudah cukup senang. Dia perlahan mengelus perut buncit dimana anaknya bersemayam disana dan tinggal menghitung hari hingga anaknya itu akan menatap dunia.
"Ayah sangat baik sekarang, nak!" gumamnya pada sang janin di dalam perutnya. Nisa berharap sikap Rangga yang membaik itu akan bertahan sampai selamanya dan membuat rumah tangga mereka bisa membaik ke depannya tanpa harus melalui kata perceraian.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean