Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Di sudut paviliun, Nira mencatat sesuatu di buku kecilnya. Catatan: Yang Mulia Elara kebal terhadap racun sianida. Jangan pernah memberinya makanan yang baunya aneh.
Sementara itu, di bayangan pilar yang jauh, Putri Mahkota Aurelia sedang berdiri, memandangi pemandangan itu dengan kuku-kukunya yang menancap dalam ke telapak tangannya hingga berdarah.
Elara tidak hanya selamat. Dia membuat Kaisar tertawa. Dan yang lebih parah, dia membuat Kaisar melindunginya.
“Dia.. dia benar-benar merusak segalanya,” bisik Aurelia pada dayangnya, matanya gelap oleh obsesi dan kemarahan. “Kita harus mempercepat rencana. Jika Kaisar tidak bisa dipisahkan darinya dengan racun biasa.. kita harus menggunakan mereka"
Di Paviliun Matahari Terbit, Elara tiba-tiba bersin keras.
“Aduh,” gumamnya sambil menggosok hidung. “Siapa yang lagi ngomongin aku? Semoga bukan tagihan. Aku sedang mode hemat energi.”
Elara akhirnya berhasil mencapai surga dunianya yaitu kasur bulu angsa di Paviliun Matahari Terbit.
Ia sudah melepas semua jepitan rambut, mengganti gaun sutranya dengan baju tidur katun yang longgar, dan bahkan sudah memejamkan mata. Napasnya baru saja mulai melambat, menandakan ia akan memasuki fase *deep sleep* yang sangat ia butuhkan, ketika pintu kamarnya diketuk dengan pola yang sangat spesifik.
Tok. Tok. Tok.
Elara mengabaikan. Kalau aku diam, mereka akan pikir aku sudah mati lagi. Dan orang mati tidak perlu buka pintu.
Tok. Tok. Tok. Tok.
Nira masuk dengan langkah berjinjit, wajahnya pucat pasi. “Y-Yang Mulia.. maafkan hamba. Tapi Kaisar mengutus Pengawal Kerajaan. Beliau.. Beliau meminta Anda ke Ruang Bawah Tanah.”
Elara membuka satu matanya. Tatapannya kosong.
“Nira.”
“Y-Ya, Yang Mulia?”
“Jelaskan padaku secara logis. Mengapa seorang wanita yang baru saja selamat dari dua percobaan pembunuhan dalam waktu kurang dari seminggu, yang paru-parunya masih dalam masa pemulihan, harus turun ke ruang bawah tanah yang lembap, berbau besi berkarat, dan penuh dengan jamur hitam pada tengah malam?”
Nira menelan ludah. “K-Karena Kaisar memerintahkan, Yang Mulia..”
“Ruang bawah tanah itu tidak punya ventilasi yang baik,” gumam Elara, menarik selimutnya hingga ke dagu. “Katakan pada Pengawal Kerajaan bahwa aku sedang mengalami koma racun tahap akhir. Suruh mereka datang lagi minggu depan.”
“Tapi.. Yang Mulia, Kaisar sudah menunggu di sana. Dan beliau membawa kue lapis kesukaan Anda sebagai suap.”
Elara terdiam. Tangannya yang sedang mencengkeram selimut mengendur.
“Kue lapis rasa wijen hitam?”
“Y-Ya, Yang Mulia. Dan ada teh jahe hangat.”
Elara menghela napas panjang, sebuah napas yang mengandung seluruh kekecewaannya terhadap sistem feodal dan ketidakadilan dunia. “Tolong bantu aku memakai mantel. Jika aku mati karena pneumonia di ruang bawah tanah, arwahku akan menghantui Kaisar setiap malam.”
***
Ruang Bawah Tanah Istana Aethelgard ternyata tidak seburuk yang Elara bayangkan. Lantainya cukup bersih, tidak ada genangan air, dan obor-obornya dinyalakan dengan cukup terang. Namun, baunya tetap saja seperti kombinasi antara karat, darah kering, dan keputusasaan.
Kaisar Lucian berdiri di tengah ruang interogasi. Ia sudah melepas jubah luarnya, lengan kemeja hitamnya digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot lengan yang tegang. Di hadapannya, Selir Lin tergeletak di lantai, menangis tersedu-sedu dengan pakaian yang sudah kotor.
Ketika Elara masuk, Lucian langsung menoleh. Matanya menyapu sosok Elara yang membungkus dirinya dalam mantel bulu tebal, lalu ia mengernyit.
“Kau memakai mantel bulu rubah,” kata Lucian datar.
“Ruang bawah tanah itu lembap. Sendi saya belum siap untuk ini,” balas Elara, berjalan tertatih-tatih menuju kursi kayu yang sudah disiapkan Lucian. Ia duduk, lalu menatap meja di depannya. Di sana, terdapat piring berisi kue lapis dan cangkir teh jahe yang masih mengepul.
Elara langsung meraih kue lapis dan menggigitnya. “Mmm. Enak. Tapi ini tidak sebanding dengan stres yang saya alami, Yang Mulia. Apa yang sebenarnya terjadi? Selir Lin sudah mengaku bahwa dia dalangnya?”
“Dia mengaku mendapat racun itu dari seorang ‘pedagang gelap’ di pasar malam,” ucap Lucian, nadanya dingin dan berbahaya. Ia melempar sebuah kotak kayu kecil ke atas meja, tepat di samping piring Elara.
"Tapi tidak ada pedagang gelap yang bisa mendapatkan racun Cyanide murni tingkat militer. Ini adalah racun yang digunakan oleh Pasukan Pembunuh Bayangan Utara. Dan kotak ini.. Tidak memiliki cap guild pedagang mana pun."
Elara mengunyah kue lapisnya, menelan, lalu menatap kotak kayu itu dengan mata setengah terpejam.
“Jadi Anda menyeret saya ke sini, membangunkan saya dari tidur yang sangat indah, hanya karena Anda tidak bisa membuka kotak ini?” tanya Elara.
“Aku ingin kau melihatnya,” kata Lucian, menarik kursi dan duduk di sebelah Elara. Jarak mereka sangat dekat, hingga Elara bisa mencium aroma salju dan cendana yang menenangkan dari tubuhnya. “Kau melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh para menteriku. Kau melihat racun itu dari baunya. Sekarang, lihat kotaknya.”
Elara menghela napas. Ia meletakkan sisa kue lapisnya. Ia mencondongkan tubuh, menatap kotak kayu kecil berwarna gelap itu.