NovelToon NovelToon
BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.

Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.

Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.

Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Tap.

Permukaan sisik salamander itu terasa sangat keras namun basah dan berlendir.

Hawa panas langsung menjalar dari sisik itu menembus sol sepatu kain usang milik Natasya.

"Langkahmu pelan sekali, cepatlah sedikit."

Salamander itu bergumam pelan karena merasa geli moncongnya diinjak oleh kaki kecil.

Natasya menelan ludah dan mulai melangkah perlahan menyusuri leher tebal monster tersebut.

Di bawah kakinya, air ungu beracun mendesis mengerikan mengeluarkan asap panas.

Bau belerang yang menyengat membuat Natasya harus menahan napas beberapa kali agar tidak pusing.

Satu langkah demi satu langkah ia lewati dengan sangat hati-hati dan penuh konsentrasi.

Arga menahan napasnya di pinggir danau dengan jantung yang berdetak seolah ingin meledak.

Pria itu berdoa dalam hati kepada Tuhan agar putri kecilnya diberikan keselamatan.

Keringat dingin membanjiri wajahnya melihat Natasya berjalan di atas garis tipis antara hidup dan mati.

Sruk.

Kaki kiri Natasya tiba-tiba terpeleset saat menginjak area punggung salamander yang terlalu banyak lendir.

Tubuh mungilnya oleng ke arah kanan tepat di atas air ungu yang mendidih.

"Natasya."

Arga berteriak histeris dan hampir saja melompat menyusul putrinya jika Gaga tidak menahannya.

Serigala raksasa itu menggigit ujung baju Arga dan menarik pria itu mundur agar tidak memperparah keadaan.

Namun dengan ketangkasan yang luar biasa, Natasya berhasil menyeimbangkan kembali tubuhnya.

Gadis kecil itu berjongkok memegang sisik tajam salamander dengan tangan kirinya untuk bertahan.

"Aku tidak apa-apa, Ayah, sisiknya memang agak licin di bagian sini."

Natasya berteriak mengabarkan kondisinya dengan suara sedikit bergetar karena kaget.

"Kau terlalu tegang, anak kecil, ikuti saja ritme napasku agar tubuhmu lebih seimbang."

Salamander itu memberikan saran dengan suara beratnya yang menenangkan dari arah bawah.

Natasya mengangguk pelan dan mulai meresapi ritme naik turunnya punggung monster tersebut.

Setelah merasa lebih tenang, Natasya kembali melanjutkan perjalanannya yang mendebarkan.

Ia berjalan melewati sirip punggung salamander dan perlahan mulai menuruni bagian ekornya yang panjang.

Hanya tinggal beberapa langkah lagi dan ia akan sampai di pulau batu hitam tersebut.

Tap.

Kaki Natasya akhirnya berhasil menginjak permukaan batu hitam yang kasar namun aman.

Gadis kecil itu melepaskan napas lega yang sedari tadi ia tahan di dalam dada.

Ia segera berbalik dan menatap Bunga Teratai Merah yang mekar indah tepat di depan wajahnya.

Bunga itu memancarkan cahaya merah darah yang terasa sangat hangat dan menenangkan hati.

Di tengah-tengah kelopaknya yang terbuka lebar, terdapat putik bunga berwarna keemasan.

Dan tepat di atas putik itu, menggenang setetes embun yang bersinar jernih seperti kristal permata.

"Ini dia embun penyembuh yang dibutuhkan oleh Ibu."

Natasya bergumam takjub melihat keajaiban alam Hutan Larangan secara langsung.

Ia segera membuka tutup gabus dari botol bambu kecil di tangannya.

Dengan tangan yang sangat berhati-hati, Natasya mendekatkan mulut botol bambu itu ke arah putik bunga.

Ia memiringkan kelopak bunganya sedikit saja agar tetesan embun suci itu bergulir mulus ke dalam botol.

Tes.

Embun bercahaya merah itu berhasil masuk dengan sempurna ke dalam botol bambu kecil milik Natasya.

Gadis kecil itu segera menutup botol bambunya rapat-rapat dan menyimpannya ke dalam kantong celananya.

Cahaya dari bunga teratai merah seketika meredup begitu embun sucinya diambil, namun kelopaknya tetap mekar dengan segar.

Bunga itu tidak mati dan racun danau tetap aman di tempatnya.

"Aku sudah mendapatkannya, Ayah, Gaga."

Natasya berbalik sambil melambaikan tangan kecilnya dengan riang ke arah pinggir danau.

"Ibu pasti akan segera sembuh malam ini juga."

