NovelToon NovelToon
PENGEMBARA DARI DESA

PENGEMBARA DARI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Djafar S

Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 BAYANGAN HITAM DI BAWAH JEMBATAN

Matahari baru saja tenggelam sepenuhnya di balik garis bukit barat Kota Bandung, meninggalkan sisa pendar jingga kemerahan yang perlahan digantikan oleh kelamnya malam. Di kawasan Ciumbuleuit, kedamaian yang baru saja dirajut kembali oleh Raka Ardian dan Nadia harus terusik oleh sebuah panggilan telepon mendesak yang diterima Raka dari salah satu informan tepercaya keluarga Hartono.

Informasi itu singkat namun berbahaya: sisa-sisa anak buah Prabu Baskara yang belum sempat tertangkap—dipimpin oleh seorang algojo kejam bernama "Boma"—mengetahui bahwa Raka baru saja kembali dari Mandalagiri.

Dalam keputusasaan karena aset bos mereka telah disita negara dan jaringan kriminal mereka runtuh, kelompok preman bayaran itu merencanakan serangan balas dendam berdarah. Target utama mereka bukan lagi Tuan Wiratman, melainkan menyandera Nadia untuk memeras seluruh dokumen rahasia korporasi yang kini dipegang keluarga Hartono.

Raka yang mendengar berita itu tidak tinggal diam. Tanpa menunggu waktu lama dan tanpa memberitahu Nadia agar gadis itu tidak panik, Raka segera mengenakan jaket usang kesayangannya, menyelipkan gulungan jarum perak di balik saku, dan melangkah keluar rumah menuju titik pertemuan yang dibocorkan sang informan: sebuah area terbengkalai di bawah kolong jembatan layang Pasupati yang gelap dan sunyi.

Setibanya di lokasi, suasana terasa sangat lembap dan berbau polusi kendaraan dari jalan raya di atas kepala mereka. Di tengah remang-remang lampu jalanan kota, enam orang pria berbadan kekar berjaket kulit hitam telah menunggu.

Di tengah mereka, Boma berdiri menyeringai lebar sambil memegang sebatang pipa besi tajam, menatap tajam ke arah Raka yang berjalan tenang mendekat tanpa membawa senjata api.

"Wah, rupanya sang pahlawan kesiangan dari desa datang sendiri tanpa diundang!" ejek Boma dengan suara serak berat, tertawa meremehkan. "Kau pikir karena bos kami dipenjara, kalian bisa hidup tenang, hah?!

Serahkan dokumen rahasia perusahaan dan tunjukkan di mana persembunyian keponakan Wiratman itu, atau kami buat mayatmu membusuk di bawah jembatan ini!"

Raka berhenti melangkah, menjaga jarak sepuluh meter dari kelompok preman tersebut. Wajahnya sangat dingin, memantulkan ketenangan mutlak yang justru membuat Boma merasa terintimidasi tanpa sadar.

"Kalian sudah kalah, Boma," ucap Raka dengan suara rendah yang menggema tenang di antara deru kendaraan di atas jembatan. "Persembunyian korupsi bos kalian sudah hancur. Jika kalian masih menyayangi nyawa kalian, enyah dari kota ini sekarang juga."

"Keparat sombong!" murka Boma. "Habisi dia! Cincang sampai hancur!"

Setengah lusin komando diberikan, keenam preman bayaran itu langsung menerjang maju secara serentak, menghunus pisau sangkur dan pentungan besi bergerigi, menyerang Raka dari berbagai arah dengan beringas.

Namun, pertarungan malam itu sama sekali tidak seimbang. Raka yang baru saja melewati tempaan energi spiritual tingkat tinggi di Hutan Mandalagiri kini berada di level kesaktian yang jauh melampaui kemampuan manusia biasa.

Ketika preman pertama mengayunkan pisau ke arah dadanya, Raka melangkah ringan ke samping, menangkap pergelangan tangan musuh, lalu memutar sendinya dengan sentakan tenaga dalam.

Kletak!

Preman itu menjerit kesakitan saat lengannya terkilir hebat dan langsung tersungkur pingsan.

Preman kedua dan ketiga menyerang bersamaan dari belakang menggunakan pipa besi. Raka melompat ke udara, melakukan putaran akrobatik, lalu mendaratkan dua tendangan telak beruntun di rahang kedua lawan.

Suara hantaman keras bergema, membuat kedua preman itu terpental menabrak pilar beton jembatan dan ambruk tak sadarkan diri dalam satu kedipan mata.

Dalam waktu kurang dari tiga menit, empat dari enam preman telah terkapar bersimbah keringat dan mengerang kesakitan di atas tanah berdebu.

Boma, yang melihat anak buahnya dihancurkan dengan begitu mudah tanpa Raka sempat berkeringat banyak, mendadak gentar. Wajahnya pucat pasi. Dengan sisa kenekatannya, Boma menarik sebilah pisau komando panjang dan menerjang sendiri ke arah Raka sambil membabi buta.

"Mati kau, keparat desa!" teriak Boma histeris.

Raka menatap tajam tusukan yang mengarah ke jantungnya. Tanpa panik, ia menunggu detik terakhir sebelum Boma mendekat. Tepat saat pisau itu hampir mencapainya, Raka melangkah masuk menerobos pertahanan lawan, melayangkan satu telapak tangan terbuka yang diresapi tenaga dalam Welingan Sejati tepat ke dada Boma.

Bum!

Hantaman telak itu tidak mengeluarkan suara fisik yang keras, melainkan getaran gelombang kejut tak kasat mata yang menembus langsung ke dalam dada Boma.

Tubuh Boma terpental mundur sejauh lima meter di udara sebelum akhirnya jatuh terbanting keras mencium tanah, memuntahkan darah segar dari mulutnya dan langsung pingsan tak berdaya.

Suasana di bawah kolong jembatan Pasupati kembali sunyi, hanya menyisakan suara deru angin malam dan rintihan kesakitan para preman yang tersisa.

Raka merapikan jaketnya yang sedikit berdebu, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi tim keamanan rahasia Tuan Wiratman agar segera datang mengamankan sisa kelompok kriminal tersebut ke kantor polisi.

Malam itu, sekali lagi Raka membuktikan bahwa ancaman apa pun yang mencoba mengusik kedamaian orang-orang yang dicintainya akan dihancurkan berkeping-keping oleh tangan sang pengembara sejati.

1
indah Mayaddah f
Jadi penasaran, apa isi catatan rahasia di buku harian kakek Wirya itu 🤔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Nanti deh aku bisikin... 🤭
total 1 replies
Myz Pena
kebiasaan orang2 di kampung kalau ada orang yang udah naik mobil mewah lalu di bawa ke kampunh pasti jadi tontonan warga kampung 🤭
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Betul😄
total 1 replies
Myz Pena
keuarganya raka sangat sederhana apalagi penggambaran sosok ibundanya 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: iya, memang tokoh pendamping kadang kurang kita perhatikan
total 1 replies
CNNTAYY
utusan juga itu ngeremehin+songong banget untung ada raka/Proud//Proud/
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih CNNTAY ku😍
total 1 replies
iorlif
sepertinya mirip kejadian di suatu tempat
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Mungkin juga sih, tapi murni kok dari imaginasi ku👍
total 1 replies
Siti Aisyah
Kalau ngomongin tentang gabah dan dijemur dihalaman jadi teringat ibu waktu dikampung 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!