Arga jatuh terduduk di tanah sambil menangis tersedu-sedu karena rasa haru dan syukur yang meluap-luap.

"Terima kasih Tuhan, terima kasih telah melindungi putriku yang luar biasa ini."

Pria itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang kotor oleh lumpur rawa.

"Cepat kembali ke daratan, anak kecil, kakiku mulai pegal menahan tubuh di air ini."

Salamander itu memperingatkan Natasya karena ia tidak biasa berada di permukaan terlalu lama.

Natasya mengangguk cepat dan kembali memulai perjalanannya menyusuri ekor monster itu.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih mudah dan cepat karena Natasya sudah terbiasa dengan tekstur sisik licin tersebut.

Ia berlari kecil dan sesekali melompat lincah menghindari sirip tajam di punggung sang monster.

Dalam waktu singkat, Natasya berhasil mendarat kembali di daratan tanah basah dengan selamat.

Bruk.

Arga langsung memeluk tubuh mungil putrinya itu dengan sangat erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi.

"Kamu adalah anak yang sangat berani dan pintar, Natasya."

"Ayah sangat bangga padamu malam ini."

"Ini semua juga berkat bantuan Gaga dan Tuan Salamander yang baik hati, Ayah."

Natasya membalas pelukan ayahnya sambil menepuk punggung pria kekar yang masih menangis itu.

Gaga mendekat dan mengendus kepala Natasya memastikan gadis kecil itu tidak terluka sedikitpun.

Byurrr.

Salamander raksasa itu perlahan menarik kembali tubuhnya dan masuk sepenuhnya ke dalam air beracun.

Hanya kepalanya yang tersisa mengambang di permukaan mengawasi perpisahan mengharukan tersebut.

"Urusan kita sudah selesai dan kau sudah membuktikan kata-katamu, anak manusia."

Monster purba itu menatap Natasya dengan pandangan yang penuh rasa hormat.

"Kalian bertiga harus segera pergi dari tempat ini sekarang juga."

"Ada apa Tuan Salamander, apa ada monster jahat lain yang akan datang?"

Natasya menoleh ke arah danau dengan wajah penasaran melihat raut serius sang penjaga.

"Lihat ke atas sana, cahaya matahari pagi sudah mulai menembus sela-sela daun hutan ini."

Salamander itu menunjuk ke arah kanopi pepohonan yang mulai terlihat terang.

"Makhluk siang Hutan Larangan jauh lebih brutal dan liar daripada makhluk malam yang sudah kalian temui."

"Jika kalian tidak segera keluar dari wilayah hutan hitam sebelum pagi benar-benar datang, kalian tidak akan pernah bisa pulang."

Peringatan terakhir dari monster tua itu terdengar sangat nyata dan mengancam.

"Bawa obat itu dan selamatkan ibumu yang berharga, anak manusia yang aneh."

Setelah mengucapkan kalimat perpisahan itu, salamander raksasa itu menyelam ke dasar danau dan menghilang sepenuhnya.

Permukaan air ungu kembali tenang tanpa ada riak seolah tidak pernah terjadi apapun di sana.

"Kita harus segera lari sekarang juga, Ayah."

Natasya segera memakai jaket tebalnya dan memanjat naik ke atas punggung Gaga dengan cepat.

"Tuan Salamander bilang monster siang jauh lebih mengerikan dari pada monster malam."

"Ayah mengerti, pegangan yang kuat pada serigalamu itu."

Arga menghapus sisa air matanya dan kembali memungut golok setianya dari tanah lumpur.

Pria itu sudah tidak membutuhkan obornya lagi karena cahaya pagi mulai menerangi jalan mereka.

Wushhh.

Gaga langsung berlari dengan kecepatan penuh membelah Rawa Kematian meninggalkan area danau.

Arga berlari sekuat tenaga di belakang mereka dengan sisa tenaga yang ia miliki demi segera melihat senyum istrinya di rumah.

Petualangan mencari obat akhirnya telah selesai, namun perlombaan melawan waktu dan maut menuju rumah baru saja dimulai.

1
Wega Luna
orang macam Bu Rini sangat cocok ditumbalkan untuk penghuni hutan larangan terutama buat si sanca hitam ,👍👍sudah pengecut beraninya main fitnah dan ngomporin orang 😤
Wega Luna
lintah cocoknya pakai garam tasya🤭🤭🤭🤭
Wega Luna
Thor salam tonjok buat ibu kandung Natasya,😤😤,
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Fauziah Daud
mantap Natasha 👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!